
Saat aku mulai masuk ke dalam mobil, suasana menjadi sangat hening. Shin tidak mengatakan apapun padaku setelah dia mendengar kan keluhan ku. Bahkan saat aku terus bertanya banyak pertanyaan padanya, dia mengacuhkanku. Jadi aku menyerah dan diam. Shin benar-benar marah kali ini.
"Aku minta maaf..." aku bergumam dengan wajah menyesal dan mata memerah hampir menangis.
Ini memang salahku. Harusnya aku waspada saat itu. Bukankah aku sudah tahu bahwa Feno membenciku? Jadi harusnya aku tidak terlena seperti itu karena ajakannya. Kalau Shin mendengar alasanku ikut dengan Feno hanya karena wajah tampannya dan mobil mewah itu, Shin pasti akan mencekikku.
Shin bahkan tidak merespon ku setelah aku meminta maaf. Jadi aku hanya menurunkan kepalaku lemas, aku benar-benar menyerah sekarang.
Suasana di dalam mobil itu pun menjadi hening. Shin fokus mengemudi sementara aku meliriknya diam-diam dengan bibir cemberut. Karena suasananya terlalu canggung, aku mulai fokus pada layar ponselku. Aku mencari beberapa video lucu untuk memperbaiki moodku.
Beberapa menit kemudian, kami sampai. Aku dengan cepat meraih pintu mobil untuk turun, tapi tiba-tiba Shin meraih pergelangan tanganku.
"Ada apa?" aku mengerutkan keningku. Aku sudah minta maaf sebelumnya bukan. Tapi dia bahkan tidak menerima permintaan maafku. Lalu sekarang kenapa dia menatap ku dengan tatapan kesal seperti itu?
"Aku akan menginap" kata Shin dengan nada dingin.
Pupil mataku langsung membesar dan aku menatapnya seperti orang bodoh.
Shin tidak peduli dengan tatapan Nana. Dia keluar dari mobil lebih dulu, meninggalkan Nana yang masih membeku di dalamnya.
"Kenapa kau tidak keluar?" katanya.
Aku langsung tersadar dan keluar dari mobil. "Untuk apa kau menginap?" kataku tak percaya. Kenapa tiba-tiba Shin punya pikiran bodoh seperti itu?
"Untuk memastikan kalau kau tidak melakukan hal bodoh sebelum pesta pertunangan kita diadakan" jawab Shin bijaksana. "Ayah mertua..."
uhuk! Dia langsung terbatuk saat dia sadar bahwa dia mengatakan hal yang memalukan. "Paman juga ingin aku melakukan sesuatu tentang pekerjaan nya. Dia sedang berlibur saat ini, jadi dia meminta tolong padaku"
Aku masih mengerjap tak percaya setelah mendengar jawabannya. Aku tidak percaya bahwa ayahku akan meminta tolong pada nya tentang perihal pekerjaan.
"Baiklah, aku akan masuk" lanjut Shin sambil dengan santai melangkah masuk ke dalam mansionku.
__ADS_1
Aku dengan cepat mengikutinya. "Kau tidak bisa!" teriakku langsung.
Shin menatapku penuh arti. "Kenapa aku tidak bisa? Apa tidak ada kamar tamu di mansion mu?" Shin menaikkan kedua alisnya lalu dia melanjutkan. "Lagipula kita akan bertunangan, menginap di rumah tunangan itu tidak masalah sama sekali"
"Bukan itu masalah nya!" aku langsung menyela. Aku mengira pemuda ini marah padaku. Tapi siapa yang menduga kalau dia akan mengusulkan untuk menginap di tempat ku.
Bukannya aku tidak suka kalau Shin menginap. Hanya saja aku benar-benar tidak siap. Aku tidak siap untuk bertemu dengan nya saat penampilan ku berantakan. Itu akan sangat memalukan.
"Jadi apa masalah nya?" Shin bertanya dengan mata menyelidik.
Aku belum menemukan jawaban yang tepat. Setelah aku berhasil merangkai beberapa kata di dalam pikiran ku, kepala pelayan datang dan berkata. "Selamat datang tuan muda Shin" katanya sopan. Seakan-akan dia sudah tahu bahwa Shin akan datang sebelum nya. Membuat aku menatap bingung dengan mulut terbuka.
"Kalau kau tidak ingin aku menginap. aku akan menelpon paman dan memberitahunya bahwa kau tidak mengizinkan ku" Shin dengan ekspresi datar mengambil ponselnya.
"tunggu!" aku menghentikan nya. Ini sungguh mengerikan, kalau ayahku marah padaku. Aku akan tamat. Ayahku adalah sumber uang cadangan kalau kakakku marah.
Shin berhenti dan menatapku penuh arti. Dia mengangkat alisnya seakan-akan mengatakan "aku yang menang disini" dengan postur tubuh sedikit sombong.
"Baiklah, aku mengizinkanmu. Jangan memberitahu ayahku tentang hal-hal aneh" kataku sedikit kasar.
Shin tersenyum penuh arti. Dia langsung melenggang masuk ke dalam rumah dengan langkah santai. Seakan-akan ini adalah rumahnya, bukan rumah orang lain. Kepala pelayan juga menyambut nya dengan baik.
Shin duduk di atas sofa dan langsung melihat ponselnya. Aku duduk di depannya, menatapnya dengan tatapan penuh selidik.
"Kau tidak menghubungi ayahku bukan?" kataku curiga.
Shin menatapku dan tersenyum. "Aku sedang berkirim pesan dengan paman"
Aku hampir muntah darah saat mendengar jawaban nya.
"Tentang urusan pekerjaan" dia melanjutkan lagi. Membuat ku sedikit tenang.
__ADS_1
"Baiklah. Kepala pelayan akan membantumu kalau kau butuh sesuatu. Aku akan kembali ke kamarku" aku pun beranjak dari sofa.
Tapi tiba-tiba Shin berkata dengan sarkas. "Bagaimana bisa kau memperlakukan tamu seperti ini?"
"Um?" aku meliriknya bingung.
"Aku tamu sekarang. Bukankah harusnya kau melayaniku dengan baik? Bagaimana bisa kau menyuruh pelayan untuk melakukan semuanya? Terlebih lagi aku adalah tunangan mu" protesnya sambil menyilangkan kaki dengan sombong.
Aku mengerutkan keningku. Jujur saja aku masih trauma kalau Shin menginjakkan kaki di kamarku. Aku masih ingat saat dia merusak harta karunku dengan senyum polos, seolah-olah dia tidak tahu apapun. Itu cukup mengerikan.
"Baiklah, jadi apa yang kau inginkan?" aku bertanya dengan wajah cemberut.
Shin tersenyum lagi. Dia merasa geli di hatinya. Biasanya gadis ini selalu menggodanya dengan tatapan mesum, membuat nya tidak nyaman. Jadi saat dia melihat Nana dengan wajah kesal dan cemberut, dia merasakan kesenangan sendiri. Seakan-akan dia merasa puas karena berhasil menganggu Nana.
"Bagaimana biasanya cara memperlakukan tamu dengan baik?" Shin bertanya balik.
Aku semakin kesal saat mendengar jawabannya. "Pelayan akan mempersiapkan semuanya. Tunggu saja disini. Nanti kepala pelayan akan mengantarmu dan mengurus semua yang kau butuhkan" aku menjawab sambil melihat ke arah kepala pelayan yang berdiri tidak jauh dari ruang tamu.
Kepala pelayan menundukkan kepalanya dengan ekspresi kalem, seakan-akan dia tidak mendengar apapun. Wajahnya mengatakan "aku tidak akan campur".
"Tapi kau tunanganku. Bagaimana kau bisa bergantung kepada kepala pelayan seperti itu?" Shin tersenyum nakal.
"Jadi kau menyuruh ku untuk membersihkan kamar tamu?" aku menatapnya tak percaya.
Shin tidak menjawab. Dia hanya mengangkat kedua tangannya.
"Aku akan melakukan nya" aku menjawab sambil menghentakkan kakiku kesal. Tanpa menoleh ke arahnya, aku langsung menuju ke kamar tamu.
Sekali lagi, aku mencoba mengambil sisi positif nya. Ini bukan hal yang buruk bukan? Haruskah aku memasang kamera pengintai di kamar ini? Aku langsung menggeleng kan kepalaku dengan cepat. Aku tidak boleh melakukan nya. Bagaimana aku bisa mempunyai pikiran berlebihan seperti ini? Bisa-bisa aku dipenjara kalau Shin melaporkan ku ke polisi sebagai penguntit.
Tapi aku kan tunangannya? Bukankah itu normal? Kalau pun dia melaporkan ku ke polisi, aku akan menggunakan alasan ini untuk membela diri.
__ADS_1
Aku berpikir keras. Haruskah aku meletakkan kamera pengintai atau tidak? Tapi akhirnya aku memilih untuk memasang nya. Anggap saja ini sebagai bayaran karena aku harus bersih-bersih. Hehehe