Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Wajah Bodoh


__ADS_3

Suasana di ruangan itu suram. Para pelayan belum berani mengangkat wajah mereka walaupun Lista sudah berhenti berteriak dan melempar barang-barang yang ada di dalam kamar. Setelah puas mengamuk, Lista melemparkan diri di kasur dan menangis tersedu-sedu. Dia menangis selama beberapa menit sebelum akhirnya mengangkat kepalanya. Lalu dia mulai terdiam sambil membasuh sisa-sisa air mata di wajahnya.


Dia memanggil ponsel dan memanggil seseorang.


"Mama..." katanya dengan suara serak.


"Oh my god. Anak mama sayang. Ada apa denganmu? Apa kau sakit?" terdengar suara yang panik dari balik ponsel.


"Sedikit. Tapi aku sangat sedih." Lista berkata dengan nada sedih dan manja.


Dia berencana untuk memberitahu orang tuanya tentang keluhan yang dialaminya. Dia ingin meminta bantuan mereka.


"Ada apa sayang? Apa ada yang menganggumu? Siapa yang berani menganggumu? Aku akan menghancurkan semuanya!" kata mamanya dengan nada marah dan kesal.


"Mama, Shin bertunangan..." Lista mulai terisak lagi. "Aku tidak terima! Aku benar-benar tidak ingin itu terjadi!" Lista melampiaskan kekesalannya.


Hening sejenak. Tidak ada jawaban dari sisi lainnya. Sampai akhirnya suara yang agak canggung terdengar. "Um...maaf sayang. Mama tidak bisa membantu dalam hal itu. Itu keputusan mereka..." katanya.


"Tapi..."


"Tenang sayang. Walaupun Shin bertunangan, bukan berarti dia akan mengabaikanmu. Dia tetap akan menganggapmu sebagai saudara kecilnya. Dan hubungan dua keluarga tidak akan berubah" Mamanya menyanggah langsung.


"TAPI AKU TIDAK INGIN MENJADI SAUDARA KECILNYA!" Lista berteriak di dalam hatinya. Dia tidak berani berkata seperti itu secara terang-terangan kepada ibunya.

__ADS_1


"Jadi jangan khawatir ya..."


Lista terdiam. Wajahnya memucat dan dia mengigit bibirnya. Dia ingin melempar ponsel yang ada di tangannya. Tapi dia berusaha menahannya. "Baiklah mama..." katanya tertekan.


"Jaga dirimu baik-baik sayang. Mama akan kembali bulan depan" Panggilan telpon pun dimatikan.


BAK! Tanpa basa basi, Lista melemparkan ponselnya ke dinding. Dia membenamkan wajahnya ke bantal dan menangis lagi.


"Aku tidak akan membiarkan ini terjadi!" dia bergumam dengan nada benci. "Tidak akan! Aku sama sekali tidak rela!"


Dia bangkit berdiri dan meninggalkan kamarnya. Lalu turun ke lantai bawah.


Melihat Lista telah pergi, para pelayan itu mendesah lega. Mereka akhirnya berani mengangkat wajah mereka yang menunduk dan melihat satu sama lain penuh arti.


Nana membeku saat dia melihat Feno. Setelah sadar, dia berusaha menggerakan tubuhnya untuk berbalik melarikan diri. Tapi Feno dengan cepat menarik kerah bajunya.


"Kau benar-benar seperti tikus" kata Feno sarkas.


"Kamu yang tikus" dengus Nana kesal sambil melepaskan tangan Feno dari bajunya.


"Aku dengar kau sudah bertunangan dengan bocah itu" Feno melirik Nana dari kepala sampai ujung kaki. "Aku tidak menyangka bahwa seleranya sangat rendah..."


Nana menggembungkan pipinya, kesal. Dia tidak mengerti. Feno adalah musuh Shin, tapi kenapa sepertinya pria itu lebih suka bermusuhan dengannya.

__ADS_1


"Kenapa dia mau bertunangan denganmu?" Feno mendekatkan wajahnya, membuat mata mereka bertatapan dengan jarak hanya berapa cm. "Keluargamu tidak berpengaruh. kau tidak pintar, malah bodoh. Kau juga tidak cantik. Tidak ada yang istimewa darimu"


Wajah Nana memerah. Bukan karena dia marah dengan perkataan Feno. Sebenarnya dia merasa marah, tapi karena Feno sangat tampan dan wajahnya sangat dekat, hal itu membuatnya benar-benar salah tingkah.


Feno mengira bahwa Nana menahan amarahnya. "Shin yang malang..." katanya sambil menggelengkan kepalanya.


"Semog kau mendapatkan tunangan yang lebih buruk dari Shin" kata Nana refleks dengan mata melotot.


"Puft" Feno menahan tawanya. "Aku tidak akan pernah menyukai gadis bodoh sepertimu. Seleraku tidak rendah seperti Shin" katanya percaya diri.


Nana semakin kesal. Dia tidak bisa menghitung berapa banyak kata "bodoh" yang keluar dari mulut Feno untuk mengejeknya. Jadi tanpa sadar dia menginjak kaki Feno dengan keras dan mengumpat "Wajahmu yang bodoh. Semuanya bodoh!"


"Nana..." tiba-tiba suara yang lembut memanggilnya. Rin berdiri di belakang mereka. "Apa yang terjadi?" tanya Rin polos. Dia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Dia hanya mencari Nana dan mendengar Nana berteriak marah.


"Tidak apa-apa" sikap Nana langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Dia dengan cepat memegang tangan Rin. "Ayo tinggalkan tempat ini"


Rin mengikuti Nana. Tapi dia melihat kebelakang dan menatap Feno dengan mata melotot. Walaupun dia tidak tahu apa yang terjadi, pria disana pasti sudah menganggu Nana. Jadi dia tidak menyukainya.


Melihat Rin melotot padanya, Feno merasa canggung. Dan dia tersenyum aneh. Dia sebenarnya juga tidak menyangka bahwa akan bertemu dengan Nana di toko buku ini. Dia juga cukup kaget saat mendengar berita pertunangan Shin. Dan semuanya yang dikatakannya pada Nana tidak bohong sama sekali. Dia bingung kenapa dua orang yang sangat berbeda itu bisa bertunangan. Dia juga tidak mengerti kenapa Shin tidak menentangnya sama sekali.


Dan dia sebenarnya kesal saat Nana mengatainya "Wajah bodoh". Tanpa sadar dia memegang wajahnya yang tampan dan tidak mungkin terlihat bodoh sama sekali.


"Wajah bodoh kepalamu" Feno mengumpat balik dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2