Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Ujian


__ADS_3

Selama tiga hari yang tersisa aku menghabiskan waktu ku di timbunan buku. Aku haru lulus ujian. Harus lulus! Aku ingin menikmati hari liburku. Aku tidak akan membiarkan diriku berada di kelas remidi selama waktu liburan. Itu benar-benar buruk kalau terjadi!


Tidak akan pernah!


Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!


Walaupun aku malas dan cukup bodoh, aku tetap berusaha untuk belajar. Aku sama sekali tidak menginginkan nilai tinggi, setidaknya aku bisa lulus sesuai dengan KKM.


Aku pasti bisa! Aku bahkan sudah mengunci semua hiburan milikku di dalam lemari harta karun. Dan mengganti tumpukkan yang ada di meja belajarku dengan buku-buku pelajaran. Setiap pulang sekolah, aku bahkan belajar kelompok bersama para orang pintar itu.


Sesekali Rin akan membantuku. Shin juga mengajariku. Aku tidak akan mengecewakan semua orang yang membantuku!


Aku ingin liburan!


Aku ingin melihat pria tampan!


Aku harus bisa melewati rintangan ini!


Emm...tapi bukankah aku masih semester awal di sekolah ini. Selama tiga tahun ke depan, aku akan menemui banyak sekali ujian sekolah....Bukankah itu buruk?


Tidak, tidak, jangan memikirkan itu dulu!


Lagipula aku hanya berusaha di ujian kali ini karena aku memiliki tujuan yang pasti. Untuk ujian-ujian selanjutnya, aku tidak peduli, humph! Yang penting aku bisa naik kelas. Walaupun ada beberapa nilai merah tidak apa-apa kan. Aku masih bisa naik kelas dengan batas maksimal 3 nilai merah, jadi kurasa semuanya akan baik-baik saja.


Tapi aku sama sekali tidak boleh mendapatkan nilai merah di ujian kali ini. Sama sekali tidak boleh! Karena aku tidak boleh mengikuti remidi!


Akhirnya....hari yang menakukan itu pun tiba.


Hari senin, hari pertama ujian. Ada dua mata pelajaran di ujian hari ini, yaitu sastra dan matematika. Aku yakin bisa lulus di mata pelajaran sastra, dan untuk matematika aku hanya bisa berdoa. Semoga saja saat aku menghitung, aku bisa menemukan jawabannya di pilihan ganda, atau aku harus bergantung pada keajaiban kancing baju hiks


Karena ujian dilaksanakan, mereka mengatur posisi duduk masing-masing. Kami diberi jarak sekitar 1 meter, sehingga aku harus berpisah cukup jauh dengan Rin. Dan suasana lebih tegang dari biasanya karena ujian. Aku yakin semua orang ingin lulus dan tidak ingin menghabiskan waktu mereka menghadiri kelas remidi di hari libur. Karena itulah mereka cukup serius di ujian kali ini.


Pelajaran pertama, sastra...


Guru pun masuk dan mulai membagikan kertas ujian.


"Mulai"


Intruksi sudah dikatakan, semua murid membuka lembar kertas ujian mereka yang awalnya di tutup secara terbalik.


Aku melihat lembar ujian di depanku, membaca soal dengan cepat. Aku menscreening semua pertanyaan itu selama lima menit sebelum akhirnya menjawab. Jujur saja, aku bisa menjawabnya. Soal ini tidak terlalu sulit.

__ADS_1


Ha~ aku menghela napas.


"Untuk ujian pertama, kukira aku selamat" aku bergumam lega.


Setelah 50 menit, ujian sastra akhirnya selesai.


Waktu istirahat pun tiba. Kami semua diberi istirahat 15 menit sebelum lanjut ke ujian selanjutnya.


"Bagaimana?" Rin bertanya padaku dengan wajah cemas.


"Selamat" kataku sambil memberikan jempol tangannku.


Ujian kedua dimulai...


Aku menatap kertas ujan di depanku. Awalnya aku sudah melakukan persiapan dan yakin bahwa ujian matematika akan mengerikan. Tapi ternyata ini lebih mengerikan dari yang kuduga. Aku sama sekali tidak bisa fokus dengan semua angka itu.


"Fokus, fokus" aku berusaha menyemangati diriku. "Liburan...pria tampan....semangat" kataku menguatkan tekad. Entah kenapa aku merasakan motivasi yang kuat saat aku mengingat tujuan utamaku!


Aku pun mulai menjawab semua soal dengan perlahan dan berhati-hati. Walaupun ada beberapa soal yang tidak kuketahui jawabannya dan harus bergantung pada kancing ajaib. Tapi beberapa soal berhasil kutemukan jawabannya. Semoga saja aku aman. Semoga saja dewi keberuntungan menyertaiku sehingga jawaban dari kancing ajaib adalah jawaban yang benar...


Akhirnya ujian berakhir. Hanya memakan waktu kurang lebih tiga jam. Tapi aku sudah merasa semua roh dalam tubuhku terkuras habis. Astaga...sangat lelah. Aku merasa otak dan tubuhku mati rasa.


"Kau tidak apa-apa?" suara Rin menarik perhatianku.


Memikirkan aku harus melalui lima hari berturut-turut seperti ini...ditambah harus melaluinya selama tiga tahun...tidak bisa dibayangkan.


Tanpa Nana ketahui, Shin melihatnya dari kejauhan.


'Gadis bodoh itu sudah berusaha keras. Haruskah aku membelikannya beberapa makanan untuk menyehatkan otaknya' pikir Shin konyol.


Tapi Shin tetap melakukannya. Keesokan harinya, di hari kedua ujian, Shin memberinya sekotak susu. Bahkan membuat Nana membelalak tak percaya. Lalu di jam istirahat, pria itu memberinya coklat.


Ah~ Apa aku bermimpi kali ini? Bagaimana bisa dalam satu hari ini Shin memberiku susu dan coklat? Ada apa dengannya? Apa dia mulai mengkhawatirkanku?


Ah~ manisnya....


"Jangan salah paham. Aku melakukannya untuk menyehatkan otakmu. Melihat wajahmu yang seperti zombie, aku khawatir kau tidak akan bisa bertahan dan mempermalukanku" kata Shin saat dia memperhatikan ekspresi Nana.


Dalam sekejap, khayalanku hancur berantakan.


Pria sialan! Bisakah dia tidak mengatakan apa pun dan hanya membiarkanku berkhayal? Lagipula ini sama sekali tidak menganggunya bukan? Aku benar-benar....kalau aku bisa...aku ingin membalas pria menyebalkan ini suatu hari nanti. Entah kenapa aku merasa Shin hampir seperti Darwin, dia semakin menyebalkan.

__ADS_1


"Cih! Sialan!"


Shin mendengarnya dan mengangkat alisnya.


"Apa barusan kau mengutukku?"


"Ehhhh? Aku tidak mengutukmu. Aku bahkan tidak mengatakan apa pun" balasku dengan nada mengejek.


Shin tahu bahwa dia mendengar kutukan keluar dari mulut gadis bodoh itu. Tapi dia mengabaikannya dan kembali ke bangkunya karena ujian selanjutnya akan segera dimulai.


Ujian di hari kedua juga berlangsung lancar.


Hari Ujian ketiga...


Shin tiba-tiba menghampiriku dan memberiku susu dan coklat lagi. Aku sangat senang.


"Apa kau akan melakukannya setiap hari?" tanyaku blak-blakan dengan wajah merona.


Jujur saja, tindakannya ini sedikit membuat jantungku berdebar.


Shin sebenarnya canggung saat ini. Dia juga tidak tahu kenapa dia melakukan ini di hari berikutnya. Refleks? Dia sama sekali tidak menemukan alasannya. Tapi saat dia memperhatikan wajah senang gadis bodoh itu saat menerima hadiahnya, tanpa sadar dia berdebar dan merasa canggung. Walaupun dia berusaha menutupinya dengan ekspresi datar dan dinginnya.


Shin sebenarnya cukup pintar saat menyelesaikan masalah dengan otaknya. Tapi menyangkut perasaannya sendiri, otaknya tiba-tiba menjadi bodoh. Dan dia sama sekali tidak tahu apa yang salah dengan tindakannya. Walaupun dia tahu, dia akan menyangkalnya karena harga dirinya.


****


Sementara di sisi lainnya, ada tatapan membunuh yang menatap pemandangan di depannya. Tentu saja itu Lista. Dia selalu memperhatikan interaksi Shin dan Nana setiap waktu dengan hawa kebencian. Dia juga tahu bahwa Shin memberikan Nana susu dan coklat.


"Hei, Shin memberikan gadis itu coklat dan susu lagi" kata teman Lista sambil menyenggol lengannya.


Lista geram. Dia meremas tangannya kuat-kuat sambil memegang pensil di tangannya.


TAK! Tiba-tiba pensil di tangannya terbelah menjadi dua.


"Sudah kubilang jangan berbicara omong kosong padaku bukan!" katanya geram.


"Ah, maaf, maaf" jawab gadis lainnya dengan nada ketakutan. "Maafkan aku Lista" Gadis itu menundukkan kepalanya.


"Apa kau sudah menyiapkan semua yang aku katakan?" tanya Lista mengalihkan topik pembicaraan.


"Tentu saja, aku sudah menyiapkan semuanya"

__ADS_1


Lista menggerakan bibirnya dan tersenyum. Kalau dilihat lebih dekat, senyum itu cukup menyeramkan


__ADS_2