Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Pura-pura Sakit


__ADS_3

Aku mengabaikan bunyi bel itu. Tapi bel nya tetap berbunyi sehingga mau tidak mau, aku harus membuka pintunya.


Saat aku perlahan membuka pintunya, tebak apa yang aku lihat. Seseorang yang sama sekali tidak aku duga akan berkunjung kemari.


"Shin?" aku mengerjap kaget.


Apa dia benar-benar menyusulku ke kamarku karena aku marah? Ehhhh? Yang benar?


Shin membalikkan kepalanya.


"Aku hanya ingin mengecek keadaan" jawabnya singkat dengan nada yang datar.


"Umm...aku baik-baik saja. Apa kau khawatir padaku?" aku menatapnya sungguh-sungguh dengan mata berbinar.


"Tidak" dengan cepat dia menyangkal.


Ha~ aku menghela napas, melepaskan semua kekecewaan dalam hatiku.


Ayolah, kau boleh menggoda pria ini. Tapi dia tidak akan pernah menganggap semuanya serius. Kalau aku menanggapi nya terlalu serius juga bisa gawat. saat kenyataan sama Sekali tidak sesuai dengan khayalan, aku akan jatuh dengan rasa sakit yang kuat. Seperti saat ini uhuuu.... menyakitkan~


"Lalu kenapa kau kemari?" tanyaku cemberut.


Shin menggaruk kepalanya malu-malu. "Kau membuat masalah di meja makan. Dan langsung pergi begitu saja. Semua orang bertanya-tanya apa yang terjadi padamu."


Aku menatap Shin cemberut. Lalu menghela napas untuk menenangkan emosiku. Kadang aku tidak akan menganggap serius semuanya dan memilih bercanda. Tapi kenapa aku merasa kesal setelah mendengar jawaban Shin? Dia sama sekali tidak khawatir padaku. Dia juga tidak membelaku.


"Aku lelah, ingin istirahat" kataku kecewa sambil menutup pintu kembali.


"Tunggu!" Shin dengan cepat memblokir pintu sehingga tidak bisa ditutup.


"Ada apa denganmu? Apa kau sakit? Mabuk laut?" Dia bertanya dengan cepat. Wajahnya tampak jelas. Ini sama sekali bukan gadis bodoh yang dia kenal. Gadis bodoh itu selalu bersemangat dan konyol. Dia merasa aneh saat melihat tatapan sedih gadis itu dan tingkahnya yang lesu.


aku mengernyit kan kening lagi.


"Aku tidak mabuk laut. Aku tidak sakit. Apa kau khawatir pada ku?" aku menanyakan pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.


"Tentu saja!" jawab shin langsung.


Mataku mengerjap. Aku menatap Shin dengan mata berbinar. Senyum kecil pun mulai terbentuk di bibirku.


"Aku tentu saja akan cemas kalau satu dari kita tiba-tiba sakit dalam perjalanan ini" sambung Shin. "Lagipula aku pemimpinnya"


Mataku langsung meredup.


Seharusnya aku sudah menduga jawabannya, Arghh!


Ini seperti, aku sudah melayang ke atas langit nan indah, tapi tiba-tiba peluru rudal menabrakku sampai jatuh.


Ini sangat mengecewakan dan sakit huhuhu...


Walaupun begitu aku tetap memasang ekspresi datar.


"Baiklah, aku sama sekali tidak sakit , bye" kataku malas sambil menutup pintu untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


Tapi ternyata tangan Shin masih ada di celah pintu. "Tunggu!" dia menahan pintunya lagi. "Aku tidak yakin dengan perkataan mu, aku akan memeriksa nya sendiri" dia bersikeras.


"Hm?"


Tanpa aba-aba Shin tiba-tiba melenggang masuk sambil menarik tanganku. Dan dengan entengnya dia mengangkat tubuhku dan meletakkanku di atas tempat tidur.


Aku masih mematung, tidak bisa memproses apa yang ku alami.


Shin menggendong Ku!?


Tapi sangat disayangkan waktunya terlalu singkat. Kalau aku tahu dia akan menggendong ku, aku akan mengambil kesempatan. Setidaknya aku ingin memegang dada bidangnya.


Tapi semuanya hanya angan-angan. Dia hanya menggendong ku kurang dari satu menit. Bagaimana aku bisa mencari celah untuk memanfaatkan kesempatan itu?


Umu? Tunggu!


Bukankah aku bisa memanfaatkan kesempatan ini. Berpura-pura sakit dan menahan Shin di kamarku.


"Hehehehe ..." aku tersenyum licik saat aku membayangkan hal itu.


Aku pun melupakan semua amarah dan kekecewaan ku pada Shin hanya dalam sekejap. Dan mulai lagi berpikir liar dan tidak senonoh. aku bahkan tidak sadar ternyata kepribadian ku seburuk ini.


Aku pun mulai melakukan aktingku. Aku mulai menjalankan rencana liarku.


"Shin, aku kira aku memang sakit. Kepala ku sangat pusing ah~" kataku sedih sambil berguling kesakitan.


"...."


Umu? Apa aktingnya kurang?


"Kepalaku benar-benar sakit. Aku juga kedinginan~" kataku sedih.


"..."


Tapi Shin sama sekali tidak merespon.


Haa~


aku kira aku gagal hiks...


Apa aktingku sejelek itu.


Aku pun memutuskan untuk menyerah dan mengakhiri semua ini. Aku mulai bangkit dari kasurku untuk menyuruh Shin keluar. Sekali lagi, aku benar-benar kehilangan hormon adrenalin ku dan mood ku menurun secara drastis.


Tapi Shin tiba-tiba mendorong bahuku dan membuatku kembali berbaring. dengan cekatan dia menarik selimut untuk menyelimuti tubuhku. Lalu dia mulai menempelkan telapak tangannya ke keningku.


"Apa kau benar-benar pusing dan kedinginan? Tunggu, aku akan memanggil pelayan untuk mengantarkan obat" katanya cepat. Dia langsung menelpon seseorang dengan ponselnya


Ehhhh?!


Itu berhasil?


Aku bahkan tidak percaya dengan kejadian di depanku. Shin benar-benar tertipu dengan akting jelek itu?

__ADS_1


Ehem! Aktingku sama sekali tidak jelek berarti. Karena Shin mempercayai nya, aktingku benar-benar bagus. Aku yakin itu!


Hanya dalam beberapa menit, pelayan itu tiba karena aku bisa mendengar bel kamarku berbunyi. Shin langsung membuka pintu. Dia membawa troli kecil di samping tempat tidurku. Di troli itu ada beberapa obat-obatan darurat dan juga air mineral.


Shin langsung mengambil termometer dan meletakkannya di dekat leherku untuk mengukur suhu nya.


"36" dia bergumam. Lalu dia menatap Nana. "Kau sama sekali tidak demam"


Deg! Jantungku berdegup kaget. Apa aku ketahuan?


"Mungkin kau mabuk laut. Karena itu kau merasakan pusing" sambung Shin lagi. Aku merasa lega setelah mendengar nya.


"Apa kau juga merasa mual?" Shin bertanya lagi.


Aku mengangguk cepat untuk merespon nya. Sebenarnya aku sama sekali tidak merasakan sakit apa pun. Tapi aku akan mengiyakan semuanya! Ini semua demi rencanaku untuk menjerat Shin! Semangat!


Tapi bukankah orang sakit tidak bisa melakukan apapun? Apa aku hanya bisa menahannya saja disini dan tidak melakukan apa-apa. Tidak! Aku harus merencanakan sesuatu! Aku harus mendapatkan keuntungan.


Tapi keuntungan apa?


Umm...


pelukan? Tidak mungkin. Sangat berbahaya memeluk orang sakit. Ayolah, pikirkan sesuatu yang lebih sederhana lagi.


umm...


Mungkin pegangan tangan? Aku kira itu normal. Lagipula aku akan berpura-pura tidak bisa tidur kalau tidak memegang tangannya.


"Hehehe..."


Selama Nana sibuk dengan fantasi anehnya, Shin dengan cepat merawatnya. Dia memberinya kompres pereda mual. Lalu dia mulai menyuruh nya untuk meminum obat antimual dan juga obat untuk meredakan pusing nya.


Nana sama sekali tidak suka minum obat. Tapi dia harus rela minum dua butir obat demi melancarkan rencananya.


Shin membantunya untuk minum air putih agar obat-obat itu dapat turun dengan lancar dari tenggorokan nya.


"Aku akan pergi setelah ini. Istirahat lah"


Nana mode terancam pun muncul. Dia meraih tangan Shin dengan cepat.


"Jangan tinggalkan aku~" katanya mencicit sedih. "Jangan tinggalkan aku....aku tidak suka tinggal sendiri...kepalaku sakit. Ibuku selalu menemaniku saat aku sakit. Aku tidak akan bisa tidur kalau aku ditinggal sendiri. Jangan tinggalkan aku" aku mulai mengarang beberapa kalimat. Dan mulai mengeluarkan semuanya dengan nada menyedihkan. Tentu saja aku tidak lupa menambah kan beberapa isakan kecil.


"Aku akan menemanimu" jawab Shin.


Mataku langsung berbinar.


Shin mengambil kursi kecil dan dengan rapi duduk di samping tempat tidur. Aku dengan cepat meraih tangannya lagi lalu memeluknya.


"Hangat~" kataku lagi.


Aku lihat Shin sama sekali tidak keberatan saat aku mulai memeluk tangannya. Oke, ini semua baik-baik saja.


Rencanaku berhasil! Aku berhasil memeluk tangan tokoh utama!

__ADS_1


__ADS_2