
Setelah Darwin melarikan diri, suasana menjadi hening. Bahkan pelayan wanita yang sebelumnya membantu perayaan tersenyum canggung dengan mulut berkedut sebelum menarik dirinya kembali ke dapur belakang. Sehingga menyisakan hanya mereka berdua, Nana dan Shin.
Aku menatap Shin. Shin mengalihkan pandangannya. Saat melihat sikap Shin yang dingin dan tidak nyaman, aku merasa sedikit kecewa. Ada sedikit rasa bersalah juga karena aku tahu aku terlalu agresif.
"Um...Shin" aku mencoba membuka pembicaraan. "Kalau kau ingin pergi juga tidak apa-apa. Aku akan pulang setelah menghabiskan kuenya" kataku gugup dengan kepala tertunduk. Jujur saja aku sedikit sedih. Kenapa Darwin bodoh itu meninggalkan kami berdua. Bukannya dia tahu bahwa Shin sama sekali tidak menyukaiku? Ini akan membuat suasana menjadi sangat suram.
Deg!
Hati Shin tertusuk saat dia mendengar suara sedih gadis bodoh itu. Dia merasa tidak nyaman saat melihat gadis itu bersedih. Bukankah ini harusnya menjadi perayaan yang menyenangkan? Kenapa suasananya menjadi suram seperti ini? Apa ini salahnya?
Shin memejamkan mata sebentar sebelum dia membuka mulutnya. "Ayo duduk. Aku akan menemanimu makan" katanya. Dia menguatkan tekad memegang pergelangan tangan gadis itu untuk mengajaknya duduk berhadapan.
Aku sedikit kaget saat tahu Shin menyentuh tanganku. Tangan Shin terasa sangat dingin dan sejuk, tapi juga lembut. Kalau dipikir-pikir kami belum pernah berpegangan tangan sebelum nya. Dan tanpa sadar wajahku memerah.
Aku mengambil cake di depanku, memotongnya menjadi beberapa bagian. Lalu meletakan satu potong di piring kaca milik Shin. Lalu aku mulai memakan bagianku.
Shin sama sekali tidak menyentuh kuenya. Dia menatapku dengan wajah datar dan membuatku merasa sangat canggung. Aku tanpa sadar memakan kue itu dengan gaya elegan dan wajah memerah. Biasanya aku makan dengan sangat liar. Tapi entah kenapa hatiku tidak nyaman kalau aku melakukannya di depan Shin. Aku takut dia semakin benci padaku karena sikapku yang agresif dan tidak sopan!
Aku memakan cake itu sesuap demi sesuap sambil berpikir. Shin dan yang lainnya hanyalah karakter dari komik shoujo yang kubaca. Tapi kenapa mereka terlihat seperti manusia asli dan bahkan membuat ku berdebar? Aku tahu mereka hidup di dunia ini, tapi tetap saja mereka hanya karakter khayalan, kalau aku menggunakan logikaku.
Aku tidak lagi menundukkan kepalaku dan menguatkan tekad untuk menatap Shin. Akhirnya mata kami bertatapan. Jujur saja, saat tatapan kami bertemu, jantungku berdebar sangat kencang. Aku memang menyukai pria tampan. Tapi sensasi ini sedikit berbeda.
Tidak mungkin...aku jatuh cinta padanya bukan?
Aku langsung menggelengkan kepalaku dengan cepat.
Aku boleh menyukai banyak pria tampan dan membuat harem. Tapi suka dan jatuh cinta itu berbeda. Kalau aku benar-benar jatuh cinta padanya, aku takut aku akan berakhir buruk karena tidak bisa mengontrol logikaku. Ditambah lagi aku bukan siapa-siapa di dunia ini. Hanya seorang karakter tambahan yang memiliki nasib buruk.
Shin mengernyit. Gadis itu melamun, lalu tiba-tiba menatap nya dengan intens, lalu melamun lagi. Dia bingung dengan tingkah lakunya. Jujur saja Shin sudah sangat terbiasa dengan sikap agresif nya yang selalu memandang nya dengan mata penuh nafsu. Tapi dia tidak melihat pandangan seperti itu di hari ini. Shin cukup bingung. Apa gadis bodoh itu sudah berubah?
"Shin, kau tidak memakannya?" tanyaku setelah membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
Mata Shin menyipit dan dia menjawab dengan singkat "akan kumakan nanti"
Aku langsung terdiam. Suasana menjadi sunyi dan kembali canggung.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Shin dan membuat ku cukup kaget karena dia bertanya padaku.
"Aku tidak memikirkan apa pun" jawabku polos sambil menggelengkan kepalaku. "Bagaimana pun juga, terima kasih Shin atas perayaannya" kataku sungguh-sungguh dengan wajah memerah.
Shin mengernyit kan kening dia ingin mengatakan bahwa dia tidak ada hubungannya dengan perayaan ini. Ini semua ide Darwin. "Itu..." tapi dia langsung menghentikan pikiran itu dan menjawab sebaliknya "Tidak masalah..."
Shin bisa saja menjawab "itu bukan ideku, tidak perlu berterima kasih" dengan nada dinginnya. Itu adalah sikapnya yang biasa. Tapi entah kenapa hatinya enggan untuk melakukan itu. Apalagi setelah dia melihat wajah gadis bodoh itu, hatinya melembut. Dan dia berusaha mengontrol kata-kata yang keluar dari mulutnya dan berusaha untuk memperbaiki sikapnya yang dingin.
"Tentang pesta pertunangan, apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Shin kemudian.
"Eh?" aku benar-benar lupa tentang pertunangan itu. Tapi aku tidak menyangka Shin akan menanyakan perihal masalah pertunangan itu padaku. Bukankah dia tidak suka tentang pertunangan itu?
"Aku tidak menginginkan apa pun. Kita bisa melakukan pesta pertunangan dengan tema umum" jujur saja ini terlalu jauh untuk dipikirkan jomblo sepertiku! Aku dikehidupan nyataku tidak pernah berhubungan dengan pria! Tapi saat masuk ke dunia ini aku harus bertunangan di usia muda! Ini tidak masuk akal untukku! Jadi aku sama sekali tidak memikirkan apa pun tentang pesta pertunangan. Hanya membiarkan hal itu berjalan seperti biasa.
"Hehehe" aku mulai nyengir tidak jelas saat memikirkan hal ini.
Mata Shin menyipit. "Baiklah" katanya kemudian. "Aku akan berusaha semampu ku"
Nana tidak memikirkan perkataan Shin. Dia tidak pernah tahu bahwa pesta pertunangan nya digelar dengan sangat mewah dan besar. Saat dia mengetahui nya, dia menjadi sadar bahwa dia terlalu meremehkan dunia para orang kaya ini.
Aku terus makan dan menghabiskan potongan kue milikku. Lalu aku mengisi ulang piring ku dengan potongan kue lainnya. Tapi Shin sama sekali belum menyentuh kue yang ada di piring nya.
"Kau benar-benar tidak makan?" tanyaku lagi dengan ekspresi bingung.
"Aku akan makan" kata Shin sambil mengambil sendok kecilnya dan mulai memasukkan kue itu ke dalam mulutnya.
Astaga! Saat makan saja dia sangat tampan! Ini benar-benar pemandangan yang indah, ah~ Aku mulai menganggumi adegan makan Shin. Kenapa dia punya postur yang sempurna seperti itu?
__ADS_1
Shin sadar bahwa Nana melihatnya dengan tatapan seperti itu lagi.
'Apa gadis bodoh ini sudah kembali ke kebiasaannya?' pikir Shin.
"Shin~" Nana mulai memanggil namanya sambil tersenyum. Ini membuat Shin sedikit bergidik.
"Waktu itu kau berjanji sesuatu bukan? Kolam renang?" lanjut Nana dengan mata berbinar penuh antusias.
Mulut Shin berkedut. "Kau mengingatnya dengan cepat" sindir Shin masam.
"Tentu saja!" jawabku senang sambil mengangguk kan kepala antusias.
"Dua hari lagi aku akan membawamu" jawab Shin kemudian.
"Baiklah~"
Kami berbicara hampir setengah jam. Topik yang kami bicarakan hanyalah tentang pesta pertunangan itu. Aku tidak terlalu memperhatikan nya karena Shin mneyebutkan beberapa hal asing yang sama sekali tidak ku ketahui. Seperti merk ini dan merk itu. Aku sama sekali tidak terlalu memikirkan merk dari dunia ini karena itu tidak terlalu penting. Jujur, aku juga tidak tahu merk apa saja yang ada di lemari baju atau pun sepatu milikku. Jadi aku hanya mengangguk setiap kali Shin berbicara, berpura-pura bahwa aku mengerti.
"Kau terlihat sangat antusias tentang pertunangan ini" aku berkomentar sambil melemparkan senyum.
"Ini kewajiban" jawab Shin singkat.
"Kau bisa membatalkannya kalau kau tidak ingin kau tahu? Walaupun aku tahu akan sulit untuk melawan ibumu sendiri. Tapi pertunangan ini berhubungan dengan hidupmu sendiri bukan ibumu" kataku kemudian. Walaupun aku sudah menduga dia menerima pertunangan karena desakan dari ibunya. Tetap saja dia harus memutuskan sendiri hal yang berhubungan dengan hidupnya. Dia bisa menolak kalau dia tidak menyukainya.
Mata Shin menyipit. "Kau tidak suka bertunangan denganku?" katanya tiba-tiba dengan nada yang tajam.
Aku mengerjap kaget. "Ehhhh?"
"Bukankah kau yang tidak suka bertunangan denganku?" aku bertanya balik.
Shin mengernyit kan keningnya dan menjawab dengan nada pelan. "Aku tidak membencimu. Jadi semuanya baik-baik saja"
__ADS_1
"...."