
Shin tidak tahan lagi, emosi nya meledak. Dia cukup bingung bagaimana orang lain bisa hidup bersama gadis bodoh ini? Gadis bodoh ini selalu membuat orang lain emosi! Shin mulai membayangkan dirinya akan hidup bersama gadis ini dan tanpa sadar dia merinding.
Aku agak kaget ketika Shin tiba-tiba menyambar tanganku dan menarik ku.
"S...shin...?"
Shin menoleh dan menatapku dengan tajam.
"Jangan berani-berani melakukan hal bodoh" dia memperingati nya.
Dengan gerakan cepat Shin membuka pintu salah satu kamar dan melemparnya ke dalam, lalu mengunci pintunya.
"Ehhh? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengunciku?!" aku berteriak kaget.
Aku tidak menyangka Shin akan mengunciku seperti ini. Apa aku melakukan kesalahan? Kenapa dia melakukan nya?
"Aku akan membuka pintunya saat makan malam" jawab Shin datar. "Jangan berkeliaran"
"Hei, kau memperlakukan ku seperti binatang! Aku bukan binatang!" aku berteriak protes. "Bukannya aku sudah bilang, aku tidak bisa tidur sendiri" kataku perlahan dengan nada sedih.
Nada bicara Shin melembut "Aku ada urusan sebentar dengan Darwin setelah ini. Tidak ada yang menjagamu kalau terjadi sesuatu. Lebih aman disini sampai kami kembali. Kami akan kembali setelah makan malam. Kalau kau takut sendirian, kau bisa menelponku. Aku akan menemanimu..." Shin menjelaskan. Dia perlu melakukannya untuk jaga-jaga karena dia tahu hubungan gadis ini dan Lista tidak baik. Lebih baik melakukan pencegahan untuk membuat dua orang itu tidak bertemu.
Walaupun nadanya sangat tenang, Shin
sebenarnya gugup. Wajahnya memerah. Kenapa dia bisa mengatakan kata-kata memalukan seperti itu. Shin tidak menduga nya!
Mendengar penjelasan Shin, aku kembali menjadi tenang. Dia akan kembali saat jam makan malam bukan? Jadi aku akan menunggu di sini. Lagi pula kamar ini tidak buruk juga.
"Cepat kembali!" kataku dari balik pintu sebelum melempar kan diriku dia atas kasur.
Haa~ aku akan bersantai selama beberapa jam. Lagipula aku hanya bercanda saat menyuruhnya untuk sekamar denganku. Tapi aku tidak tahu dia menganggapnya serius dan menyuruhku menelponnya.
Aku tidak akan melepas kan kesempatan emas ini hehehe
karena dia yang menyuruhku, aku akan menelepon nya sesuka hatiku!
__ADS_1
***
Waktu pun berlalu, dan sekarang adalah jam untuk makan malam.
Shin dan Darwin sudah menyelesaikan pertemuan mereka dengan kapten kapal berserta para staff nya. Shin juga menghubungi staff nya yang berada di pulau untuk menayakan bahwa persiapan mereka berjalan lancar.
"Beritahu yang lainnya kita akan makan malam" titah Shin.
Wajah Darwin masam karena dia sama sekali tidak suka diperintah "Kenapa tidak kau saja yang memberitahu mereka? Kau kan pemilik kapal ini" dia menolak. "Aku akan memberitahu kelinci kecilku saja, humph!"
Darwin sudah melangkah maju, tapi tiba-tiba Shin menarik bajunya. "Aku yang akan memberitahunya. Kau beritahu yang lain" dia berkata-kata dengan nada dingin sambil menatap Darwin lekat-lekat.
Darwin merinding karena tatapan itu dan membeku sebentar. "B...baiklah..."
Shin langsung melepaskan cengkraman tangannya pada kerah baju Darwin. Tanpa menoleh ke arah Darwin, dia langsung menuju kamar tunangan nya.
Shin melihat pintu di depannya dan membuka kuncinya dengan hati-hati. Saat dia perlahan masuk, kamar itu terasa sunyi. Shin mengernyit kan kening bingung. ini tidak sesuai dengan ekspektasi nya. Dia mengira gadis itu akan membuat keributan di dalam kamar, atau setidaknya menonton televisi.
Saat dia masuk lebih dalam, dia melihat sosok yang tertidur di atas kasur.
"Dia tertidur..." Gumam Shin sambil menatap Nana tanpa mengerjap.
Tapi kemudian dia berhenti tertawa. Dia menatap lekat-lekat wajah gadis itu. Dan tanpa sadar jantungnya berdetak. Shin tidak tahu apa yang terjadi. Ini diluar keinginan nya dan dia tidak mengontrol nya. Entah kenapa dia tiba-tiba terpesona saat melihat wajah gadis itu. Bulu matanya sangat indah. Hidung mungilnya. Dan bibirnya....
Shin tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya. Tapi kepalanya bergerak mendekati gadis itu dan matanya terpesona akan bibirnya. Sampai akhirnya bibir mereka hanya berjarak dua jari tangan manusia. Keinginan Shin yang terdalam tiba-tiba muncul, seakan-akan itu memacu instingnya. Dia ingin memakan bibir gadis itu. Dia ingin memiliki nya.
Bibir mereka hampir bersentuhan....
"hmmm...." Nana tiba-tiba bergumam dalam tidurnya.
Shin langsung tersadar dan dia dengan cepat menjauhkan wajahnya dan berdiri. Dia kaget.
"Apa-apaan...Apa aku mulai gila?!" Shin mulai tidak percaya dengan kelakuannya. Bagaimana mungkin dia bisa berpikir untuk melakukan hal itu pada gadis bodoh di depannya?
"Aku pasti gila!" dia menyangkalnya. Dia tidak tahu apa yang mempengaruhi dirinya untuk melakukan itu. Dia bersyukur dia sadar dengan cepat, kalau itu terus berlanjut dia akan menciumnya. Memikirkan hal itu, membuat wajah Shin memerah malu seperti udang rebus.
__ADS_1
"Um...Shin?" Nana terbangun dari tidurnya.
Shin langsung membeku saat melihat gadis itu mulai bangun.
***
Aku sama sekali tidak menyangka kalau akan langsung tertidur. Julukanku sebagai tukang tidur memang valid.
Tapi aku juga tidak menyangka aku akan terbangun secepat ini.
Saat itu aku mendengar suara samar-samar dan tanpa sadar terbangun. Saat bangun, aku melihat sosok Shin di depan mataku.
Aku berusaha menggosok mataku dan mengerjap beberapa kali untuk membersihkan pandanganku. Aku tidak salah, itu memang Shin!
"Um...Shin? Apa yang kau lakukan di sini?"
Shin mematung, lalu dia membalikkan tubuhnya dengan cepat.
"Aku mau memberitahu mu, sekarang jam makan malam..." jawabnya dengan lirih.
Ah~
Begitu. Aku kira dia akan menelponku untuk memberitahukan hal itu, tapi ternyata dia datang sendiri ke kamarku.
"Ayo pergi. Jangan menyusahkan yang lain nya dengan menunggu" kata Shin dan dengan cepat berjalan keluar.
Brak! Aku bahkan bisa mendengar dia menutup pintu kamarku dengan keras.
"ada apa dengan nya?"
Entah mengapa aku merasa sikap Shin sangat aneh. Apa ini cuma perasaanku saja?
Hmm...
Ini tidak penting.
__ADS_1
Sekarang aku harus cepat-cepat ke ruang makan. Aku sama sekali tidak boleh menyia-nyiakan makanan Enak!
Dengan bersemangat Nana keluar dari kamarnya, menghampiri Shin yang menunggu nya di depan lorong.