
Beberapa menit kemudian, semua orang sudah masuk ke dalam hutan kecil itu. Akhirnya tibalah giliranku bersama partner asing yang sama sekali tidak kukenal.
"Nomor 5" kepala Pelayan itu memanggil kami. Setelah itu dia mulai mengintruksikan cara kerjanya. "Kalian lihat petunjuk jalan itu" dia menunjuk plang putih yang tertancap di tanah. "Ikuti saja arah plang itu. Maka kalian akan menemukan jalan keluarnya. Jangan berpergian ke sembarang arah. Walaupun hutan ini kecil, tetap saja kita tidak bisa mengetahui binatang liar apa yang ada di dalamnya. Sebaiknya kalian mengikuti instruksi. Apa kalian mengerti?"
Kami berdua mengangguk dengan cepat.
Kemudian kepala pelayan memberikan dua buah senter kepada kami masing-masing sebagai penerangan.
Kami pun memasuki hutan itu. Hutan ini bukan sepenuhnya hutan buatan di pulau ini. Hutan ini adalah hutan asli pada awalnya. Tapi karena pembangunan Villa dan juga fasilitas lainnya, mereka mengosongkan sebagian lahan. Sehingga hanya tersisa sedikit bagian dari hutan yang asli. Mereka membiarkan hutan kecil ini tetap ada dan merawatnya agar pulau ini terlihat asri.
Hutan ini sangat gelap karena ini tengah malam. Bahkan dengan senter, tetap saja tidak bisa menerangi sebagian besar jalan. Sinar senter yang kecil itu hanya bisa menyinari jalan setapak di depan kami. Jadi aku benar-benar tidak tahu keberadaan apa yang ada di semak-semak yang mengelilingi kami.
Sesekali aku melirik ke samping untuk melihat partnerku. Aku hanya takut orang ini berlari meninggalkan kanku ke belakang. Tapi pria itu tetap menatap ke depan tanpa ekspresi apapun. Aku mengira dia bukan pria yang penakut. Entah kenapa aku merasa lega saat mengetahui hal itu.
Sepanjang jalan, suasana sangat sunyi. Hanya terdengar suara jangkrik yang bernyanyi di gelapnya malam.
Kami saling diam dan tidak berbicara satu sama lain. Aku sebenarnya ingin memulai percakapan, tapi aku takut dia akan mengabaikanku dengan dingin lagi. Jadi aku mengurungkan niatku.
Akhirnya kami menemukan plang petunjuk jalan pertama. Plang itu mengarah ke sisi kanan hutan. Kami pun mengikuti arahnya tanpa berkedip.
Kami terus berjalan menyusuri hutan. Kadang aku mendengar beberapa suara di semak-semak, tapi berusaha mengabaikan nya dengan menundukkan kepalaku. Dan kadang benda putih aneh bergelantungan muncul tiba-tiba dari atas pohon. Mau tidak mau aku berteriak karena refleks.
Mendengar teriakanku, pria di samping ku menatap ku dengan tajam.
"Berisik" gumamnya dengan nada menyindir.
__ADS_1
Wajahku berkedut. Tapi aku tidak membalas ejekannya dan hanya merenggut kesal. Bukankah normal aku berteriak kalau takut? Lagipula menjadi penakut juga bukan keinginan ku sendiri humph!
Kami pun menemukan plang kedua yang mengintruksikan kami untuk terus lurus ke depan. Aku mengikuti instruksi sambil berusaha menahan rasa gugup ku.
Tapi kemudian aku merasakan hal yang sedikit janggal. Selama aku melewati plang, selalu ada kejutan mengagetkan yang telah disiapkan oleh panitia untuk mengagetkan orang yang lewat. Tapi jalanan ini terasa sunyi dan sepi.
Bahkan kami sudah berjalan selama sepuluh menit ke depan, tanpa menemukan apapun. Hanya suara jangkrik saja yang terdengar.
"Bukankah ini aneh? Aku belum melihat satu jebakan pun sejauh ini" aku akhirnya membuka mulutku.
"..." pria di sampingku menoleh ke arahku dengan ekspresi datar, sebelum akhirnya dia kembali mengarahkan tatapannya ke depan lagi. "Menyusahkan..." dia bergumam.
"...." aku menatap nya tak percaya. Setiap balasan yang dia lemparkan padaku selalu menyebalkan. Aku bahkan tidak tahu kenapa pria ini membenciku! Apa dia membenciku karena hubungan ku dengan Lista tidak baik? Kalau benar seperti itu, dia sama sekali pria yang tidak masuk akal!
"Humph!" aku hanya mendengus kesal sambil membuang tatapanku kembali ke depan. Lalu kembali membisu. Sekesal-kesalnya aku, suasana menakutkan ini tetap lebih mendominasi. Sehingga rasa kesal itu lenyap dalam seketika, berganti dengan rasa gugup dan cemas.
Kondisi sekarang ini sangat aneh. Bagaimana mungkin aku tidak curiga?
"Hei, kita belum menemukan plang petunjuk jalan? Bukankah ini aneh?" kataku cemas.
Aku memikirkan hal paling buruk dalam kepalaku sekarang. Kita mungkin tersesat! Tapi aku harap hal itu tidak terjadi.
"Kita akan menemukan nya di depan" pria itu menjawabku dengan nada normal. Aku langsung terperangah. Bukankah selama ini dia selalu mengabaikan ku?
"Tapi hutan di depan semakin lebat. Ada banyak sekali pohon!" protesku. "Ayo kita balik arah. Firasatku benar-benar tidak enak sekarang!" ajakku kemudian.
__ADS_1
Pria itu menatapku. "Sebentar lagi kita sampai. Kau ingin berbalik arah? Lakukan saja sendiri" katanya ketus.
Aku tidak mungkin berani berjalan sendiri di tempat seperti ini. Jadi mau tidak mau aku tetap berjalan ke depan bersamanya.
"Apa kau yakin? Bahkan tidak ada jalan lagi di sini" kataku gugup saat kami mulai melewati semak-semak. Aku bahkan tidak mengingat jalan pulang walaupun kami berbalik arah sekarang.
"Semuanya baik-baik saja. Hanya lurus saja ke depan" dia menjawab dengan yakin.
"Bagaimana kau bisa yakin seperti itu? Apa kau tidak curiga kita tersesat sekarang?" kataku protes.
"Apa kau bodoh?" dia menatapku dengan intens. "Pulau ini sangat kecil. Tidak mungkin kita tersesat. Kecuali kau orang bodoh" dia menjawab.
Aku tidak peduli dengan respon ketusnya. Aku terus mengoceh sepanjang jalan, menyuruhnya untuk kembali. Aku tidak mau kembali sendiri karena aku yakin aku pasti tersesat. Lebih baik tersesat bersama daripada sendiri karena tersesat sendiri akan lebih menakutkan.
"Bisakah kau diam? Sudah kubilang semaunya akan baik-baik saja!" dia kehilangan kesabarannya dan mulai membentakku.
Tapi aku tetap tidak menyerah. Sampai akhirnya kami menemukan tidak ada hutan lagi di depan kami.
"Lihat, kita sampai bukan?" kata pria itu percaya diri saat dia melihat ruang kosong di depan.
Aku berhenti mengoceh dan bergerak maju lebih cepat. Tapi aku tidak melihat jalan apapun di ujung. Melainkan sebuah tebing yang menjorok ke bawah. Dan dibawahnya hanya ada laut yang berombak.
Kita sudah menjelajahi hutan selama tiga puluh menit. Sangat mengejutkan kita sudah sampai di ujung pulau. Ini membuktikan bahwa pulau ini memang kecil.
Tapi bukan itu masalah nya!
__ADS_1
"Kau lihat ini!" aku menunjuk ke arah bawah tebing. "Bukankah sudah kubilang kita tidak baik-baik saja!" aku berteriak frustasi.
Ya, masalahnya kami tersesat...