Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Rumah Shin


__ADS_3

Kami pun turun dari mobil. Penjaga di depan pintu mansion menyambut kami dan membukakan pintu pagar. Kami pun berjalan menyusuri halaman rumah itu untuk sampai ke pintu depan.


Halamannya sangat luas. Aku merasa seperti berjalan di lapangan sepak bola.


"Shin ada?" Darwin bertanya pada pelayan yang ada di depan halaman.


"Ah! Tuan Darwin! Tuan kecil ada di dalam. Sedang menonton TV dengan tuan muda Ren. Silahkan masuk saja tuan"


"Terima kasih"


Darwin melangkah masuk tanpa mengetuk atau pun membunyikan bel. Dia membuka pintu besar itu dengan santai dan berteriak.


"Shin sayang~ aku datang untuk bermain~" teriak Darwin.


Saat kami masuk, hal pertama yang kulihat adalah sebuah aula besar dengan tangga. Aula ini sangat kosong, hanya ada pajangan beberapa pot bunga dan lukisan-lukisan antik.


Kebetulan sekali saat itu seorang pria dewasa berumur 20 an lewat di depan kami. Astaga! Dia sangat tampan! Aku terpaku pada otot-otot tangannya yang sangat cantik. Aku ingin memegangnya ah~


"Darwin?" Ren bertanya sambil menaikkan alisnya. Dia menatap Darwin kemudian menatap gadis dibelakang Darwin penasaran.


"Ah, kak Ren. Dimana Shin?"


"Em...di ruang tamu" jawab Ren dengan mata yang terus mengamati Nana.


"Ah, kak Ren perkenalkan. Ini teman sekelas kami. Namanya Nana. Hari ini di bermaksud meminta bantuan Shin untuk mengajarinya belajar" Kata Darwin sedikit tiba-tiba yang membuat Nana menjadi agak gugup.


Ren melonggo takjub saat mendengar perkataan Darwin. Astaga! Gadis kecil ini! Gadis kecil yang disukai adik dinginnya itu!


"Selamat malam kak..." kataku memberi salam.


"Em" Ren mnegangguk. "Kalian bisa menyusul Shin di dalam" kata Kak Ren kemudian. "Aku ada urusan sebentar"


Akhirnya Darwin dan Nana memberi hormat kecil sebelum melenggang pergi ke ruang tamu.


Ren masih berdiri di tempat nya dan tersenyum kecil. "Semoga adik kecilku berhasil" katanya riang. "Ah~ aku harus melaporkan nya pada ibu~"


***


Darwin memimpin jalan. Kami melewati aula dan masuk ke salah satu ruangan. Saat masuk, aku melihat ruangan yang terisi sofa, televisi dan perabotan.


Lalu aku melihat seseorang sedang duduk disitu. Orang itu tidak lain adalah Shin.


Dia sedang duduk bersila di atas sofa. Lalu ada bantal di atas kaki nya. Dan di atas bantal itu ada sebuah laptop. Shin sangat fokus dengan laptopnya. Dia juga mengenangkan earphone. Sehingga sangat sulit mendengar apa yang terjadi di luar ruangan.


Bila kita melihat lebih dekat, Shin saat ini sedang sibuk mencari informasi tentang penyakitnya. Dia menuliskan gejalanya di internet dan menemukan petunjuk.


Kenapa dia melakukan ini? Semua ini karena dokter keluarga miliknya tidak berguna! Dokter itu mengatakan dia tidak memiliki penyakit apapun. Tapi dia yakin dia sedang sakit. Kondisi tubuhnya sedang tidak baik saat ini. Jadi dia memutuskan untuk mencarinya sendiri. Dia berharap sakit ini tidaklah parah. Kalau masih buntu, mungkin dia akan pergi keluar negeri untuk berobat. Karena dokter dalam negeri tidak berguna.


Tapi coba tebak apa yang ditemukannya saat berselancar internet. Semua nya hal-hal bodoh yang tidak berhubungan dengan penyakit sama sekali!

__ADS_1


"Jantungmu berdegup kencang saat kau melihat mata seseorang? Kenali penyakit jatuh cinta ini!"


"Tubuhmu bergetar dan kamu tidak bisa mengendalikan emosimu saat melihatnya bersama pria lain? Kendalikanlah rasa cemburumu..."


"Pikiranmu tidak menentu dan kau selalu memikirkan satu orang di pikiranmu? Kenali gejala jatuh cinta ini!"


"Sialan!" Umpat Shin. "Kenapa banyak sekali artikel sampah!"


"Shin sayang~ Aku datang untuk bermain~"Suara teriakan Darwin terdengar di telinganya dan dia langsung menoleh.


"Sedang apa kau disini?" kata Shin dengan mata melongo kaget. Tubuhnya langsung mematung. Dia benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya! Ini bukan karena Darwin, tapi karena gadis di belakangnya. Bagaimana dia bisa berkunjung tiba-tiba kemari! Shin tidak pernah menduga ini!


Darwin mengerut kan kening. "Tentu saja bermain~" dia menjawab santai. "Em...kau sedang mencari apa? Kelihatannya kau kesal? Apa yang kau lihat?" Darwin penasaran dan melangkah maju untuk melihat isi laptop Shin.


TAK! Shin langsung menutup laptopnya dengan cepat dan membuang earphonenya. Dia langsung berdiri dan mengalihkan pembicaraan. "Kenapa tiba-tiba kemari? Ada urusan apa?" karena perasaannya tidak menentu Shin benar-benar tidak bisa mengendalikan otaknya untuk berbicara.


"Kau tidak senang kami kemari?" tanya Darwin bingung.


Aku juga memperhatikan reaksi Shin. Dia benar-benar kaget saat kami datang. Bahkan wajahnya kesal. Kelihatannya dia tidak senang. Aku jadi merasa bersalah.


"Kelinci kecil...em... kelihatannya mood Shin sedang tidak baik. Kita kembali lain kali saja"


"Maaf..." aku hanya bisa menjawab lirih sambil menundukkan kepala.


"Aku bukan tidak senang!" teriak Shin dengan mulut berkedut. "Aku hanya bertanya kenapa kalian kemari?"


Shin langsung menatap Nana.


Aku yang ditatap dingin oleh Shin merasa sangat gugup. "Em" gumamku sambil mengangguk.


"Kelihatannya Shin lagi PMS, ayo kita pergi. Biar aku saja yang mengajarimu" kata Darwin kemudian sambil menarik tangan Nana.


"Berhenti!" Shin berteriak. "Aku tidak bilang aku menolaknya"


"Oh?" Darwin mengangkat alisnya. "Baiklah~" dengan santai dia melemparkan dirinya di atas sofa. "Ayo duduk kelinci kecil ~"


Aku dengan enggan menurunkan pantatku untuk duduk.


Shin menatap mereka berdua. Dia sedang berpikir. Saat ini pikiran nya sangat kacau dan dia tidak bisa berpikir jernih. Haruskah dia membawa kedua orang ini dalam kamarnya? Agar kakak dan ibunya tidak ikut campur? Tapi itu semakin mencurigakan. Shin sangat jarang membawa orang lain ke kamarnya, walaupun Darwin biasanya masuk sendiri tanpa disuruh.


Tapi kekhawatiran yang ditakutkan pun terjadi. Tiba-tiba dua orang lainnya melangkah ke ruang tamu. Seorang pria dewasa tampan dan perempuan paruh baya cantik.


Shin langsung panik. "Kita belajar di kamar saja" katanya. Dia sebenarnya tidak khawatir dengan keberadaan Darwin, tapi dia khawatir dengan keberadaan Nana.


"Eh? Wah~ Kau mengajak kami ke kamarmu? Ini benar-benar tidak biasa~"


"Ayo cepat!" kata Shin sambil mendorong Darwin dan Nana.


"Kenapa terburu-buru? Kalian mau kemana?" suara perempuan dewasa yang sangat dingin bergema. Tiga orang itu langsung mematung.

__ADS_1


"Ibu?" Guman Shin pura-pura bingung.


"Ah bibi!" teriak Darwin girang. Dia langsung menghampiri Ibu Shin. "Lama tidak berjumpa bibi. Apa bibi sehat?" tanya Darwin dengan nada manja.


Ibu Shin tersenyum, dia mengelus kepala Darwin. Darwin sudah dianggap anak angkat oleh Ibu Shin sendiri. "Kau juga kemana saja? Jarang sekali melihatmu berkunjung kemari"


"Hm...maafkan aku bibi hehehe. Tapi sekarang aku sudah berkunjung bukan. Aku rindu bibi ah~"


"Lalu siapa itu?" Ibu Shin mengalihkan tatapannya pada Nana.


"Ah! Dia teman sekelas kami. Dia kesini untuk menemui Shin juga. Shin akan mengajarinya belajar"


"Apa?" Ibu Shin mengernyitkan kening. "Sejak kapan anakku mengajarkan orang lain?" katanya sarkas.


Aku masih berdiam mematung. Mendengar nada sarkas ibu Shin, aku semakin membeku. Aku ingat di dalam cerita Ibu Shin sangat tidak menyukai Rin. Dia sangat tidak suka Shin memiliki teman yang asal, usul, bibit, bobotnya tidak jelas.


"Selamat malam bibi.." kataku gugup.


Ibu Shin masih menatapku dengan mata dinginnya. Astaga! Apa aku benar-benar dibenci? hiks


"Siapa namamu?" tanya ibu Shin.


"Em...Nana".


"Nama keluarga mu?"


Aku semakin gugup. Kenapa ibu Shin tiba-tiba menanyakan nama keluargaku? Apa dia ingin mengancam ku dengan itu? Atau dia ingin membuat bisnis keluargaku bangkrut? Astaga sebenarnya aku salah apa...


"Nana...Nana Fent"


"Oh? Dari keluarga Fent ya..." dia bergumam.


"Aku akan mengirim hadiah nanti untuk keluarga Fent.."


"Eh?" mataku membelalak kaget.


Ini bukan jawaban yang diperkirakan sama sekali. Hadiah apa? Kenapa harus diberi hadiah?


"Shin, apa kau benar-benar tidak suka Lista?" tanya ibunya tiba-tiba.


Shin mengernyitkan kening. "Apa maksudnya? Dia hanya teman masa kecilku" Shin menjawab dengan nada tidak senang.


"Baiklah sudah diputuskan. Aku akan mengirim kan hadiah pertunangan ke keluarga Fent"


Duar! Mendengar perkataan itu semua orang mematung.


Shin melonggo dan terdiam. Darwin membuka mulutnya sambil menatap ibu Shin tidak percaya. Aku berdiri mematung di tempat sambil mencerna apakah aku berada di dunia nyata atau tidak.


"Pfftt" Ren yang berdiri di samping sangat menikmati pertunjukan sambil menahan tawanya.

__ADS_1


__ADS_2