
Setelah kedua pria itu pergi mengambil barang, aku melirik Rin. "Bagaimana dengan nyanyianmu? Apa kau sudah menyiapkan lagunya?"
Aku sangat penasaran dengan nyanyian anak ini.
Aku tidak pernah tahu Rin bisa menyanyi. Jadi aku menantikannya.
"Aku tidak buruk saat menyanyi" kata Rin dengan nada percaya diri. "Aku pikir lagu "Ibu" cocok dengan kondisi anak-anak. Tapi itu akan membuat suasananya menyedihkan. Aku memikirkan lagu yang lebih riang agar dapat menghidupkan suasana. Ada saran?"
"Hmm...kukira lagu anak-anak yang umum sudah cukup bagus" kataku langsung.
"Kau benar juga. Kalau itu hanyalah lagu anak-anak, kurasa tidak perlu berlatih."
"Ya, memang tidak harus. Kau hanya perlu mengajak anak-anak itu bermain. Lagipula kita hanya harus bersenang-senang" kataku semangat sambil mengangkat tanganku.
Aku tidak masalah dengan kostum monster itu. Kau ingin membuatku terlihat lucu bukan nenek sihir? Maka aku akan menjadi semakin lucu dan memeriahkan suasana.
"Yeah! Semangat" kataku sambil memberikan tos pada Rin.
PLAK! Rin menyambutnya dengan senang hati.
Tak lama kemudian dua orang pria itu muncul lagi. Aku melihat Shin sibuk membawa kotak besar yang berisi alat musik. Lalu Darwin menyusul di belakang dengan membawa properti kursi. Setelah kedua orang itu membawa barang itu masuk, mereka kembali mengambil barang lainnya. Setelah beberapa kali bolak-balik, akhirnya kedua orang itu berhasil memindahkan semua barang.
Aku melihat Shin dan Darwin kelelahan. Napas mereka terengah-engah dan wajah mereka pucat.
Aku cukup prihatin. Jadi aku segera mengambilkan dua orang itu air dingin. "Ini ambil!" aku menyodorkannya dengan masing-masing tangan kiri dan kananku.
"Terima kasih kelinci~" Darwin mengambilnya dan menempelkan botol minuman itu di pipinya
"Terima kasih" Shin juga mengambilnya dan langsung meminumnya dengan rakus.
Aku termenung melihat dua orang pria tampan di depanku. Mereka benar-benar seksi. keringat mereka membuat baju mereka basah. Aku bisa melihat lekuk tubuh mereka secara gratis!
Ah, lihatlah tulang selangka itu~
Ternyata mereka menyembunyikan otot di balik tubuh mereka yang kurus~
Shin sadar bahwa dia sedang diamati karena dia merasakan perasaan dingin di seluruh tubuhnya. Saat dia mencari sumbernya, ternyata adalah gadis bodoh itu. Dia mengamatinya dengan mata berbinar dan mata bergerak dari atas ke bawah. 'Apa yang dilihatnya?'
"Hei, kenapa kau melihatku seperti itu?" Shin tidak bisa menahan kegelisahannya dan menegurnya.
"Eh?" khayalan singkatku langsung hancur berantakan. "Tidak apa-apa" aku langsung mengalihkan wajahku, tidak berani menatap mereka.
Darwin mendengar perkataan Shin dan dia langsung menatap Nana. "Kelinci, kau terpesona padaku bukan?"
"Sedikit" kataku mengakuinya dan membuang urat maluku.
"Maksudku, siapa yang tidak tertarik dengan pria tampan? Aku orang yang menikmati keindahan apa pun. Bahkan aku terpesona saat melihat aktor atau pun idol yang ada di tv"
__ADS_1
Mendengar jawaban Nana, Darwin terdiam."....."
Dan mulut Shin berkedut.
Aku mulai merasa tidak nyaman setelah mengatakan pernyataan itu. Karena aku melihat Shin dan Darwin bertingkah aneh. Mereka pasti tidak nyaman dengan perkataanku bukan?
"Ahh, Rinnn aku akan menemanimu berlatih" kataku sambil mengalihkan fokusku ke Rin yang sedang memegang mic nya.
"Eh? Oke" Rin menjawab dengan patuh.
Aku pun meninggalkan kedua orang itu. Aku harus cepat-cepat pergi sebelum suasana menjadi lebih aneh dan tidak nyaman.
Aku segera mendekati Rin dan melihatnya berlatih. Sebenarnya, itu bahkan bukan disebut latihan. Rin hanya menghapalakan liriknya lalu mengetes apakah microphone nya berjalan dengan baik. Hal itu bahkan hanya memakan waktu sepuluh menit.
"Kalian sudah siap? Tamunya sudah mau datang" Lista tiba-tiba menampakkan dirinya di sudut ruangan.
Kami menoleh dan mengangguk, lalu Lista segera pergi.
Aku diam-diam mengintip dari balik layar dan melihat para anak-anak kecil itu sudah datang. Walaupun gedung ini belum terisi penuh tapi sudah banyak yang datang.
"Wah, ternyata banyak juga ya" seseorang berbicara di dekat telingaku, dan hembusan napasnya membuatku tergelitik.
"Ah!" Aku menjerit kaget dan segera menghindar.
Darwin menatapku dengan senyum konyolnya. "Ah, sayang sekali kau tidak gagap hahaha" katanya dengan santai.
Aku ingin berteriak lalu memukul bocah ini. Tapi aku berusaha menahan keinginan berapi-api itu.
"Bukankah kau bertugas menyambut tamu? Kau benar-benar melupakan pekerjaanmu dan bersantai di belakang panggung?" kataku tidak senang.
"Ah! Kau benar! Tapi aku sudah menyuruh pelayanku untuk melakukan tugas itu. Tidak mungkin kan, seorang tuan muda sepertiku harus berdiri di depan selama beberapa jam" jawabnya.
Ahhh...dia benar-benar tidak tahu malu! Pemalas! Narsistik!
"Darwin" tiba-tiba Lista mengintip sambil melambaikan tangannya. "Kemari" katanya serius.
Darwin sebenarnya tidak ingin. Melihat wajah serius Lista, dia yakin ada tugas buruk yang menantinya. Dan ternyata benar.
Beberapa menit kemudian, acara di buka dan dipimpin oleh seorang MC. Darwin adalah MC itu. Untung saja dia mempunyai kepribadian ramah dan banyak bicara, sehingga posisi itu cocok untuknya.
Sebelum acara hiburan dimulai, para anak-anak dan juga pengasuh panti mereka dipersilahkan untuk makan terlebih dahulu. Mereka disuguhkan dengan film kartun lucu layar lebar yang menghiasi panggung selama sesi makan. Sehabis makan malam, acara pertunjukan hiburan akan dimulai. Lalu dilanjuti dengan acara pemberian hadiah dan bingkisan untuk setiap anak. Dan acaranya selesai. Anak-anak itu dipersilahkan pulang, tapi para pengawas panti atau wali mereka diminta untuk menunggu terlebih dahulu. Karena kami akan memberikan perlengkapan sekolah, bahan-bahan sembako dan pakaian untuk masing-masing panti.
Aku benar-benar berdebar. Aku belum pernah berdiri di depan orang banyak dan sebenarnya aku tidak menyukai keadaan itu. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah terjadi. 'Tenanglah, mereka masih anak-anak, tenanglah'. Begitulah aku menenangkan diriku sendiri.
Aku melihat ke arah Rin. Aku penasaran apakah dia juga gugup sepertiku. Tapi aku langsung disugguhkan pemandangan tidak terduga!
Aku melihat Rin dan Shin duduk bersebelahan. Shin memegang note musik. Lalu Rin juga melihat ke arah note itu sambil memegang mic nya. Lalu aku melihat Shin berbicara dan Rin terus mengangguk.
__ADS_1
Aku berpikir sebentar. "Hmmm...."
Pemandangan ini tidak buruk. Padahal ceritanya sudah menyimpang dari komik, tapi kedua orang itu tetap dekat. Apakah ada benang-benang takdir yang menarik mereka ya? Inilah yang dinamakan jodoh ya, benar-benar tidak bisa dipisahkan...
Rin menoleh dan sadar bahwa aku mengamati mereka. Dia langsung melambaikan tangan dengan sugesti 'ayo ke sini'.
Aku mengangguk dan menghampiri kedua orang itu.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanyaku sambil mengambil posisi duduk disamping Rin.
"Ah Nana. Apa kau punya saran? Shin ingin aku mengaransemen lagunya. Hanya sedikit" katanya malu-malu.
"Oh? Kenapa?"
"Karena tidak menarik" jawab Shin datar.
CTARR! Dia langsung memfokuskan tatapannya padaku. "Bagaimana denganmu? Apa konsepnya?"
Aku membelalak kaget. Konsep? Konsep apa?
"Konsep apa? Aku tinggal memakai kostum itu lalu ke panggung kan?"
"Hmm...mungkin aku akan menceritakan beberapa lelucon" kataku serius.
"Bodoh!" gerutu Shin.
"hahaha" Rin tertawa kecil. "Memang Nana haa..." katanya pengertian sambil menghela napas.
"Lagipula tergantung aku juga kan. Siapa tahu ada ide yang tiba-tiba muncul saat aku berada di atas panggung. Aku akan melakukannya sesuai dengan panggilan alam"
Benar sekali! Aku sama sekali tidak terpaku dengan konsep. Aku hanya perlu melakukan apa pun yang kumau. Lagipula kostum itu sudah sangat lucu. Aku yakin anak-anak itu akan tertawa. Aku hanya tinggal improvisasi di atas panggung saja.
"Dan masalah mengaransemen lagu, aku tidak tahu apa pun tentang itu" kataku santai.
"Baiklah, bersiap-siap" Tiba-tiba Shin berdiri. Membuatku dan Rin tersentak kaget.
Shin menyerahkan note musik itu pada Rin. "Aku sudah menandai bagian yang diubah. Kau hanya harus menimprovisasi di bagian itu" kata Shin sambil menunjukkan coretannya pada buku note.
Lalu dia menatap tajam Nana "Kau ikut aku"
"Eh? eh?" aku bergumam bingung.
Kenapa tiba-tiba dia menyuruhku untuk mengikutinya?
Karena Nana tidak merespon, Shin mendekatinya, menarik tangannya dan membawanya ke suatu tempat. "Ikut aku. Aku akan melatihmu. Kalau dibiarkan begini bisa-bisa acaranya menjadi kacau" katanya frustasi.
"Ehhhh?!"
__ADS_1
Aku menjerit kaget dan dengan pasrah ditarik olehnya.