Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Kepala Sekolah


__ADS_3

Aku berjalan dengan linglung, mengekor guru pengawas menuju kantor kepala sekolah. Saat aku berjalan, aku bisa melihat seluruh murid memandangiku lalu menunjukku dan kemudian berbisik-bisik satu sama lain.


Tidak mungkin berita tentangku bocor secepat itu kan?


Kejadiannya hanya beberapa menit yang lalu! Kita memang tidak boleh terlalu meremehkan gosip. Gosip sangat berbahaya!


Kami melewati lorong kelas dan akhirnya sampai di ruang guru. Aku tetap mengamati situasi dengan mulut berkedut. Bagaimana bisa hal menyusahkan ini terjadi padaku? Argh!


Liburanku benar-benar terancam kali ini! Apakah benar-benar tidak ada harapan...


Guru pengawas itu membuka pintu dan kami masuk ke ruang guru. Tapi ruangan ini bukanlah tempat tujuan. Kami masih terus berjalan ke ujung melewati para guru. Ada sebuah ruangan di sudut. Ruangan kecil yang terlihat sangat VIP. Ini adalah ruang kepala sekolah.


Ini sangat canggung untukku karena para guru menatapku saat aku berjalan, jadi aku tetap menundukkan kepalaku tanpa memperhatikan mereka.


Guru pengawas itu membuka pintu "Ayo masuk" titahnya.


Aku melangkah masuk dengan enggan. Di dalam ruangan sang kepala sekolah sedang duduk di mejanya sambil memegang tumpukan berkas. Saat dia melihat kami masuk, dia langsung memindahkan berkasnya ke samping sambil menatap kami.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Aku sudah menerima laporannya" tanya Kepala Sekolah.


Sang Kepala Sekolah adalah seorang pria tua berumur 50 an, seumuran dengan ayahku. Tubuhnya tidak pendek dan tidak terlalu gemuk. Walaupun sudah setengah baya, tubuhnya masih bagus dan tegap. Aku mengingat kembali cerita di dalam komik ini. Jujur saja, aku sama sekali tidak mengingat peran kepala sekolah. Dia adalah peran pendukung dengan sedikit dialog dan juga sangat jarang muncul di dalam komik.


Tapi ada satu hal yang kuketahui. Kepala sekolah ini bukan orang jahat. Aku tahu dia selalu mendukung Rin dan aku yakin dia orang yang adil.


Sang guru pengawas pun menceritakan semua yang terjadi dengan menggebu-gebu. Dia juga menambahkan kata provokasi seperti 'anak ini selalu tertidur di kelas', 'tidak pernah mengikuti pelajaran dengan serius', 'hanya ingin bermain'.


Aku menatap sang guru pengawas itu dengan kesal. Bagaimana dia bisa mengatakan hal seperti itu tentang aku. Aku tertidur juga karena kelelahan belajar! Memang benar aku tidak pernah serius mengikuti pelajaran, tapi itu  sebelum masa-masa ujian.


Setelah mendengar cerita guru pengawas, Kepala Sekolah mulai mengalihkan perhatiannya padaku. "Ada pembelaan?" katanya sambil mengangkat alisnya.


"Aku sama sekali tidak mencontek. Aku mendapatkan botol yogurt itu karena teman sekelas yang memberikannya padaku! Aku sama sekali tidak pernah membuat contekan apa pun" kataku tidak mau kalah. Bagaimana kalian bisa menyudutkanku seperti itu? Aku tidak akan kalah, humph!


"Berhenti berbohong!" bentak sang guru pengawas.

__ADS_1


Aku menatap guru pengawas itu dengan mulut berkedut. Aku sama sekali tidak bohong! Tapi aku tidak berani bersikap memberontak seperti itu. Aku takut sikapku akan dianggap tidak sopan nantinya.


"Aku akan memikirkannya." kata Kepala sekolah. "Apa kau bisa memberitahuku siapa yang memberikanmu botol itu?" dia bertanya pada Nana.


"Itu Dian" jawabku langsung. "Ini memang tidak masuk akal tapi mereka benar-benar menjebakku, Dian dan teman-temannya" kataku.


"Baiklah, aku akan memanggil mereka" kata Kepala Sekolah.


Guru pengawas tidak senang dengan perkataan Kepala Sekolah. "Bagaimana bisa melibatkan murid yang tidak bersalah dan lagipula dia tidak punya buktinya. Bisa saja dia menuduh murid lainnya karena kesalahan sendiri." jelasnya.


Aku benar-benar ingin memukul guru pengawas ini kalau aku bisa. Apa aku seburuk itu di matanya sampai dia tidak mempercayai perkataanku?


***


Shin saat ini sedang sibuk dengan ponselnya. Sementara Darwin terus menerus berbicara di sampingnya dengan khawatir.


"Bagaimana ini? Aku tahu kelinci itu memang bodoh. Tapi aku tidak percaya dia akan mencontek seperti itu" kata Darwin cemas. "Kalau memang dia mencontek, dia sangat tidak professional" katanya kecewa.


Lalu tiba-tiba tubuhnya membeku dan dia tersenyum. "Sudah kuduga dia tidak melakukannya..." Kata Shin.


Lalu dia menghubungi Kepala sekolah untuk meluruskan semua kesalahpahaman.


Darwin mengernyitkan bingung saat melihat gerak-gerik ini sahabatnya itu. Tapi dia tidak terlalu mempedulikan nya dan melanjutkan ocehannya.


***


Kepala Sekolah ingin memanggil tiga murid lainnya yang dianggap terlibat.


Lalu Ting! Tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Kepala sekolah mengecek ponselnya lalu matanya berbinar.


Dia menatap guru pengawas sambil tersenyum. "Biarkan gadis itu kembali" katanya sambil menunjuk Nana.

__ADS_1


"Eh?" guru pengawas membelalakan matanya kaget. "Bagaimana bisa pak? Walaupun dia menggunakan uang untuk menjernihkan masalah ini tetap saja kita tidak bisa melepaskan nya!" dia bersikeras.


Mata kepala sekolah menyipit dan nadanya menajam. "Apa kau ingin membantah perintah ku?" katanya dingin.


"Tidak...aku tidak berani..."


Kepala sekolah menatap Nana lalu tersenyum "Kau bisa kembali"


Aku sedikit kaget dengan sikap kapala sekolah. Tapi aku sangat senang. Aku tidak jadi dihukum! Yeay~


Berarti ujianku akan baik-baik saja. Aku hanya perlu menunggumu pengumuman hasil ujian.


"Terima kasih pak" kataku ramah sambil memberi hormat. Aku melangkahkan kaki keluar ruang kepala sekolah dengan senyum lega.


Setelah kepergian Nana, hanya Guru pengawas dan Kepala sekolah yang tersisa di dalam ruangan.


"Bagaimana bapak bisa melakukannya? Ini akan membuat murid-murid itu menjadi tidak hormat kalau kita tidak menghukum mereka" dia memberikan keberatan lagi


"lihat ini" kata Kepala Sekolah sambil menunjukkan ponselnya. Di dalam ponsel itu ada sebuah rekaman cctv. Dimana empat orang murid berkumpul. Lalu salah satu murid mulai membagikan botol minuman ke murid lainnya. Mereka adalah Nana dan murid lainnya.


"Gadis itu tidak berbohong" kata Kepala Sekolah.


Guru pengawas menjadi canggung. Keringat dingin mulai muncul di dahinya.


"Bagaimana menurutmu? Keputusan nya terletak padamu. Apa kau ingin menghukum mereka?" tanya kepala sekolah lagi.


"Em...aku kira tidak usah berlebihan seperti itu... lagipula ini hanya permainan anak-anak." respon guru pengawas itu gugup. Takut kepala sekolah akan mengambil tindakan.


Mata Kepala sekolah menyipit. Sekejap dia mengeluarkan aura yang sangat dingin. Tapi aura itu meredup kemudian. "Permainan anak-anak ya....kau benar..." katanya sarkas.


"P...pak...pak..."


"Panggil mereka. Aku ingin tahu permainan apa yang sedang mereka mainkan" kata Kepala sekolah, membuat Guru pengawas itu mematung.

__ADS_1


__ADS_2