
Ken akhirnya mengantarkan kedua gadis itu ke pusat perbelanjaan. Mereka memilih mall di pusat kota ini sebagai tempat bermain. Nana yang memilih tempat ini karena dari dulu dia benar-benar ingin menghabiskan waktu berbelanja bersama sahabatnya.
Saat memasuki gedung yang besar dan mewah itu, Nana dan Rin sama-sama memasang wajah kagum. Rin belum pernah pergi ke tempat seperti ini. Nana juga belum pernah karena dia baru saja di transmigrasi kan ke dunia ini. Walaupun selama ini Nana memakai barang mewah dan bermerek. Dia tidak pernah membelinya sendiri. Semua itu adalah pemberian orang tua dan kakaknya. Bahkan beberapa dari mereka adalah hadiah dari rekan bisnis orang tuanya.
"Nana..." Rin menatap Nana dengan wajah canggung. "Apa kita benar-benar akan masuk ke dalam?" katanya tidak yakin.
"Tentu saja!" aku merespon dengan mata berbinar. Refleks, aku langsung mengeluarkan kartu hitam harta karun yang baru saja ku dapatkan kemarin dan mengangkat nya ke udara, sebagai pemujaan. "Kita punya ini. Sudah saatnya menghabiskan uang pria pelit itu sepuasnya" kataku sarkas.
Aku sengaja memilih tempat ini karena aku ingin menghabiskan uang. Setidaknya aku ingin melampiaskan rasa kekesalan karena mereka sudah meninggalkanku sendirian di rumah. Aku sudah bertekad akan menghabiskan uang kakakku yang pelit itu. Aku akan membuat ponselmu terus berdering karena tagihan masuk. Siapa yang mengizinkanmu untuk liburan dengan tenang, humph!
Mendengar perkataan Nana, Rin hanya bisa mengangguk lemah. Dia tidak akan pernah bisa membeli barang di tempat seperti ini. Bahkan harga satu item pakaian di tempat ini seharga gajinya satu bulan. Itu benar-benar di luar pemahaman nya. Tapi dia tidak keberatan untuk menemani sahabat nya berbelanja. Setidaknya dia bisa mencuci matanya untuk melihat barang-barang berharga.
Ken hanya tersenyum saat dia melihat interaksi kedua gadis itu. Dia tidak menginterupsi mereka. Dia hanya mengawasi mereka berdua di barisan belakang, seolah-olah dia hanya seorang pengawal.
Saat kami masuk ke dalam, aku langsung menarik Rin ke toko pakaian. Ada banyak sekali pakaian imut di dalam sini. Toko yang menarik.
"Rin, ayo pilih beberapa pakaian" kataku antusias.
Wajah Rin sangat tidak nyaman. "Aku tidak bisa... bagaimana kalau aku merusak nya saat menyentuh nya? Aku tidak bisa membiarkan mu mengganti nya untukku..." kata Rin sedih.
"Apa maksudmu?" aku mengernyit bingung. "Aku mengajakmu jalan-jalan karena aku ingin berbelanja denganmu. Aku akan mentraktirmu!" kataku bersemangat.
"Tidak!" Rin langsung menolaknya. Dia menatap Nana serius. "Aku tidak bisa melakukan itu. Terutama membiarkan orang lain menggunakan uang mereka untukku. Aku tidak menginginkan nya!"
Mendengar perkataannya aku sedikit sedih. "Orang lain? Apa kau sama sekali tidak pernah menganggap ku sahabat?" kataku dengan mata memerah. "Rin bahkan tidak mau menerima hadiah dariku. Orang-orang selalu berkata bahwa aku menjijikan. Apakah aku juga menjijikan bagimu?"
Rin merasa tidak nyaman setelah melihat ekspresi Nana. "Tidak...tidak...bukan seperti itu. Aku hanya tidak ingin dianggap sebagai gadis yang buruk karena menghabiskan uang orang lain untuk hal yang tidak penting."
Aku langsung menggenggam erat tangan Rin. "Rin, kita sahabat bukan?" aku bertanya dengan tatapan serius.
Rin mengangguk pelan.
"Kalau begitu terima hadiah dariku! Hari ini aku akan memberikanmu hadiah. Ini juga balas budiku karena kau sudah membantuku belajar. Jangan menolaknya oke"
Rin memiringkan kepalanya ragu. Dia masih tidak menjawab.
"Rin, dengarkan aku. Aku akan bicara sangat serius sekarang. Jangan terlalu meremehkan dirimu. Kau memang tidak bisa membeli semua barang yang ada di sini sekarang. Tapi siapa tahu di masa depan kau akan sukses dan menganggap semua barang-barang ini tidak berharga. Bukankah karena itu kau belajar dengan giat? Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik? Jangan merendahkan dirimu! Saat kau bisa mencari uang dengan baik di masa depan, kau bisa memperlakukan hal yang sama untukmu. Aku tidak akan pernah menolak pemberianmu sama sekali!"
Mendengar perkataan Nana, tubuh Rin bergetar. Dia mengigit bibirnya, untuk menahan dirinya agar tidak menangis.
Aku melepaskan peganganku dan menepuk kepalanya. "Rin, bumi itu berputar. Aku yakin kau akan jadi orang yang sangat sukses di masa depan. Jangan meremehkan dirimu sendiri oke. Kau harus berusaha untuk dirimu dan juga nenekmu. Kau sangat berbakat, kau harus yakin dengan bakatmu!"
__ADS_1
Aku sudah tahu siapa Rin dan bagaimana masa depannya. Dia selalu menganggap rendah dirinya hanya karena dia terlahir miskin. Itu juga yang menyebabkan dia tidak bisa jujur pada perasaannya. Dan menyerah saat ibu Shin melabrak nya. Tapi tetap saja, di masa depan Rin akan menjadi wanita yang sangat sukses. Dia adalah dewi. Aku sangat menganggumi kerja kerasnya saat itu.
"Um" Rin mengangguk kecil. "Tapi aku tidak akan memilih barang apapun. Aku hanya akan menerima barang pemberian mu" katanya.
Aku tersenyum cerah saat mendengar nya. "Baiklah! Aku akan membeli beberapa barang couple! Itu akan sangat menyenangkan!"
Aku pun menarik tangan Rin untuk menjelajahi seisi toko. Kami mencoba beberapa kaos lucu dan juga setelan. Aku bahkan menyuruh Rin untuk mencobanya di ruang ganti. Saat dia kembali dengan baju baru, aku benar-benar terpesona! Dia sangat cantik.
Rin selalu berpakaian sederhana. Sangat jarang melihat nya dengan pakaian modis seperti itu.
"Hei, bukankah Rin sangat cantik?" aku menyikut Ken yang berdiri di samping ku. Sejak tadi pria ini bertindak seperti patung berjalan. Dia sama sekali tidak berbicara dengan kami ataupun ikut berbelanja. Dia hanya mengikuti kami di belakang dan mengawasi kami seperti penguntit. Tentu saja tidak akan ada yang percaya bahwa dia adalah penguntit, karena dia sangat tampan.
Uhuk!
Ken terbatuk kecil. "Iya..." dia menjawab lirih sambil membalikkan wajahnya sehingga Nana tidak bisa melihat wajahnya yang memerah.
Aku pun membelikan kaus dan setelah gaun kasual itu untuk Rin. Aku juga membeli kaus yang sama. Tapi aku tidak membeli setelannya, aku akan memilih pakaian lainnya nanti.
Aku mengajak Rin ke bagian lainnya. Aku membelikannya jaket dan mantel. Dan tidak hanya satu, karena ada banyak sekali jenis jaket dan mantel. Rin akan sangat membutuhkan ini saat musim dingin mengingat harga jaket dan mantel yang cukup mahal.
"Rin, berikan ini dan ini untuk nenekmu" kataku sambil mengambil dua mantel tebal.
"Mantel ini akan sangat berguna saat musim dingin. Jangan lupa berikan ke nenekmu oke. Dan kau juga sudah berjanji akan menerima pemberianku. Aku tidak mau menerima protes apapun" kataku cemberut.
"...." Rin tak bisa berkata-kata.
Kami telah menyelesaikan satu toko. Lalu aku mulai mengajak Rin berbelanja di toko lainnya. Kami membeli tas dan sepatu. Serta beberapa alat tulis dan buku untuk Rin, sejak gadis itu sangat suka belajar.
Rin sama sekali tidak percaya dengan apa yang dia lakukan hari ini. Dia membeli banyak sekali barang mahal yang bahkan mereknya tidak dia ingat. Saat ini saja dia memegang sepuluh kantung belanja. Nana juga memegang sepuluh. Dan Ken juga membantu memegang sepuluh. Ada total tiga puluh kantung belanja hanya untuk mereka berdua. Rin bahkan tidak bisa membayangkan harganya. Mungkin perlu beberapa tahun gajinya untuk mengganti semua barang yang sudah dia beli ini.
Tidak seperti pikiran Rin yang cemas, Nana merasa sangat bahagia. Akhirnya dia bisa menghabiskan waktunya dengan baik hari ini. Dia pergi berbelanja bersama sahabatnya dan menghabiskan uang kakaknya. Dia bersenang-senang sekaligus membalas dendam. ini benar-benar perasaan yang sangat baik.
***
Seorang pria sedang bersantai di tepi pantai. Pria itu sedang meminum jusnya sambil menikmati pemandangan. Tapi tiba-tiba ponsel di samping nya berdering.
Ting!
Dia tidak memperdulikan nya. Sampai muncul dering lainnya.
Ting!
__ADS_1
Ting!
Dia mulai penasaran dan menatap ke arah ponselnya, tapi tidak berniat mengambil nya. Saat ponsel itu sudah mulai diam, dia mulai menikmati pemandangan lagi. Tapi...
Ting!
Ting!
Pria itu mulai mengerutkan keningnya. Dia merasa terganggu. Dia sudah menginformasikan semua koleganya bahwa dia sedang berlibur dan tidak ingin diganggu. Jadi jangan mengirimkan pesan padanya. Tapi pesan asing itu terus masuk.
Ting!
Ting!
Ting!
Bunyi dering lainnya menyusul.
Pria itu pun tidak tahan dan mengambil ponsel nya. Dia melihat pesan masuk dan membeku. Ada pesan sms banking yang sangat panjang di layar ponselnya, dan hanya ada jarak beberapa menit setiap pesannya.
Ting!
Pesan baru muncul lagi.
"Anak itu..." Wajah Ben langsung menghitam. Dia tidak tahu bahwa adiknya yang nakal itu benar-benar akan menghabiskan banyak uang hanya dalam satu hari. Dia yakin bahwa Nana melakukan hal itu karena ingin membalaskan dendam nya.
Ting!
pesan lainnya muncul.
Ben tersenyum sinis. "Bersiaplah untuk tidak melihat uang sakumu selama satu tahun..." gumamnya. Dia tidak akan menelpon Nana dan marah padanya karena pengeluaran yang dia lakukan. Dia hanya akan mengambil jalan yang pasti. Dia tidak akan memberi uang saku kepada gadis itu selama satu tahun sebagai balasannya.
Ben mengaktifkan mode pesawat pada ponselnya untuk menghilangkan dering pesan dan juga panggilan masuk. Lalu dia kembali bersantai.
Sementara di sisi lainnya, Nana terus menerus bersin seakan-akan ada yang sedang mengutuk dirinya di belakang.
"Nana, kau sakit?" tanya Rin cemas.
"Tidak..." Nana bergumam lirih. Tapi entah mengapa teluknya terasa dingin seakan-akan ada hal buruk yang akan menantinya di masa depan.
warning : typo bertebaran
__ADS_1