
Shin menarikku ke sudut panggung. Lalu dia mengambil sebuah bola plastik dari kotak kardus yang ada di samping. "Gunakan ini" katanya sambil menyerahkan bola itu padaku.
"Untuk apa?" aku menatap bola itu bingung.
"Untuk pertunjukanmu" katanya datar sambil melipat tangannya. "Kau bisa memainkan bola dengan kostum itu. Aku yakin anak-anak akan menyukainya" katanya percaya diri.
"Aku bukan badut!" kataku merenggut tidak senang. Mereka benar-benar memperlakukanku seperti badut pertunjukan. Ini tidak adil untukku!
"Hmph! Dari awal tugasmu memang menjadi badut" jawab Shin dengan nada yang membuatku kesal. Pria ini benar-benar menyebalkan!
"Jangan terlalu manja" katanya.
Lalu dia mulai bergerak ke arahku.
'Eh? Mau apa pria ini?' aku mengernyitkan kening bingung.
Shin tiba-tiba menarikku berdiri lalu berdiri di belakangku. Dia memegang tanganku tiba-tiba dan punggungku bergidik saat menyentuh dadanya.
"Aku akan mengajarimu cara menggunakannya" kata Shin sambil memegang kedua tanganku.
"Seperti ini" dia mulai mengajariku cara menggerakan tangan untuk melempar bola.
DEG! Jantungku berdegup kencang. Aku belum pernah sedekat ini dengan pria. Tapi sekarang aku benar-benar dipeluk dari belakang. Punggungku menyentuh dadanya. Aku merasakan tangannya yang hangat saat dia memegang tanganku. Dan aku juga merasakan napasnya di atas kepalaku saat dia berbicara. Aku benar-benar gugup. Aku bahkan belum sempat mengkhayal hal kotor karena otakku berhenti berfungsi sekarang.
"Kau mengerti kan?" kata Shin.
"Ah!" aku tersentak. Otakku yang membeku dalam sekejap mencair kembali.
Wajahku langsung memerah malu. Dan tubuhku refleks menghindar. Aku langsung menjauhi Shin. "Aku mengerti" kataku sambil berusaha menjaga jarak.
Shin bingung melihat gadis bodoh di depannya tiba-tiba melarikan diri dan menjauh. Tapi, dia tidak memikirkannya lagi. "Berlatih yang benar. Aku akan mengawasimu" katanya bersikap bossy sambil duduk di kursi dan menyilangkan kakinya.
"Uhhh..." aku hanya bisa cemberut sambil menatapnya sinis.
Tapi aku tetap melakukan apa yang disuruhnya karena aku tidak mau acaranya gagal.
Setelah beberapa kali mencoba, ternyata pertunjukan bola ini cukup mudah. Tapi pasti berbeda kalau dimainkan dengan kostum monster itu. Kostum itu membuatku sulit bergerak dan aku yakin tidak mudah untuk melempar bolanya.
"Pertunjukan selanjutnya. Nona bersiaplah!" teriak salah satu helper ke arah kami.
Eh? Rin sudah selesai? Waktu benar-benar berlalu dengan cepat. Aku bahkan tidak menyadarinya.
"Bersiap-siaplah. Aku akan mengawasimu di depan" kata Shin sambil beranjak dari kursinya.
Aku bergegas memakai kostum itu lalu menunggu dari balik tirai. Aku masih menunggu aba-aba dari helper untuk masuk ke dalam panggung.
Helper itu memberi tanda. Tirai di depanku pun terbuka dan aku langsung masuk.
__ADS_1
Saat aku masuk aku mendengar sorakan anak-anak itu dan membuatku membeku di tempat.
Gawat! Otakku berhenti berfungsi lagi gara-gara terlalu gugup.
Tapi kemudian aku melihat Shin, yang ada di bawah panggung, melambaikan tangannya padaku. Akhirnya otakku bekerja kembali dan aku mulai menenangkan rasa gugupku. Ayo rileks, rileks lah....Aku berusaha menyemangati diriku sendiri.
Shin memberikan aba-aba untuk memulai pertunjukan. Dan aku melihat Shin juga mengangkat tangannya menyuruhku "Semangat". Tidak mungkin kan? Aku pasti salah lihat.
Aku mulai santai. Dan MC mulai membuka acaranya. Setelah MC turun ke bawah panggung, aku langsung memulai pertunjukan. Sebenarnya aku tidak tahu bagaimana caranya menjadi badut. Jadi aku hanya bertindak sesuai insting. Memainkan bola itu seperti yang diajarkan sambil berjalan kecil mengelilingi panggung.
Aku mendengar suara tawa anak-anak. Kupikir mereka menyukainya. Aku yakin itu pasti terlihat lucu, sayangnya aku tidak bisa melihat tampangku sendiri saat ini. Pasti sangat memalukan haa...
Saat aku sedang menikmati permainan bolaku, insiden yang tidak terduga terjadi.
SRETTT! Aku menginjak sesuatu yang licin di sudut panggung dan terpeleset! Aku tidak bisa menyeimbangkan tubuhku karena kostum badut yang kebesaran itu dan perlahan tubuhku mulai mengikuti arus gravitasi, jatuh ke bawah.
Aku melihat ke bawah panggung dan pasrah.
'Tingginya hanya setengah meter. Aku tidak akan patah tulang karena kostum ini lumayan empuk. Paling-paling aku hanya memar' aku berusaha pikir positif sambil memejamkan mataku.
'Eh? Kok aku tidak merasakan sakit? Tersangkut?'
Aku membuka mataku dan melihat wajah Shin di depanku. Ah, pria ini menangkapku tepat waktu!
Karena sekali lagi dipeluk olehnya, jantungku berdegup lagi. Refleks, aku melingkarkan tanganku di lehernya. Aku bisa menghitung ini sebagai "mengambil kesempatan dalam kesempitan".
Ahhh!! Mulut bodoh ini! Aku melihat Shin takut-takut. Aku tidak tahu apakah Shin mendengarnya. Tapi raut wajah Shin berubah.
"Kapan kau akan melepaskanku?" kata Shin sambil mengernyitkan keningnya.
Ah! Aku langsung melepaskan tanganku dari lehernya dan melompat turun. Dadaku naik turun karena napasku yang terlalu cepat. Untung saja aku memakai kostum, kalau tidak pasti memalukan. Aku tidak bisa mengontrol wajahku!! Wajahku memerah malu saat ini!!
Shin langsung menghadap ke para hadirin "Bagaimana? Bukankah lompatan badutnya lucu?" katanya berusaha mengalihkan perhatian.
Suasana yang tegang berubah. Dalam sekejap dia merubah suasana menjadi kondusif lagi/ Aku mendengar suara tawa anak-anak itu.
Uwah! pria ini benar-benar hebat. Dia bisa merubah insiden kecelakaannya menjadi pertunjukan penutup seperti itu. Benar-benar hebat! Dia seorang yang professional!
***
Di sudut panggung Lista menatap kesal sambil menggertakan giginya. Rencanya sudah gagal. Dia sudah susah payah membayar helper itu untuk memanipulasi panggung. Meletakkan sesuatu yang licin di sudut paggung saat gadis itu akan tampil. agar gadis bodoh itu terjatuh dengan memalukan. Tapi apa yang terjadi! Dia malah berpelukan dengan Shin! Kemalangan itu benar-benar menjadi keuntungan.
Usahanya gagal kali ini!
"Dasar tidak berguna!" gerutunya benci
***
__ADS_1
Acara itu berakhir dengan lancar. Dan para peserta itu sudah mulai pulang.
Darwin menghampiri Nana dengan cemas di belakang panggung. "kelinci, kau tidak apa-apa kan?" tanyanya.
Aku masih melepaskan kostum monster itu. Benar-benar gerah di dalam, aku merasa seperti berada di sauna. "Tidak apa-apa" aku merespon sambil mengibas-ngibaskan bajuku, kepanasan.
Shin tiba-tiba muncul dan bertanya. "Bagaimana kau bisa terjatuh? Aku tahu kau bodoh. Tapi aku tidak mengira kau sebodoh itu melemparkan dirimu untuk pertunjukan" katanya sarkas.
Aku berhenti mengibas bajuku dan menatapnya tidak senang. "Siapa yang bodoh?!" kataku kesal dengan urat-urat yang muncul di kepalaku. "Panggungnya yang licin, karena itu aku terpelest. Memangnya ada orang yang mau melukai diri sendiri? Bahkan orang bodoh pun tidak akan melakukan hal itu" gerutuku kesal.
'Sesuatu yang licin?' Shin berpikir. Dia langsung mengecek ke atas panggung dan menghampiri kedua orang helper.
"Bagaimana bisa panggungnya seperti ini? kalian tidak mengecek panggungnya?" tanya Shin tidak senang.
"Kami minta maaf" jawab kedua helper itu cemas.
"Kami benar-benar lalai mengeceknya karena itu ada disudut"
"Karena buru-buru kami benar-benar lupa untuk mengecek ulang"
Kata kedua helper itu. Tentu saja itu kata-kata yang sudah dibuat Lista sebelumnya untuk mereka, sebagai imbalan uang tutup mulut.
"Lain kali kalian harus hati-hati dan mengeceknya. Atau kalian tidak pernah dipekerjakan lagi karena kalian tidak professional." kata Shin menasehati.
"Maaf" kedua helper itu membungkuk dalam-dalam.
"Baiklah, karena acaranya sudah selesai, kalian bisa membereskannya." kata Shin sambil menatap kedua orang helper. "Ingat! Jangan mengulanginya lagi!"
Aku dan Darwin melihat di sudut bahwa Shin memarahi kedua helper itu. Dia benar-benar orang yang tegas. Tapi dia tidak sedingin yang aku kira. Walaupun dia memarahi kedua orang helper itu, nadanya tidak berlebihan, tapi tegas. Ini membuatku merasa deja vu. Saat kau dimarah ketua kelas karena tidak mengerjakan PR, lalu satu kelas kena imbasnya.
"Nana, kau tidak apa-apa?" Rin menghampiriku dengan wajah cemas.
"Aku tidak apa-apa" jawabku sambil tersenyum.
"Bagaimana kalau kita merayakan keberhasilan kita? Kita bisa makan bersama?" Darwin tiba-tiba menatap kami dengan antusias.
Aku melihat wajah Rin agak tidak enak. Dia pasti ingin menjaga neneknya karena neneknya sedang sakit. Dan ini sudah larut malam. Dia pasti ingin menolak, tapi tidak enak untuk mengatakannya.
"Aku tidak bisa" aku menjawab langsung.
Aku melihat Rin tersentak. Dan menatapku sambil tersenyum.
"Baiklah..." kata Darwin kecewa. "Tapi lain kali kita harus makan bersama oke?"
Aku dan Rin mengangguk.
Akhirnya acara itu berjalan dengan lancar. Aku diantar Rin pulang dengan sepedanya. Dan sesampai di mansion, aku langsung merebahkan diriku karena kelelahan dan tertidur.
__ADS_1