
Aku menatap Feno dengan ekspresi curiga. Tidak mungkin pria ini akan menjadi baik tiba-tiba. Aku mengenal sifatnya sejak aku sudah membaca komiknya. Dia bukan pria yang pemaaf dan dia juga tidak akan melepaskan musuhnya begitu saja.
Perasaan Nana benar. Feno bukan orang yang baik hati. Saat ini dia sedang mengatur siasat di dalam pikirannya untuk membuat Nana menangis sebagai balas dendamnya. Karena itulah dia berpura-pura sebagai pria yang lembut sekarang.
"Apa kau memikirkan rencana aneh di kepala mu?" kataku tanpa sadar. Aku menatap nya dengan enggan. Aku tidak percaya dengan perkataannya sama sekali.
"Tidak" katanya dengan mata teraniaya. "Kenapa kau bisa berpikiran buruk padaku? Aku hanya ingin mengantarmu pulang sekarang. Padahal aku ingin berbuat baik" katanya sedih. "Ini adalah kompensasi karena aku sudah berlaku kasar padamu waktu itu" Feno berkata dengan wajah menyesal.
Aku mengernyitkan keningku bingung. Masih bersikap waspada padanya. "Aku akan pulang dengan taksi" kataku sambil berusaha menghindar.
"Apa aku seburuk itu?" katanya sedih. "Padahal aku hanya ingin meminta maaf"
Melihat wajah lesunya, aku jadi merasa tidak enak. Mungkin aku terlalu kasar? Lagipula Feno bukan pria yang buruk sama sekali.
"Baiklah" aku menyerah. Hitung-hitung menghemat uang karena aku tidak harus membayar jasa taksi.
Feno tersenyum cerah. Penampilan nya benar-benar berbeda sekarang. Tidak seperti pria ganas dengan tatapan tajam.Tapi seperti seekor anjing kecil yang terlihat antusias karena mendapat makanan favorit. "Terima kasih" katanya.
Kami pun menuju ke parkiran di ruang bawah. Lalu Feno mulai mengambil mobilnya dan menyuruh ku masuk. Aku langsung menuju ke kursi belakang, tapi Feno menghentikan ku.
"Duduk disini" dia menunjuk kursi di sampingnya. "Kalau kau duduk di belakang. aku terlihat seperti supirmu" katanya dengan nada menyindir.
Wajahku langsung memerah malu. Aku tidak punya niat untuk menganggap orang seperti Feno adalah supirku. Lebih tepatnya aku tidak pantas. Aku benar-benar tidak memikirkan hal ini sama sekali. Aku pun langsung bergerak pindah ke kursi depan dengan canggung.
"Apa kau belanja sendirian?" Feno tiba-tiba membuka pembicaraan.
"Tidak. Aku pergi bermain bersama sahabatku. Dia pulang lebih dulu" jawabku pelan.
__ADS_1
"Shin tidak ikut?" Dia mengernyitkan keningnya bingung, seakan-akan memikirkan sesuatu.
"Kenapa Shin harus ikut?" aku bertanya balik.
Kami saling bertatapan dan kemudian saling memalingkan wajah kami dengan canggung.
"Bukan apa-apa. Soalnya aku tahu kau menyukainya dan selalu mengejarnya. Orang itu" kata Feno sarkas.
"Um," aku mengangguk dengan polos. Siapa yang tidak suka pria tampan? Tapi bagian mengejar itu perlu di koreksi. Walaupun aku suka pria tampan, aku tidak seberani itu untuk mengejar mereka. Mengagumi dari jauh sudah cukup bagiku.
Suasana kembali hening. seakan-akan pembicaraan kami berakhir disini. Ekspresi Feno juga terlihat tidak nyaman. Dia terlihat seperti orang bingung yang ingin mencari sesuatu.
Sebenarnya Feno memikirkan rencana untuk balas dendamnya. Tapi dia tidak menemukan ide yang bagus di otak nya. Semua ini karena pertemuan nya dengan Nana terlalu tiba-tiba sehingga dia tidak mempersiapkan rencana apapun.
Aku memutuskan untuk bermain game karena suasana sunyi dan canggung ini sangat mengangguku. Aku mengambil ponselku, dan tulisan baterai lemah langsung muncul di layarnya. Hanya butuh waktu dua detik sampai ponselku mati seutuhnya.
"Ya," kataku sambil meletakkan ponsel itu kembali ke dalam tas.
Feno tersenyum kecil. Nana sama sekali tidak bisa melihat senyumnya karena dia sibuk meletakkan ponselnya sambil mengatur tas-tas belanja di sekelilingnya.
Suasana kembali sunyi sekali lagi. Aku berusaha menatap ke arah jalanan untuk menghindari suasana canggung yang tidak nyaman. Aku juga merasa sedikit mengantuk sekarang. Sesekali aku menutup dan membuka mataku, karena berusaha menahan kelopak mataku yang terasa berat.
Tiba-tiba sesuatu yang aneh terjadi. Mobil Feno tiba-tiba berhenti di jalanan yang tak kukenal.
"Eh? Apa yang terjadi?" rasa kantukku hilang dalam sekejap.
"Kurasa mobilnya mogok" kata Feno datar.
__ADS_1
Aku mengerjap tak percaya. "Bagaimana bisa mobil mahal mogok di tengah jalan? Apa kau bercanda?" kataku sarkas.
Feno hanya menatap ku dengan polos. "Siapa tahu" dia mengangkat kedua tangannya. "Tunggu disini, aku akan mengecek nya" katanya sambil keluar dari mobil.
Pintu mobil tertutup. Aku melihat Feno berjalan ke arah pantat mobil. Sayangnya saat dia berjalan ke belakang, kaca spion tidak biaa memantulkan wujudnya lagi dan aku tidak melihat apapun. Aku memutuskan untuk duduk seperti biasa dan menunggu nya kembali.
Tapi, sepuluh menit berlalu dan tidak ada tanda-tanda keberadaan Feno. Aku sedikit cemas sekarang. Aku berusaha membuka pintu mobil tapi pintunya terkunci dari luar. Kelihatannya itu terkunci secara otomatis.
"Hei! Feno! Kau ada disana?" aku berteriak memanggilnya, tapi tidak ada jawaban apapun.
***
Sepuluh menit yang lalu. Feno segera meninggalkan mobilnya di tepi jalan sambil tersenyum riang dengan memainkan kunci mobilnya.
Dia mendapatkan ide yang sangat bagus saat tahu ponsel gadis nakal itu kehabisan baterai. Kenapa dia tidak meninggalkan nya sendirian di dalam mobil? Dia tidak akan bisa meminta bantuan karena ponselnya tidak bisa digunakan. Bukankah ini sangat bagus? Gadis itu pasti akan menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar menantikan hal itu.
Ada kotak perekam cctv di dalam mobilnya. Dan cctv itu terhubung ke ponselnya. Dia bisa merekam apa yang terjadi di dalam. Jadi dia tidak perlu menunggu sampai Nana mulai menangis.
Feno kembali pulang dengan taksi online yang dipesannya. Karena keanggotaan nya adalah premium, tidak perlu waktu lama menunggu taksi. Hanya lima menit dan supir terdekat akan menjemput nya.
Setelah memasuki taksi, Feno dengan tidak sabar melihat cctv yang terhubung di ponselnya. Dalam pikirannya, dia menyuruh agar Nana cepat-cepat menangis dan meronta-ronta untuk meminta pertolongan. Semakin menyedihkan ekspresi Nana, maka semua itu semakin bagus. Siapa juga yang menyuruhnya untuk mencari masalah. Hukuman Nana ini termasuk ringan. Feno tidak pernah bersikap ringan pada lawannya sama sekali.
"Aku akan memanggil bantuan untuknya besok..." gumam Feno. Dia tidak akan memanggil bantuan untuk Nana sekarang. Dia akan membiarkan gadis itu terkurung sampai besok. Kalau gadis itu beruntung dan bertemu polisi yang sedang berpatroli, dia akan dibebaskan lebih cepat. Tapi sayangnya daerah yang dipilih Feno adalah daerah yang sangat sepi. Jarang sekali orang-orang melintasi jalanan itu.
***
Dua puluh menit berlalu, dan aku sama sekali tidak melihat keberadaan Feno. Bukankah pria itu hanya pergi untuk mengecek bumper belakang mobil? Tapi dia tidak mendengar teriakanku dan bahkan tidak kembali sama sekali.
__ADS_1
Perasaanku menjadi tidak enak. Tidak mungkin dia meninggal kan aku sendiri disini kan? Kalau itu benar-benar terjadi, apa yang dipikirkannya? Apa dia gila!