Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Pesta Barbeque


__ADS_3

Akhirnya hari mulai gelap dan malam pun tiba. Aku dengan semangat turun ke lantai satu. Kami akan mengadakan pesta barbeque di halaman depan! Aku sangat bersemangat.


Saat aku sampai ke halaman depan, aku melihat Shin sedang mengarah kan para pelayan untuk menata beberapa pemangang raksasa, daging, meja dan kursi.


Aku melihat daging merah segar melintas di depan mataku dan tanpa sadar mulutku sedikit berliur. Aku tidak makan siang dan hanya tidur di kamar. Aku ingin menabung untuk semua daging ini! Dan tentu saja aku jadi sangat lapar sekarang.


"Ini belum dimulai. Kau datang terlalu awal" kata Shin sambil melihat Nana dari atas hingga bawah.


Nana mengenangkan pakaian santai yang biasanya nya dia pakai di rumahnya. Kaos lengan pendek warna putih dan short pants kain berwarna hitam.


Entah kenapa wajah Shin berubah masam saat dia melihat penampilan nya. Terlalu banyak celah terbuka di bagian kaki. Dia tidak menyukainya! Dia semakin marah saat dia mengingat kembali jumlah laki-laki yang ada di tempat ini.


"Ganti celanamu" titahnya tiba-tiba dan membuatku memiringkan kepalaku bingung.


"Kenapa?" aku bertanya sambil mengerjap polos. Aku mengamati pakaianku dan ini sangat normal.


"Kau akan memakai celana seperti itu di tempat seperti ini? Kau akan jadi rumah serangga" ejek Shin.


Ah!


Shin benar. Kita ada di pulau sekarang, bukan perkotaan. Bahkan ada hutan kecil di halaman belakang. Berarti ada banyak nyamuk dan serangga kecil di sini.


Aku dengan cepat naik ke lantai atas, menuju kamarku. Hanya butuh waktu lima detik untuk mengganti celanaku menjadi celana olahraga. Lalu aku kembali ke halaman depan.


Shin sedikit takjub melihat kecepatan Nana berganti pakaian.


"Akan dimulai sepuluh menit lagi, kau datang terlalu awal" Shin mengulangi kalimat awalnya.


"Datang lebih awal adalah keuntungan. Aku akan mengambil lebih banyak daging dan tempat strategis" jawabku percaya diri.


"...."


Kepala Shin berkedut saat mendengar jawabannya.


Aku tidak peduli dengan tanggapan atau pun reaksi Shin. Aku dengan cepat melesat mengambil mangkuk lalu mengisinya dengan setumpuk daging. Lalu aku duduk di tempat strategis, tempat yang paling dekat dengan pemanggang.

__ADS_1


Shin melihat dua piring yang penuh dengan tumpukan daging di depan Nana.


"Apa kau benar-benar akan makan sebanyak ini? Kau sama sekali tidak pernah makan daging sebelumnya?" katanya sarkas.


"Aku belum makan sejak tadi pagi. Hanya sereal. Aku sengaja membersihkan perutku agar bisa menerima daging barbeque malam ini" jawabku sambil menatap Shin sungguh-sungguh.


"..."


Shin menyerah. Dia tidak akan mengomentari gadis aneh itu atau emosinya akan naik nanti karena responnya.


Aku menunggu dengan santai di kursiku sampai semua orang berkumpul. Sesekali aku melihat jam dan mengeluh. Aku tidak menyangka sepuluh menit akan jadi selama ini.


Lima menit berlalu, aku melihat Darwin menuju ke arah kami.


Darwin mengerjap beberapa kali saat melihat Nana sudah siap dengan dua piring dagingnya.


"Kau benar-benar rakus" kata Darwin dengan nada memuji. Dia langsung menarik salah satu kursi di samping Nana dan duduk di atasnya. "Apa kau yakin bisa menghabiskan nya?"


"Tentu saja! Aku sudah mempersiapkan diri!" jawabku yakin.


Shin mengamati sikap sahabat nya. Awalnya dia merasa biasa saja dan sibuk untuk mengatur beberapa daging, saus dan mentega di meja bahan. Tapi dia tersentak saat melihat interaksi dua orang di dekatnya.


Mereka berbicara seakan-akan mereka sepasang kekasih dan tidak mempedulikan sekeliling. Darwin bahkan menyentuh kepalanya! Shin merasa hatinya sedikit masam. Di dalam kepalanya tidak ada yang boleh menyentuh tunangannya. Bahkan sahabat, kakaknya, atau laki-laki lainnya.


Dia berjalan dengan kesal ke arah mereka. Mengambil posisi lainnya di samping Nana.


TAK! Dia meletakkan piringnya di atas meja dengan suasana hati yang masam. Ekspresi nya benar-benar kesal.


Bunyi itu menarik perhatian dua orang lainnya.


"Kau kenapa?" tanya Darwin bingung. Dia tidak pernah melihat Shin meletakkan piring dengan bunyi keras seperti itu. Sikap itu sangat lah tidak sopan. "Apa kau sakit?"


Mata Shin menyipit. "Apa kau tidak akan mengambil dagingmu? Atau aku perlu menghapus bagianmu?" katanya dengan nada masam.


Darwin tertawa canggung. "Baiklah" dia meninggal kan kursi nya dengan enggan sambil sesekali melirik Shin. Dia tidak tahu kenapa Shin marah padanya kali ini. Dia bahkan belum melontarkan satu ejekan pun! Sangat tidak masuk akal!

__ADS_1


'Apa anak itu sudah bisa menyimpan dendam sekarang' pikir Darwin. Dia sedikit takut kalau itu benar-benar terjadi. Dia selalu menganggu Shin. Tapi Shin tidak pernah memikirkan hal di masa lalu dan langsung melupakan nya. Karena itulah dia tetap mengganggunya karena sangat menyenangkan. Kalau Shin mulai mengingat gangguan-gangguan yang ada di masa lalu, bukankah dia dalam bahaya sekarang?


Aku juga terdiam saat Shin mulai duduk di sampingku. Entah mengapa aku merasa suasana nya agak dingin sekarang. Apa mood Shin sedang jelek hari ini? Tapi kalau dipikir-pikir, dia kelihatannya baik-baik saja sebelumnya. Jujur saja, saat marah Shin sangat menyeramkan. Aku sedikit takut.


Shin menenangkan dirinya dalam sekejap saat Darwin sudah meninggal kan tempat nya.


"Apa kau bisa menghabiskannya?" dia bertanya lagi. Menanyakan pertanyaan yang sama.


"Eh! Apa?" aku tersentak, sedikit kaget. Aku langsung berhenti melamun.


"Tentu saja"


"Kalau kau tidak mampu menghabiskan nya, aku akan membantumu. Tidak baik membuang makanan" kata Shin kemudian.


Aku sedikit bingung. Shin dan Darwin mengatakan pernyataan yang kurang lebih sama. Sejak kapan mereka sangat suka membantu orang menghabiskan makanan? Maksudku memakan makanan sisa orang lain.


"Aku akan menghabiskan nya" jawabku lagi Dengan percaya diri. Mereka terlalu meremehkan ku. Aku bisa memakan lima mangkuk daging kalau aku mau, humph!


Setelah mengambilnya bagiannya, Darwin kembali ke posisinya bersamaan dengan datangnya orang lainnya.


Bahkan Lista juga menghadiri pesta ini dengan tergopoh-gopoh memakai tongkat kaki. Aku sedikit kaget. Bukankah dia harusnya beristirahat saja di kamar? Kalau pun dia ingin daging, kami bisa mengantar daging panggang ke kamarnya.


Lista langsung duduk di samping Shin. Seakan-akan sudah mengetahui hal itu, teman-temannya mengambil posisi menjauh dari Shin walaupun mereka datang duluan. Menyisakan posisi itu untuk Lista.


"Kenapa kau datang? Bukankah harusnya kau beristirahat?" Shin bertanya dengan nada sedikit tidak senang.


"Aku ingin datang..." jawab Lista lirih. Penampilan nya sangat menyedihkan sehingga Shin tidak tega untuk berbicara kasar padanya.


Shin menyerah. "Aku akan mengambil bagianmu" katanya sambil beranjak berdiri.


Lista mengangguk sambil tersenyum kecil.


Aku melihat semua kejadian itu sambil menompang daguku. Seakan-akan aku melihat sebuah drama di dunia nyata. Skenario apa lagi yang akan terjadi sekarang? Hmm...


Saat Shin mulai pergi, celah pembatas diantara aku dan Lista langsung kosong. Mata kami pun bertatapan.

__ADS_1


Aku tidak tahu ekspresi apa yang kugunakan sekarang. Kupikir aku hanya mengerjap beberapa kali tanpa memberikan mimik wajah apa pun. Tapi Lista menatapku dengan mata penuh kebencian. Sekejap, aku merinding. Aku belum pernah ditatap sebenci itu selama hidup ku. Dan hal itu sedikit membuat ku ketakutan.


__ADS_2