
keesokan harinya, aku bangun dengan wajah seperti zombie. Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena kejadian tadi malam. Kejadian itu benar-benar membuat ku merasa frustasi. Bahkan aku menjadi lebih frustasi saat melihat Shin sudah duduk di ruang tamu, dan sibuk dengan pekerjaannya.
Aku meliriknya dan dia melirik balik ke arahku. Dengan cepat aku langsung membuang wajahku dan berlari ke dapur. Untung saja, aku tidak melihat wajahnya lagi setelah masuk ke dalam dapur. Dengan cepat aku membuka kulkas dan mengambil sekarton susu di dalam nya. Tanpa menggunakan gelas, aku langsung meneguknya seperti seseorang yang kelaparan.
Haa~
Aku mendesah puas saat aku berhasil menghabiskan sekarton susu dengan cepat. Tapi aku harus melintasi ruang tamu sekali lagi untuk masuk ke dalam kamar. Aku tidak menyukainya karena harus berhadapan dengan Shin sekali lagi.
Aku diam-diam mengintip ke arah ruang tamu dan pria itu masih ada di sana, fokus dengan laptop di depan matanya. Jadi aku menggerakkan kakiku dengan cepat untuk melintas. Sampai akhirnya suara dingin itu bergema di seluruh ruangan.
"Kau bangun awal" Shin menggerakan matanya dan Nana langsung menghentikan langkahnya, refleks.
Mata Nana melotot dan dia menjawab dengan sedikit tergagap. "Tentu...saja" dia berusaha memperbaiki postur tubuhnya dengan canggung, tapi hal itu membuat nya semakin terlihat aneh.
Mata Shin menyipit. "Apa kau tidur dengan nyenyak semalam?"
"Ya" aku langsung menjawab dengan cepat.
Shin tidak menjawab. Dia mengalihkan pandangannya kembali ke layar laptop. Aku mengira dia akan kembali fokus ke pekerjaan nya, jadi aku sedikit lega. Tapi ternyata dia menutup layarnya dan berdiri dari sofa.
Shin dengan cepat memegang pergelangan tangan Nana dan membuat gadis itu terperangah kaget dengan tubuh mematung.
Shin mendekatkan wajahnya, bibirnya bergerak dan dia tersenyum dingin. "Aku bahkan belum menanyakan alasan kenapa kau melakukan hal seperti itu" katanya.
Aku mengedipkan mataku beberapa kali karena gugup. "Aku...aku..." aku ingin menjelaskan sesuatu. Sebelumnya aku sudah merangkai beberapa kata di dalam kepalaku sebelumnya. Tapi sekarang aku benar-benar melupakan semuanya karena terlalu panik.
__ADS_1
Shin terus mendekat. Nana refleks melangkah kan kakinya mundur ke belakang. Hal itu terus berlangsung sampai akhirnya Nana tersandung sofa karena dia tidak bisa meraba apa yang ada di belakangnya. Dia jatuh tersungkur, terduduk di sofa. Shin yang sebelumnya memegang bahunya juga ikut terjatuh dan CUP! Mereka berciuman.
Kedua sosok itu membeku sesaat dengan mata melotot. Seolah-olah waktu mereka sudah berhenti. Nana bahkan tidak sadar bahwa dia darah mengalir di hidungnya.
Lalu tiba-tiba pintu ruang tamu terbuka dan beberapa orang masuk dengan rombongan. mereka adalah orang tua Nana, kakaknya dan beberapa pelayan yang sebelumnya menyambut mereka di depan rumah. Semua orang melihat kedua anak muda sedang berciuman dan ikut mematung
Ben mengernyitkan keningnya. Ayah Nana memiliki wajah tanpa ekspresi sementara ibunya menutup mulut dengan tangannya, untuk menutup ekspresi gelinya.
"Bukankah kalian bisa melakukannya di dalam kamar?" gerutu Ben dingin.
Kedua orang itu langsung sadar dan saling menjauh, refleks. Nana juga dengan cepat menghapus darah yang keluar dari hidungnya dengan panik, menyebabkan beberapa bercak darah melebar di wajahnya. Sementara Shin dengan cepat merapikan bajunya dengan panik.
"Bukankah masih ada banyak kamar kosong? Kalian bisa menggunakan nya dengan bebas" kata Ny. Fent dengan nada geli dan sedikit bersemangat.
Wajah Shin dan Nana berkedut. Pikiran Shin kosong. Sementara Nana juga tidak bisa memikirkan apapun sekarang. Walaupun gadis itu sangatlah mesum. Tapi dia benar-benar tidak berpengalaman. Jadi saat mengalami hal seperti ini, otaknya membeku dan tidak bisa berproses dengan cepat.
"Dasar anak muda, mereka benar-benar bertindak sembrono" Tn. Fent menggerutu, tapi dia tidak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya.
Aku masih membeku walaupun Shin memegang tanganku dan mengajakku ke kamarnya. Kami masuk, pintu kamar ditutup dengan keras dan dia mulai melepaskan pegangannya. Lalu menatapku dengan mata melotot. Seperti nya dia ingin marah, tapi tidak bisa. Jadi dia hanya mengacak rambutnya sambil bolak balik dan berkata "Bisakah kau tidak membuat masalah?"
Aku yang sebelumnya merasa kaget dan bahagia, tiba-tiba merasakan perubahan suasana hatiku. Entah kenapa aku merasa sangat sedih tiba-tiba. Seakan-akan Shin sama sekali tidak menginginkan ciuman itu dan menganggap nya menyedihkan.
Aku menundukkan kepalaku dan berkata "Maaf..." dengan nada lirih.
Shin menegang. Dia tidak ingin memarahi Nana dan tidak ada maksud untuk memarahinya. Melihat wajah sedih gadis itu, rasa bersalah langsung membuncah di dalam hatinya.
__ADS_1
"Kenapa kau meminta maaf?" tanya nya lirih dengan ekspresi tidak enak. "Aku sama sekali tidak berniat untuk memarahimu"
"Pembohong! Kau benar-benar memarahiku. Apa kau membenciku?" jawabku geram dengan mata berkaca-kaca.
Shin semakin merasa bersalah. "Tidak, aku tidak...."
Shin mengira gadis itu akan semakin marah saat dia terus mengelak. Tapi dugaan nya salah. Mata Nana malah terlihat sangat antusias dan bersinar, dan gadis itu maju dengan berani.
"Jadi kau menyukainya?" katanya dengan nada menuntut. "Kau suka ciumannya?"
Blush! Pipi Shin menjadi merah seketika tetapi pria itu tetap menyembunyikan wajah merahnya dengan membalikan wajahnya.
Aku bisa melihat dengan jelas bahwa wajah Shin berkedut. Tapi pria itu langsung membalikkan wajahnya dengan cepat, jadi aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Aku hanya bisa melihat telinganya memerah dan hal ini benar-benar memacu adrenalin ku.
Siapa bilang wanita tidak boleh bertindak agresif? Aku adalah salah satunya. Tidak salah menjadi wanita agresif bukan, selama tidak merugikan orang lain hehehe
Aku mencoba mendekatkan wajahku sambil berkata dengan antusias. "Aku bisa menciummu lagi, kalau kau ingin!"
Shin mematung. Awalnya Nana mengira Shin akan melarikan diri atau mengusir nya keluar dari kamar. Tapi dugaan itu salah. Wajah Shin tiba-tiba berubah menjadi serius dan Bam! Pria itu tiba-tiba menahan tubuhnya di dinding dan mengunci pergerakannya dengan kedua tangan. Mata Nana berkedip beberapa kali melihat wajah Shin yang hanya berjarak satu jari.
"Apa kau berpikir aku tidak bisa menyerangmu?" kata Shin sarkas.
"Eh?"
Shin mendekat, Nana memejamkan matanya refleks. Dia mengira Shin akan mencium bibirnya. Tapi dia tidak merasakan apapun sampai dia merasa bahwa keningnya dicium. Nana membuka matanya tapi Shin sudah menghilang dari depan matanya secepat kilat. Dia hanya mendengar suara pintu kamar yang terbanting cukup keras.
__ADS_1
"Dia benar-benar menciumku...." kataku dengan mata melotot. Sambil memegang pipiku yang memerah. Ahhh! Siapa yang mengira bahwa Shin akan melakukan itu padaku? Walaupun itu hanya ciuman kening, tetap saja itu merupakan keajaiban. Aku yang tak mampu menahan rasa antusiasku, tanpa sadar berlari di tempat sambil menutupi wajahku yang memerah malu