
Aku menatap Shin. Konsep ini selalu terngiang-ngiang di kepalaku.
"Kau memang benar. Kalau ada yang asli kenapa kita membutuhkan gambar"
"...."
"Um...Kau juga tunanganku bukan?"
"..."
Shin semakin bergidik. Kelihatannya firasat tidak enaknya akan menjadi kenyataan.
"Jadi seharusnya itu sah kalau aku melihat tubuhmu bukan?" kataku blak-blakan dengan mata berbinar. Aku mungkin akan mengeluarkan air liur juga.
Shin merasa seperti tubuhnya tersentrum listrik. Dia benar-benar kaget dan merasa bodoh. Dia benar-benar membangunkan hewan buas. Dia lupa bahwa gadis ini sedikit aneh dan mesum. Harusnya dia menjaga perkataanya. Kenapa dia mengatakan hal-hal seperti itu!
Shin sendiri tidak tahu. Dia hanya merasa kesal saat melihat majalah itu. Lalu secara refleks merusaknya. Dia merasa tidak enak juga karena merusak barang orang lain tanpa izin. Tapi entah kenapa dia tidak bisa mengendalikan emosinya. Dia merasa lebih tidak nyaman saat melihat wajah sedih gadis itu. Jadi dia mulai mengarang alasan yang logis. "Dia adalah tunangannya". Dan untuk kata-kata lainnya, Shin bahkan tidak habis pikir bahwa dia dapat mengatakannya.
"Aku bisa melihatnya bukan?" tuntutku.
"Apa maksudmu?"
"Jangan bersikap bodoh" aku langsung dengan cepat mendekati Shin. "Tunjukan padaku sekarang. Sebentar saja. Hanya buka bajumu sedikit tidak masalah kok..." kataku absurd sambil menggerakkan jari-jariku. "Kau harus bertanggung jawab"
Ini adalah pengalaman pertamaku menyentuh tubuh pria tampan. Aku sangat menantikannya!
"Apa kau bodoh?" Shin dengan cepat menghindar.
Tapi aku bertindak lebih cepat. Aku menarik bajunya lalu menahan tubuhnya dengan kakiku.
"Sebentar, sebentar saja.Perlihatkan padaku." kataku bersikeras sambil berusaha menyibak baju Shin.
"Hentikan, jangan menguji kesabaranku..."
Aku mengabaikan perkataan Shin.
Aku tidak bisa mengendalikan diriku saat ini. Tapi kita tidak tahu kapan akan menemukan momen langka seperti ini lagi. Jadi aku harus memanfaatkannya.
Urat-urat kekesalan mulai muncul di kepala Shin. Gadis bodoh ini menahan tubuhnya dengan kaki lalu mulai menarik-narik bajunya. Shin mulai kesal.
Melihat perlawanan Shin, aku sama sekali tidak senang. "Kau harus bertanggung jawab. Kau merusak harta karunku. Jadi sekarang ganti ituuuu" kataku masih berusaha.
"Sudah kubilang jangan bersikap bodoh!" Shin sepertinya kehilangan kesabaran. Dia menarik kedua tangan gadis itu, lalu melemparkan tubuhnya di kasur dan menindihnya.
"Eh?"
Aku menjadi panik saat Shin mulai melemparkan tubuhku di kasur dengan tiba-tiba. Lalu dia mulai menyegel kedua tanganku.
__ADS_1
Shin menatap wajah Nana lekat-lekat. "Sudah kubilang jangan menguji kesabaranku" katanya sekali lagi.
Uwahhhh...
DEG! DEG! DEG! Jantungku berdegup kencang saat ini.
Wajah marah Shin sama sekali tidak membuatku takut. Malah membuat wajahku menjadi udang rebus.
Dan terlebih lagi wajah tampan itu berada di jarak yang sangat dekat dengan wajahku. Aku bahkan bisa merasakan napasnya.
Tapi bukankah posisi kami cukup absurd saat ini?
Lalu....
KRIETT! Pintu kamarku pun terbuka.
Aku melihat ibuku masuk dengan napan berisi teh dan juga biskuit.
Ny. Fent membuka pintu. Lalu dia terkejut dengan pemandangan di depannya. Bahkan tubuhnya membeku sebentar sebelum akhirnya dia mengubah ekspresinya lagi sambil tersenyum.
"Aku membawakan cemilan"
Shin dengan cepat melepas pegangannya dan beranjak dari kasur.
"Terima kasih"
Aku juga dengan cepat bangun dan duduk di dekat meja kamarku.
Ya, mereka pikir begitu. Sampai akhirnya pintu terbuka kembali dan Ny. Fent menyodorkan kepalanya.
"Ingat. Selesaikan sekolah kalian dulu."
Lalu BRAK, pintu pun tertutup.
"...."
Nana dan Shin terdiam. Otak mereka membeku saat ini. Bagaimana bisa orang lain melihat mereka dengan posisi absurd seperti itu?
Wajah mereka berdua langsung memerah.
Tapi pikiran Nana lebih kacau.
Apa maksud perkataan ibu? Dia pasti salah paham! Aku memikirkan kembali rumor yang tersebar di sekolah. Arghhh! Ini membuat kepalaku benar-benar panas.
Semuanya salahku. Bagaimana aku bisa bertindak di luar akal sehat dan mulai menarik-narik baju Shin. Memikirkan kembali tingkahku beberapa menit sebelumnya membuatku berpikir bahwa aku orang bodoh!
Walaupun Shin juga merasa malu. Dia dengan cepat merubah ekspresinya menjadi dingin lagi.
__ADS_1
"Keluarkan bukumu" katanya mengalihkan topik.
"Eh?"
"Aku tidak bisa membuang waktuku lagi. Bukankah kau tahu aku kemari untuk apa?"
Karena otakku masih belum sepenuhnya pulih, aku dengan linglung memindahkan buku yang ada di meja belajar dengan wajah bodoh.
"Kenapa kau tiba-tiba ingin mengajariku?"
"Kau adalah tunanganku. Entah kenapa aku punya firasat buruk nilaimu akan jelek"
Jleb! Aku merasa seperti tertusuk.
"Kalau nilaimu jelek akan tersebar bahwa tunanganku orang yang bodoh"
Jleb!
"Itu merupakan hal memalukan buatku"
Jleb!
"Apakah jelas?"
Aku dengan patuh mengangguk.
"maafkan aku sebelumnya...itu ...aku diluar kendali..." kataku terbata-bata dengan nada menyesal.
"Tidak masalah. Kau bisa..." Shin langsung menghentikan perkataannya. Sebenarnya dia ingin mengatakan 'Kau bisa melihatnya nanti'. Tapi Shin takut kata-kata itu akan membawa petaka. Jadi dia mengurungkan niatnya.
Aku hanya mengangguk lemah.
Akhirnya Shin pun mulai mengajariku. Dia mengajariku dengan cukup intens kali ini. Saat aku melakukan kesalahan dia akan terus menyuruhku untuk mengulanginya dari awal. Ini berat. Gaya mengajar Shin menjadi lebih kejam. Kelihatannya dia benar-benar marah dan membalaskan dendamnya padaku sekarang.
Hiks, maafkan aku...
***
Akhirnya setelah tiga jam, aktivitas belajar pun berakhir. Shin akan segera pulang. Sekarang benar-benar sudah larut. Aku mengantarkan Shin sampai di pintu depan dan menyuruhnya berhati-hati untuk mengemudi.
Shin memperhatikan bahwa wajah gadis bodoh itu menyedihkan. Setelah mereka selesai belajar bahkan wajahnya lebih tertekan. Sekali lagi Shin merasa tidak nyaman. Dia tidak mau melihat gadis bodoh itu sedih. Jadi sebelum pergi, dia menyampaikan sebuah janji singkat pada si gadis bodoh.
"Kalau kau berhasil lulus ujian dengan nilai yang baik. Kita bisa liburan ke pantai"
Aku hanya mengangguk saat mendengar perkataan itu.
Tapi aku juga sangat antusias. Liburan ke pantai? Bukankah itu cukup bagus? Dan terlebih lagi ada banyak sekali pria tampan di pantai.
__ADS_1
Shin sudah mengerti isi otak Nana. Jadi dia tidak akan membawanya ke tempat umum. Dia akan membawanya ke pulau pribadi bersama orang-orang yang sudah mereka kenal.
Tapi Shin tidak tahu bahwa Nana tidak mengerti maksud tersembunyi dari perkataannya. Maksudnya adalah dia memberikan hadiah kecil kepada gadis bodoh itu untuk melihat tubuhnya. Liburan ke pantai adalah cara paling aman untuk melakukannya