Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Rencana ke Rumah Shin


__ADS_3

Aku masih melanjutkan menguras isi otakku dan bergelud dengan rumus-rumus aneh ini. Tidak lama kemudian, Rin mulai datang dan menghampiri kami. Rin menceritakan bahwa dia bertemu Shin di jalan, dan sikap orang itu menyebalkan.


Saat mendengar cerita bahwa suasana hati Shin sedang tidak baik, aku jadi berpikir. Sebenarnya apa yang salah? Kenapa orang itu tiba-tiba mengamuk tidak jelas? Apa benar karena aku terlalu bodoh?


Aku kembali mengingat perkataan dan perlakuanku sebelumnya. Aku sama sekali tidak menghinanya. Aku selalu menuruti semua perkataannya saat dia mengajariku. Jadi mungkin dia benar-benar kesal karena tidak sanggup mengajariku yang terlalu bodoh ini. Ayolah~ Aku tidak sebodoh itu, hiks.


Rin yang baru saja datang pun membantuku belajar. Dia memberiku beberapa tips untuk menghapal dengan mudah. Dan dalam beberapa menit, aku berhasil mengingatnya. Aku cukup percaya diri, kalau aku akan berhasil kali ini.


Beberapa menit berlalu, Shin dan Darwin sudah datang. Mereka langsung duduk di kursi mereka.


"Aku sudah bisa. Berikan aku soal lagi" kataku percaya diri sambil menatap Shin.


"...." Shin yang sombong itu hanya menatapku dengan mata dinginnya. Lalu dia mengeluarkan sebuah buku dan meletakkannya di depanku. "Kerjakan semua soalnya. Setelah itu berikan padaku. Aku sedang tidak mood untuk mengajarmu saat ini. Aku pergi dulu" katanya.


"Eh?"


Dengan cepat Shin mengemas barang-barangnya dan beranjak pergi. Meninggalkan kami bertiga yang masih mengernyit bingung.


"Ada apa dengannya?" tanyaku sambil menatap Darwin. Lagipula Darwin sahabatnya bukan? Aku yakin dia tahu kenapa Shin tiba-tiba merubah sikapnya.


Darwin menggelengkan kepalanya dan mengangkat kedua tangannya. "Aku tidak tahu"


Aku semakin bingung. Maksudku...aku sudah menghapal rumusnya bukan? Berarti aku siap untuk pelajaran selanjutnya dan tidak akan menyusahkannya. Tapi kenapa dia masih marah?


"Em...lanjutkan saja belajarmu" kata Rin datar. "Kalau orang itu tidak mau mengajarimu, tidak apa-apa. Aku bisa mengajarimu lebih baik darinya." Kata Rin senang. "Lagipula apa enaknya belajar dengan orang dingin dan sombong seperti itu? Bukankah dia hanya memerintah dan mengacuhkanmu sepanjang waktu?" ejek Rin.


"Eh?"


Aku tertawa canggung dan mengangguk. Lebih baik aku melanjutkan belajarku saja. Dan buku itu, aku akan menyelesaikannya nanti.


Tapi sejujurnya aku tidak enak dengan Shin. Maksudku, dia orang pertama yang menawarkan bantuan untuk mengajariku. Dan dia tidak seburuk itu. Aku jadi merasa bersalah. Apa mengajak Rin dan Ken benar-benar salah, karena kemampuan kedua orang ini kan lebih hebat dari Shin. Aku takut Shin menjadi tidak percaya diri. Aku memikirkan berbagai macam hal dan alasan yang membuat sikap Shin seperti itu. Kenapa? Karena aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku merasa sangat tidak enak...

__ADS_1


Waktu belajar kami pun selesai. Ken dan Rin sudah pergi lebih dulu. Sementara aku dan Darwin masih di peprustakaannya.


"Daripada kau memikirkannya terus, bagaimana kalau ke rumahnya?" kata Darwin tiba-tiba yang membuatku tersentak.


"Eh? Apa maksudmu?" aku berpura-pura tidak tahu. Tapi nada bicaraku terlalu canggung.


"Jangan seperti itu. Aku tahu kau memikirkan Shin dari tadi bukan? Wajahmu selalu melamun..." Darwin memutuskan untuk menyerah dan membantu sahabat bodohnya itu. Lagipula saat Darwin melihat sikap mereka berdua, bukankah mereka sama-sama suka? Ini akan jadi lebih mudah. Tapi jujur saja. Darwin tidak mempunyai pengalaman menjadi dewi cinta. jadi dia sedikit gugup.


"Aku memang memikirkannya. Kenapa dia tiba-tiba marah dan memukul meja seperti itu? Apa dia kesal karena aku terlalu bodoh?" tanyaku dengan wajah bingung.


"Puft!" Darwin hampir saja tertawa terbahak-bahak, tapi dia menahan tawanya.


'Kedua orang ini bodoh' batin Darwin.


"Kau begitu penasaran bukan? Kenapa tidak ke rumahnya dan tanyakan langsung?"


"Humph!" aku mendengus cemberut. "Itu bukan hal yang penting. Lagipula kenapa aku harus ke rumahnya? Aku tidak punya alasan apa pun untuk kesana..."


"Kau tidak mau ke tempat Shin?"


Aku sebenarnya sangat ingin ke rumah tokoh utama. Siapa yang tidak mau! Ini salah satu hasrat terpendamku juga! Aku mendengar kakak tokoh utama juga sangat tampan. Aku sangat penasaran. Tapi kalau berkunjung tiba-tiba ke rumah Shin itu tidak mungkin. Karena kami tidak terlalu akrab, itu akan menimbulkan suasana yang aneh. Aku tahu Shin selalu jijik padaku. Aku takut dia semakin jijik karena sikapku yang tak tahu malu itu.


"Siapa bilang kau tidak punya alasan?" Darwin menunjuk buku di depanku. "Dia memberikan buku itu padamu untuk dikerjakan bukan? Pergi kesana dan bawa buku itu. Bilang saja kau meminta bantuan untuk mengerjakannya dengan wajah memelas"


Itu alasan yang cukup bagus. "Tapi kan tetap saja bukan alasan yang cukup kuat..."


"Aku juga akan ke sana malam ini"


"Eh?"


"Aku juga akan berkunjung ke rumah Shin. Kau masih tidak mau ikut?"

__ADS_1


"Tentu saja aku mau! Tapi ada urusan apa ke sana?"


"Haa~" Darwin menghela napas. "Sebenarnya aku tidak mau. Tapi aku menemanimu, kau tahu. Agar kau membuang sikap ragu-ragumu itu. Dan aku tidak perlu alasan untuk berkunjung ke rumah bocah itu. Aku selalu mengunjunginya semauku."


"Baiklah, sepakat. Jangan lupa menjemputku oke"


Darwin mengernyitkan kening "Aku sudah memberimu banyak keuntungan. Aku membantumu dekat dengan Shin. Aku juga menjemputmu dan menjadi supirmu. Aku minta upah..." kata Darwin cemberut.


"Eh?? Tapi uangku tidak banyak..."


"Aku tidak minta uang. Bagaimana kalau kita berjalan bersama lain kali?"


Mataku langsung berbinar. "Hahaha..." aku langsung memukul bahu Darwin. "Tentu saja aku mau hehehe." Astaga! Aku belum pernah berjalan bersama pria. Apa ini akan jadi kencan pertamaku dengan pria tampan? Aku menatap Darwin dari ujung atas sampai ujung kaki. Jalan-jalan dengan manekin tampan seperti ini? Keberuntunganku pasti sangat bagus! Aku harus mengambil banyak foto nanti. Dan juga ada beberapa hal yang ingin kulakukan hehehe. Tapi kenapa Darwin menginginkan balasan yang menguntungkanku seperti ini?


Darwin sedikit bergidik saat dia melihat senyum Nana. 'Apa keputusanku salah?' batinnya ragu. Sebenarnya dia cukup takut untuk berjalan berdua dengan gadis aneh ini. Entah kenapa perasaannya tidak enak.


***


Shin masih sedikit kesal saat dia keluar dari kamar mandi. Sebenarnya dia ingin menenangkan pikirannya dengan membasuh wajahnya memakai air dingin. Tapi pikirannya tetap saja berantakan. Ditambah mulut tidak terbatas sahabatnya. Pikirannya semakin kacau.


Saat dia kembali dan melihat wajah Nana tersenyum riang bersama dua orang lainnya. Dia merasa semakin kesal.


Apa benar ini cemburu? Atau apa?


Shin berusaha menatap wajah Nana. 'Tidak mungkin aku cemburu dengan wanita bodoh seperti ini...' dia menyakinkan hatinya. Lalu dia melihat Ken dan Rin. 'Aku pasti cemburu pada kemampuan mereka' dia meyakinkan hatinya.


Tapi ada sesuatu yang menjanggal. Apalagi Nana selalu menatapnya dengan mata itu. Dia tidak berani menatap balik dan membalikan wajahnya. Kepalanya terasa panas. Hatinya terasa kesal dan jantungnya berdegup kencang.


'Sial!' pekik Shin dalam batin. 'Sebenarnya apa yang terjadi dengan tubuhku sih!'


Karena tidak mampu menahan suasana hatinya, dia takut dia melakukan hal yang tidak terduga seperti memukul meja tadi. Hal itu cukup memalukan. Dia tidak ingin mengulanginya.

__ADS_1


Jadi dia memutuskan untuk pergi. Dia hanya menyerahkan buku soal kepada gadis bodoh itu. Keadaannya saat ini sangat membingungkan, dia fokus untuk belajar. Dan dia juga takut bertatapan dengan Nana. Jadi dia memutuskan pergi lebih cepat.


'Aku harus mengistirahatkan pikiranku di rumah. Aku takut aku terkena penyakit mental yang parah ah~'


__ADS_2