Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Aku Tidak Membencimu


__ADS_3

"Shin jangan bergerak" kataku lagi. Aku mulai mneyentuh lengan Shin dan pingganganya, memperbaiki posisinya agar kontras dengan pemandangan.


Lalu aku mulai menjauh sambil melihat kameraku, mengamati sudut-sudut yang pas untuk mengambil gambar.


CEKREK! CEKREK! CEKREK!


Aku mulai memotret Shin dengan kameraku.


Saat aku melihat hasilnya, aku hampir berteriak. Uwahhh! Aku mendapatkan harta karun! Ini lebih baik daripada foto dada.


Um? Tunggu! Foto dada...


Aku langsung mendekat ke Shin lagi. Saat ini Shin menggunakan kemeja pantai lengan pendek dengan kancing di depannya. Jadi aku langsung membuka tiga kancing kemejanya, refleks, agar dadanya terlihat.


"Apa yang kau lakukan?" protes Shin sambil menahan tangan Nana yang mencoba membuka bajunya.


"Aku tidak ingin membukanya. Hanya tiga kancing oke. Aku ingin mendapatkan foto yang bagus" jawabku dengan mata berbinar. Sama sekali tidak mempedulikan protes Shin.


Mata kami saling bertatapan dan aku hanya mengerjap beberapa kali dengan ekspresi penuh permohonan. Ajaibnya, Shin mengalah dan setuju! Apa dia memang sebaik ini?!


Aku tidak mau kehilangan kesempatan ini. Jadi CEKREK! CEKREK! CEKREK!


Aku mengambil beberapa foto lagi.


Akhirnya aku mendapat kan beberapa foto bagus. Seorang pria tampan dengan kemeja bertebaran yang menatap pemandangan di pinggir pantai. Ini adalah karya seni!


Aku menunjukan foto yang kudapatkan pada Shin. "Kau lihat! Kau Lihat! Aku mendapatkan foto yang sangat bagus" kataku sambil berjingkrak kegirangan.

__ADS_1


"Untuk apa foto-foto ini?" tanya Shin tidak peduli.


"Aku akan menyimpan nya di buku harta karun milikku" jawab Nana frontal.


Wajah Shin langsung memerah. Tapi Nana tidak memperhatikan nya karena dia terlalu sibuk melihat kameranya.


"Aku akan menggabungkan nya dengan foto-foto harta karun yang kudapat dari majalah~" sambung Nana lagi.


Ekspresi Shin langsung berubah masam. Dia tahu apa yang dimaksud Nana. Dia ingin menyimpan fotonya bersama dengan foto-foto vulgar dari majalah itu? Apa-apaan itu!


"Tidak! Aku tidak mengizinkannya!" kata Shin langsung dengan nada dingin.


"Ehhhh?" aku melihat Shin tak percaya. aku berusaha menatapnya dengan tatapan memohon. "Tapi aku tidak bisa menghapusnya. Izinkan aku menyimpannya oke. Apa kau sebegitu nya membenciku? Ini hanya foto..." kataku sedih.


Haa~ Shin menghela napas. Dia tahu sangat sulit menghadapi gadis aneh di depannya.


"Aku tidak memintamu untuk menghapus fotoku. Aku hanya ingin kau memilih. Kalau kau ingin menyimpan foto-fotoku. Buang semua gambar-gambar sampah dari majalah itu" kata Shin tegas.


"Itu sulit. Aku sudah mengumpulkan nya dan merawat nya dengan penuh kasih sayang" kataku lirih. aku benar-benar tidak sanggup.


Wajah Shin berkedut. "Oh? Kalau begitu aku tidak mengizinkan kau menyimpan fotoku." Shin menunduk dan mendekatkan wajahnya pada Nana hingga mereka hanya berjarak satu jari saja. "Aku hanya ingin kau menyimpan fotoku saja. Jangan mencampur kannya dengan barang-barang sampah itu" kata Shin serius.


Mata kami saling bertatapan dan wajah Shin sangat dekat. Tanpa sadar jantungku berdetak kencang lagi saking gugupnya. "Oke" aku mengangguk dengan patuh tanpa kusadari. Alu benar-benar melakukan hal yang mustahil sekarang, membuang semua harta karun yang sudah kukumpulkan sejak lama.


Tapi jujur saja, memiliki foto-foto Shin itu lebih baik. Karena Shin lebih nyata dan terlebih lagi dia tunanganku. Sementara pria-pria tampan dari majalah itu sama sekali belum pernah kulihat.


"Dan satu hal lagi. Aku tidak membencimu" kata Shin. Dia mengangkat tangannya dan mengusap kepala Nana. Membuat wajah Nana memerah seperti udang rebus karena tidak bisa mengontrol detak jantungnya.

__ADS_1


"A...apa itu benar?" tanyaku gugup. Selama ini aku selalu mengira Shin membenciku, bahkan mungkin dia merasa jijik dengan sikapku. "Apa kau tidak merasa sikapku menjijikan?"


Kening Shin berkerut. Dia memegang kedua bahu Nana erat-erat "Kenapa kau berpikir seperti itu? Aku tidak membencimu dan aku tidak merasa kau menjijikan. Kau memang sedikit aneh... tapi aku masih bisa mentolerirmu" jawab Shin sambil memalingkan wajahnya. Wajahnya juga memerah sekarang, dia pikir dia bersikap berlebihan sekarang dan mulutnya sama sekali tidak terkontrol. Tapi dia ingin mengungkapkan semua yang dipikirkannya pada gadis itu. "Tapi aku tidak bisa mentolerir hobimu. Berhenti melihat gambar-gambar sampah itu!"


"Eh?" aku mengernyit bingung. "Kenapa?"


Shin ingin mengatakan 'berhenti melihat pria lain di depan mataku!' Tapi dia tidak sanggup mengatakannya karena kata-kata itu cukup memalukan untuknya!


"Itu merusak mataku" jawabnya dingin.


Aku langsung membeku saat mendengar jawaban Shin. "Jadi selama ini aku merusak matamu?" kataku sedih, bahkan hampir menangis. Aku tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Padahal biasanya aku tidak menangis walaupun semua orang menganggapku menjijikan dan aneh.


"Bukan seperti itu!" Shin mulai panik saat melihat mata Nana mulai berkaca-kaca. "Aku bilang gambar-gambar itu" dia bersikeras.


Tapi Nana tidak puas dengan jawaban itu. Bahkan isak tangis kecil mulai terdengar dari mulutnya. Jujur saja, untuknya, menghapus foto-foto indah yang sudah dikumpulkan nya sejak lama adalah hal yang disukai nya dan dia menikmatinya. Lalu tiba-tiba ada seseorang yang menyuruh nya untuk memusnahkan semua itu dan mengatakan bahwa itu merusak matanya. Nana merasa semua hal yang dilakukannya salah dan orang itu pasti membencinya saat dia melakukan hal yang merusak matanya. Intinya, pikiran Nana saat ini sangat rumit.


Shin sangat panik sekarang. "Hentikan semua ini" dia mulai menyerah. Lalu menatap Nana lekat-lekat. "Aku tidak membencimu. Aku juga tidak benci kalau kita bertunangan. Aku bisa menerimanya. Tapi aku tidak ingin mendengar dan melihat kau menatap pria lain dengan ekspresi seperti itu di depan mataku! Terutama mengumpulkan barang-barang sampah itu! Siapa yang suka melihat tunangan mereka melihat pria lain dengan antusias. Kau hanya boleh melihatku." kata Shin serius.


Aku membeku di tempat. Pengakuan Shin terlalu berat untukku. Bukankah berarti dia selalu cemburu saat aku mulai melihat pria lain dengan tatapan antusias?


"Apa kau cemburu?" tanyaku tak percaya.


"Ya" Shin sama sekali tak mengelak seperti biasanya. Jawabannya membuatku membeku sekali lagi.


Aku melonggo tak percaya. "Sungguh?" aku berusaha memastikan, tanpa sadar wajahku semakin dekat dengannya.


Shin tersentak. Lalu dia mengangguk pelan.

__ADS_1


Kedua orang itu membisu dalam diam sambil bertatapan satu sama lain. Hanya bisa terdengar suara hembusan angin pantai disekeliling mereka.


Saat mereka berdua tersadar kembali, mereka langsung membuang wajah mereka secara bersamaan. Mereka menunduk malu dan pipi mereka memerah seperti udang rebus dan mereka sadar bahwa topik yang mereka bicarakan sudah berlebihan.


__ADS_2