Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Keberuntungan Buruk


__ADS_3

"Maafkan aku" serbuku cepat sambil menunduk meminta maaf.


"I..iya ta...tapi" kata Rin terbata-bata sambil berusaha berjongkok untuk mengambil serpihan kaca.


"Jangan!" aku langsung menarik tangan Rin. "Suruh pelayan saja membersihkannya"


"Tapi...aku pelayan..." jawab Rin dengan wajah bingung.


"Ah!" aku menepuk keningku. "Aku benar-benar lupa" kataku lirih.


"Apa kau sedang ingin mencari perhatian?" suara yang tidak kukenal tiba-tiba bersuara dengan nada menyindir. Aku menoleh dan melihat Lista sedang berdiri di dekat kami. Dia benar-benar pindah secepat gelombang ultrasonik.


Wow, ini adegan yang biasanya di film-film bukan? Saat cewek kaya datang buat ngelabrak cewek miskin (sang tokoh utama).


"T...tidak..." jawab Rin tiba-tiba dengan nada lirih. Dia sangat takut, panik dan merasa bersalah.


Lista mengernyitkan kening, tidak suka. Lalu mulai merubah ekspresinya menjadi datar lagi. "Kau suka menarik perhatian ya?"


"T..tidak....bukan salahku..." jawab Rin tergagap.


"Diam kauu!!" teriak Lista kesal. Dia menatap Rin kesal. "Aku tidak berbicara padamu. Berhenti mengeluarkan suaramu, menjijikan" sahutnya.


Lalu mengalihkan pandangannya padaku.


"Apaaa?" kali ini aku yang berteriak. "Kau berbicara padaku? Kenapa?"


Cih, Lista mendecakkan lidahnya.


"Benar-benar buang waktu berbicara dengan orang bodoh"


Lista menunjukku dengan gaya mainstreamnya. "Kau!" teriaknya. "Kalau kau ingin menarik perhatian Shin dengan kejadian semacam ini. Kau salah besar. Dia tidak akan tertarik. Berhenti menjadi gadis yang bersikap sok bodoh dan polos!"


Apaaa?? Aku benar-benar bingung kali ini?


Kenapa jadi aku yang dilabrakkk?


Aku bahkan belum pernah berbicara dengannya, bagaimana dia bisa memiliki kebencian yang begitu ekstrem untukku? Menggoda Shin?

__ADS_1


Tolong, aku baru bertemu Shin dua kali oke. Lagipula bagaimana mungkin aku bisa menggodanya. Bagaimana masalah seperti ini disebut mencari perhatian? Ini musibah oke? Kecelakaan...


"Otakmu rusak?" tanyaku lagi dengan wajah lugu. "Ckckck, atau matamu buta?"


"Kauu!! Berani-beraninya kau!" teriak Lista geram.


Dia tampak mengerikan. Mirip dengan nenek sihir di dalam buku gambar. Membuatku sontak agak takut saat diteriaki.


AKu langsung meringsutkan tubuhku, bersembunyi di balik tubuh Rin.


'Hoii, matamu buta? Aku bukan targetmu. Targetmu itu gadis ini, gadis polos ini tahu.' pikirku sambil melototkan mataku.


Aku melihat sosok Lista bergetar. Dan dia menggengam kedua tangannya menahan marah.


"Maksudku apa kau berpikiran salah. Ini musibah oke. Bagaimana musibah bisa menjadi menggoda?" kataku memperjelas.


Entah kenapa, perkataanku membuat tubuhnya lebih gemetar dan wajahnya memerah.


Uwaahh, gadis ini pasti bersiap untuk memukulku? Bukan, biasanya para gadis saaat berkelahi tidak memukul, tapi menjambak rambut?


'Dan tenang saja. Aku memiliki perisai' pikirku sambil menepuk bahu Rin lembut. 'Maafkan aku tokoh utama. Kali ini jadilah perisaiku. Aku akan melemparmu padanya sebelum dia bersiap untuk menjambakku hehehe' pikirku sambil tersenyum cengengesan.


"A...ada apa...nona?" tanya Rin gagap, bingung saat bahunya tiba-tiba ditepuk.


Aku menggeleng. "Tidak apa-apa." jawabku. "Aku hanya ketakutan" kataku santai sambil melirik Lista.


Amarah Lista memuncak saat dia melihat Nana menatapnya dengan wajah bercanda. Matanya menjadi semakin merah. Dia menghampiri kami perlahan.


Aku panik, refleks langsung mendorong Rin ke arahnya.


"Uwahh..." pekik Rin kaget, saat tubuhnya maju ke depan dengan sendirinya dan menabrak Lista.


Saat mendorong Rin, kakiku juga ikut mundur kebelakang. Dan tanpa sadar, heels yang aku kenakan menginjak bekas minuman yang berceceran.


Dan aku terpelest!


Uwahhh, dewi keberuntungannn!! Kenapa kau memberiku keberuntungan yang buruk? Dimana poin keberuntunganku? Kenapa aku selalu menghadapi kejadian buruk semenjak aku berada di dunia ini ? Hiks...

__ADS_1


Aku berusaha menahan tubuhku agar tidak jatuh dengan memegang meja di sampingku. Tapi itu berujung maut, aku tidak memegang meja, tetapi malah menarik alasnya, sehingga beberapa makanan di atas meja ikut bergeser.


'Mati aku!' umpatku saat aku melihat meja mulai berantakan dan aku melepaskan peganganku, menyerah, bersiap untuk jatuh.


Tapi pantatku tidak menubruk sesuatu yang keras seperti lantai, tapi menubruk sesuatu yang lembut. Hmm, tidak lembut-lembut amat, tapi seperti...


Aku menoleh, dan melihat Shin tertindih olehku.


Aku mebelalakan mataku, kaget. "Bagaimana bisa kau ada di belakangku?" tanyaku bodoh.


***


Shin juga melihat ke arah asal suara. Suara barang pecah yang membuat semua orang di pesta mengalihkan perhatiannya. Lalu dia melihat dua orang teman sekelasnya. Dia ingat gadis berkuncir itu adalah gadis yang pendiam. Dan gadis dengan rambut pendek itu adalah gadis bodoh yang ditemuinya saat upacara penyambutan. Lalu dia melihat, teman masa kecilnya, Lista, menghampiri kedua gadis itu. Dia tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Jadi Shin berjalan mendekat.


Tapi, tiba-tiba saat Lista membuat pergerakan, gadis berkuncir terlempar ke arahnya. Lalu gadis bodoh itu terpeleset ke belakang. Shin langsung mempercepat gerakannya untuk menarik gadis itu agar tidak jatuh. Tapi gadis bodoh itu memegang alas meja, sehingga dia agak kaget saat makanan di atas meja mulai bergerak ke tepi, akan jatuh. Dia refleks menahan alas meja agar makanan diatasnya tidak jatuh. Lalu gadis bodoh itu melepas pegangannya dan menjatuhkan tubuhnya, menindihnya.


***


"Sampai kapan kau akan menindihku?" tanya Shin dingin.


"Ah, maaf.." aku langsung berdiri.


"Maafkan aku" aku langsung menundukkan kepalaku meminta maaf.


Dalam satu hari, aku sudah dua kali meminta maaf. Keberuntunganku benar-benar buruk hari ini.


Aku mengulurkan tanganku bersiap untuk membantu Shin berdiri "Maaf... kau bisa..."


Tapi, tiba-tiba tangan lainnya muncul disampingku. Dan aku melihat Ken tiba-tiba sudah berdiri disampingku dan mengulurkan tangannya "Kau tidak apa-apa junior?" katanya ramah.


Shin, tentu saja menyambut tangan Ken, langsung berdiri.


Aku menyembunyikan wajahku yang kecewa. Apa-apaan ini, tokoh utama kedua menghalangi keberuntunganku untuk merasakan tangan tokoh utama pertama. Apakah para tokoh utama ini membuatku bernasib tragis?


Hikss, hikss, hikss, aku terisak-isak. Tapi, aku hanya bisa terisak di dalam hati. Apakah keberuntunganku memang seburuk ini?


Bagi para readers, mohon dibantu untuk memperbaiki ratingnya ya~

__ADS_1


__ADS_2