Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Tak Jadi Masalah


__ADS_3

Hari pertama mengajar akhirnya tiba.


Jarvis telah selesai bersiap untuk berangkat. Makanan sudah ia persiapkan untuk Jacob yang belum bangun. Ia juga telah membersihkan apartemen itu.


Pakaian yang dipakai oleh guru sekolah pahlawan adalah pakaian seorang pahlawan.


Karena Jarvis bukanlah seorang pahlawan, ia memakai setelan pakaian biasa saja. Celana jeans dan kemeja lengan panjang berwarna hitam yang ia pakai sekarang. Lengan bajunya ia gulung.


Dari penampilan awal, orang lain pasti tidak menyangka jika Jarvis adalah guru pahlawan.


Karena apartemen Jacob dan sekolah pahlawan berjarak 3 km, Jarvis menempuhnya sambil berlari.


Entah Kenapa, Jarvis seakan bersemangat untuk mengajar.


Seharusnya begitu.


Jarvis akhirnya tiba di kelas.


Kelas yang begitu besar, lebih mirip auditorium skala kecil, yang mampu menampung murid 50 orang. Siapapun pasti akan betah belajar di situ.


Ketika jadwal mengajar Jarvis telah tiba, ia tak menemukan satu orangpun di kelasnya.


Jarvis menengok ke kanan dan kiri, ia hanya menemukan beberapa siswa yang berlalu lalang di depan kelasnya.


"Permisi"


"Iya"


"Kemana semua murid di kelas ini?"


Murid yang ditanya malah berbalik pergi tak menjawab.


'Apaap-apaan itu'


Rasa jengkel Jarvis masih bisa ia tahan.


Ia hanya keluar kelas dan menuju atap bangunan.


Di atas atap, terlihat beberapa preman sekolah sedang berkumpul untuk merokok. Mereka semua adalah laki-laki.


'Jadi begini yang dilakukan oleh calon pahlawan?"


Jarvis hanya mengabaikan mereka. Namun berbeda dengan Jarvis, para siswa yang merokok itu terlihat risih jika ada Jarvis.


"Hey guru baru, kemampuan kelas E pasti berat untukmu kan?"


"Tidak juga"


"Apa benar? Kalau aku pasti malu mengajar di sini. Guru yang lebih lemah dari muridnya"


"Mau coba?"


Para pelajar itu langsung menghampiri jarvis. Salah satu pria lalu memegang leher Jarvis.


"Coba ulangi"


Pria itu tiba-tiba menerima pukulan tepat di dagunya. Uppercut langsung dari Jarvis.


Pria itu langsung pingsan. Tak terima dengan itu, pelajar yang lain langsung menyerang Jarvis.


Mereka semua langsung tumbang seketika setelah Jarvis menyerang balik.


Merasa bosan dengan itu, Jarvis lalu kembali ke kelas. Saat itulah hatinya sedikit sakit.


Walaupun tujuannya bukan untuk mengajar di sekolah ini, ia merasa jengkel ketika melihat kelas yang ditinggalkan telah penuh dengan siswa yang diajari oleh salah seorang guru baru.


Jarvis lalu pergi berkeliling sekolah tanpa bisa mengajar hari ini.


Setelah beberapa menit, ia lalu berhenti di sebuah pintu perpustakaan. Di sana ia menghabiskan waktunya sampai sore.


Keesokan harinya, Jarvis lalu berlari ke arah sekolah pahlawan. Sesampainya di kelas, ia melihat semua bangku kosong tanpa pemilik.


Jarvis mulai terbiasa. Ia lalu pergi ke atas atap gedung. Ternyata Jarvis telah ditunggu oleh beberapa siswa bermasalah.


Salah satu dari mereka duduk di kursi. Ia lalu berdiri.

__ADS_1


"Namaku Greed, pemimpin kelompok ini, aku menantangmu bertarung"


Jarvis merasa pernah melihat Greed sebelumnya.


"Aku siap" kata Jarvis.


Greed lalu memperkuat kakinya. Satu lompatan berhasil mempersempit jarak.


'Esensi sebuah pedang adalah tebasan' batin Jarvis.


Greed lalu menebaskan ayunannya.


"Mustahil"


Pedang Greed ditahan hanya dengan sebuah cengkraman. Teknik cengkraman Jarvis tiba-tiba mematahkan pedang Greed.


"Upsh"


Jarvis tak sengaja mematahkannya.


'Padahal aku hanya berniat membenturkannya dengan teknik tebasanku'


Jarvis kini merasa tak enak.


"Maaf ya, sepertinya aku berlebihan"


"Tidak masalah"


Merasa tak ingin disudutkan, Jarvis lalu kabur dari tempat itu.


Greed terus meratapi pedangnya yang patah.


"Siapa dia?"


"Guru baru"


Tatapan Greed tajam ke Jarvis yang sedang berlari.


Di bawah kelas tempat Jarvis mengajar, ternyata ruangan itu kembali diisi oleh siswa dan guru baru.


Jarvis menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia lalu meninggalkan kelas itu.


Seminggu telah berlalu di sekolah pahlawan.


Di pagi hari, sebelum kelas dimulai, Eun Ha datang menghampiri Jarvis.


"Maaf membuatmu menunggu"


"Tidak apa-apa"


Terlihat Eun sedang mengeluarkan kotak.


"Apakah ini sudah cukup bagus?"


"Malahan terlalu bagus"


Ternyata Eun Ha membelikan Jarvis sebuah smartphone. Bahkan dengan spesifikasi yang luar biasa.


"Nanti ku ganti jika sudah kembali ke rumahku"


"Tak usah"


Jarvis lalu bersiap pergi.


"Mau pergi ke mana?"


"Perpustakaan"


"Kau tak mengajar"


"Jangan tanya itu, aku sedang depresi sekarang"


"Sabar, pasti kedepannya akan baik-baik saja"


"Semoga. Kalau begitu aku pergi dulu"

__ADS_1


"Iya"


Jarvis lalu pergi meninggalkan Eun Ha, sedangkan Eun Ha kembali ke Guildnya.


Di perpustakaan Jarvis langsung mengeluarkan pedang Primera.


"Perluasan Tebasan, Tebasan Kedua, Marionette"


Seketika Jarvis membuat ilusi skala besar, satu sekolah kini tak tahu dimana Jarvis berada.


"Aneh juga, bahkan Charlie yang memiliki kemampuan kelas S, terkena teknik ilusiku"


Charlie yang merupakan kepala sekolah awalnya ditakuti oleh Jarvis. Namun setelah tahu jika ia bisa memanipulasi Charlie, berarti Charlie bukan tandingan Jarvis.


"Sebenarnya aku berniat memberi umpan, siapa saja yang bisa merasakan tekanan ini. Jika mereka merasakannya, berarti mereka kelas S"


Jarvis lalu membuka secarik kertas dan pulpen. Tiba-tiba seseorang datang menghampirinya.


Orang itu lalu menulis dikertas itu, setelah selesai menulis, pria itu lalu pergi.


"Banyak juga"


Jarvis lalu memfoto kertas itu i ke Roy.


Tiba-tiba smartphone milik Jarvis bergetar. Yang memanggil adalah Roy.


"Kau sudah lihat?" Kata Jarvis.


"Ya" Roy membalas.


"Apakah menurutmu ini palsu"


"Ini asli, aku yakin itu"


"Terima kasih pujiannya"


Tiba-tiba raut wajah Jarvis berubah.


"Aku merasa ini masih terlalu sedikit"


"Jangan terlalu gegabah. Mencari daftar nama anggota Unicorn di Asosiasi Pahlawan, Guild, dan Sekolah pahlawan. Itu bukan pekerjaan mudah"


Daftar nama anggota Unicorn adalah sesuatu yang rahasia. Hanya perlu mencari satu orang, agar rahasia anggota bisa ketahuan.


Namun untuk mencari satu anggota, Jarvis membutuhkan waktu selama seminggu. Namun jika sudah dapat, ia lalu mengontrolnya untuk memberi tahu semua anggota yang diketahuinya.


"Terus bagaimana perkembangan di sekolah"


"Perkembangan apa?"


"Jadi pengajar"


Seharusnya ini menjadi singgungan bagi Jarvis. Selama seminggu, Jarvis belum pernah mengajar sekalipun.


Namun ekspresi Jarvis tampak puas. Terbersit di mukanya sebuah senyuman.


"Aku tak pernah mengajar"


"Bagus, teori kemampuan yang kau miliki terlalu berbahaya jika diketahui oleh orang lain" kata Roy.


"Bukankah kau pernah bilang begitu sebelum aku pergi"


"Aku hanya mengingatkanmu"


Ternyata Jarvis selama ini tidak mengajar karena ia menginginkannya. Ia juga sengaja membuat dirinya dianggap sebagai pengguna kemampuan kelas E.


Semua ini telah direncanakannya sejak awal, agar dapat menyusup tanpa mempertimbangkan hal lain yang tidak perlu.


Kendati urusan mereka telah kelar, akan lebih mudah keluar dengan cara diberhentikan secara tidak hormat. Mengingat Jarvis tidak pernah mengajar, hanya makan gaji buta.


Kini panggilan dari Jarvis telah berakhir, berhubung waktu mengajarnya telah tiba.


Ia lalu pergi ke kelas, didapatinya kelas yang lagi-lagi kosong. Tak ada seorangpun di dalam.


Jarvis lalu pergi ke meja guru. Ia lalu berbaring di atas meja sambil mengayunkan kakinya beberapa kali.

__ADS_1


'Penyusupan terbaik adalah menjalani profesi tanpa perlu bekerja'


Ternyata Jarvis sangat puas jika tak ada siswa yang mau berguru kepadanya.


__ADS_2