Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Menghabiskan Waktu Bersama (4)


__ADS_3

Aku tidak bisa berkata-kata setelah mendengar jawaban Shin.


Suasana menjadi hening sekali lagi.


"Aku akan memanggil taxi" kataku kemudian setelah menghabiskan beberapa potong kue.


"Aku akan mengantarmu" kata Shin, yang membuat ku tidak bisa berkata-kata lagi.


Kami pun menghabiskan makanan kami. Setelah itu Shin menghubungi seseorang. Aku mengira dia menghubungi supirnya untuk menjemput kami.


Supir itu bergerak cepat. Hanya dalam beberapa menit, mobil hitam itu sudah tiba di depan toko.


Sebenarnya aku tidak ingin pulang. Aku kira kami hanya berada di luar selama sejam lebih, bahkan tidak sampai dua jam. Walaupun aku senang mendapat kejutan seperti itu. Tetap saja suasana canggung itu membuatku sama sekali tidak nyaman.


"Selamat siang tuan" sapa pak supir itu.


Wajahnya sangat familiar, karena aku sering melihatnya bersama Shin. Mungkin hampir setiap hari....


"Mana kuncinya" tanya Shin sambil mengangkat tangannya.


"Ini tuan" jawab Si supir sopan sambil memberikan kuncinya.


Shin dengan cepat membuka pintu mobil lalu duduk di kursi kemudi.


Aku dan sang supir memiringkan kepala kami bingung.


"Masuk" kata Shin tiba-tiba.


"Eh? Aku?" aku menunjuk diriku sendiri tidak percaya.


"Siapa lagi? Ayo cepat"


Aku pun segera masuk ke dalam mobil. Awalnya aku membuka pintu belakang, tapi Shin mulai berkata "Di depan"


Jadi aku langsung membuka pintu depan mobil dan duduk di sampingnya.


Tiba-tiba BRUM! Shin menginjak pedal gas dan membawa pergi mobil itu serta meninggalkan sang supir di belakang.


***


Mata pria tua itu melotot saat melihat tuan mudanya membawa pergi mobil dan meninggalkan dirinya di belakang.


Dia memiliki kepercayaan yang sangat tinggi dengan tuan muda kedua itu. Dia sudah bersama dengannya semenjak tuan muda itu masih bayi. Bahkan dia sudah mengantarnya setiap hari sejak tuan muda masih berumur 5 tahun.


Dia sangat menyayangi tuan mudanya ini. Dia juga sudah mengabdi cukup lama pada keluarga Sen. Bahkan Ny. tua juga sangat percaya padanya.

__ADS_1


Dia mengira tuan mudanya akan memiliki perasaan yang sama dengan nya. Tapi ternyata dia salah. Tuan mudanya bahkan meninggal kannya sendirian tanpa pemberitahuan apa pun. Jujur saja dia sangat sedih.


"Apa-apaan ini?" katanya tidak percaya.


"Tuan muda! kenapa kau meninggalkanku?!" teriaknya sambil mengejar mobil di depannya.


***


Aku melihat dari kaca spion bahwa supir itu mengejar mobil kami.


"Shin? Apa ini baik-baik saja? Kenapa kau meninggalkan nya? Dia mengejar mobil kita!" kataku sambil melihat kaca spion.


"Dia bisa pulang sendiri. Dia masih punya kaki" jawab Shin acuh.


Aku melongo mendengar jawabannya.


Aku mengerjap menatap wajah Shin. Datar dan dingin seperti biasanya. Aku jadi merinding. Apa orang ini memang tidak memiliki perasaan sama sekali.


Haa~ aku menghela napas.


"Dia memang cocok berperan sebagai kaisar jahat" gumamku pelan.


Sementara sang supir sudah menyerah karena mobil di depannya terus melaju dan menghilang di depan matanya.


***


Ada beberapa alasan kenapa Shin meninggalkan pria tua itu. Pertama, bagi Shin pria tua itu sangat menyebalkan. Karena dia tidak bisa mengontrol mulut nya dan selalu banyak bicara. Kepala Shin sakit saat dia mengoceh di depannya. Kedua, dia ingin privasi. Tidak mungkin dia membawa sang supir yang selalu menjadi mata-mata ibunya. Kalau dia menjadi mata-mata yang benar, Shin tidak akan menyingkirkan nya. Tapi pria itu selalu melebih-lebihkan apa yang terjadi dan membuat nya dalam masalah. Memikirkan nya saja sudah membuatnya pusing.


***


Aku tidak tahu Shin akan membawa ku kemana. Tapi jalan ini sama sekali bukan jalan menuju rumahku!


"Shin? Kita tidak pulang?" aku dengan takut-takut bertanya. Aku masih teringat sikap dinginnya saat dia meninggalkan supirnya sendiri.


"Kita akan pulang nanti"


"Lalu sekarang kita mau kemana?"


"..." Shin terdiam sejenak. Lalu dia menatapku. "Aku tidak tahu..." katanya serius.


Responnya membuat ku sangat kesal. Aku ingin marah, tapi aku langsung menekan emosi ku. Kalau dipikir-pikir ini bagus juga. Kapan lagi kau bisa berduaan dengan pria tampan di dalam mobil. Walaupun pria tampan ini bodoh, itu tidak apa-apa. Jadi aku harus tenang. Jangan menjadi emosional karena perkataan bodohnya.


"Bagaimana kalau ke tempat yang pemandangan nya bagus?" aku memberi saran. Tentu saja tempat seperti itu selalu populer dan banyak dikunjungi orang. Berarti aku tidak kekurangan stok untuk mencuci mataku (alias melihat para pria tampan berlalu lalang).


"Baiklah" jawab Shin.

__ADS_1


Aku tersenyum senang. Mungkin dia akan membawa ku ke cafe atau taman, atau tempat dengan pemandangan indah yang sangat populer.


Beberapa menit berlalu, akhirnya kami sampai di tempat tujuan.


Shin memakir mobil nya. Setelah itu aku keluar dengan antusias.


"...."


Tapi apa yang kulihat ini?!


Aku bahkan tidak bisa berkata-kata!


Aku melihat tempat di depan mataku. Sangat gersang dan hanya dipenuhi rerumputan. Mungkin kita akan melihat beberapa kursi rapuh di sekeliling jalan. Jalannya sangat kotor karena dipenuhi dedaunan kering yang datang entah dari mana. Lalu di depan ada pagar yang bertuliskan "Jangan masuk. Closed". Suasana yang sangat gersang dan sunyi. Tidak ada seorang pun di sini! Ditambah langit sudah gelap menambah suasana tempat ini menjadi lebih mengerikan.


Aku bahkan mengernyit ketakutan saat melihat lampu di tepi jalan yang berkelap-kelip, bertahan antara hidup dan mati.


"Kita ada di mana sekarang?" aku langsung bertanya pada Shin sambil melototi nya.


"Bukankah kau ingin melihat pemandangan?" Shin bertanya balik dengan wajah polos.


"Tidak ada pemandangan di sini! Dan lihat plang itu! Jelas-jelas tempat ini sudah tutup! Kenapa kita bisa masuk!"


"Karena tempat ini milikku"


Aku menatap Shin intens.


Bolehkah aku mengigit orang ini?


Kalau aku punya penyakit jantung, mungkin aku akan koma karena syok sekarang!


Shin melihat wajah marah Nana dan tersenyum. Dia menyukai ekspresi gadis itu sekarang. Ekspresi ini lebih menyenangkan dari pada ekspresi nafsu nya saat melihat pria.


Shin memegang tangan Nana dan mengajaknya duduk di bangku yang dekat dengan posisi mereka.


"Dulu tempat ini sangat ramai. Di sana ada beberapa pohon dengan dedaunan yang lebat. Ada taman bunga di tepian jalan. Lalu lampu jalanan ini juga tidak rusak seperti ini. Kursi yang kita duduki ini penuh dengan orang-orang yang ingin bersantai. Jalan setapak ini dipenuhi oleh orang yang berjalan santai dengan peliharaan, teman atau keluarga mereka, bahkan beberapa dari mereka juga berolahraga di tempat ini. Lalu di depan kita ada sebuah kolam yang dipenuhi dengan ikan mas. Dulu sekali taman ini cukup terkenal" kata Shin nostalgia.


Aku mengernyitkan kening. Aku melihat area yang Shin tunjuk. Memang ada beberapa pembatas di dekat jalan yang penuh dengan tanaman mati. Lalu di depan kami ada lubang besar dengan tanah kuning, aku kira kolam itu sudah mengering.


"Apa yang terjadi?"


"Tempat ini dulunya taman. Pemandangan nya sangat indah. Sekarang juga masih indah kalau kita perhatikan lagi, kau tahu?"


"..." aku tidak mau menjawab pertanyaan bodoh itu.


"Ya. Tempat itu masih indah saat ayah dan ibuku masih bersama. Saat mereka bercerai, ibu langsung membuang tempat ini. Dahulunya mereka membuat tempat ini sebagai kenangan mereka. Jadi mereka membuang semuanya saat kenangan mereka hancur." jelas Shin dengan wajah datar.

__ADS_1


__ADS_2