Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Uang yang Hilang


__ADS_3

Tiga puluh menit berlalu dan Feno tidak terlihat sama sekali. Aku benar-benar panik sekarang. Melihat dari sikapnya, dia sengaja meninggalkan aku di dalam mobil bukan?


"Benar-benar pria jelek..." aku bergumam dengan wajah menghitam. Wajahnya tidak jelek hanya saja hatinya terlalu jelek. Padahal aku sangat jarang memanggil pria tampan sebagai pria jelek. Karena hal itu tidak logis.


Untung saja aku membawa power bank. Jadi aku bisa menggunakan untuk mengisi ulang baterai ponselku. Kebiasaan ku sejak dulu benar-benar menyelamatkanku untuk saat ini.


Aku mulai memakai power bank itu dan perlahan layar ponselku mulai menyala lagi. Aku ingin menghubungi polisi untuk menyelamatkanku yang terkunci di dalam mobil ini. Tapi tiba-tiba, TING! Aku melihat notifikasi pesan masuk saat ponselku mulai mendapatkan sinyal.


Pesan itu dari Shin! Aku tersentak kaget. Siapa yang mengira bahwa dia akan mengirimku pesan di saat-saat genting seperti ini. Aku mengerjap beberapa kali karena sedang memikirkan sesuatu yang menakjubkan. Lalu aku tersenyum kecil. Daripada meminta tolong pada polisi lebih baik meminta tolong pada Shin bukan? Lagipula dari dulu aku punya impian untuk ditolong oleh pria tampan. Ini kesempatan yang bagus!


Tapi kemudian aku mengernyitkan kening ragu. Shin dan Feno adalah musuh bebuyutan. Kalau Shin tahu bahwa Feno benar-benar memperlakukanku seperti ini, bukankah dia akan marah? Maksudku semuanya akan semakin runyam. Bahkan mungkin akan ada baku hantam kalau situasinya terlalu berlebihan. Dan aku tidak bisa melakukan apapun kalau hal itu terjadi karena aku bukan tokoh utama yang bisa melerai kedua tokoh besar itu. Jadi dengan berat hati, aku memutuskan untuk membatalkan rencana itu, meminta tolong Shin.


Aku membaca pesan yang Shin kirimkan.


"Aku mengirimkan beberapa foto pria itu saat dipenjara"


Lalu ada empat foto yang muncul secara berurutan.


Ternyata dia hanya ingin memastikan aku tahu bahwa dia melakukan tugasnya dengan baik. Jujur saja Shin selalu melaksanakan tugasnya dengan baik. Karena itulah semua orang selalu percaya padanya. Dia pemimpin yang baik.


Lalu aku membaca pesan selanjutnya.


Kenapa kau tidak membalasku?


Aku menelponmu, tapi kau tidak mengangkatnya. Apa kau tidur?


Aku mengunjungi rumahmu, para pelayan bilang bahwa kau pergi keluar


Kau dimana saat ini? Aku akan menjemputmu


Kau dimana? Aku tidak bisa menghubungimu.


Hei, dimana kau sekarang?


Setelah membaca semua pesan Shin, aku langsung berkeringat dingin. Bukankah dia terlalu berlebihan? Bahkan aku bisa melihat banyak sekali misscall di pesan masuk ponselku. Dia bahkan pergi ke rumahku saat tahu aku tidak mengangkat pesannya.


TRINGGG!


Tiba-tiba ponselku bergetar dan berbunyi. Aku tersentak kaget. Aku hampir menjatuhkan ponselku saking kagetnya. Aku bisa melihat tulisan "Shin memanggil" di layar ponsel.

__ADS_1


"Halo"


"Kau dimana?" Shin bertanya langsung tanpa basa-basi apapun.


"Um...aku tidak tahu aku dimana sekarang...." kataku ragu. Aku memang tidak tahu ada dimana sekarang. Aku belum menghapal jalanan di kota ini sama sekali.


"Bagaimana kau bisa tidak tahu?" aku bisa mendengar nada bicara Shin meninggi. Aku sedikit cemas sekarang. "Kirimkan aku lokasimu" katanya.


"Oke" aku mengangguk patuh. Aku dengan cepat mengirim lokasiku via pesan pada Shin.


"Bagaimana kau bisa berakhir disana? Apa yang kau lakukan?" Shin bertanya, kali ini nada bicaranya kembali normal.


Aku pun menjelaskannya dari awal. Dari tujuan awal untuk menghabiskan waktu dengan Rin. Kemudian bertemu Feno saat pulang. Aku sedikit takut-takut saat menyebut kan nama Feno. Tapi Shin tidak menyanggah saat aku menyebut namanya. Jadi aku melanjutkan penjelasanku. Sampai akhirnya cerita ku terhentikan saat Feno meninggalkanku di dalam mobil dan tidak kembali.


"Kenapa kau menerima tawarannya?" tanya Shin kemudian.


"Karena gratis dan dia tampan" jawabku langsung.


Nana tidak tahu bahwa tubuh Shin sudah bergetar karena menahan rasa kesalnya. Gadis itu sudah berada dalam bahaya tapi dia sempat-sempatnya memuji pria lain tampan di depan matanya.


"Apa kau gila?" kata Shin sarkas.


"..."


Shin menyerah. Ada saatnya dia tidak bisa menghadapi orang gila karena membuat kepalanya sakit seperti saat ini.


"Jadi bagaimana? Apa kau akan menolong ku? Kalau tidak aku akan memanggil polisi" kataku frontal karena buru-buru. Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku harus mencari toilet!


Shin tidak menyangka bahwa Nana akan berbicara seperti itu padanya. Dia merasa tidak senang. Tapi dia tetap berkata dengan tenang "Tunggu aku" dan langsung mematikan ponselnya dengan cepat.


Sementara di tempat lain, Feno sudah sampai di apartemen miliknya. Jujur saja pria itu jarang kembali ke rumahnya. Baginya setiap orang di rumah itu terlihat sangat konservatif dan menyebalkan. Dia selalu dituntut untuk melakukan ini dan itu. Dia tidak menyukainya dan memutuskan untuk tinggal di luar.


Feno sudah menyiapkan tempat yang nyaman untuk mengawasi kebodohan Nana. Dia bahkan menghubungkan cctv mobil nya dengan LCD besar di depan tempat tidurnya.


Dia menunggu nya, menunggu Nana menangis dan meminta tolong. Tapi gadis itu tidak melakukan itu. Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan benda itu adalah power bank.


Feno melotot kaget. "Sial!" dia mengumpat. Dia sudah tahu bahwa rencananya gagal sejak Nana mengeluarkan benda itu.


Tapi dia tidak terlalu menyesal dengan apa yang terjadi. Setidaknya ini adalah rencana mendadak. Dia tidak terlalu menyesal karena gagal. Dia akan memikirkan rencana lain di masa depan untuk membuat gadis itu menangis. Dia pasti akan memastikan bahwa dendamnya terbalaskan.

__ADS_1


Mata Feno menyipit saat melihat Nana menelpon seseorang. Dia lupa memasang speaker pada CCTV sehingga dia tidak bisa mendengar apa yang dia bicarakan. Tapi dia berpikir Nana sedang memanggil polisi.


***


Lima belas menit kemudian, Shin tiba. Dia membawa mobilnya sendiri. Lalu dia turun dan melihat ku dari jendela kaca dengan wajah cemberut.


Shin marah. Tapi bisakah kita kesampingkan hal itu nanti? Aku benar-benar harus ke toilet sekarang! Jadi cepat keluarkan aku dari sini!


Shin mengatakan sesuatu. Tapi aku tidak bisa mendengar nya karena di dalam mobil benar-benar kedap suara. Lalu, aku mendengar ponsel ku berbunyi. Shin memanggil, aku langsung mengangkat nya dengan cepat.


"Bagaimana caraku keluar?" aku bertanya langsung.


"Tunggu di dalam" respon Shin dingin.


Mendengar responnya, aku takut dia menyerahkan dan meninggalkan ku di dalam.


Tapi ternyata tidak. Shin memasukkan sesuatu pada lubang kunci di pintu mobil. Aku tidak tahu apa itu, tapi kelihatannya alat itu berfungsi dan BANG! Pintu mobilnya terbuka.


"Keluar" Shin memerintahkan dengan dingin. Aku keluar dengan cepat dan Shin masuk ke dalam.


Aku mengerutkan keningku. Apa yang akan dilakukan nya? Kenapa dia tiba-tiba masuk dan menghidupkan mesin mobilnya?


Setelah mesin mobil itu hidup, Shin keluar.


BAK! Aku bahkan bisa mendengar nya menutup pintu mobil dengan keras. Lalu tiba-tiba mobil itu bergerak sendiri, lurus. Sampai akhirnya menabrak pembatas jalan yang ada di depan dan berhenti.


Tabrakan itu cukup keras. Pembatas jalan yang terbuat dari besi penyok dan bagian depan mobil juga penyok. Aku bahkan bisa melihat asap dari atas mobil.


Aku melonggo tak percaya. "Shin...apa yang kau lakukan?"


"Membuang sampah" jawab Shin ketus. Dia tidak peduli dengan wajah kaget Nana. Dia langsung menarik tangannya. "Ayo pulang"


Aku tidak percaya dengan tanggapan Shin. "Tapi itu mobil mahal!" aku bergumam tak percaya. Dia merusak mobil mahal itu hanya dalam beberapa menit. Bahkan merusak pembatas jalan.


Aku tidak menyangka bahwa Shin akan benar-benar membenci Feno seperti ini. Dia bahkan membenci mobilnya juga.


"Daripada kau merusaknya. Kita bisa menjual nya di pasar gelap" kataku pada Shin dengan wajah menyesal. "Pasar gelap menerima mobil curian, jadi tidak masalah kalau tidak ada kuncinya. Padahal itu uang...." kataku sedih.


Aku tidak kasihan dengan Feno karena kehilangan mobil nya. Tapi aku kasihan pada mobil yang rusak itu seakan-akan uang yang ada di depan mataku menghilang dengan cepat.

__ADS_1


"...." Shin tidak merespon. Tapi dia menatap Nana dengan ekspresi kaget sebelum kembali tenang.


__ADS_2