Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Rencana Lista


__ADS_3

Aku cukup menikmati pemandangan Pulau dan sekitarnya. Aku akan menyimpan semua kenangan ini secara otomatis di dalam otakku. Bahkan aku tidak akan melupakannya walau pun harus kembali ke dunia asalku suatu saat nanti.


Tapi, um..apa aku bisa kembali?


Aku hanya mengikuti aturan bodoh dari internet dan berakhir sebagai jiwa transmigrasi di dunia ini. Aku benar-benar tidak tahu cara untuk kembali!


Tapi lebih baik sekarang aku tidak usah terlalu memikirkan hal ini. Aku hanya akan fokus dengan hidup yang kujalani sekarang.


Aku tidak tahu apa yang Shin amati. Tapi sesekali aku melihatnya menginput beberapa data di layar monitor, seperti sedang mengukur sesuatu.


"Dia sedang mengukur arus pasang air laut dan angin" kata Darwin tiba-tiba, seakan dia tahu apa yang dipikirkan Nana.


"Eh? Kenapa?"


"Kita perlu berhati-hati karena kita sedang ada di sebuah pulau kecil yang jauh sekarang. Bencana alam itu sangat tidak terduga" jawab Shin ambigu. Tapi aku langsung mengerti artinya.


Sejenak aku membayangkan tsunami yang biasanya kulihat di tv. Dan langsung merinding kalau itu benar-benar terjadi. Jangan lupakan badai di tengah lautan juga. Semua bencana alam itu mengerikan.


"Situasinya cukup baik. Kita bisa lanjut menetap di pulau ini" sambung Shin lagi sambil fokus menatap monitor di depannya.


Kami terbang selama satu jam, lalu helikopter itu pun mulai mendarat kembali ke pulau.


Dari kejauhan, aku masih melihat bahwa Lista dan teman-temannya masih bermain di tepi pantai.


Kami pun kembali. Hari sudah mulai sore. Aku berencana untuk beristirahat sekarang. Karena malamnya akan ada pesta barbeque di halaman. Aku sangat menantikan nya ~


Sebelum kembali, aku melihat Lista dan teman-temannya kembali. Tapi ekspresi mereka sama sekali tidak baik.


Salah satu teman pria Lista menggendong nya, lalu dia mulai berkata dengan cemas "kaki Lista terluka"


Ekspresi Lista meringis kesakitan seakan-akan dia hampir kehilangan kesadarannya.


"Kami butuh bantuanmu Shin!" salah satu teman wanitanya mulai berseru panik.


"Panggil kan dokter. sebelum itu lakukan pertolongan pertama lebih dulu" Shin dengan cepat memerintah salah satu pelayan rumah.


"Baik tuan" jawab pelayan itu sigap.


Pelayan itu segera menyuruh agar memindahkan ke salah satu kamar. Tapi Lista tiba-tiba memegang baju Shin dengan erat.

__ADS_1


"Shin, jangan tinggalkan aku" rintih nya sedih sambil memegang erat lengan baju Shin.


Shin mengernyit kan kening.


Melihat ekspresi ragu Shin, Lista mulai meringis kesakitan. "Kau tahu aku tidak bisa menangani ini sendiri. Aku benci rasa sakit. Kita sudah bersama sejak kecil" katanya dengan suara pelan dan kecil.


Shin terdiam sesaat. Lalu dia menghela napas menyerah, sebelum akhirnya mengikuti Lista dan teman-temannya ke kamar yang sudah disediakan.


Aku melihat semua kejadian itu sambil mengerjap kaget beberapa kali. Jujur saja, aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi sebelum Lista digendong ke kamarnya, kami sempat bertatapan sejenak. Gadis itu melemparkan tatapan dan senyum mengejek padaku. Atau ini hanya perasaanku saja? Apa dia berpura-pura? Apa pun itu, aku kira ini bukan urusanku sama sekali.


"Kelinci kecil, kau tidak cemburu kan?" Darwin tiba-tiba menepuk bahuku dan menatapku serius.


"Kenapa aku harus cemburu?" aku bertanya balik. Aku sudah tahu bahwa Shin tidak akan tertarik dengan Lista. Ayolah, aku adalah pembaca disini. Aku mengetahui sebagian besar garis cerita walaupun tidak semuanya.


Mata Darwin menyipit. "Jangan lengah kelinci kecil. Kau tahu ada banyak wanita yang memburu Shin. Dari gadis muda hingga tua! Kau harus mempertahankan makananmu! Kalau tidak dia akan direbut orang" kata Darwin antusias.


Wajahku cemberut. "Aku akan mencari yang lain" kataku acuh tak acuh. Lagipula aku sudah tahu bahwa Shin akan berakhir dengan orang lain. Untuk apa aku cemburu huh!


Aku menatap Darwin serius. "Aku juga bisa mengincarmu kalau aku tidak mendapatkan Shin" kataku tajam dengan ekspresi serius. Lalu aku membelai dagunya dengan lembut sebelum berbalik badan, pergi.


Darwin mematung saat dia mendengar perkataan Nana. Mata mereka bertatapan dan gadis itu menyentuhnya, membuat jantungnya berdebar dengan tiba-tiba. Dia bahkan tidak membalas perkataan Nana sampai gadis itu berbalik pergi. Padahal itu ada keahliannya. Wajahnya menunduk dan pipinya memerah malu.


"Gadis itu! Berani-beraninya dia mempermainkanku!" kata Darwin sambil menggertakan giginya. Dia merasa kalah saat ini. Objek yang biasa menjadi targetnya berbalik membalasnya. Dan dia tidak terima dengan itu!


Apa aku akan cemburu kalau Shin berakhir dengan orang lain?


Tidak, tidak, aku menggeleng kan kepalaku dengan cepat. Aku tidak akan cemburu. Aku sudah tahu bahwa Shin akan berakhir dengan Rin. Walaupun jalan cerita sedikit berubah, kisah mereka masih panjang. Bisa saja perasaan mereka berubah seiring waktu. Jadi aku harus mempersiapkan diri.


Tapi Shin tidak akan pernah bersama dengan Lista! Walaupun kemungkinan buruk itu terjadi, aku tidak akan membiarkan nya!


"Kalau benar Shin mulai tertarik dengan Lista...aku akan menjadi orang jahat yang memisahkan mereka" gumamku sambil tersenyum licik. Aku tidak akan pernah membiarkan musuhku mendapatkan jackpot. walaupun kemungkinan itu terjadi sangat kecil, aku tidak boleh meremehkan kekuatan antagonis utama!


***


Mereka menempatkan Lista dengan hati-hati di atas tempat tidur. Lalu dengan hati-hati memberikan pertolongan pertama pada Lista.


Gadis itu masih mengenangkan bikini, jadi tubuhnya cukup terbuka. Mereka bisa melihat lebam kecil di betisnya. Seperti bekas terjatuh.


Pelayan itu dengan hati-hati mengoles obat di sekitar luka lebam lalu memberinya perban. Setelah semua perawatan selesai, mereka meninggalkan kamar. Hanya tersisa Shin yang masih berada di sana.

__ADS_1


"Kenapa kakimu menjadi seperti itu?" Shin bertanya dengan nada datar.


"Aku tidak sengaja terjatuh dan melukai kakiku" jawab Lista malu-malu.


"Kau seharusnya tahu kita berada di tempat terpencil saat ini. Dokter akan tiba besok, butuh waktu satu hari untuk mengantarnya ke tempat ini. Kau harusnya menjaga dirimu!" kata Shin dingin.


"Shin....maafkan aku." kata Lista lirih. "Apa kau khawatir padaku?"


"Tentu saja! Aku harus bilang apa pada ibumu kalau kau terluka di tempat ini" jawab Shin.


Lista tersenyum senang saat mendengar jawaban Shin. Dia mengepalkan tangannya erat-erat seakan menguatkan tekadnya untuk melakukan sesuatu.


"Shin...aku ingin memberitahu sesuatu" katanya serius.


"?"


Lista memberanikan diri menatap Shin, lalu dia membuka mulutnya. "Shin, aku menyukaimu! Aku menyukai mu sejak aku pertama kali bertemu denganmu di villa! Sepuluh tahun yang lalu!" Lista berteriak.


"...."


Mata Shin membelalak kaget. Dia tahu ada banyak anak perempuan yang mengejarnya di masa lalu. Tapi Lista berbeda dengan mereka. Dia bukan gadis menyebalkan yang selalu mengikuti nya dan menggoda nya. Karena itulah dia masih bisa berteman dengannya sampai saat ini.


Shin sudah menganggap nya sebagai adik perempuan. Karena itu dia sedikit kaget dengan perkataan nya.


Melihat Shin tidak merespon, Lista berkata "Aku selalu menyukai mu sejak kecil. Aku menguatkan tekad ku untuk mengatakan hal ini. Terlebih lagi bibi berkata kalau kita bisa bertunangan. Tapi..." katanya sambil meremas sprei tempat tidur nya erat-erat.


"Aku minta maaf..." kata Shin lirih. "Aku sangat berterima kasih karena kau menyukaiku. Tapi aku sama sekali tidak mempunyai perasaan seperti itu pada mu. Aku selalu menganggap mu sebagai adik perempuan" kata Shin.


Ekspresi Lista langsung berubah sedih dan matanya berkaca-kaca.


"Istirahat lah" kata Shin sebelum berbalik untuk meninggalkan kamar.


Tapi Lista langsung menghentikan nya dengan memegang tangannya.


"Jangan tinggalkan aku..."


"Aku tidak bisa menemanimu. Aku cukup sibuk. Aku akan memanggil salah satu temanmu untuk menemanimu" respon Shin pergi. Dia melepaskan tangannya perlahan dari genggaman Lista dan melangkah keluar kamar.


BAK!

__ADS_1


Lista melampiaskan amarahnya dengan memukul kasurnya keras-keras. Wajah nya berubah jelek. Matanya penuh dengan kebencian.


"Itu semua karena jalang itu! Aku sebenarnya tidak ingin melakukan ini, tapi aku harus melenyapkan nya!" dia mengepalkan tangannya erat-erat, menahan tangisannya.


__ADS_2