
Tanganku masih bergetar saat kau meletakkan kamera pengintai itu. Tapi aku tetap melakukan nya. Bagaimana pun keinginan untuk mengintip lebih besar dari rasa bersalah. Setelah bersih-bersih, aku memberitahu kepala pelayan bahwa kamarnya sudah siap. Lalu aku kembali ke kamarku dengan cepat.
BAM! KREK!
Aku mengunci pintu kamar ku dengan cepat, takut ada yang masuk ke dalam kamar ku diam-diam. Lalu aku segera menuju ke komputer dan mengakses kamera nya.
Hanya ada satu kamera dan itu diletakkan di di bawah televisi. Walaupun sudut pandangnya masih terbatas, itu masih menangkap pemandangan utama karena berada di tengah-tengah ruangan.
Aku benar-benar sangat antusias. Tapi bukankah aku sedikit mengerikan? Ini benar-benar tidak baik mengintai seseorang seperti ini. Ya, ini tidak baik. Tapi karena ini rumahku, semua hal ini tidak ada salahnya.
"Hehehe..." tanpa aku sadari, aku mulai tersenyum aneh.
Tapi ruangan itu masih kosong. Belum ada kehadiran Shin sama sekali. Kelihatannya pria itu masih berada di ruang tamu, mengurus pekerjaan nya. Jadi aku memutuskan untuk mandi sebentar dan berganti pakaian.
Tiga puluh menit kemudian aku kembali. Kali ini aku sudah mengenangkan piyama dan juga rambut ku masih basah karena aku terlalu malas mengeringkannya.
Aku mengambil setoples snack dari lemari. Memeluknya dan membawanya ke atas kursi. Menaikkan kakiku sambil memakai earphone dan memperhatikan layar komputer. Tapi, ruangan itu masih kosong.
"Dia belum kembali?" aku bergumam dengan kesal. Aku tidak tahu berapa lama dia berada di ruang tamu untuk bekerja. Tapi akan sangat mengesalkan kalau aku ketiduran dan melewatkan semuanya. Walaupun aku masih bisa menyimpan video rekaman, tetap saja rasanya berbeda saat menonton sendiri secara live.
KRAK
Aku mendengar suara pintu terbuka. Shin masuk ke dalam kamarnya.
Gulp!
Aku menelan ludahku. Walaupun ada snack, aku lupa membawa botol minuman. Dan itu ada di kulkas bawah, aku tidak bisa mengambil nya sekarang.
Rasanya berbeda seperti menonton movie. Ini terasa seperti menonton live seorang idol. Atau begini kah rasanya menjadi penguntit?
Aku cuman ingin satu hal. Tentu saja itu hal yang cukup mesum, tapi tidak terlalu oke. Semenjak Shin sudah merusak majalah harta karunku, dia harus membayarnya sendiri. Dan tentu saja membayarnya dengan tubuhnya.
"Hehehe..." sekali lagi senyum aneh keluar tanpa aku sadari.
Shin bergerak ke tengah ruangan. Dia meletakkan laptopnya di atas meja dan duduk di atas kasur. Lalu dia mulai melepaskan kemejanya.
Gulp!
Aku tidak bisa menahan rasa gugupku. Bahkan tangan ku juga berhenti bergerak tanpa sadar. Aku juga berhenti mengunyah.
__ADS_1
Kemeja itu hilang, menunjukkan dadanya yang indah. Ini bukan pertama kalinya aku melihat dada Shin. Saat liburan aku sudah sering melihatnya dengan baju renang. Tapi melihat nya seperti ini memberikan sensasi yang berbeda dan aku benar-benar gugup.
"Ayo, tinggal satu lagi. Lepas celana nya" aku berteriak tanpa sadar. Kalau orang lain tahu, mungkin aku benar-benar akan dicap sebagai orang mesum. Tapi tidak ada yang melihat. Jadi tidak masalah.
Tapi hal yang kuinginkan tidak terjadi. Saat Shin menyentuh celananya, gerakannya terhenti. Tiba-tiba pria itu melihat ke arah kamera dan tersenyum.
Deg!
Aku sontak terkejut dan bahkan hampir jatuh dari kursi. Kenapa rasanya Shin melihat menebus kamera? dia tidak mungkin tahu bukan? Tidak mungkin bukan?
Shin mengalihkan pandangannya. Dia bergerak ke kamar mandi dan aku tidak melihat sosok nya lagi. Lalu suara air mulai terdengar.
Aku masih linglung karena tatapan tadi. Aku tidak ketahuan bukan? Tapi aku langsung menggeleng kan kepalaku dengan cepat. Itu tidak mungkin. Kalau dia tahu kenapa dia tidak melakukan apapun? Dia bisa saja membuang kameranya. Tapi dia bersikap santai dan biasa-biasa saja. Aku terlalu overthingking.
Beberapa menit kemudian sosok itu muncul lagi. Tapi aku mendesah kecewa. Kemana perginya tubuh indah itu? Aku melihat Shin dengan jubah mandi di kamera. Tidak ada yang bisa dilihat.
Setidaknya masih ada scene terbaik beberapa menit lalu. Aku akan menyimpan nya di folder harta karun. Dan masih ada hari esok, jadi masih ada kesempatan semangat!
Saat aku sibuk menyemangati diriku. Shin sudah bersandar dengan nyaman di atas kasur sambil memangku laptop di kakinya.
"Apa kau bersenang-senang?" aku tiba-tiba mendengar nya berbicara.
Mataku langsung melebar dan tubuhku mematung.
DUAR!
aku merasa petir menyambar kepalaku. Shin tahu! Dia benar-benar tahu!
"Aku hitung sampai lima, kemari dan ambil, satu..."
Refleks, aku membuang earphone ku dan melompat dari kursi. Lalu menuruni tangga dengan tergesa-gesa untuk menuju ke kamar tamu.
Waktunya sudah lewat! Kalau Shin hanya memberiku waktu lima detik untuk kesana, sekarang sudah lewat dari lima detik.
Aku menatap pintu besar di depanku. Lalu dengan enggan memutar ganggang nya dan membuka pintunya.
Aku tidak berani melihat ke arah Shin. Aku menatap ke bawah sambil bergerak secara perlahan.
"Bagaimana aku harus menangani mu?" aku mendengar suara Shin.
__ADS_1
Suara itu memacu adrenalin ku. Dengan gerakan cepat aku langsung mengambil kamera kecil itu dan BAK! Menutup pintunya. Lalu berlari ke kamarku.
Dengan napas tersengal-sengal, aku mengunci pintu kamar dan melemparkan diriku di atas kasur.
"Bagaimana ini? Arghhh!" aku berteriak frustasi sambil berguling-guling dan menutup wajahku dengan bantal.
Ini ada kejadian paling memalukan yang pernah aku alami. Walaupun aku biasa nya tidak tahu malu tapi tetap saja aku tidak bisa menahannya. Bagaimana kalau tersebar kabar bahwa aku menguntip Shin dengan kamera? Bukankah semua orang akan takut padaku? Bagaimana kalau Shin marah? Bagaimana caraku mengatasinya?
"Bagaimana ini...."
"Apa yang harus kulakukan?"
"Bagaimana kalau pura-pura tidak tahu dan bilang bahwa aku tidak tahu ada kamera disitu"
"Apa dia akan percaya?"
"Arghhh! Kenapa aku melakukan hal bodoh itu!
Buk, buk, buk
Aku meronta sambil memukul kasur dengan bodoh.
Malam itu, Nana yang frustasi tidak bisa tidur sama sekali.
***
Shin tidak pernah tahu bahwa Nana akan meletakkan kamera pengintai di dalam kamarnya. Tapi kamera itu diletakkan dengan sangat bodoh dan tidak tersembunyi. Terletak tepat di bawah TV dan langsung terlihat olehnya.
Awalnya Shin berpikir kamera itu tidak aktif, sampai dia melihat lampu kecil menyala di sana. Kamera itu aktif. Tapi siapa yang melakukan nya? Tentu saja hanya satu orang yang muncul di kepalanya. Dia mulai mengancam sang pelaku. Dan benar saja, gadis bodoh itu muncul dengan cepat.
Awalnya Shin mengomeli Nana karena melakukan hal tidak sopan seperti itu. Tapi melihat penampilan gadis itu yang berantakan dengan piyama kelincinya, Shin tidak bisa menahan tawanya. Dia lebih menyukai penampilan polos dan imut seperti ini daripada penampilan nya dengan seragam sekolah dan penuh dengan riasan. Membuat nya ingin memeluk gadis itu dan menggodanya lebih jauh. Dia menyukai wajah cemberut nya. Tapi dia belum bisa melakukan nya.
Gadis itu dengan cepat menghilang dengan membawa kamera nya.
Haa~ Shin menghela napas.
Dia tidak pernah tahu pikiran Nana. Pikiran gadis itu sulit diprediksi dan sedikit bodoh.
Untuk apa dia memasang kamera pengintai di kamar tunangan nya sendiri. Masih masuk akal kalau tunangan itu tinggal diluar, tapi ini dirumahnya sendiri. Ini hal yang sangat aneh untuk Shin.
__ADS_1
Shin tidak akan pernah memprediksi bahwa Nana ingin melihat nya berganti baju. Lagipula hal itu sangat tidak bisa diprediksi sama sekali.
Shin berpikir Nana mulai melakukan hal random untuk menarik perhatiannya. Jadi dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia akan melupakan kejadian ini besok. Dan menganggap ini hanya kejadian random yang dilakukan oleh Nana sejak gadis itu sangat bodoh.