Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Gara-gara Rumus


__ADS_3

Besoknya, aku bersekolah seperti biasa. Tapi kali ini benar-benar tidak biasa untukku. Aku sesekali melirik Shin dan memikirkan chat yang dikirimnya untukku.


"Ternyata kakaknya ya~" kataku sedikit kecewa.


Benar-benar sial! Aku membaca chatnya sebelum tidur kau tahu? Saat itu aku baru selesai memakai skin care dan langsung membacanya. Dalam sekejap mimpi indahku pun langsung hilang. Aku tidak jadi bermimpi indah malam itu. Hanya ada kekecewaan, hiks...


Lagipula mana mungkin Shin bersikap seperti itu! Sadarlah Nana~ Kau terlalu banyak mengkhayal dan membaca komik. Sehingga kau benar-benar mengkhayalkan sesuatu yang mustahil. Walaupun ini dunia komik, tetap saja ini dunia nyata oke. Berpikirlah realistis!


Akhirnya, pelajaran pun selesai.  Aku melihat Darwin dan Shin sudah menunggu di depan kelas. Aku pun menghampiri mereka.


"Mana Rin?" tanyaku. Aku melihat gadis itu tidak ada di tempat duduknya. Aku bermaksud untuk mengajaknya pergi bersama.


"Bukan urusanku" jawab Shin ketus.


Darwin mengangkat kedua tangannya dan menggelengkan kepalanya.


Aku pun mengeluarkan ponsel dan menghubungi Rin. Ternyata gadis itu sedang ada di ruangan guru. Dia akan menyusul katanya.


Jadi kami bertiga memutuskan untuk pergi duluan ke perpustakaan. Saat sampai ke perpustakaan siapa yang mengira bahwa senior Ken sudah berada disana lebih dulu. Dia duduk sendirian sambil membaca buku. Entah kenapa di mataku dia mengeluarkan semacam aura berkilauan yang membuatku tidak bisa mengalihkan mata darinya. Ah~ tampan sekali hiks.


Setiap kali melihat pria tampan, hasratku benar-benar keluar. Apalagi aku jarang sekali bertemu dengan Ken! Jadi dia termasuk barang langka hehehe


"Aku akan membutakan matamu!" suara dingin bergema di telingaku.


Aku menoleh dan melihat Shin sedang menatapku dengan wajah cemberut.


"Ada apa denganmu?" tanyaku bingung.


"Hmph!" dia hanya mendengus dan membalikkan wajahnya, lalu pergi duluan.


What!? Ada apa dengan pria ini? 'Tidak mungkin dia cemburu karena aku menatap Ken bukan?' aku langsung menggelengkan kepalaku. Itu tidak mungkin! Jangan berpikir berlebihan. Mungkin dia cemburu karena Ken lebih tampan darinya? Hm...ini relatif sih. Karena tampan untuk setiap orang itu berbeda-beda. Lagipula sejak kapan Shin sangat peduli dengan ketampanannya?


Aku pun menyusul mereka.


"Halo~" Ken menyapa kami sambil melambaikan tangannya.


"Halo senior" kataku senang sambil memilih kursi.


"Ah? Dimana gadis itu?" tanya Ken sambil menaikkan alisnya.


"Rin ya? Dia sedang ada urusan. Dia akan menyusul nanti."


"Oke, baiklah~"

__ADS_1


"Keluarkan bukumu!" suara tegas Shin tiba-tiba terdengar.


Mau tak mau aku mengeluarkan bukuku dengan wajah cemberut.


"Aku akan memberimu beberapa soal. Selesaikan" katanya dengan nada memerintah. Seakan-akan dia seorang bos besar. Arghhh!! Aku ingin mengigit kepalanya! Aku membenci sifatnya yang seperti ini. Cih!


Aku pun mengerjakan soal yang sudah dibuatkan oleh Shin. Aku mengerjakannya selama sepuluh menit. "Selesai, aku mengerjakannya semampuku" kataku malas. Aku yakin walaupun tidak benar semua, pasti ada beberapa soal yang benar.


Shin melihatnya dan tersenyum "Salah! Ini juga salah! Salah!" kata Shin sambil menyoret bukuku. Lalu dia menyerahkan buku itu kembali padaku. "Dari lima soal hanya dua saja yang benar. Aku sudah menuliskan cara yang benar di bukunya. Pelajari. Aku akan memberikan soal yang sama nantinya."


Aku melihat rumus-rumus aneh yang diberikan Shin. Dan omg! Tentu saja aku bingung! Aku memang belajar, tapi level ini terlalu sulit untukku, hiks...


Ken kelihatannya memperhatikan wajah Rin yang bermasalah. Dia langsung menawarkan bantuan. "Rumus yang ini bisa disederhanakan menjadi seperti ini" jelas Ken sambil menuliskan rumus barunya.


"Ah! Keren! Ini benar-benar sederhana!" pekikku senang. Rumus alien Shin benar-benar menjadi rumus manusia karena Ken. Ah~ senior ini benar-benar pintar.


"Lalu yang ini begini dan begini" Ken mulai merubah rumus lainnya dengan nada yang lembut.


Tanpa sadar aku terpesona dan menatapnya dengan mata berkilauan. "Senior, kau benar-benar hebat! Selain jenius kau juga baik hati. AKu belum pernah menemukan pria sebaik dirimu ah~" kataku memuji sambil fokus menatapnya.


Senior Ken hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya canggung. "Em...terima kasih.." dia menjawab lirih.


BRUK! Tiba-tiba Shin memukul meja dan membuat kaget semua orang. Shin bangkit dari kursinya lalu menatap kami dengan tajam.


"Ada apa denganmu?" tanyaku bingung.


"Toilet" jawab Shin dingin, lalu pergi meninggalkan kami.


EH? "Dia hanya ingin ke toiler bukan? Kenapa harus membuat keributan seperti itu?" kataku cemberut.


Darwin tiba-tiba berdiri juga. "Aku akan menyusulnya" katanya lalu berlari pergi.


"Ada apa sih dengan semua orang?" kataku bingung. "Bagaimana bisa mereka kebelet bersamaan? Senior Ken, kau ingin ke toilet juga?"


"Tidak, tidak" Ken menggelengkan kepalanya. Dia menatap Eva leka-lekat. "Ha~ kau benar-benar tidak peka" gumamnya.


"Eh? Tidak peka apa?"


"Lupakan. Lanjutkan belajarmu. Dia akan mengamuk lagi saat tahu kau belum bisa mengerjakannya" kata Ken.


"...." Aku masih belum bisa mencerna situasinya. "Baiklah..." Aku pun berusaha untuk tidak berpikir terlalu banyak dan kembali pada rumus di depanku. Dari perkataan senior Ken, Apa Shin marah seperti itu karena aku terlalu bocoh? Jadi dia kesal?


***

__ADS_1


Shin pergi ke menuju toilet dengan wajah masam karena suasana hatinya sedang tidak baik. Saat dia berjalan ke pintu keluar perpustakaan, tanpa sengaja dia menabrak seseorang dan orang itu terjatuh. Shin menoleh, dan ternyata itu Rin!


"Kau tidak punya mata!" teriak Rin geram sambil berusaha berdiri sambil mengibas-ibas roknya.


"Kenapa berdiri di tengah jalan?" jawab Shin dengan nada sombong.


"Kau benar-benar..." Rin ingin memaki dan memukul pria di depannya. Tapi dia berusaha menahan amarahnya mengingat tuan muda egois ini adalah teman Nana.


"Minta maaf padaku!" kata Rin tegas.


Shin hanya memberikan senyum sinis, lalu berbalik pergi meninggalkan Rin.


Rin menatap pemuda itu dengan mulut menganga. Dan dia benar-benar ingin melepas sepatunya lalu melemparnya ke kepala orang itu.


***


Darwin menyusul sahabatnya ke toilet. Saat dia sampai, Shin ada di depan westafel sambil mencuci tangannya.


"Ada apa denganmu bro?" tanya Darwin.


"Tidak apa-apa" jawab Shin.


"Ayolah, bilang saja padaku. Bukannya aku tidak tahu. Kau cemburu bukan?"


STARE! Shin langsung memberinya tatapan sinis. "Jangan bicara omong kosong!" katanya dengan nada dingin sambil menggertakkan gigi. Shin tidak tahu kenapa dia bisa bersikap memalukan seperti ini. Hanya saja saat gadis itu memuji orang lain, hatinya terasa panas dan emosinya tiba-tiba naik. Saat dia selesai memukul meja, dia baru menyesal telah melakukannya. Dia bahkan berpikir dengan bingung, kenapa dia melakukannya. Dan tentu saja bukan karena dia cemburu!


"Aku tidak cemburu. Aku hanya tidak senang dengan orang yang tidak tahu terima kasih" kata Shin. Gadis itu benar-benar tidak tahhu terima kasih. Dia sudah susah payah meluangkan waktu untuk mengajarinya. Tapi dia membawa banyak orang asing yang kemampuannya lebih baik. Dia mengakuinya bahwa orang-orang itu lebih pintar darinya, tapi dia tidak akan mengakuinya di depan umum juga. Itu akan memalukan.


"Haa~" Darwin menghela napas. "Aku sudah lama berteman denganmu. Kita sudah berteman dari kecil. Aku tahu sifatmu. Kau terlalu bersikap berlebihan sama gadis itu. Sepanjnag hidup ini aku tidak pernah melihatmu memperhatikan seorang gadis berlebihan, kau tahu? Kau menyukainya?" tanya Darwin blak-blakan.


"Aku bilang jangan bicara omong kosong!"


Dia sangat membencinya karena dia mendengar kata-kata seperti ini terus. Pertama dari kakaknya sekarang Darwin. Ada apa dengan mata mereka? Bagaimana mungkin aku menyukai gadis seperti itu! Cih!


"Baiklah, kalau kau tidak suka biarkan aku mengerjarnya oke. Aku cukup menyukainya. Dia enak diajak bercanda" kata Darwin.


Darwin tidak tahu bahwa Shin tiba-tiba akan bergerak menghampirinya. Dan tiba-tiba tinju Shin melayang ke samping kepalanya dan mengenai dinding di belakangnya. Darwin melonggo binggung saat ini. Shin ingin memukulnya?


"Maaf, tanganku terpeleset" jawab Shin lirih sambil menundukkan kepalanya. Lalu dia berlari dengan cepat meninggalkan Darwin yang masih terdiam di toliet.


"Sial!" Darwin mengumpat. "Dia benar-benar menyukainya! Ah sial!"


"Bagaimana aku bisa mengejarnya kalau begitu" kata Darwin dengan nada kecewa. Dia saat ini sedang dilema. Apakah dia harus membantu sahabatnya yang bodoh itu. Atau dia mengabaikan Shin dan tetap mengejar gadis yang disukainya. Ah~ dia dalam posisi yang benar-benar sial saat ini. Lagipula dia tidak pernah menyangka bahwa Shin akan menyukai gadis seperti itu!

__ADS_1


__ADS_2