
Bel pulang pun berbunyi. Hari ini aktivitas ku di sekolah cukup damai. Bahkan Lista sama sekali tidak menghampiri ku yang membuat ku sedikit merasa aneh.
Perasaan ini seperti dimana kau sudah bersiap-siap menghadapi bahaya, tapi bahaya itu malah mengabaikan mu.
Pikiranku bahagia ku karena bertunangan musnah sekarang. Saat aku harus menghadapi kenyataan bahwa ujian akan diadakan sebentar lagi.
Ini merupakan beban yang lumayan untuk otak pas-pasan milikku. Aku sama sekali tidak mengharapkan nilai tinggi. Tapi setidaknya aku bisa menghindari nilai rendah dan kelas remidi.
Kali ini aku masih menjadikan Rin supir kecilku. Jadi kami menyusuri lorong sekolah untuk menuju halaman depan. Rin masih mengantarkanku pulang dengan sepeda kecilnya.
Dari sini lah aku merasa situasi yang kuhadapi mulai aneh. Aku melihat bahwa semua murid memperhatikan ku lalu mereka berbisik di antara mereka sendiri. Walaupun mereka berbisik, aku masih bisa mendengar mereka menyebut kan kata "pertunangan".
Lalu yang lebih mengejutkan nya lagi terjadi saat aku bertemu dengan guru kimia kami. Sang guru menatapku sambil tersenyum. "Selamat atas pertunanganmu. Jangan lupa undang gurumu ini di pesta kalian"
Uhuk! Aku langsung tersedak!
Bagaimana.... bagaimana seorang guru bisa mengatakan hal seperti itu...
"Tapi tetap ingat untuk belajar saat ujian. Jangan terlalu sibuk berpacaran" katanya lagi.
Aku hanya mengangguk dengan kaku.
Sang guru pun melanjutkan perjalananya. Tapi aku masih bisa mendengar gumamannya. "Bagaimana anak-anak muda zaman sekarang sudah bertunangan secepat itu. Aku bahkan belum menemukan istri. Ha~" lalu dia mengangkat jarinya dan bergumam lagi. "Mungkin saja gadis itu hamil. Tapi itu terlalu cepat"
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Hei! Bagaimana kau bisa mengatakan hal absurd seperti itu di depan objeknya. Walaupun kau bergumam aku masih bisa mendengar nya oke. Apa guru itu sengaja?
Dan bagaimana dia bisa mempunyai pikiran kalau aku hamil? Ini benar-benar gila!!!
"Nana? Kau baik-baik saja" Rin tiba-tiba menegurku sambil menepuk bahuku. Aku pun tersadar dari semua lamunan bodohku.
"Em" aku mengangguk.
"Jangan terlalu dipikirkan. Pikiran mereka berlebihan karena mereka tidak tahu tentang dirimu" kata Rin.
Hahaha
Aku tertawa kecil. "Tenang saja. Aku tidak terlalu memikirkan nya. Aku hanya bingung kenapa berita pertunanganku menyebar dengan cepat. Anak-anak di kelas kita mempunyai mulut ember" kataku cemberut.
"Tapi lupakan itu semua. Sekarang kita hanya perlu fokus dengan ujian bodoh itu" kataku dengan mata bersemangat.
Aku pasti lulus ujian.
Aku tidak akan pernah menyentuh kelas remidi.
Aku ingin menikmati liburanku!
Aku sudah sangat bertekad tentang itu!
"Aku akan membantumu" kata Rin sambil tersenyum.
Senyum sang dewi benar-benar membuatku nyaman. Refleks aku memeluk leher Rin "Terima kasih angel~"
Blush! Wajah Rin langsung memerah.
"Um...aku bukan angell..." katanya menyangkal dengan nada malu-malu.
__ADS_1
"Tapi kau angel milikku" balasku cepat
Hari ini pun berakhir.
Aku kembali dengan selamat ke rumah dan mulai persiapan untuk ujian.
Sesekali aku akan ikut belajar kelompok bersama kelompok belajar kami.
Ternyata hari-hariku baik-baik saja sejauh ini. Tiga hari sudah berlalu dan tidak ada kejadian yang mengejutkan. Aku bersekolah seperti biasa. Bahkan Lista sama sekali tidak menyentuhku. Walaupun kadang-kadang aku tetap menjadi pusat perhatian saat berbicara berdua dengan Shin.
baiklah, ini bagus. Aku bisa fokus belajar karena hari-hari damai ini. Bahkan aku mulai merasa pemahaman ku tentang materi pelajaran cukup membaik.
Sampai di hari kelima, H-3 hari ujian, tiba-tiba kedatangan seorang tamu tidak terduga di rumahku.
Awalnya aku tidak menyadari apapun sampai ibuku menyeret ku turun ke lantai bawah. Dan di ruang tamu, aku melihat Shin duduk dengan elegan sambil mengobrol santai bersama ayahku.
Mataku membelalak kaget.
Apa yang dilakukan orang ini berkunjung ke rumahku malam-malam?!
Ayahku menyuruhku turun dan bergabung dengan mereka
"Shin datang untuk membantumu belajar"
Uhuk! Aku langsung tersedak.
Kenapa bocah ini tiba-tiba berinisiatif untuk membantuku belajar? Ini sangat aneh! Pasti ada sesuatu yang disembunyikan nya!
"...."
Aku sama sekali tidak merespon perkataan ayahku karena otakku mulai berpikir banyak hal.
Uhuk! Aku tersedak lagi.
Aku menatap sumber suara yang tak lain adalah ibuku.
"Bagaimana mungkin aku membiarkan orang asing masuk ke kamarku?!" tolakku refleks.
Tapi dalam sekejap aku mendapat balasan yang cukup mengerikan.
Stare! Ayah dan Ibuku mulai menatapku dengan tatapan dingin.
"Apa maksudmu orang asing? Dia tunanganmu"
"Jangan bersikap tidak sopan seperti itu"
Dua orang tua itu langsung menceramahi ku.
"...."
Tanpa persetujuan dariku, ibuku menarik Shin "Ayo nak Shin. Kita ke kamar Nana. Kalian bisa mengobrol dengan bebas di sana."
Shin sama sekali tidak menolak. Akhirnya kedua orang itu menuju ke lantai atas.
Mau tidak mau aku harus menyusul mereka.
Walaupun aku suka pria tampan. Aku tidak setuju Shin masuk ke kamarku kali ini. Kenapa? Karena ada banyak sekali barang random dan aneh di kamarku. Kalau ketahuan bagaimana? Aku tidak bisa membayangkan nya. Apalagi aku belum berkemas, arghhh!
__ADS_1
Setelah membawa Shin ke kamar Nana, Ny. Fent langsung mengundurkan diri "Bibi akan membuat cemilan untuk kalian dulu" Lalu Brak! Menutup pintu, dan meninggalkan kedua orang itu di dalam.
Shin dengan santainya duduk di kasurku. Laku dia melambaikan tangannya ke balik pintu.
"Aku tidak menyangka kau punya hobi aneh seperti ini"
Aku langsung melihat barang yang ditunjuknya. Ternyata itu adalah majalah pria dewasa yang baru saja kubeli dua hari yang lalu. Ada pria bertelanjang dada dengan perut kotak-kotak di sampul depan. Dan majalah itu dipenuhi dengan banyak sekali pria tampan dan seksi.
Aku refleks langsung mengambilnya dan menyembunyikan.
Tapi Shin langsung berkata "Serahkan padaku"
"Eh?"
"serahkan"
"Untuk apa?"
"Kalau kau tidak mau, aku akan memberi tahu bibi setelah ini"
Sialan! Bocah ini mulai menggunakan mode mengancam. Ada apa dengannya?
Akhirnya dengan berat hati aku menyerahkan majalah itu pada nya.
Mungkin dia hanya penasaran bukan?
Tapi Shin hanya menyentuh majalah itu sedetik. Dia bahkan tidak melihatnya Dan SRAK! Dengan santainya dia merobek majalah itu menjadi dua. Lalu melemparnya ke tong sampah yang ada di samping meja belajarku.
Deg! Aku sangat terkejut! Seketika hatiku terasa robek. Majalah itu sudah kuanggap sebagai harta karun. Terlebih lagi itu edisi terbatas. Bagaimana dia bisa merusaknya tanpa rasa bersalah seperti itu.
"Bagaimana kau bisa melihat banyak sekali tubuh pria seperti itu. Kau tunanganku. Aku tidak ingin kau melihat pria lain"
Deg! Jantungku berdetak lagi. Tapi kali ini tidak sakit, melainkan terkejut.
Apa maksudnya?
Apa dia cemburu?
Sungguh?
"Eh? Apa kau cemburu?" aku langsung bertanya.
"Aku tidak cemburu. Kenapa aku perlu cemburu pada benda mati" jawabnya sok bijaksana.
Mataku langsung berkaca-kaca. "Iya. Untukmu itu benda mati. Tapi itu harta karun bagiku. Bahkan majalah itu adalah edisi terbatas. Kau bahkan merusak nya seperti itu. Kau tidak tahu rasanya kehilangan benda yang perlu kau dapat kan dengan penuh perjuangan. Jahat..."
Shin mengernyitkan keningnya "Bukan begitu." Ada sedikit rasa bersalah di hatinya. Tapi Shin tetap bersikap seolah-olah dia tidak salah "Perlakuanmu itu tidak dibenarkan. Bagaimana bisa buku sampah yang penuh tubuh telanjang itu adalah harta karun"
"Itu harta karun untukku oke. Lagipula bagaimana aku bisa melihat bentuk keindahan seperti itu kalau tidak dari gambar. Dan mereka tidak telanjang. Setidaknya mereka masih memakai celana. Kau sama sekali tidak masuk akal!"
"Kau bisa melihat yang asli. Kenapa perlu gambar"
"Eh?"
Mataku langsung berbinar. Perkataannya memang benar. Kalau bisa melihat yang asli kenapa harus melihat gambar. Lagipula bentuk asli pria tampan saat ini ada di depan mataku! Dan dia adalah tunanganku!
Ah~ aku benar-benar senang.
__ADS_1
"Memang benar. Aku hanya perlu melihat yang asli..."
Shin bergidik. Dia melihat mata Nana yang seperti pemangsa karnivora yang menatap tubuhnya dari atas ke bawah. Entah kenapa dia mulai menyesali perkataannya. Dia benar-benar salah bicara kali ini.