
Aku membawa Rin ke tempat terakhir. Setelah puas berbelanja, aku membawa kedua orang itu ke rumah makan. Aku memilih restauran makanan cepat saji, yang memiliki banner makanan menggiurkan di depan toko mereka, dan membawa keduanya masuk.
"Kali ini, aku yang akan membayarnya" Ken akhirnya bersuara setelah beberapa jam berlalu.
Aku mengangguk setuju. Ini bukan masalah sama sekali. Sementara Rin mengerutkan keningnya tidak nyaman. Tapi dia tidak membantah sama sekali.
Kami pun makan malam bersama. Makan malam ini sangat menyenangkan karena aku sedang bersama Rin. Saat aku menggoda nya, gadis itu tersipu malu. Sehingga antusiasku untuk menggodanya semakin meningkat.
Setelah menyelesaikan makananku, aku berkata. "Ken, kau bisa mengantarkan Rin pulang. Aku akan pulang sendiri."
Uhuk! Uhuk!
Rin yang sedang meminum minumannya langsung tersedak. "Apa yang kau bicarakan? Kita pergi bersama-sama. Jadi kita juga harus pulang bersama!" katanya tidak senang.
Aku sebenarnya ingin membuat dua orang yang malu-malu kucing ini menjadi lebih dekat. Karena itulah, aku mengusulkan ide ini.
"Shin akan menjemput ku" aku berbohong. Aku sengaja mengatakan hal ini agar Rin tidak protes. Dan ternyata itu efektif.
"Aku akan pulang sendiri..." kata Rin kemudian sambil menundukkan wajahnya malu. Ini bukan pertama kalinya dia pulang berdua dengan Ken, tapi tetap saja dia masih malu kalau hal itu benar-benar terjadi.
"Apa yang kau bicarakan sekarang? Ini sudah malam. Apa kau yakin ingin pulang dengan semua belanjaan itu sendiri? Kau akan menjadi target empuk penjahat" kataku cemberut.
Rin sedikit ketakutan saat mendengar perkataan Nana. Terutama di bagian kata "penjahat".
"Nana benar. Aku tidak keberatan untuk mengantar mu pulang" kata Ken sambil tersenyum tulus.
Rin kalah telak. Dia tidak bisa melawan lagi. Jadi setelah kami menyelesaikan makan malam, Rin dan Ken pulang lebih dulu.
"Hati-hati~" aku melambai ke arah mereka yang akan menuju tempat parkir. Sementara aku masih berada di halaman depan mall.
Sekarang saatnya memanggil taksi. Aku tidak mungkin memanggil Shin, dia akan memberiku tatapan sinis dengan cepat. Walaupun aku ingin memanggil nya, hiks...
Aku berusaha mengambil ponsel di dalam tasku. Ini cukup sulit sejak aku memegang banyak kantong belanjaan di tanganku.
__ADS_1
Sampai tiba-tiba, BRUK! Seseorang menabrakku dari belakang, membuat peganganku terlepas. Kantong belanjaan yang kupegang pun berhamburan ke lantai.
Untung saja aku tidak tersandung dan jatuh. Siapa sih orang bodoh yang sudah menabrakku? Apa dia tidak punya mata sama sekali?
Aku menoleh dan bersiap untuk mengomel pada orang tidak tahu diri ini. Tapi aku berhenti saat melihat wajah yang ku kenal.
Astaga!
Itu adalah Feno yang sedang bergandengan tangan dengan wanita yang sangat seksi! Wanita itulah yang sudah menabrakku dan membuat kantong belanjaan ku berhamburan.
Aku tidak jadi mengeluarkan suara karena aku bertatapan langsung dengan Feno.
Wanita di samping Feno menatap Nana dengan tatapan tidak senang. Awalnya, dia merasa sombong dan bangga dengan kantong belanja tas mahal di tangannya. Tapi dia merasa iri saat melihat Nana membawa banyak sekali kantong belanja barang bermerek.
Dia sudah susah payah merayu Feno untuk membelikan nya tas mahal ini. Dia sangat senang saat tahu Feno menerima ajakannya setelah dia harus menunggu selama seminggu. Karena Feno harus berkencan dengan wanita lainnya.
Feno memiliki banyak wanita sebagai teman mainnya. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang terlibat hubungan dengannya. Walaupun para wanita itu ingin menjadi kekasihnya, Feno tidak ingin. Bagi Feno mereka hanya wanita sekali pakai. Feno melakukan semua ini karena rasa iri nya pada Shin, yang selalu dikerumuni oleh perempuan.
"Kau?" Feno mengernyitkan keningnya. Dia langsung mengenali Nana.
"Humph! Dasar simpanan pria tua kaya" ejek wanita seksi itu.
Wanita itu percaya bahwa Nana memperoleh semua itu karena dia adalah simpanan pria tua kaya. Lagipula tampang Nana sama sekali bukan seperti gadis bangsawan. Dan tidak mungkin pria kaya muda memberikan nya banyak barang mewah. Hanya pria tua kaya yang melakukan hal seperti itu karena mereka sangat memanjakan gadis-gadis muda
Aku melonggo saat mendengar nya. Apa-apaan? Bukankah mulut wanita ini terlalu kurang ajar? Apa aku terlihat semiskin itu sampai dia harus menyebutku sebagai simpanan pria tua?
"Kau!" aku ingin memarahinya. Tapi tiba-tiba, PLAK! Terdengar suara tamparan.
Ya, Feno menampar wanita seksi itu. Bahkan membuatku kembali melonggo di tempat.
"Ketahui tempatmu" kata Feno dingin. "Minta maaf padanya"
Wanita seksi itu memegang pipinya yang memerah dan menatap Feno tak percaya. Walaupun Feno bermain dengan banyak wanita, dia tidak pernah berbuat kasar kepada semua wanita itu sama sekali. Tapi kenapa sekarang Feno menamparnya?
__ADS_1
Dia menatap Nana dengan penuh kebencian. Seakan-akan Nana adalah sumber semua ini. Tapi dia juga penasaran, apa hubungan gadis ini dengan Feno? Apa dia juga salah satu wanita nya?
"Aku minta maaf..." kata gadis seksi itu.
Aku tahu bahwa permintaan maaf itu tidak tulus sama sekali. Tapi aku tidak melakukan komplain apapun karena tidak ingin masalah ibi bertambah panjang.
"Kau bisa pulang duluan" kata Feno dingin.
Gadis seksi itu tersentak. "Tapi... bukannya kit pergi bersama? Seharusnya kita juga pulang bersama" katanya.
Wajah Feno cemberut. Dia menatap gadis di depannya dengan tatapan sangat tajam.
Wajah gadis seksi memucat saat dia melihat tatapan menyeramkan Feno. Lalu matanya berair dan dia pergi sambil menangis. Dia bukan sedih karena Feno mencampakkan nya, lagipula dia sudah mendapatkan tas favoritnya. Tapi dia sedih karena dia belum mengambil selfie di mobil mahal itu. Dia berencana melakukannya saat pulang, tapi harapannya sudah pupus sekarang.
Aku melihat wanita seksi itu sedikit tidak nyaman. Feno cukup kejam. Dia menamparnya dan bahkan mengusir nya seperti itu. "Hei, bukankah hal yang kau lakukan pada kekasihmu sedikit berlebihan?" kataku refleks.
Aku tahu kepribadian Feno sangat keras. Dan dia juga cukup kejam kepada wanita dan pria. Tapi setelah melihat nya sendiri, aku tanpa sadar memberikan komplain. Padahal bisa jadi nasib wanita seksi itu akan menjadi nasibku selanjutnya.
"Dia bukan kekasihku" jawab Feno ketus.
"Oh" kataku tak peduli. Aku mengalihkan pandanganku dengan cepat dan segera mengambil barang-barang belanjaan ku yang berserakan. Aku ingin cepat-cepat pergi dari sini untuk menghindari kondisi canggung ini.
Tapi siapa yang menyangka bahwa Feno juga akan membantuku mengumpulkan semua barang belanjaanku! Ini benar-benar mengejutkan ku!
"Terima kasih" kataku tulus. Aku kira dia akan mencincang ku saat kami bertemu. Tapi ternyata tidak. Dia bahkan membantuku.
"Apa tidak ada yang menjemput mu?" dia kemudian bertanya.
Aku mengerjap tak percaya. Dia bertanya sesuatu padaku dengan sikap baik-baik sekarang. Apa pria ini kerasukan sesuatu?
"Aku akan memanggil taksi sekarang" aku menjawab dengan senyum canggung. Aku mengeluarkan ponselku untuk mencari taksi online, tapi kemudian dia berkata.
"Aku akan mengantarmu pulang"
__ADS_1
"..."
Aku membeku. Aku bahkan hampir menjatuhkan ponselku.