Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Rin dan Ken


__ADS_3

Aku menajamkan telinga dan mataku untuk melihat dua orang itu.


"Kita bertemu lagi ya?" kata Ken sambil tersenyum.


"Iya" Rin menjawab dengan lirih.


"...." Setelah itu mereka terdiam dan suasana langsung sunyi sejenak.


Aku yang menyaksikan semua ini sangat kesal dan ingin menghampiri mereka. Bagaimana bisa mereka bertindak seperti orang bodoh. Kedua orang ini sama sekali tidak punya pengalaman untuk berbicara. Aku yakin mereka berdua introvert. Oh Rin ku sayang~ Lain kali aku harus mengajarimu cara berinteraksi dengan orang lain....


Ken sangat canggung dengan suasananya. Dia berusaha tersenyum dan menggaruk kepalanya. "Emm...hahah" dia tertawa canggung. "Bagaimana kabarmu? Kita bertemu di sini tiga hari yang lalu bukan?"


"Baik..."


"Umm...." Ken tak bisa berkata-kata lagi. Dia berharap gadis itu berbalik bertanya keadaannya. Tapi ternyata gadis itu hanya menundukkan kepala dan berdiri mematung. Jawabannya juga sangat singkat dan pelan. Jadi Ken berusaha memutar kepalanya agar percakapannya dengan gadis ini bisa berjalan lancar.


Aku melihat Ken dengan sedih. Ken yang malang....Sangat susah berbicara dengan Rin. Kau harus agresif seperti Feno agar Rin bisa antuasias. Kau juga harus punya topik yang tepat. Rin itu anak yang pemalu dan pendiam. Aku yakin Ken juga introvert. Jadi ketika kedua orang itu bertemu, suasana menjadi mati. Intinya kedua orang ini terlalu kutu buku!


Apalagi sekarang mereka belum mengenal satu sama lain. Dan hanya bertemu satu kali. Jadi tentu saja suasana mereka sangat akward.


"Em...buku apa yang kau pegang?" tanya Ken sambil melirik tiga buah buku yang dipeluk Rin.


"Ah! Aku ingin meminjamnya untuk belajar di rumah. Ini buku matematika dan fisika" jawab Rin.


"Hm...aku juga akan meminjam buku matematika dan fisika. Tidak kusangka bisa kebetulan seperti ini. Kedua pelajaran itu sangat menarik bukan?"


"Tentu saja!" jawab Rin antusias. "Aku sangat menyukai keduanya. Tapi pelajaran yang lain juga sangat menarik. Aku menyukai semuanya" Rin menjawab dengan bersemangat. Tapi kemudian matanya membelalak kaget. Kelihatannya dia baru sadar bahwa sikapnya yang terlalu bersemangat itu mengganggu. Dia takut kakak senior di depannya tidak akan menyukainya kalau dia bersikap terlalu sok akrab. Padahal pikirannya benar-benar salah! Jadi Rin mulai menundukkan kepalanya dan menjawab lirih. "Maaf...aku berteriak seperti itu..."


Rin bersikap hati-hati seperti ini karena kejadian di masa lalu. Saat itu juga dia terlalu menggebu-gebu menjelaskan semua tentang teori dan pelajaran yang disukainya di depan teman-temannya. Dan semuanya berakhir buruk. Mereka semua menatapnya aneh. Bahkan ada yang mengejeknya "Jangan membicarakan hal aneh itu di depan kami." Dan bahkan ada yang membencinya dan menggangapnya sombong "Kau menghina kami karena kami tidak sepintar dirimu, hah?" Akhirnya, dia dijauhi oleh teman-temannya. Dan semenjak itu dia bersikap hati-hati saat dihadapan semua orang


"Tidak, tidak...Tidak apa-apa. Aku juga menyukai keduanya kau tahu. Rumus-rumus aljabar yang ada di dalamnya sangat menarik. Dan teori tentang atom itu juga sangat mengangumkan" jawab Ken dengan nada antusias.


Tapi, setelah melihat respon Ken, mata Rin membelalak lagi. Dalam sekejap dia langsung tahu bahwa orang di depannya ini sama dengan dirinya.

__ADS_1


Akhirnya Rin mulai memancing percakapannya. Dia mengatakan teori-teori yang disukainya dari kedua pelajaran itu. Dan Ken merespon dengan baik! Ken bahkan memberikan masukkan penting untuknya yang membuatnya sangat kaget. Benar-benar kaget...


"Kakak senior benar-benar jenius!" akhirnya dia memuji pria di depannya tanpa sadar.


Mendengar pujian itu, wajah Ken memerah. Dia sebenarnya tidak kurang pujian. Banyak orang yang memujinya. Tapi entah kenapa saat gadis ini memujinya, jantungnya tiba-tiba berdebar. Dan dia merasakan sensasi yang tidak biasa. Jadi tanpa sadar wajahnya memerah dan sikapnya semakin canggung. "Terima kasih..."


Aku yang sedang mengintip benar-benar sangat antusias. Ternyata asyik juga ya mengintip orang pacaran, tidak maksudku mengintip event yang terjadi di komik secara langsung. Akhirnya kedua orang itu bisa menemukan topik yang membuat mereka cocok. Dan aku juga yakin keduanya saling tertarik. Bahkan wajah Ken memerah.


"Ayolah...Ken...maju, maju...ajak dia belajar bersama..." gumamku antusias karena melihat sikap lamban Ken.


"Ayolah? Maju? Kelihatannya kau sedang asyik ya?" sebuah suara tiba-tiba berbisik di telingaku. Aku bahkan merasakan desahan napas seseorang.


"Ah!" aku berteriak panik dan melangkah mundur. Lalu aku melihat Darwin, yang muncul entah darimana, tersenyum cengar-cengir padaku.


"Kelihatannya kau sangat antuasias ya mengintip seseorang? Apa itu menyenangkan?" kata Darwin sambil tersenyum nakal.


"Tidak....tidak..."


"Ah! Rin...Kebetulan ya hahaha..." kataku sambil tertawa canggung.


"Dia sedang..." sebelum Darwin mengatakan sesuatu yang aneh, aku langsung menutup mulutnya dengan tanganku. Orang ini pasti ingin bilang bahwa aku mengintip bukan? Sialan! Aku melotot tajam pada Darwin memberinya isyarat untuk tidak berbicara macam-macam. Tapi pria itu malah membalasnya dengan wajah bercanda sambil menaikan alisnya.


"Maaf Rin. Orang ini sedang sakit gigi. Harusnya dia tidak usah banyak bicara" Aku menatap Darwin dalam-dalam. "Ayolah kawan, aku sangat peduli dengan kesehatanmu. Jangan berbicara dan mengomel lagi oke. Gigimu akan semakin sakit." Aku melepaskan tanganku dari mulutnya. lalu aku mulai menampar pelan pipinya. "Bagaimana? Apa masih sakit?"


Darwin membelalak kaget. Dia memegang pipinya dan menatap Nana terkejut. Seseorang berani menamparnya? Walaupun itu hanya pukulan pelan. Tetap saja dia tidak terima. Dia ingin membalas Nana dengan membeberkan bahwa dia mengintip. Tapi tidak sempat, karena Shin tiba-tiba muncul.


"Kenapa lama sekali?" kata Shin kesal sambil melihat mereka. Dia mengangkat tas mereka. "Aku sudah membawa tas kalian, ayo pulang" katanya. "Bukannya kau ingin memanggil Darwin? Tapi hampir setengah jam..." keluhnya sambil menatap Nana.


"Maaf...hahaha" Aku langsung melihat Rin. "Maaf karena menganggu kalian juga."


"Kau sedang belajar disini?" tanya Rin bingung sambil mengernyitkan keningnya. Nana yang pemalas itu belajar di perpustakaan? Dia agak sulit mencerna perkataan ini.


"Iya..."

__ADS_1


"Aku mengajarinya. Kalau aku tidak memaksanya, dia tidak akan belajar" sambung Shin tiba-tiba saat melihat wajah Rin yang ragu-ragu.


Entah kenapa setelah mendengar jawaban Shin, Rin agak kecewa. Kenapa Nana tidak meminta bantuannya untuk belajar? Tapi malah menyuruh tuan muda asing ini untuk mengajarinya? Bukannya mereka sahabat? Rin sangat sedih saat ini.


Aku bisa membaca pikiran Rin saat melihat wajahnya berubah kecewa. Dia pasti marah bukan karena aku tidak meminta bantuannya?


"Mau tidak kita belajar bersama?" ajakku langsung. "Membentuk kelompok belajar untuk belajar bersama itu lebih menyenangkan daripada belajar sendiri. Lagipula kalau Rin ikut, aku yakin aku akan lebih terbantu karena Rin sangat pintar" aku langsung berusaha merubah suasananya.


Mendengar pujian Nana, Rin langsung tersenyum senang. "hm" gumamnya sambil mengangguk.


"Aku boleh ikut?" sela Ken tiba-tiba.


"Tapi senior...pelajaran kita berbeda..." kata Rin agak ragu sambil sesekali melirik Nana. Dia meminta persetujuannya.


"Tentu saja!" aku menjawab mantap. Dapat tambahan satu pria tampan lagi. Siapa yang tidak mau hehehe


Shin kelihatannya agak kesal saat Nana membawa dua orang baru sebagai tambahan. "Aku sudah cukup mengajarimu. Bagaimana kau bisa membawa orang lain untuk mengajarimu?" katanya tidak senang.


Mendengar itu, Rin langsung mengalihkan tatapannya dan menatap Shin sinis. "Nana lebih nyaman belajar denganku. Aku ini sahabatnya" kata Rin bangga. Menandakan pada Shin bahwa dia bukan siapa-siapa Nana, hanya tuan muda numpang lewat. Dan dia adalah sahabatnya. Statusnya lebih tinggi dari tuan muda gila itu. Kelihatannya Rin masih agak dendam pada Shin saat kejadian di hari pertama masuk sekolah itu.


"Aku yang duluan mengajaknya" kata Shin membela diri.


"Tapi kemampuanku bahkan lebih baik darimu" jawab Rin sarkas. Dan Shin langsung terdiam. Entah kenapa dalam sekejap dua orang itu saling bertatapan. Dan aku merasa ada percikan petir pada tatapan mereka.


"Ahaha..sudah, sudah. Kita harus saling membantu oke." aku berusaha melerai suasana aneh ini. Bagaimana bisa jadi seperti ini arghhh!


"Hmm...kelihatannya aku pernah bertemu denganmu?" kata Ken tiba-tiba. Yang menambah beban hidupku lagi.


"Tidak, tidak, senior pasti salah lihat" kataku langsung. Aku tidak mau Ken mengingat saat dia pertama kali bertemu denganku. Karena saat itu aku juga sedang mengintip Shin dan Rin dari balik tembok. Semoga saja dia tidak ingat.


"Ah, aku akan pulang. Selamat tinggal Rin" kataku cepat. Aku langsung menghampiri Shin dan mengambil tasku. "Ayo pulang" dan langsung melangkah keluar perpustakaan.


Shin mengernyit sebentar sambil menatap Rin, lalu dia berbalik dan mengikuti Nana. Darwin juga menyusul sambil mendengus kesal. "Aku pasti akan membalasnya" batin Darwin tidak senang.

__ADS_1


__ADS_2