
Setelah pengumuman nilai selesai, kelompok belajar kamu berkumpul sekali lagi sebelum liburan. Kami memilih cafe di dekat sekolah sebagai tempat untuk singgah.
Jujur saja, kami semua satu kelas kecuali Ken. Sehingga tidak terlalu sulit untuk berkumpul bersama-sama. Ken adalah senior di atas kami satu tahun. Jadi membutuhkan waktu untuk memintanya berkumpul.
"Bagaimana nilaimu?" aku bertanya pada Darwin sambil meminum float yang ada di depan ku.
"Tara~" Darwin menunjukkan hasilnya dengan bangga.
"Um~ 89 poin. Nilai mu cukup tinggi" aku mengerjap antusias.
"Tentu saja kelinci kecil. Hanya kau yang punya poin paling rendah di kelompok kita" kata Darwin sambil menunjukkan senyum nakalnya.
Orang ini pasti sengaja kan?
Apa dia mengejekku secara halus, mengatakan bahwa aku orang paling bodoh disini? Walaupun dia benar, aku bodoh, seharusnya dia tidak mengatakan nya terang-terangan. Ah~ harga diriku benar-benar sudah tidak ada sekarang. Walaupun aku marah, aku tidak bisa melakukan apa pun.
"Nilai Nana sama sekali tidak rendah!" timpal Rin langsung. Rin menatap Darwin dengan mata melotot, seakan-akan dia ingin memangsanya.
Mulut Darwin berkedut. Saat dia melihat Rin dia sedikit takut. Ternyata gadis di dekatnya cukup ganas. Bisa dibilang dua gadis ini cukup unik. Karena itulah dia merasa senang saat bergaul dengan mereka. Walaupun akhir-akhir ini kelinci kecil nya sudah tidak bisa diganggu. Dia cukup kecewa sebenarnya, seakan-akan jiwanya melayang karena dia kehilangan hiburan.
"Ehem! Kira-kira kapan senior Ken akan datang?" kataku mengganti topik.
Aku merasakan hawa permusuhan dari Rin saat dia menatap Darwin. Aku tidak ingin ada perkelahian uang terjadi. Walaupun aku yakin perkelahian itu hanyalah adu mulut, tetap saja tidak menyenangkan.
"Um...10 menit lagi" Rin menjawab cepat sambil melihat jam tangannya
STARE!
Aku menoleh dan menatap Rin dengan mata menyipit. Bagaimana Rin tahu sedetail itu? Padahal Ken hanya menjawab "aku akan kesana sebentar lagi" di grup. Apa mereka sedang melakukan privat chat berdua saja?
Rin merasakan bahwa Nana mengamati nya dan dia merasa tidak nyaman.
"Ada apa?"
"Bagaimana kau tahu senior Ken akan datang 10 menit lagi? Apa kalian selalu chatan berdua saja?" tanyaku blak-blakan.
Blush
Wajah Rin langsung memerah.
__ADS_1
"Tidak...Kami tidak sesering itu chatan..." suara nya semakin mengecil karena malu dan dia menundukkan kepalanya. Aku jadi semakin curiga.
"Rin, apa kau menyukai senior Ken?" aku bertanya lagi. Tingkah Rin ini benar-benar seperti seorang gadis yang jatuh cinta. Semuanya jadi masuk akal kenapa Rin sama sekali tidak tertarik pada Shin. Dia menyukai Ken!
"Tidak...Itu tidak mungkin!" sangkal Rin dengan wajah memerah seperti udang rebus. "Aku tidak mungkin bisa bersama dengan orang seperti nya" dia bergumam.
aku melihat bahwa wajah Rin tiba-tiba berubah menjadi sedih. Pasti dia mengkhawatirkan latar belakangnya. Padahal itu sama sekali tidak masalah. Sejauh yang aku tahu Ken sama sekali tidak mempunyai masalah seperti Shin. Dia tidak punya ibu yang menentang kehidupan anak-anak nya. Apalagi identitas Ken sangat misterius. Aku sama sekali tidak pernah melihat cerita keluarga Ken di dalam komik itu.
"Jangan khawatir. Kalian akan bersama" kataku langsung. Aku ingin menghibur nya dengan mengatakan, percaya padaku karena aku tahu masa depan. Tapi aku yakin mereka akan menganggap ku gila kalau aku berbicara seperti itu.
Aku mulai mengalihkan tatapan pada Shin.
Haa~ kasihan sekali tokoh utama ini. Rin mulai meninggalkan nya. Ini semua salahnya karena dia bertingkah angkuh di awal pertemuan. Kalau saja dia tidak bertingkah seperti anjing liar, kesan Rin padanya tidak akan buruk. Sekarang kaisar es ini harus menerima bahwa jodohnya sudah mulai menjauh.
"Kasihan sekali~" aku bergumam tanpa sadar .
"Apanya yang kasihan? Apa ada masalah di wajah ku?" tanya Shin serius. Dan itu cukup mengagetkan ku.
"Eh...bukan itu. Maksudku...anak itu kasihan sekali, ibunya tidak mau memberikannya kue karena gigi nya berlubang" kataku ngawur sambil menunjuk pasangan ibu dan anak yang ada di belakang Shin.
"..."
Akhirnya Ken tiba-tiba muncul dan membuat suasana tegang ini menjadi cair kembali.
"Halo, aku datang" kata Ken dengan senyum bahagianya.
"Senior, bagaimana ujianmu?" aku bertanya padanya.
Ken tersenyum lalu dia menatap Rin dengan penuh arti. "Aku tidak bisa menandingi sahabatmu" katanya ambigu.
"Tapi kau tetap mendapat nilai yang tinggi bukan" kataku cemberut.
Sementara Rin menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya memerah. "Aku tidak sebaik senior Ken..." gumamnya mencicit dengan suara kecil.
"Baiklah, kita berkumpul bukan untuk membicarakan nilai ujian" kata Darwin. "Tapi untuk merayakan karena ujian sudaj berakhir"
Kami pun memulai pesta kecil perayaan ini. Sebenarnya ini bukan pesta, hanya perayaan kecil-kecilan dengan makan bersama. Kami membahas beberapa topik ringan sambil tertawa. Sampai akhirnya topik kami berhenti tentang menghabiskan waktu di masa-masa liburan.
"Itu yang ingin kami tanyakan. Kita akan menghabiskan waktu liburan di sebuah pulau. Apa kalian ingin ikut?" Darwin menatap Ken, Rin dan Nana.
__ADS_1
Nana mengangguk antusias. "Tentu saja aku ikut"
"Tapi bukan kolam renang?" aku menatap Shin cemberut.
Uhuk!
Shin terbatuk melihat respon Nana. "Tapi disana ada pantai. Sama saja" jawabnya.
"Tapi tidak ada orang" aku mengeluh. Bagaimana cara mencari pria tampan di pulau pribadi? Aku yakin tidak ada siapapun di sana kecuali orang-orang yang kami kenal ini. Menyebalkan!
"Jangan-jangan kau sengaja Shin..." kataku curiga .
"Apa maksudmu?" Shin tidak mengerti.
"Kau ingin menghalangi ku melihat pria tampan karena itu kau memilih pulau pribadi. Apa kau cemburu?" kataku sambil mengerjap antusias.
"Omong kosong!" Shin langsung membantah dengan dingin.
Cih!
Darwin menatap kedua pasangan itu.
"Sudahlah oke. Kita membicarakan liburan bersama bukan liburan pasangan. Kalau kalian ingin berlibur bersama silahkan bicara di tempat lainnya" Darwin membuka mulutnya dan memperkeruh suasana. Dalam sekejap, tatapan dingin Nana dan Shin menyerangnya.
"Jadi bagaimana?" Darwin mengembalikan topiknya lagi.
"Aku tidak bisa. Aku ada kerja paruh waktu" jawab Rin kecewa.
Ken menatap Rin penuh arti sebelum dia menjawab "aku akan menjaga toko"
Ha~ Darwin menghela napas kecewa.
"Bukannya bagaimana, sama sekali tidak menyenangkan liburan bertiga saja. Apalagi kalian tahu aku akan menjadi obat nyamuk di antara pasangan ini. Aku bahkan tidak bisa mengeluh tentang nasibku." kata Darwin sedih.
"Jangan bicara omong kosong" sela Shin dingin. "Kau punya satu hari lagi. Ajak siapa pun yang kau inginkan, itu tugasmu" katanya. "Kau bisa mengajak teman-teman sekelas juga"
"Um...kau benar. aku akan mengajak beberapa orang yang dekat dengan kita. liburan seperti ini akan terasa menyenangkan dengan banyak orang. Karena aku sudah merencanakan beberapa permainan menyenangkan hehehehe..." kata Darwin sambil menunjukkan senyum menyeramkan.
Entah kenapa aku merasa tidak enak saat melihat ekspresi Darwin. Aku yakin bocah ini merencanakan sesuatu yang tidak bagus!
__ADS_1