Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Kemalangan


__ADS_3

"Nana!"


Shin dan Darwin bersamaan berteriak panik dan bergegas menghampiri gadis itu.


Mereka melihat bahwa gadis itu sudah tidak sadarkan diri dan terbaring lemah di atas kursi. Di keningnya ada darah yang mengalir. Kelihatannya bola itu benar-benar melukai kepalanya.


"Kelinci kecil, aku akan membawamu ke dokter" Darwin berniat menggendongnya. Tapi dihentikan oleh Shin dalam sekejap.


"Jangan menyentuhnya, dia tunanganku. Biarkan aku yang mengurusnya" kata Shin tajam. Dia menggendong Nana untuk membawanya ke kamar, meninggalkan Darwin di belakang.


Darwin menatap Shin dengan kesal "Status tunangan sialan!" gerutunya sambil menggepalkan keduanya tangannya.


Kebetulan sekali dokter yang dipanggil nya sudah tiba di tempat ini. Jadi Shin akan membawa gadis ini ke kamar terlebih dahulu sebelum memanggil sang dokter.


***


Lista sedang menerima perawatan pada kakinya. Dokter yang dibawa oleh Shin ternyata dokter yang masih muda dan lumayan tampan. Kalau Nana melihatnya nya mungkin dia akan teriak kegirangan saat dokter itu merawat nya. Tapi Shin benar-benar tidak tahu. Dia hanya menyuruh bawahannya untum membawa dokter kemari, siapa pun itu.


"Kakimu tidak terluka cukup parah, hanya lebam. Besok kau sudah bisa berjalan lagi" dokter itu memberikan diagnosis terakhirnya sebelum pergi meninggalkan ruangan.


Setelah kamar Lista kosong, seorang pria, yang merupakan temannya langsung masuk ke dalam kamar.


"Ada kabar gembira!" teriaknya.


"Apa maksudmu?"


"Penyihir itu terluka!" katanya senang. Kalau Shin dan Darwin melihat nya mungkin mereka akan mengenalnya. Dia adalah pria yang mengarahkan bola itu ke samping sehingga mengenai Nana.


"Oh?" Lista mengangkat alisnya tertarik.


"Kau menyuruh kami untuk melakukannya kalau ada kesempatan bukan. Saat itu benar-benar kesempatan yang baik. Aku membuat bola itu mengarah padanya dan memukulnya sampai pingsan!" dia sangat bersemangat menjelaskan rencannya yanh berhasil.


Senyum tulus terbentuk di bibir Lista. "Kerja bagus. Aku akan memberikan kompensasi nya nanti dengan posisi ayah mu"


"Baik nona" dia membungkuk berterima kasih dengan wajah bersemangat. Seakan-akan dia berhasil melakukan prestasi kecil.

__ADS_1


"Tapi tidak ada yang mengetahui nya bukan?" tanya Lista waspada. Dia tidak takut orang lain mengetahui rencananya. Tapi Shin sama sekali tidak boleh tahu tentang itu.


"Tentu saja tidak!" dia menjawab dengan percaya diri. "Kejadian itu murni kebetulan dan aku memanfaatkan kebetulan itu. Tidak ada yang akan curiga dengan hal seperti itu"


"Kerja bagus!"


***


Shin membawa Nana ke kamarnya, lalu dia meletakkan gadis itu ke atas kasur dengan hati-hati.


Shin menyibak rambut Nana dan melihat luka kecil di kepalanya. Luka itu berdarah sangat hebat sebelum nya tapi sudah mulai mengering sekarang.


"Ambilkan air"


Pelayan disampingnya dengan cepat mengambil semangkuk air bersih dan kain.


Shin membersihkan luka di keningnya dengan hati-hati.


"Kapan dokter itu kesini?"


"Dokter masih sibuk merawat Nona Lista tuan muda"


"..."


Saat Shin melakukan perawatan nya, mata Nana bergetar dan gadis itu terbangun.


Saat aku membuka mata, kepalaku terasa snagat pusing. Kenapa bisa menyakitkan seperti ini? Padahal ini bukan pengalaman pertama aku terkena bola. Tapi kejadian kali ini cukup menyakitkan.


Aku membuka mataku. Awalnya pemandangan disekelilingku buram. Tapi hanya sesaat sebelum aku bisa melihat dengan jelas. Pemandangan yang pertama kali kulihat adalah wajah tampan Shin.


Aku mengira aku mungkin bermimpi sampai Shin berkata "Kau sudah sadar?"


"Dimana?"


"Kamarmu"

__ADS_1


"Tuan muda, dokter sudah tiba"


Seorang dokter tampan melenggang masuk. Nana berbinar saat melihat sosok itu. Benar-benar seorang dokter muda yang tampan!


Sementara wajah Shin berubah masam. Shin tidak mengerti pikiran gadis bodoh di depannya. Padahal dia terluka, tapi masih sempat untuk membuat tatapan mesum seperti itu. Otak nya benar-benar rusak!


Dokter itu memeriksanya. Nana menikmatinya dengan senang hati. Dia bahkan mulai melakukan beberapa akting berlebihan.


"Dok, perutku sangat sakit. Kakiku juga. Tapi kepalaku yang paling sakit. Bisakah kau memeriksa semuanya~" kata Nana sambil memberi tatapan genit.


"..."


Sang dokter cukup terkejut. Dan Wajah Shin sangat cemberut.


"Dia hanya gegar otak ringan. Tidak apa-apa" dokter itu mengabaikan Nana dan mulai melaporkan diagnosanya pada Shin. "Tuan sudah melakukan perawatan pertama dengan baik. Dia hanya perlu istirahat dan minum obat untuk sekarang"


"Baiklah" Shin mengangguk dengan dingin.


Sang dokter ingin mengakhiri perawatannya dna meninggalkan ruangan. Tapi Nana menghentikan nya "Bisakah kau memberikanku nomormu?"


Wajah sang dokter berkedut. Dia menatap Shin dengan takut-takut. Lalu mengabaikan Nana dan berlari keluar ruangan.


Urat-urat kekesalan muncul di kepala Shin. "Kau sama sekali tidak terlihat seperti orang sakit" katanya dingin.


"Tentu saja" aku menjawab antusias. "Walaupun aku merasa sakit, aku sama sekali tidak pernah menunjukkannya" Aku menatapnya polos. "Itu cara terbaik untuk menghadapi kehidupan bukan~ Cara terbaik adalah mencoba untuk merasa senang setiap hari~" Nana adalah orang yang sangat positif. Tentu saja dia melakukan nya. Walaupun dia bersedih, dia akan tetap tertawa seperti hal itu bukan apa-apa baginya. Begitulah caranya bertahan hidup.


Kemarahan Shin langsung lenyap seketika. Dia menatap Nana serius dan entah mengapa merasa sedikit sedih juga. "Istirahatlah" Dia berkata dengan lembut sambil menepuk pelan kepala gadis itu.


PSSSHH


Pipi Nana langsung terbakar malu karena Shin melakukannya seperti itu dengan tatapan yang sangat lembut. Nana tidak terbiasa akan perlakuan lembut seperti itu.


Shin pun meninggalkan kamarku. Setelah kamar itu kembali sunyi, pikiranku mulai melayang. Aku sempat berpikir bahwa Shin mungkin saja menyukaiku. Tapi aku langsung menyangkal pikiran bodoh itu dengan cepat. Tidak ingin berpikir berlebihan dan membuat semuanya menjadi kacau. Karena aku mengenali diriku sendiri. Kalau aku benar-benar jatuh cinta pada seseorang, mungkin aku akan bersikap posesif. Mengikuti kemana pun orang itu pergi dan selalu mengawasi nya seperti penguntit. Itu bukanlah sikap yang baik.


Aku pernah melakukannya di masa lalu. Dari sekian banyak murid di sekolah, ada satu orang yang berhasil membuatku tertarik. Dia adalah seniorku. Bisa dibilang cinta pertama? Aku yang masih polos pun selalu mengikuti kata hatiku untuk terus mengikutinya. Aku membuatkannya makanan. Menuliskan surat untuknya. Mengawasinya sampai ke rumah. cukup berlebihan memang. Sampai dia mengetahui apa yang kulakukan dan berkata "Berhenti mengikutiku dan bersikap menjijikan seperti itu!" Itu adalah perkataan yang paling menyakitkan dari semua ejekan yang sudah kuterima.

__ADS_1


Haa~ aku menghela napas.


Mengingat masa lalu hanya membuatku semakin murung. Aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu lagi. Semuanya akan baik-baik saja kalau aku tidak jatuh cinta. Aku masih ingin berteman dengan mereka dan tidak ingin mereka membenciku. Ya, aku pikir begitu...


__ADS_2