Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Feno dan Shin (1)


__ADS_3

Aku terus mengalihkan tatapanku dan mengelak. Tapi siapa yang tahu bahwa pria ganas itu dengan kasar menarik maskerku! Karena ulahnya yang kasar, tali masker itu menyerempet pipiku dan meninggalkan bekas merah. Aku mengernyitkan dahi kesakitan sambil memegang pipiku. Untung saja wajah berhargaku tidak terluka atau tergores. Kalau tidak bekasnya tidak akan hilang. Aku juga tidak tahu apakah teknologi operasi plastik sudah ditemukan untuk memperbaiki wajah cantikku ini. Untung saja hal terburuk itu tidak terjadi.


"Aku pernah melihatmu!" bentak Feno sambil memegang kedua bahu Nana dengan kuat dan menghantamnya ke dinding.


Saat dia menghantamku, bahuku langsung terasa remuk.


"Ini menyakitkan..." aku meringis sambil menahan sakit.


Saat Feno melihat gadis di depannya meringis kesakitan, dia sedikit merasa bersalah karena sudah bersikap kasar. Secara perlahan dia melonggarkan pegangannya.


"Kau gadis di pesta itu kan? Kenapa kau terus mengawasi kami? Apa yang sedang kau rencanakan?"


"...."


Aku menundukkan kepala. Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya karena benar-benar bingung. Tidak mungkin kan aku bilang aku ingin mengamati adegan yang ada di dalam novel untuk melepas kebosanan. Aku akan dibilang gila oleh orang-orang disini!


"Kau tertarik padaku?" katanya narsis sambil mengangkat alisnya. "Atau kau punya masalah dengan gadis kasir itu dan ingin menyakitinya?"


Walaupun aku tidak menjawab, aku menggelengkan kepalaku dengan cepat untuk membantah pernyataannya.


"Jadi apa? Cepat katakan padaku!!" kata Feno geram.


Dia benar-benar kesal karena gadis ini terus mengelak. Dia ingin memukulnya. Tapi dia terus menahannya karena gadis ini terlihat sangat lemah. Tapi kalau begini terus, dia takut dia tidak bisa menahan emosinya dan menyiksa gadis di depannya untuk mengaku.


Keringatku semakin bercucuran karena ketakutan. Aku bisa melihat dengan jelas bahwa Feno berusaha menahan rasa marahnya. Aku takut akan menjadi bubur kalau kemarahan itu meledak. Bagaimana ini? Apa aku mengaku saja walau pun itu tidak masuk akal?


TING! Tiba-tiba sebuah ide muncul dalam kepalaku! Ini ide yang bagus. Aku yakin aku bisa selamat!


"Shin!" teriakku dengan wajah bahagia.


Mendengar teriakkanku, Feno refleks melonnggarkan penjagaannya dan menoleh ke belakang. Aku dengan cepat menunduk, melewati celah di bawah lengannya dan melarikan diri sekuat tenaga.


"Gadis kurang ajar!!" teriak Feno kesal. Baru saja dia ditipu gadis nakal itu! Gadis itu benar-benar berani memakai nama "Shin" untuk mengalihkan perhatiannya.


"Lihat saja, kalau aku menemukanmu. Kau mati..." gumam Feno. Dia merasa kesal. Tapi dia tidak membenci gadis itu. Sesuatu di sudut hatinya, dia ingin menyiksa gadis itu sampai gadis itu memohon padanya. Lagipula walaupun dia ingin menyiksanya, dia tidak berpikir untuk menggunakan kekerasan padanya. Dia punya cara yang lebih efektif untuk menjinakan seorang gadis liar...


Feno tersenyum nakal sambil mengikuti gadis yang melarikan diri itu.


Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan otakku. Seharusnya aku berlari pulang dan memanggil pengawal bukan? Tapi aku malah berlari menuju swalayan, tempat dimana Rin berada. Tidak, tidak, ini keputusan yang benar! Bersembunyi dengan perlindungan tokoh utama yang baik hati! Dia tidak bisa melibatkan keluarganya. Derajat keluarganya masih dibawah keluarga Feno, bahkan sangat jauh. Dia takut akan membawa masalah besar pada keluarganya hanya karena tingkah laku kekanak-kanakan ini.

__ADS_1


Aku dengan cepat masuk ke dalam swalayan.


"Nana?" Rin berseru bingung sambil mengamati gadis di depannya yang terengah-engah.


"Rin..." aku berteriak dengan nada manja dan langsung memeluk lehernya.


"A...apa yang terjadi? Kenapa kau seperti dikejar-kejar sesuatu?"


Aku membuat tampilan menyedihkan dengan mata berkaca-kaca. "Rinn, tolong aku. Ada orang jahat yang ingin melukaiku..." kataku dengan nada merengek.


"Siapa yang ingin melukaimu?"


Suara dingin bergema di seluruh toko. Membuat tubuhku seketika membeku. Tentu saja itu bukan suara Shin. Aku melihat di sudut toko. Dan tebak siapa....Itu Shin!


Shin berdiri di sudut toko dengan keranjang belanja dan matanya menatap kami dengan tajam.


TAP TAP TAP


Secara perlahan Shin bergerak menghampiri kami dengan langkah kerennya.


"Siapa yang ingin melukaimu?!" tanyanya lagi.


'Aku tahu eventnya akan terjadi. Tapi kenapa terjadi sekarang?! Bahkan disaat kondisiku seperti ini? Bukankah aku sudah membuat kacau eventnya lagi? Bagaimana ini?! Arghhhhhh!!! Aku benar-benar frustasi. Aku ingin menonton adegan drama yang keren. Tapi kenapa jadi seperti ini? Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan?'


Aku berpikir dengan panik.


KRIETTTT! Pintu swalayan secara perlahan terbuka.


"Kau disini rupaya gadis nakal!" teriak Feno sambil melangkah masuk ke dalam.


Aku benar-benar belum menemukan solusi untuk mengatasi kejadian ini. Tapi waktu benar-benar tidak mengampuniku dan alurnya terjadi begitu cepat. Aku benar-benar ingin berlutut ke lantai dan menangis keras. Apa yang akan terjadi padaku setelah ini? Kedua pria ini tidak menyukaiku dan aku sudah memprovokasi mereka dengan membuat mereka bertemu. Bukankah aku, sebagai dalangnya, akan berakhir menyedihkan karena menjadi musuh dua pria ini?


Feno melangkah masuk dan langsung terkejut dengan situasinya. Dia tidak tahu gadis penguntit itu berteman akrab dengan gadis kasir. Mereka bahkan saling merangkul. Dan dia juga tidak tahu bahwa pria brengsek yang sangat dibencinya ada di toko ini!


Akhirnya kedua musuh bebuyutan itu saling bertatapan penuh kebencian. Walaupun itu hanya tatapan, aku merasa ada percikan listrik besar yang saling terlepar di antara keempat mata itu.


"Eh? Tuan? Kau yang mengejar Nana?" perkataan Rin membuyarkan tatapan dingin di antara kedua orang itu.


"Hmph! Kenapa kau berteman dengan orang seperti itu! Gadis itu adalah penguntit! Dia terus mengawasiku selama ini!" kata Feno dengan senyum mengejek.

__ADS_1


Mata Rin membelalak kaget. Dia mengalihkan tatapannya pada Nana, tak percaya.


Setelah melihat tatapan menuduh Rin, aku dengan cepat menggelengkan kepala. "Tidak, itu tidak benar. Aku tidak pernah menguntitnya!" aku langsung dengan cepat menyangkal. "Rin kau harus percaya padaku oke. Orang ini benar-benar menuduhku sembarangan!" aku bersikukuh untuk menyelamatkan hidupku yang berharga ini.


Melihat gadis penguntit itu terus menyangkal, entah kenapa Feno merasa kesal. "Kau masih terus berbohong. Dasar gadis tidak tahu malu! Aku benar-benar akan memberimu pelajaran sampai kau mengaku!" kata Feno dengan tatapan penuh hasrat, yang membuatku bergidik ngeri.


"Ternyata seorang tuan muda masih bersikap tidak tahu malu seperti ini ya! Benar-benar menggunakan kekerasan hanya untuk melukai seorang gadis" perkataan sarkas itu bergema. Tentu saja sumbernya adalah Shin.


Sekali lagi, kedua orang itu saling melempar tatapan yang penuh dengan percikan api.


Aku mengangguk senang mendengar perkataan Shin. Ternyata pria dingin ini masih ada niat menyelamatkanku.


"Dia memang menguntitku selama ini. Aku yakin dia salah satu gadis penggemarku. Aku akan memuaskannya kalau dia mau." kata Feno tidak tahu malu.


Uhuk! Aku tersedak dan hampir muntah saat mendengar omongannya.


Shin langsung menatapku dengan tatapan merendahkan. "Gadis ini memang selalu menjadi penggemar siapa pun. Dia menyukai banyak pria. Jadi bukan kau satu-satunya yang diawasi. Aku yakin dia mengawasi banyak pria. Kau terlalu berlebihan. Humph! Kau benar-benar menganggap dirimu terlalu tinggi" balas Shin dengan nada sarkas.


Tidak! Aku tarik pujianku tentang Shin tadi! Dia benar-benar pria dingin brengsek! Dia sama sekali tidak berniat untuk membantuku! Dia bahkan mengejekku dan merendahkanku sebagai gadis yang menyukai banyak pria! Tapi aku tidak bisa menyalahkannya, itu memang benar....Aku ingin membentuk perkumpulan pria tampan milikku sendiri. Bisa dibilang ini keinginan gelap dalam diriku. Memangnya siapa yang bilang hanya pria saja yang bisa mempunyai banyak gadis. Seperti kedua pria di depanku. Yang selalu menebar pesona kemana-mana. Aku juga bisa mempunyai banyak pria tampan yang menjadi milikku!


"Oh?" Feno mengangkat alisnya. "Aku benar-benar merasa terhormat mendapat nasihat dari pria yang selalu menebar pesona ke banyak gadis. Ini benar-benar belajar dari pengalaman tuan muda ini ya" kata Feno dengan nada mengejek.


Hum,hum, kau benar Feno. Dia memang selalu menebarkan madu. Tapi kau juga sama saja! Kalian berdua sama-sama tukang menebar madu untuk menarik lebah. Aku melirik Rin yang sedang menagamati situasi yang terjadi di depannya.


"Rin~" Aku dengan manja memeluknya. Aku benar-benar kasihan pada tokoh utama yang seperti malaikat ini. Dia harus berjuang menyikirkan para lebah yang mengerumuni si penebar. Dua pria itu hanya terima enaknya saja. Bahkan dalam cerita, hanya Rin saja yang selalu tersiksa. Para pria itu, mereka selalu dikagumi dimana-mana karena ketampanan dan kekayaan mereka.


"Aku juga merasa terhormat karena sudah menasehati tuan muda ini. Tuan muda selalu menggunakan dengkul untuk berpikir. Aku takut otakmu akan rusak dan berhenti berfungsi karena kau jarang menggunakannya. Aku benar-benar senang nasehatku sangat berguna untuk tuan muda dengan otak sepertimu" balas Shin dengan sarkas.


Sekali lagi, dua orang itu saling melempar tatapan penuh dengan percikan api.


Kedua orang pria ini, mereka berkelahi seperti seorang wanita. Dimana adu kekuatannya? Kenapa saling mengejek seperti itu? mereka sangat bertingkah kekanakan dan tidak dewasa.


"Puft...sangat kekanak-kanakan..." aku bergumam tanpa sengaja sambil menahan tawaku.


Kedua orang itu langsung menatapku secara bersamaan. "Ini semua gara-gara kau!" kata mereka kesal dengan urat-urat yang muncul di kepalanya.


"Kau ikut aku!" kata Feno dingin sambil menarik lenganku. "Kau tetap harus menjelaskan kenapa kau menguntitku. Aku takut kau menyembunyikan rencana licik dan jahat."


"Lepaskan!" balas Shin sambil menepis tangan Feno. "Berani-beraninya kau menganggu orangku!"

__ADS_1


__ADS_2