
Shin berhasil sampai ke tempat tujuan dengan cepat. Permainan ini sangat membosankan untuk nya. Walaupun para pelayan itu sudah bekerja keras menyiapkan berbagai jebakan hantu. Hal itu tidak memuaskan untuk nya dan bahkan terlihat seperti amatiran.
Karena dia tiba lebih awal, dia harus menunggu peserta lainnya di sini. Di tempat peristirahatan terakhir para pelayan sudah menyiapkan beberapa kursi dengan minuman es di atas mejanya. Bagaimana pun juga mereka adalah anak-anak yang terlahir dengan sendok emas, jadi para pelayan itu sudah mempersiapkan hal ini untuk melayani mereka karena kelelahan.
Beberapa menit kemudian, tim lainnya menyusul. Terus berlanjut sampai di tim keempat tiba.
Tapi sesuatu yang aneh terjadi. Tim terakhir tiba sangat terlambat. Biasanya jeda antar tim untuk sampai hanya lima sampai sepuluh menit. Bahkan yang paling lama adalah lima belas menit.
Tapi tiga puluh menit sudah berlalu, dan tim terakhir sama sekali tidak menunjukkan batang hidung mereka.
Shin mengernyit kan keningnya cemas. Dia tahu siapa tim terakhir itu. Begitu juga dengan Darwin.
Kedua pria itu secara bersamaan menghampiri kepala pelayan untuk menanyakan kekhawatiran nya.
"Bagaimana bisa tim terakhir belum sampai? Ini sudah setengah jam" tanya Shin.
Kepala pelayan itu berkeringat dingin. Tapi dia tetap menjawab dengan tenang. "Mungkin mereka butuh waktu lebih lama untuk menemukan petunjuk jalan tuan" dia menjawab sambil menundukkan kepalanya.
Shin berpikir sebentar sebelum akhirnya dia melirik Darwin yang berada di sampingnya.
"Kau pikir begitu?" dia bertanya dengan nada ragu.
"Aku tidak yakin" jawab Darwin. "Kita tunggu saja sebentar lagi. Kalau mereka belum tiba, kita akan memeriksa nya"
Akhirnya lima belas menit berlalu. Sudah empat puluh lima menit, tapi tim itu benar-benar belum muncul! Pasti sesuatu terjadi pada mereka!
"Periksa seluruh hutan!" perintah Shin dengan nada dingin. Para pelayan itu melaksanakan perintah nya dengan cepat.
Shin juga tidak mau berdiam diri. Dia masuk ke dalam hutan kembali dengan Darwin yang mengikuti di belakangnya.
__ADS_1
Mereka berdua mengikuti arah dimana petunjuk jalan itu diberikan. Akhirnya, mereka pun merasakan kehadiran seseorang di semak-semak.
"Ah kalian!" Sosok itu berteriak kaget dan menghampiri mereka dengan senang. "Aku benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku tidak bisa keluar dari hutan ini" katanya dengan napas tersengal-sengal karena kelelahan.
"Kenapa hanya kau yang ada disini? Mana Nana?" Darwin akhirnya membuka mulutnya. Ekspresi khawatir terpancar di wajahnya karena dia tidak bisa menahannya lagi.
Pria itu menundukkan kepalanya. Lalu dia mulai berkata dengan nada pelan dan sedikit tersedu-sedu. "Aku tidak tahu... Gadis itu tiba-tiba menghilang. Jadi aku mencarinya. Dan tidak menemukan nya sama sekali dan bahkan ikut tersesat. Maafkan aku."
"Dasar bodoh!" bentak Shin langsung dengan ekspresi menyeramkan.
Pria itu langsung ketakutan. Kakinya sedikit bergetar dan wajahnya sedikit pucat. Dia tidak tahu bahwa dua orang penting di depannya benar-benar mengkhawatirkan gadis itu. Lagipula menurutnya Lista memiliki posisi lebih penting sejak dia adalah teman masa kecil mereka berdua. Dia tidak pernah menduga bahwa reaksi mereka akan semenakutkan ini.
Dia takut kemungkinan terburuk bahwa gadis itu masih hidup dan menceritakan semuanya. Tapi dia langsung menempis kemungkinan itu. Mustahil untuk keluar hidup-hidup setelah terjatuh dari tebing yang sangat curam seperti itu.
"Maafkan aku..." pria itu mencoba memasang wajah sesedih mungkin.
Pasalnya sangat tidak mungkin Nana tersesat begitu saja padahal mereka berjalan berdampingan. Shin berpikir pria ini pasti meninggalkan nya di belakang untuk mengerjainya.
Setelah Nana tersesat, gadis itu tidak akan bisa berjalan kemanapun. Karena Shin tahu bahwa gadis itu sangat takut akan gelap. Shin benar-benar khawatir bahwa gadis itu tersesat dan menangis sendirian.
"Dimana kau kehilangan Nana?" tanya Darwin penuh selidik.
Pria itu menjelaskannya secara acak. "Saat melewati petunjuk jalan ketiga, aku benar-benar tidak menemukan nya kehadirannya"
"Aku bertanya satu hal lagi" Shin menajamkan suaranya. "Apa kau meninggalkan nya di belakang?"
"Tidak, tidak" dia langsung menggeleng. "Aku memang berjalan di depan, tapi dia selalu berada di belakang ku. Bahkan jarak kami hanya satu langkah. Tapi aku benar-benar tidak sadar dia menghilang" dia menjelaskan dengan wajah menyakinkan.
Ck!
__ADS_1
Shin hanya berdecak, sebelum akhirnya dia meninggal kan pria itu untuk melanjutkan pencarian. Dia akan mencari Nana di petunjuk jalan ketiga, sesuai dengan instruksi pria itu.
"Kembali ke kamp. Terus saja lurus ke depan sesuai petunjuk. Beritahu yang lainnya untuk bantu mencari" kata Darwin sambil menatap pria itu lekat-lekat. Kemudian dia ikut menyusul langkah Shin.
Shin dan Darwin mencari di sekeliling hutan. Bahkan mereka sudah mencari sampai ke ujung hutan, tapi mereka tidak menemukan keberadaan Nana.
"Aku akan memanggil beberapa orang kemari. Kita akan mencari dari atas dengan helikopter" jawab Shin kemudian. Dia akan menggunakan pendeteksi suhu tubuh untuk mencari keberadaan manusia di tengah hutan ini. Lagipula hutan ini tidak terlalu besar, dia yakin akan menemukan keberadaan nya dengan mudah.
"Tenang dulu Shin. Sebaiknya kita kembali dulu. Siapa tahu yang lain sudah menemukan keberadaan nya lebih dulu." kata Darwin saat dia melihat sahabatnya itu terlihat terlalu panik. "Kalau belum ada kabar, kita bisa mencarinya menggunakan cara itu".
Shin mengangguk setuju. Kedua orang itu pun kembali ke tempat dimana semua orang sudah berkumpul. Tidak perlu waktu yang lama untuk mereka sampai kesana. Saat mereka kembali, kepala pelayan dan staff lainnya juga sudah ada di sana.
"Maafkan saya tuan muda, kami tidak menemukan jejak nona di mana pun," jawab kepala pelayan itu dengan nada menyesal sambil membungkuk kan tubuhnya.
Shin pun membuat keputusan. Dia akan mencarinya menggunakan heli dan mesin pelacak. Darwin juga ingin ikut dengannya.
"Shin, lebih baik kita istirahat sekarang. Maksudku sekarang sudah benar-benar larut. Semua orang sudah kelelahan." Lista tiba-tiba membuka suaranya.
Sekarang sudah pukul Dua dini hari. Mereka semua benar-benar tidak tidur seharian ini. Bisa dilihat kalau wajah semua orang benar-benar sudah kelelahan dan tidak bersemangat.
Shin menatap Lista dengan kening berkerut. "Kau bisa berisitirahat"
Lista memeluk tangan Shin dan berbicara dengan nada memohon. "Ayolah Shin. Kau juga harus istirahat. Bagaimana kau bisa membahayakan kesehatan semua orang untuk gadis liar seperti itu? Aku yakin gadis itu sengaja menghilang hanya untuk membuat sensasi. Dia pasti sedang beristirahat di villa sekarang karena ketakutan. Atau mungkin dia pergi meninggalkan pulau ini lebih dulu"
"Karena itu kau bisa beristirahat sekarang dengan semua orang" perkataan Shin bergema di seluruh tempat sehingga semua orang menatapnya. "Jangan khawatir kan aku" Shin melepaskan tangannya dari pelukan Lista dengan cepat.
Shin tahu semua orang kelelahan. Dan mereka juga kekurangan orang untuk melakukan pencarian. Anak-anak kaya itu tidak bisa diharapkan untuk mencari, itu hanya akan menjadi menyusahkan kalau mereka ikut tersesat juga. Sementara untuk para pelayan, Shin akan menyuruh mereka untuk membantu.
Sementara beberapa orang lainnya akan tiba besok untuk membantu pencarian kalau Nana tidak ditemukan. Shin benar-benar cemas sekarang. Dia harus menemukan gadis itu sebelum matahari terbit atau dia tidak akan pernah bisa tenang.
__ADS_1