Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Cincin Pertunangan


__ADS_3

Di hari yang sama...


Darwin sedang sibuk bersantai di balkon rumahnya sambil makan kacang rebus. Berita pertunangan Shin tidak mengejutkannya sama sekali.


Lalu tiba-tiba ponsel di sakunya berdering.


"Halo"


"Kau dimana?" suara dari balik ponsel terdengar sangat familiar. Itu adalah suara Shin.


"Di rumah" Darwin menjawab sambil mengigit kacang dengan tangan lainnya.


"Temani aku ke suatu tempat" kata Shin langsung.


Gulp! Darwin pelan-pelan menelan kacang yang dikunyahnya. Sebenarnya dia ingin bersantai hari ini dan tidak ingin kemana-mana.


"Uhuk, uhuk" dia terbatuk dan berkata "Maafkan aku Shin. Aku sedang sakit sekarang"


"Aku di depan pintu rumahmu dan aku bisa melihatmu"


Duar! Darwin langsung bangkit berdiri dari kursi malasnya. Dia langsung menuju tepi balkon dan melihat ke bawah. Di sana Shin sudah berdiri di depan pintu mobilnya. Shin menatap Darwin dan tersenyum sinis.


"Aku turun" kata Darwin sedih. Jujur saja dia merasa dunia membodohinya.


Dia pun turun ke lantai bawah. Shin masuk ke dalam mobil dan Darwin mengikutinya tanpa mengatakan apapun.

__ADS_1


"Sebenarnya kau mau kemana?" dia bertanya.


Shin mulai menyalakan mobilnya. "Suatu tempat" katanya tidak jelas.


Mereka pun melintasi jalan raya selama lima belas menit sebelum berhenti di sebuah tempat yang terlihat mewah. Darwin mengenali tempat ini. Ini adalah toko perhiasan!


"Aku ingin membeli cincin pertunangan. Bantu aku memilihnya" kata Shin.


Darwin melonggo dengan mulut terbuka. Jujur saja dia tidak menyangka bahwa Shin akan turun sendiri membeli cincin pertunangan. Dia mengira Shin akan menyuruh seseorang untuk membelikan cincin apapun untuk acara pertunangan itu. Itu berarti acara pertunangan ini sangat penting untuknya!


Darwin mengikuti Shin untuk masuk ke dalam. Saat mereka berdua masuk, semua karyawan toko menyambut mereka. Toko itu benar-benar terlihat sangat mewah. Bahkan lantainya saja terlihat mahal. Tidak seperti toko perhiasan biasa yang memajang banyak sekali perhiasan di dalam etalase. Toko ini hanya memajang beberapa perhiasan dalam etalase. Tapi itu adalah perhiasan terbaik yang mereka jual. Mereka tidak menjual perhiasan murah!


"Ada yang bisa dibantu tuan muda?" seorang wanita muda menyambut mereka dengan ramah dan sopan.


"Aku ingin mencari cincin pertunangan"


Kelima cincin itu terlihat sangat elegan dan mahal dengan cara mereka masing-masing karena setiap dari mereka memiliki design yang unik.


Wanita muda itu menjelaskan ideologi setiap cincin dengan sangat sempurna. Bahkan Darwin tidak mengerti sama sekali dengan penjelasan wanita muda itu. Dia hanya fokus melihat kelima cincin yang dianggapnya terbaik. Darwin memutuskan, saat dia bertunangan nanti, dia juga akan memilih cincin pertunangan untuk dirinya sendiri.


"Bagaimana Tuan muda? Apakah anda tertarik dengan salah satunya?" tanya wanita muda itu.


Shin mengusap dagunya. Dia berpikir. Dia kemudian menunjuk cincin yang tampak polos tapi memiliki berlian murni seukuran mikro yang mengelilingi sudut cincin. "Bagaimana menurutmu?" Shin bertanya pada Darwin.


Darwin mengernyit. Cincin itu cantik tapi itu cocok untuk dua orang dewasa yang bertunangan. Sementara mereka masih remaja, mereka tidak bisa memilih cincin membosankan seperti itu.

__ADS_1


"Menurutku ini lebih bagus" Darwin menunjuk cincin yang memiliki berlian kecil berbentuk segitiga di atasnya. "Sangat cocok untuk menggambarkan masa muda"


"Itu terlalu mencolok" Shin langsung dengan cepat menolaknya.


"Aku yakin kelinci kecil akan lebih menyukai cincin yang ini. Anak perempuan suka perhiasan cantik dan mencolok" tambah Darwin.


Entah kenapa Shin merasa kesal saat Darwin menyebut tunangannya dengan sebutan "kelinci kecil". Tapi dia tidak bisa memprotes itu karena Darwin sudah memanggil Nana dengan sebutan itu dari dulu. Hanya saja dia tidak menyukai hal itu sekarang.


"Aku akan memilih yang ini" jawab Shin. Dia tidak mempedulikan perkataan Darwin sama sekali.


Urat-urat kekesalan muncul di kepala Darwin saat melihat Shin mengabaikannya.


Kalau kau tidak butuh saranku, kenapa kau mengajakku kemari! Darwin memaki dalam hatinya. Walaupun dia kesal, dia berusaha menahannya.


Wanita muda bertanya apakah Shin ingin mengukir nama atau inisial mereka di bawah cincin itu. Shin berpikir bahwa inisial saja sudah cukup dan wanita itu menyuruh Shin untuk menunggu selama beberapa menit sampai ukiran itu selesai.


Darwin melihat cincin yang sebelumnya menarik perhatiannya. Dia merasa cincin itu sangat menarik. Dia bukan seorang pria yang suka memakai perhiasan. Tapi cincin itu cocok diberikan kepada seorang wanita sebagai hadiah.


"Aku bungkus satu. Yang versi perempuan" kata Darwin santai sambil menunjuk ke arah cincin dengan berlian kecil di atasnya.


Shin mengernyitkan keningnya. "Untuk apa kau membeli cincin?"


"Untuk hadiah tentu saja" jawab Darwin dengan cool-nya. Walaupun jujur sebenarnya dia tidak tahu kenapa dia membelinya. Dia punya banyak teman wanita karena dia termasuk pria yang friendly. Di mata orang lain mungkin dia terlihat playboy tapi sebenarnya tidak. Walaupun dekat dengan banyak wanita, dia tidak pernah menggoda mereka berlebihan.


Darwin tidak merasa teman-teman wanitanya itu pantas diberi hadiah cincin mahal ini. Mungkin dia akan memikirkan untuk memberikannya kepada siapa nanti. Perhiasan yang dijual di toko ini adalah edisi terbatas dan hanya punya satu versi. Kalau terbeli oleh orang lain, dia tidak akan bisa menemukan versi yang sama.

__ADS_1


Begitulah bagaimana Darwin melewati harinya untuk menemani Shin membeli cincin pertunangan. Dia bahkan membeli satu juga tanpa pernah dia duga. Hanya karena dia merasa tertarik dengan cincin itu.


__ADS_2