Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Tidak Terduga


__ADS_3

Arghh! aku berusaha melupakan semua khayalan ku.


Setelah pikiran ku tenang, aku segera keluar kamar untuk mencari mereka.


Saat aku berada di ruang tamu, aku melihat banyak orang disana. Ada ibu dan kakaknya Shin yang sedang menatapku. Lalu ada Darwin yang duduk di sofa sambil makan cemilan dengan santainya. Sementara Shin sedang duduk menyilang kan kakinya sambil menatap ke bawah.


"eh?" Darwin mengangkat alisnya. "Kau sudah keluar? Aku kira kau tidak akan keluar setelah Shin mengusir ku." gunamnya dengan nada mengejek.


Argggh! Aku ingin memukul Darwin.


Aku benar-benar kesal. Bagaimana dia bisa membuat pernyataan yang dapat disalahpahami orang lain?


Aku bahkan melihat ibu dan kakak Shin melemparkan tatapan lebih tajam yang membuatku menjadi sangat canggung.


"Nona Fent duduklah" kata Ibu Shin datar sambil menepuk sofa disampingnya. Kebetulan sekali sisi itu berada di samping Shin.


Aku tersenyum dan segera duduk dengan sikap yang sangat canggung.


"Bagaimana kabar pak tua Fent sekarang? Apakah dia baik-baik saja?" tanya ibu Shin.


"Em" aku mengangguk. "Ayah baik-baik saja"


Tapi apa maksudnya "Pak tua" ini? kurasa wajah ayahku benar-benar tidak terlalu tua untuk disebut pak tua.


"Itu bagus. Bagaimana bisnis kalian sekarang?" tanyanya lagi


"Semuanya berjalan dengan baik" aku menjawab dengan singkat.


Sesekali aku melirik ke samping, dan melihat tubuh Shin bergetar seperti dia menahan emosinya.


"Kudengar kalian mendirikan perusahaan baru?" Ken tiba-tiba ikut nimbrung.


"Iya. kakakku yang menjalankannya"


"Ah~ pria yang tidak menarik itu rupanya~" Ren merespon dengan kata-kata ambigu yang membuat ku sama sekali tidak mengerti maksud nya.


"Apa kau sudah punya tunangan?" tanya Ibu Shin blak-blakan yang membuatku hampir tersedak.


"Ibu!" aku mendengar Shin berteriak kesal.


"Nona Fent aku bertanya sekali lagi, apa kau punya tunangan?" tanya Ibu Shin mengabaikan putranya yang berteriak.


"Ti...tidak..." aku hanya bisa menjawab dengan gugup sambil menggelengkan kepala.


"Baiklah. Ini bagus" Ibu Shin bergumam sambil mengangguk.


"Ibu!" Shin berteriak lagi.

__ADS_1


"Sudah ku bilang, kau diam" jawab Ibu Shin sinis.


"Aku benar-benar tidak setuju. Bagaimana ibu bisa bertindak seenaknya seperti ini?"


"Seenaknya kau bilang?! Kalau kakakmu tidak mengetahui apa yang kalian lakukan dalam kamar aku tidak akan bersikeras seperti ini!"


Uhuk! Pernyataan absurd ibu Shin benar-benar membuatku tersedak. Apa-apaan ini??? Mereka salah paham.


"Bagaimana aku tidak mengikat kalian? Kalau tiba-tiba kalian bertindak di luar batas dan nona Fent hamil. Semuanya sudah terlambat, Reputasi kedua keluarga akan hancur!"


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


aku tidak bisa menahannya lagi, kali ini aku benar-benar akan nuntah darah!


Bagaimana mereka bisa berpikiran seperti itu hanya saat melihat aku dan Shin bertatapan.


"Apa-apaan ini!" Shin berteriak sambil melototi ibunya. "Itu tidak akan pernah terjadi!"


Sementara Darwin memperhatikan semua drama di depannya sambil terus mengunyah cemilan. Sesekali dia akan tertawa kecil. Dia benar-benar bersikap seperti sedang menonton layar tancap.


"Sudahlah Shin, jangan berpura-pura lagi. Kau juga menyukainya bukan? Akui saja" kaat Ren yang semakin membuat emosi Shin menjadi naik.


"Itu tidak akan pernah terjadi!" Shin menyangkalnya dengan cepat.


"Baiklah, kalau begitu kau pindah sekolah ke luar negeri saja. Sangat susah disini. Siapa tahu setelah pindah ke luar negeri kau akan menemukan wanita yang cocok." kata Ren.


"Apa ma...."


"Saran yang bagus Ken. Kita bisa memindahkan bocah ini keluar negeri bersama neneknya agar dia bisa mengawasinya. Aku takut dia benar-benar menyimpang" Ibu Shin selalu tahu bahwa Shin sangat menghormati dan menyayangi neneknya. Orang yang tidak akan pernah dibantah oleh Shin adalah nenek tua itu. Karena beliau sudah merawat Shin dari kecil karena hubungan orang tuanya yang tidak harmonis. Setelah orang tuanya bercerai, Shin kembali tinggal dengan ibunya.


"...."


Kali ini Shin benar-benar terdiam.


"Maafkan kami nona Fent. membuat mu terlibat dalam masalah keluarga yang tidak perlu ini" kata Ren dengan nada sopan dan tidak enak.


"Eh? Tidak apa-apa" kataku cepat. Aku hanya bingung saat ini karena kejadian ini tidak pernah terjadi dalam komik! Apa-apaan ini!


"Aku tidak mau!" Shin langsung menolak.


Mendengar pernyataannya, Ibu dan kakaknya langsung membelalak kaget.


"Kenapa kau tidak mau?"


"Ini sangat aneh...."


"Kau selalu meminta ibu memindahkan mu kembali ke tempat nenekmu. Ibu sudah mengabulkannya"

__ADS_1


"Apa yang terjadi padamu?"


"Kau benar-benar ingin bertunangan dengan nona Fent ya....Ah..."


"...."


Shin terdiam dengan wajah memerah.


Dia tidak tahu kenapa dia tiba-tiba menolak. Benar sekali, bahwa dia dulu sangat tidak ingin tinggal di rumah ini dan ingin tinggal di tempat neneknya. Harusnya dia senang? Tapi kenapa dia merasa khawatir? Dia tidak mau berpisah dengan semua orang...Bagaimana dia bisa tiba-tiba pindah sekolah dan meninggalkan gadis itu...Tidak masuk akal!


Karena Shin tidak merespon, ibunya langsung mengangguk.


"Baiklah pertunangan sudah diputuskan~"


setelah mengatakan kalimat itu dengan nada senang, sang ibu segera bangkit dari sofa. Dan meninggalkan ruang tamu sambil bersiul senang.


Ren menepuk bahu Shin "Selamat adikku sayang" katanya, yang membuat seluruh tubuh Shin bergetar.


Lalu Ren menatap Nana sambil tersenyum. "Kami akan ke rumahmu untuk meminta pertunangan"


Aku hanya bisa melonggo. Aku bahkan tidak mengangguk. Seharusnya aku sangat senang dengan semua ini, tapi karena kejadiannya terlalu tiba-tiba, aku tidak tahu bagaimana harus merespon.


Aku benar-benar senang bisa bertunangan dengan pria tampan, dan membuat event baru yang tidak terjadi di komik. Tapi setelah melihat wajah dingin dan datar Shin, aku menjadi merasa bersalah. Dia bertunangan dengan orang yang tidak disukainya. Bukankah aku terlihat seperti seorang wanita antagonis jahat yang memaksakan hubungan ke tokoh utama pria. Ini benar-benar tidak berbeda jauh dengan cerita komik, hanya saja alurnya lebih maju.


Aku benar-benar merasa bersalah.


"Maafkan aku..." aku hanya bisa bergumam lirih. Harusnya aku juga menolak pertunangan ini. Tapi aku tidak melakukannya karena aku memang menginginkan nya.


"Persiapkan dirimu, kita akan datang" kata Shin datar sambil berdiri dari sofa.


"Eh?" aku berkedip bingung.


Dia sama sekali tidak marah atau mengamuk?


Shin tidak merespon lagi, dia segera meninggal kan ruang tamu.


"ayo pulang, gadis kecil hahahaha" Darwin yang sedari tadi menahan tawanya langsung terbahak-bahak.


"Benar-benar beruntung. akhirnya impian mu tercapai"


"Iya tapi...apakah ini semua baik-baik saja?" Biasanya hubungan pertunangan antara dua orang kaya tidak selalu baik. Apalagi karena keinginan orang tua.


"Tenanglah. Shin juga menyukainya. Bukankah responnya positif? Percaya padaku"


"Eh? Iya..."


Respon Shin memang datar dan tidak seperti dugaanku. Apa Shin juga menyukai ku? Aku masih meragukannya?

__ADS_1


Walaupun aku berpikir panjang, aku tidak akan menemukan jawabannya. Karena aku tidak bisa membaca isi hati Shin.


Akhirnya hari itu, perencanaan pertunangan ku dengan tokoh utama pria langsung terbentuk ... Benar-benar event aneh....Tapi aku menyukainya hehehe


__ADS_2