
Hanya perlu beberapa menit untuk kami sampai di Villa. Helikopter itu mendarat dengan mulus di halaman belakang. Dan saat kami keluar para pelayan sudah menunggu di depan. Mereka menatap Nana dengan wajah kaget lalu menundukkan kepala mereka.
Shin ingin menyelidiki pernyataan yang Nana berikan. Tapi dia bingung bagaimana melakukan nya. Bukan berarti dia tidak mempercayai perkataan Nana. Hanya saja sulit menangkap bukti sejak hutan itu tidak memiliki kamera pengintai untuk merekam kejadian.
Sebenarnya, ada juga pikiran yang terlintas di kepala nya bahwa Nana sedang berhalusinasi saat itu. Tapi Shin berusaha mempercayai gadis itu.
Aku akhirnya pulang. Sebenarnya hal pertama yang ingin kulakukan setelah kembali adalah mencari pria yang mendorong ku. Tapi Shin tiba-tiba menatap ku dengan serius. "Aku akan mengurus nya." Katanya. "Kau bisa beristirahat di kamar. Pasti sangat lelah setelah seharian tersesat di dalam hutan"
Aku ingin mengatakan tidak, tapi tiba-tiba Darwin menyela lebih dulu "Shin benar kelinci kecil. Jangan khawatir. Kami akan mengurus nya. Kami akan menyelidiki semuanya sampai ke akar. Jangan khawatir."
Tapi aku tidak ingin merepotkan mereka. Mereka berdua bahkan tidak tidur karena mencariku semalaman. Tapi sekarang mereka harus membantuku menghukum pelaku itu. Aku merasa tidak enak.
"Aku tidak mau. Aku harus menemuinya. Aku ingin mendengar sendiri alasan kenapa dia melakukan itu pada ku" kataku tegas. "Dan aku merasa tidak enak membiarkan kalian semua yang mengurus semua masalah ku. sementara aku tidak melakukan apapun"
***
Pria itu bergetar ketakutan. Dia juga tidak bisa tidur saat mendengar Shin dan Darwin mencari Nana seharian di seluruh pulau. Sampai akhirnya dia melihat helikopter itu mendarat kembali ke Villa. Dan tiga sosok keluar dari sana.
Pria itu mengigil ketakutan. Orang yang didorong nya ke tebing ternyata kembali hidup-hidup!
Dia benar-benar kaget dan sangat takut sekarang. Ketakutan terbesar nya adalah dia takut dipenjara karena rencana pembunuhan.
Dia pun langsung menemui Lista. Sejak Lista adalah otak dari semua rencana ini, gadis itu harus terlibat. Dia tidak ingin dihukum sendiri.
Saat dia sampai di kamarnya, Lista sedang duduk di meja rias, seakan-akan sudah menunggu kedatangan nya. Lista sibuk menyisir rambut panjangnya dengan gerakan lambat.
__ADS_1
"Dia hidup...." pria itu berkata dengan wajah ketakutan sambil mengigit bibirnya.
Lista menghentikan gerakannya dan meletakkan sisirnya di atas meja. Lalu dia menatap pria itu sambil tersenyum kecil. "Kau yang mengurusnya. Aku tidak tahu apapun" katanya polos.
Pria itu melotot dengan mulut terbuka. Dia tidak menyangka bahwa Lista akan mengatakan hal seperti itu padanya. Lista benar-benar meninggalkan nya sekarang. Ini bukanlah Lista yang dia kenal! Dewi baik hati yang sudah membantu mereka semua.
"Bagaimana bisa?" pria itu berkata. "Kau juga terlibat dengan semua ini. Kau harus membantuku atau aku akan memberi tahu yang sebenarnya pada mereka" emosinya memuncak saat ini sehingga dia mengatakan semua yang ada di pikirannya.
Senyum Lista menghilang dalam sekejap. Dia menatap pria itu dengan tatapan tajam. "Karena semua itu adalah ulahmu, kau harus mengurus nya sendiri. Kalau kau melibatkan ku, aku juga akan melibatkan semua orang" Kata Lista dengan nada mengancam. Dia kemudian tersenyum lagi. "Kau punya berapa keluarga ya...adik, kakak, ibu, ayah, nenek" dia menghitung dengan jarinya.
Tubuh pria itu gemetar ketakutan.
"Kakakmu sangat cantik, dia mungkin berguna kalau dijual dengan pria tua kaya. Adikmu sangat lucu, ada banyak orang yang menginginkan anak angkat. Ayahmu tidak berguna, mungkin aku akan menghilangkannya dari perusahaan. Ibumu kelihatannya memiliki bakat bersih-bersih. Ada banyak lowongan pembersih jalanan. Dan umur nenekmu tidak akan lama lagi sejak dia mengidap diabetes" lanjut Lista. Lalu dia menatap pria itu dengan ekspresi cerah. "Dan kau bisa menghabiskan waktumu dengan tenang di penjara"
Wajah pria itu memucat. "Jangan lakukan itu..." katanya dengan bibir gemetar. Penampilan Lista sama sekali tidak seperti dewi lagi di matanya. Tapi seperti iblis. Ternyata Dia benar-benar membuat kontrak dengan iblis yang menakutkan.
Pria itu menggertakan giginya sambil menangis. "Aku tidak akan..."
"Kau bisa keluar sekarang. Jangan tinggalkan air matamu di kamarku. Aku cinta kebersihan. Itu cukup menjijikan" kata Lista cemberut.
Pria itu meremas kedua tangan nya, menahan dirinya untuk tidak terisak. Lalu dia keluar dari kamar Lista dengan perlahan.
Sejak Lista tidak akan membantunya, dia harus berjuang sendiri sekarang. Lagipula dia masih punya harapan walaupun itu kecil. Tidak ada saksi saat kejadian itu terjadi. Sehingga tidak ada bukti. Dia bisa keluar dengan selamat kalau dia terus mengelak. Dia berharap dia bisa.
***
__ADS_1
Aku masuk dengan langkah semangat ke dalam villa. Aku ingin mencari pria jelek yang sudah mendorong ku itu. Tentu saja dia tidak jelek, dia tampan. Tapi sejak dia bisa melakukan hal sejahat itu, aku menganggap nya sebagai pria jelek. Tapi dia tidak ada di villa.
"Mungkin dia di kamarnya" kata Darwin.
Darwin benar. Aku belum mengecek kamarnya. Pria itu pasti sedang bersembunyi seperti kelinci ketakutan di dalam kamarnya.
Kamar pria itu tidak dikunci. Jadi aku langsung melangkah masuk bersama Darwin dan Shin. Saat kami masuk, pria itu sibuk mengetik sesuatu di laptopnya sambil memakai kacamata.
Wajahku berubah masam. Tuhan tidak adil. Bagaimana pria sejahat ini bisa diberikan wajah setampan itu? Aku hampir saja terpikat karena dia memakai kacamata. Tapi untungnya itu hanya terjadi satu detik.
"Apa yang kalian lakukan?" pria itu terlihat tidak senang saat pintu kamarnya di dobrak. "Kau kembali?" dia melihat Nana dengan mata berbinar, seakan-akan dia senang.
Pria itu meninggal kan kursinya dan bergerak ke arahku. Aku masih bingung dengan sikapnya. Pria itu tiba-tiba membuka lengannya, ingin memelukku. Aku tidak sempat menghindar, tapi untungnya Shin langsung menghentikan nya dengan menahan tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?" kata Shin tidak senang.
"Oh, maaf" pria itu menggaruk kepalanya malu-malu. "Aku benar-benar senang bahwa dia sudah kembali. Aku benar-benar panik saat dia tiba-tiba menghilang waktu itu."
Mendengar perkataan nya, aku melonggo kaget. "Dasar pembohong!" teriakku langsung. Aktingnya benar-benar bagus. Apa dia tidsk merasa bersalah sama sekali karena sudah melakukan percobaan pembunuhan?
"Kau mendorong ku ke tebing waktu itu! Aku akan mengirim mu ke penjara" kataku kejam. Aku belum pernah sebenci ini pada siapapun. Aku benar-benar membencinya.
"Aku mendorong mu ke tebing?" pria itu mengerjap polos seakan-akan dia tidak tahu. "Aku tidak mungkin berani melakukan hal seperti itu kecuali aku gila! Apa kau tidak berhalusinasi ? Bagaimana kau bisa kembali hidup-hidup setelah jatuh dari tebing?"
"Kau...kau..." aku menggertakan gigiku, menahan rasa kesal dan amarah yang menumpuk di dadaku.
__ADS_1
Shin menghela napas. Dia sudah tahu semua ini akan terjadi. Dia menyentuh bahu Nana, menghentikan gadis itu untuk tidak berteriak.
"Aku akan mengurus nya"