
Akhirnya pelatihanku dengan Shin pun dimulai. Tentu saja si Darwin juga ikut nimbrung. Kami bertiga mulai membentuk kelompok belajar. Tempat belajar yang pertama kali kami datangi adalah perpustakaan. Mendengar kata 'perpustakaan' aku menjadi sangat antusia. Kenapa? Karena aku bisa menyaksikan event Rin dan Ken. Hahaha...ini benar-benar jackpot! Aku cukup beruntung rupanya.
Jadi saat kelas kita berakhir, sekitar pukul 15.00 sore, kami bertiga langsung menuju ke perpustakaan. Walaupun jam pelajaran sudah berakhir, sekolah masih saja ramai. Tidak seperti biasanya karena ini musim ujian. Bahkan sampai jam 19.00 malam, masih akan terlihat para siswa yang berlalu lalang di perpustakaan.
Ternyata di jam pulang sekolah ini, perpustakaan sangat ramai! Aku bahkan melonggo dengan pemandangan di depanku. Aku melihat seluruh ruang dipenuhi para murid. Ini bahkan sangat mirip dengan pasar. Aku jadi merenungkan duniaku yang dulu. Keadaannya sangat berbanding terbalik dengan keadaan disini. Walaupun musim ujian, perpustakaan tidak akan seramai ini. Aku yakin orang-orang dari dunia novel ini sangat rajin dan suka belajar.
"Oi!" teguran Shin langsung membuyarkan lamunanku. "Cepat kemari"
"Oke, tunggu~"
Shin memilih meja di sudut ruangan. Pas sekali ada tiga kursi kosong disana. Kami langsung duduk disitu. Setelah duduk, aku mengamati perpustakaan sekali lagi. Mencari keberadaan Rin dan Ken. Tapi aku tidak menemukan batang hidung mereka. Aku langsung melihat jam tangan. Seharusnya waktu ini tepat karena Rin belum pergi kerja. Rin akan bekerja pukul 17.00 sore. Dan setiap harinya dia menyempatkan diri untuk mengunjungi perpustakaan. Tokoh utama komik ini sangat rajin kau tahu?
"Baiklah, pelajaran mana dulu yang ingin kau pelajari?" tanya Shin langsung.
Aku langsung mengalihkan fokusku pada wajah tampan yang duduk disampingku. Tidak! Ada dua pria tampan di samping kiri dan kananku.
__ADS_1
'Dengan begini aku tidak akan kekurangan asupan walaupun aku menoleh kiri dan kanan. Posisi ini sangat perfect!' batinku girang sambil menganggukan kepala.
"Fisika" jawabku tegas. Aku harus mulai dengan pelajaran yang paling tidak bisa kupelajari dulu. Tapi jujur saja, aku tidak bisa di semua pelajaran karena kemampuan otakku terlalu rendah hehehe...
"Baiklah keluarkan bukumu. Aku akan mengajarimu point-point yang akan keluar saat ujian nanti. Aku akan menjelaskan dengan singkat agar kau dapat merangkum semuanya."
Aku mengangguk patuh. Dalam sekejap perhatianku teralih ke pelajaran dan aku melupakan even Rin dan Ken. Lagipula mereka tidak ada saat ini, bisa jadi eventnya sudah terjadi atau tidak terjadi di hari ini.
Akhirnya pelatihan dari guru Shin pun dimulai. Saat itu Darwin langsung bangkit berdiri dan menuju rak buku. Kelihatannya dia tidak tertarik dengan ajaran Shin dan memilih untuk membawa buku di perpustakaan. Aku tidak terlalu memikirkannya karena aku tahu Darwin memang cukup pintar.
Shin mulai menjelaskan berbagai macam teori dan rumus yang akan keluar saat ujian. Aku berusaha untuk merekam semua perkataannya dan berusaha untuk mengingatnya.
Aku langsung menggeleng. "Tidak, itu melelahkan" Aku mengambil tape recorder yang kusimpan di atas meja. "Tenang saja. Aku merekam semua perkataanmu. Aku tidak akan lupa dan akan mengulangnya setiap malam" Tentu saja aku akan mendengarkan rekaman suara pria tampan ini sebelum tidur. Aku lebih bersemangat belajar seperti ini. Kalau bisa aku ingin merekam dengan video agar aku bisa melihat rekamannya sebelum tidur hehehe
Mulut Shin berkedut. Dia melipat kedua tangannya dan mendengus kesal. "Kau harus mencatat supaya lebih mudah menghapalnya nanti."
__ADS_1
"Jangan meremehkanku. Ini efektif kok. Lagipula cara belajar tiap orang kan berbeda-beda" kataku heroik. Tapi aku sangat yakin ini efektif. Hal yang berhubungan dengan pria tampan selalu memicu adrenalinku sehingga aku bisa melakukan hal yang luar biasa.
Aku bahkan ingat, saat itu aku akan terlambat ke sekolah. Aku langsung berlari ke sekolah saat itu. Dan sudah sangat pasrah kalau terlambat. Tapi aku melihat pria dewasa tampan melintas dengan sepeda. Dan tanpa sadar aku mengikutinya dan tujuannya juga sekolah. Aku kaget saat itu karena lariku sangat cepat dan aku tidak jadi terlambat. Lalu pria tampan itu ternyata guru baru di sekolahku. Dan entah kenapa sejak kedatangannya peringkatku semakin meningkat. Aku yang dulunya peringkat kedua dari bawah, langsung naik ke peringkat lima belas besar. Ini benar-benar membuatku terkagum-kagum. Dan aku yakin ini terjadi karena efek pria tampan.
"Jadi jangan meragukanku. Aku yakin aku bisa" kataku tegas.
"Haa~" Shin menghela napas. "Baiklah...hapalkan semua yang sudah kukatakan tadi. Aku sudah meringkas penjelasannya sehingga kau akan lebih mudah mengerti." Shin melirik jam tangannya sudah jam 16.00 sore. "Kita sudahi saja hari ini, besok kita akan latihan soal."
"Oke, terima kasih" kataku sungguh-sungguh sambil tersenyum. "Aku tidak menyangka kalau ada orang baik yang mau membantu orang sepertiku. Dan jackpotnya lagi itu pria tampan"
Shin langsung menundukan wajahnya. "Hm..." dia merespon dengan gumaman datar
"Oh? Darwin kemana ya?" aku baru sadar bahwa Darwin tidak terlihat. Padahal tadi aku melihatnya membaca buku di rak di samping kami. Aku melihat tas Darwin yang ada disampingku. "Aku akan mencarinya dan memberitahunya kalau kita sudah mau pulang"
Aku pun langsung berdiri dan menghampiri rak-rak buku yang berjejer di tengah-tengah ruangan. Ada banyak sekali rak, aku memulai dari rak paling depan. Rak barisan kedua, ketiga, keempat, kelima, aku sudah mengeceknya dan tidak melihat Darwin. Lalu saat tiba di rak barisan keenam, aku langsung membeku di tempat. Padahal rak itu sepi dan hanya ada dua sosok disana. Kenapa? Karena itu adalah Rin dan Ken!
__ADS_1
"Sialan! Jackpot!" pekikku senang. Lalu misi mencari Darwin menghilang dan tergantikan dengan rasa penasaran. Aku langsung menuju rak baris kelima. Lalu aku mencari posisi yang sesuai dengan posisi ke dua orang ini. Aku melihat buku-buku di depanku dan merapatkan buku-buku itu. Bahkan aku memindahkan beberapa buku di rak atas sampai tercipta cukup ruang untuk mengintip. Akhirnya aku berhasil membentuk lubang dan mengintip ke rak di barisan keenam.
Aku tidak peduli kalau posisiku ini membuat orang salah paham. Mereka pasti berpikir aku menguping. Ini memang benar dan aku tidak masalah. Aku memasang telingaku agar percakapan mereka terdengar. Aku melihat bahwa mereka berbincang-bincang dengan sangat riang. Apa benih-benih cintanya sudah tumbuh? Aku semakin antusias mengintip apalagi saat ini dibarisan rak kelima hanya ada aku seorang yang sedang sibuk mengintip. Aku tidak perlu mempertahankan harga diriku karena tidak ada siapa pun disini. Sampai akhirnya...