
"Batu? Kau pasti salah paham. Itu bukan batu biasa, melainkan batu meteor"
Jarvis sebenarnya tidak terkejut dengan penjelasan Ibaraki.
'Sesuai dugaanku, ini batu meteor. Jika melihat ada sensasi panas saat pertama kali dibuat. Jadi aku benar, kemampuan sebenarnya dari Hanz adalah meteor. Lumayan mengerikan'
Ibaraki yang melihat Jarvis berpikir serius, berusa membuyarkan pikiran Jarvis.
"Kalau pedang aku akan membuatkanmu, tapi jika tongkat aku menolak"
Mendengar itu Jarvis lalu pergi.
"Tidak masalah, lagipula tujuan awalku hanyalah memastikan sesuatu"
Ibaraki lalu melayangkan sebuah tebasan, sebuah sayatan terbang berbalut petir hampir mengenai leher Jarvis, untung saja Jarvis langsung sigap menghindari serangan tersebut.
Sebuah serangan tak tentu arah terus melaju sampai ke puncak gunung Puji. Akibatnya gunung tersebut langsung terpotong dan melayang di udara untuk sesaat.
"Apa kau ingin membunuhku?"
"Pilih mana, pedang atau tongkat?"
"Aku tidak ingin membunuh siapapun. Aku hanya ingin menggunakan tongkat, senjata tumpul"
"Berarti kau ingin mati"
"Sudah ku bilang dari awal, lebih baik kau membunuhku"
Dari balik tatapan berkarisma monster Vampir, ia memperlihatkan senyum angker diwajahnya.
'Kenapa sesuatu yang belum matang tampak lebih menggairahkan'
Ibaraki lalu menurunkan keagresifannya. Diambilnya sebuah batu yang dipegang Jarvis dari tadi. Saat ia memegangnya, ia lalu mencari sesuatu
"Ada apa?"
"Bisakah kau bantu aku cari tulang terbaik"
Tanpa menjawab Jarvis lalu melihat sekeliling, dilihatnya mayat ikan hiu, ia lalu mengambil giginya.
"Sepertinya taring ikan hiu cukup kuat"
"Bagi kalian para manusia, banyak ikan yang memiliki taring, namun ternyata Kelian itu salah. Hanya ada beberapa ikan yang memiliki taring. Dialah penguasa lautan yang sebenarnya"
"Kalau bukan taring, lalu apa?*
"Hanya gigi seri, ada yang runcing dan tajam namun ada juga gigi seri yang panjang. Sangat berbeda dengan taring, yang langsung memotong mangsanya"
"Cukup mengerikan juga"
Ibaraki yang melihat gigi hiu dari Jarvis kurang puas, ia lalu mengambil burung yang sangat besar dan paruhnya yang terlalu runcing.
"Burung apa itu?"
"Elang penembak, cara berburunya agak berbeda dari elang pada umumnya. Walaupun ukurannya besar namun ia mendapatkan mangsanya dengan cara menabraknya hingga berlubang. Mungkin kecepatannya lebih dari sebuah peluru senapan"
Bangkai burung elang penembak dan batu meteor diletakkan di tempat yang sama. Ibaraki lalu mengeluarkan kekuatan petir, ia lalu melakukan penempaan dengan kemampuan petir.
Karena cahaya dari petir sangat silau bahkan lebih silau jika melihat matahari secara langsung, ini disebabkan unsur molekul petir yang memang menyerang kornea mata, jadi sulit untuk melihat.
Jarvis berusaha untuk melihat apa yang sedang dibuat oleh gurunya, sebab ia tak ingin gurunya membuat sebuah pedang untuknya.
Tak butuh waktu lama, sebuah tombak berhasil dibuat. Ukurannya sangat proporsional dengan bentuk tombak pada umumnya. Memiliki tongkat atau gagang tombak 180 cm dengan warna hitam yang terbuat dari batu meteor dan mata tombak atau bilahnya sepanjang 30 cm berwarna merah yang berasal dari paruh burung elang penembak.
Jarvis yang melihatnya tampak senang, walaupun rencana awalnya hanya sebuah tongkat. Melihat ekspresi Jarvis yang sumringah, Ibaraki tak mau melepas tombak itu.
"Kau kira aku akn melepaskan tombak ini begitu saja"
Jarvis tampak santai karena ia tahu bahwa Ibaraki Doji adalah seorang pengguna pedang, ia tak akan tertarik dengan tombak yang asal dibuatnya itu. Namun tanpa diduga itu adalah pukulan telak yang harus diterima Jarvis.
Ibaraki hanya bisa melihat tombak itu sambil berpikir sejenak, beberapa kali ia mengusap dagunya tanda bahwa ia memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Kotoran Busuk, itu adalah nama dan tombak ini"
Ibaraki yang telah lama melatih Jarvis pasti tahu apa kebiasaan Jarvis, nyatanya itu adalah menamai barang favoritnya. Tentu saja Jarvis langsung mengeluh, namun ia tak mampu melawan.
"Nama itu sudah jadi paten, jika kau menginginkan tombak ini, pakai nama itu"
Setelah berkata seperti itu, Ibaraki tertawa cekikikan. Sedangkan Jarvis langsung mengambil tombak itu. Ia lalu membuka gerbang monster menuju ke lokasi Kamui dan Hanz.
Jarvis yang kesal tak mengucapkan salam perpisahan ke gurunya. Dilain sisi gurunya juga telah paham bagaimana sikap Jarvis, walaupun begitu ia tetap merasa bahwa pilihan yang dibuatnya 5 tahun lalu adalah pilihan yang tepat.
***
Di Mesir, dekat dengan sebuah Piramida besar, Anubis bersiap memberi perintah. Dengan pengalaman yang memadai, para remaja, baik pria maupun wanita langsung paham dengan tugas mereka.
Tanpa aba-aba, mereka kemudian berbaris. Para petinggi kemudian berdiri kecuali Ibaraki Doji. Sedangkan Jarvis baru sampai lalu masuk dan bergabung ke kerumunan.
"Jarvis sini"
Ternyata Kamui yang melihat Jarvis kemudian memanggilnya, Jarvis lalu pergi menghampiri. Namun saat ia menghampiri Kamui, Jarvis tak sengaja menabrak seseorang. Karena kondisi yang ramai, Jarvis tak sempat meminta maaf.
Orang yang ditabrak Jarvis ternyata merasa jengkel, sesekali ia melihat Jarvis dengan tatapan kurang baik. Lelaki itu memiliki tubuh seperti Jarvis namun memiliki wajah yang lebih tampan serta rambut pendek, juga pakaian yang digunakannya adalah pakaian terbaik diantara mereka.
Orang itu lalu bertanya kepada seseorang disampingnya.
"Siapa dia? Apakah dia tidak mengenaliku"
"Aku juga tidak tahu, mungkin ia berada di kelompok yang berbeda dengan kita"
Berkenaan dengan pembagian kelompok, ternyata mereka yang berada dalam pelatihan yang sama oleh salah satu petinggi monster, merasa perlu untuk membuat kelompok.
"Rupanya ada tikus yang perlu dibasmi"
Orang yang ditabrak Jarvis, darahnya sudah sampai di kepala. Ia berkeinginan untuk memberikan pelajaran kepada Jarvis.
Anubis adalah sosok pembina dan juga penengah dalam situasi yang dialami para remaja saat ini. Kini ia berdiri ditempat yang agak tinggi, sehingga semua mata tertuju padanya.
"Kalian kini berada dalam keadaan telah layak memenuhi ekspektasi kami. Mulai sekarang kalian akan menjadi seorang petarung gladiator."
Semua orang yang mendengarnya merasa
Tak terima dengan keputusan itu, banyak orang yang mengeluh. Namun semua itu hanyalah keputusan sepihak yang tidak boleh dibantah, mengingat mereka bisa dibunuh kapan saja. Tanpa mempedulikan mereka, Anubis langsung pergi meninggalkan mereka.
Saat keadaan yang kacau balau tiba-tiba seseorang mendatangi Jarvis lalu memegang kepalanya dari belakang. Sebuah hantaman keras membuat Jarvis langsung mengeluarkan darah segar dari kepalanya.
Sebenarnya Jarvis ingin melawan balik namun ia sempat melihat tingkah aneh temannya. Muka mereka langsung pucat ditambah kaki mereka yang gemetaran. Akhirnya Jarvis mengalah, ia tak melawan, takutnya hal buruk tak terduga akan menimpa mereka.
Hantaman kedua, ketiga, bahkan dilakukan terus-menerus tanpa henti. Setelah merasa lelah, orang itu lalu melemparkan Jarvis. Jarvis kini hanya bisa merasakan kesakitan.
Saat pria itu pergi, Kamui dan Hanz lalu menghampiri Jarvis.
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja, kalian tenanglah"
Jarvis berusaha berdiri sebab tubuhnya kini penuh dengan luka dan darah. Hanz dan Kamui lalu membawa Jarvis ke suatu tempat.
Di tempat yang sepi, di dalam hutan, mereka kini sampai di hadapan seorang wanita, Charlotte. Ia kini dalam keadaan menangis, Jarvis malah heran. Hanz menghampiri Charlotte karena merasa ada yang aneh.
"Charlotte, Kenapa kau menangis?"
"Aku yang harusnya khawatir, kalian benar-benar gila, mencari masalah dengan si peringkat 3"
Jarvis agak penasaran dengan perempuan di depannya.
"Hanz, siapa dia?"
"Charlotte, seorang Penyembuh. Walaupun tidak bisa bertarung tapi kami banyak menerima pertolongannya jika kami terluka"
"Ini pertemuan kita, namaku Charlotte. Mereka banyak bercerita tentangmu"
Charlotte berusaha menyapa Jarvis, tak seperti yang dipikirkannya, ternyata Jarvis menyambut dengan senyum ramah serta jabat tangan. Charlotte pun membalas jabatan tangan dari Jarvis.
__ADS_1
Kamui dan Hanz kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Kalian mau pergi mana?"
"Mencari udara segar"
Charlotte kemudian menyuruh Jarvis baring, saat Jarvis baring, kekuatan Charlotte kemudian dialirkan. Perlahan-lahan tubuh Jarvis mulai membaik.
"Siapa mereka?"
Jarvis sangat penasaran dengan sosok yang menyerangnya.
"Yang menghajarmu adalah peringkat ketiga dari keseluruhan pengguna kekuatan yang ada di sini. Namanya…"
"Aku tidak ingin tahu namanya, yang ingin kutahu mengapa mereka menyerangku. Juga kenapa mereka sombong sekali, apakah mereka tidak takut dengan orang yang lebih kuat darinya"
Maksud Jarvis adalah dirinya. Namun Charlotte menanggapi hal itu dengan berbeda. Charlotte merasa yang daksud Jarvis adalah peringkat pertama dan kedua.
"Kalau itu mereka sebenarnya bekerjasama. Peringkat pertama sampai kelima adalah satu kelompok, jadi tidak akan ada yang berani mengganggu mereka. Juga jumlah pengikut mereka lebih dari seratus, suatu jumlah yang perlu dihindari jika ingin mencari masalah dengan mereka"
Jarvis yang mendengarnya kemudian bangun, berhubung karena lukanya telah membaik dibandingkan sebelumnya.
"Kemana Hanz dan Kamui?"
Charlotte tak bisa menjawab pertanyaan dari Jarvis. Sekali lagi Jarvis bertanya dengan suara keras sambil memegang pundak Charlotte.
"Kemana mereka?"
Bukannya menjawab pertanyaan dari Jarvis, Charlotte malah kembali menangis. Ia tak mampu untuk berbicara. Seakan tahu apa yang terjadi, Jarvis lalu membuka gerbang monster.
Ia kini berada di tempat Ibaraki Doji berada. Jarvis lalu membungkuk ke arah gurunya.
"Kumohon, pinjamkan aku pedangmu"
Saat itu juga Ibaraki lalu melemparkan sebuah Odachi panjang ke arah Jarvis.
"Kau masih belum bisa menggunakannya, itu saja yang kau pakai, ambillah"
"Pedang ini…"
"Itu berasal dari batu meteor, sisa yang kau bawa tadi. Juga itu bukan pedang biasa, orang menyebutnya Odachi"
Jarvis takjub dengan Odachi dihadapannya. Saat ia memegangnya, ia langsung tahu bahwa itu tercampur dengan taring monster. Senjata yang memiliki seluruh persyaratan dalam menggunakan Teknik Perluasan Tebasan.
Jarvis lalu bersujud di hadapan Ibaraki Doji.
"Terima kasih guru"
Jarvis lalu pergi ke tempat ia disembuhkan oleh Charlotte. Sesampainya di sana, betapa terkejutnya ia melihat pemandangan di hadapannya.
Tubuhnya Charlotte penuh luka, rambutnya kini telah dipotong dengan pisau, bahkan ada bekas luka di kepala akibat sayatan dari pisau. Ia dikelilingi oleh beberapa gadis. Mereka membully Charlotte secara berlebihan.
"Sudah ku bilang, hilangkan rambutmu, jika aku melihat rambut merahmu lagi, aku akan membunuhmu"
Tak terima dengan rambut yang dimiliki oleh Charlotte, gadis itu merasa iri yang sangat besar.
Jarvis lalu menghampiri mereka.
"Seolah olah kau dapat membunuh kapanpun"
"Waaahhhh, sudah datang rupanya. Si pengecut tak berguna"
Kata seorang perempuan sambil mendorong kepala Jarvis dengan agak sombong.
"Hei, apa kau tahu siapa kami"
"..."
Jarvis tak mampu menjawab. Wanita itu langsung meludah tepat di muka Jarvis.
"Biar ku beritahu, kami ini adal…."
__ADS_1
Tak sempat selesai menjawab, kepala semua gadis yang membully Charlotte tiba-tiba terpotong.
"Teknik Perluasan Tebasan, pelepasan pertama, Tanpa Bilah"