Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Menghabiskan Waktu Bersama (2)


__ADS_3

Aku sekali lagi berkata dengan nada penuh ragu. "Tapi ini sama sekali bukan ulang tahunku..." kataku pelan.


Darwin hanya memberiku senyum polos. "Kami tidak merayakan ulang tahunmu. Ini semua hanya perayaan kecil karena kau berhasil melewati ujian sekolah" katanya kemudian, yang membuatku semakin mengernyit bingung.


"Aku memang bisa mengerjakan ujian itu, tapi..." kata-kataku terhenti sebentar "kita bahkan belum mengetahui hasilnya. Aku bahkan tidak tahu apakah aku lulus atau tidak. Bagaimana kalian bisa membuat perayaan untuk hal yang tidak pasti seperti itu?"


"Hahaha!" Darwin tertawa. "Kau lupa akan satu hal kelinci kecil" katanya sambil menatap Shin dengan nakal, lalu dia menujuk Shin dengan tangannya "Orang ini anak kepala sekolah. Dia tahu hasilnya lebih dulu"


Mataku membelalak kaget dengan mulut terbuka. Aku langsung menghampiri dan mencengkram erat kedua lengan Shin tanpa sadar. "Apa aku benar-benar lulus?!" tanyaku antusias dengan mata berbinar. Aku bahkan tidak sadar bahwa aku mencengkram lengan Shin dengan keras.


Shin mengernyit kesakitan. Dia tidak menyangka gadis bodoh ini mempunyai kekuatan cengkraman yang kuat.


"Bisakah kau melepaskanku dulu?"


"Ah!"


Aku tersentak kaget dan langsung melepaskan tanganku dari lengannya.


"Maaf, aku terlalu bersemangat hahaha" kataku cengengesan.


Shin memasang wajah datar tanpa ekspresi. Dia melipat kedua lengannya di dadanya.


"Aku melihat daftarnya dari ibuku" jawab Shin dengan singkat dan jelas.


Mataku langsung berbinar mendengar perkataan Shin. "Bukankah berarti aku lulus ujian? Uang jajanku....Aku juga bisa liburan. Pria tampan tunggu aku..." gumamku tanpa sadar dengan suara gemetaran tidak percaya.

__ADS_1


Shin mendengar perkataan Nana, wajahnya langsung berubah masam. Tapi itu hanya sebentar sebelum ekspresinya berubah menjadi datar kembali. Dan tentu saja Darwin dan Nana tidak memperhatikan hal itu.


"Uhuk! Uhuk!" aku mulai berpura-pura batuk saat aku sadar bahwa aku bergumam hal yang bodoh lagi.


"Tapi apa aku benar-benar lulus ujian dan tidak akan ikut kelas remidi?" tanyaku sekali lagi untuk memastikan.


Shin mengangguk pelan. "Aku tidak tahu berapa nilaimu. Tapi namamu ada di daftar murid yang lulus" jawabnya kemudian.


"Yeay!"


aku  berteriak senang. Ini pertama kalinya dalam hidupku aku tidak ikut kelas remidi. ternyata benar kata pepatah, manusia akan menunjukkan kekuatan mereka yang sebenarnya saat mereka terdesak. Aku dalam situasi yang sangat terjepit saat itu. Uang jajanku terancan. Liburanku juga. Bahkan aku tidak bisa mencuci mata untuk melihat hal yang indah kalau aku ikut kelas remidi selama liburan musim panas. Membayangkannya saja membuatku merinding ngeri.


Di dunia asalku aku sama sekali tidak memiliki motivasi untuk belajar. Sehingga aku selalu mengikuti kelas remidi. Tapi entah kenapa keajaiban selalu terjadi...um...maksudku aku bodoh, tapi aku bisa naik kelas. Bahkan bisa naik di tingkat SMA dengan waktu yang normal seperti murid lainnya.


'Ngomong-ngomong, akhir-akhir ini dia tidak memberiku tatapan jijik lagi. Apa dia sudah mempunyai kesan baik tentang diriku?' pikirku sambil menatap Shin lekat-lekat dan mulai terpesona dengan wajah sempurna itu.


Shin mengernyitkan kening saat melihat Nana menatapnya.


"Ada apa?" tanyanya.


Lamunanku langsung buyar saat bibir indah Shin bergerak. "tidak apa-apa. Tidak apa-apa" aku menggelengkan kepalaku dengan cepat.


Mata Darwin menyipit. Dia sadar bahwa suasana antara kedua orang itu sedang baik alias romantis. Jadi dia tersenyum licik sambil memikirkan beberapa rencana di kepalanya.


"ngomong-ngomong Nana, ini semua rencana Shin" katanya spontan yang membuat Nana sekali lagi mengerjap kaget.

__ADS_1


Aku menatap Shin tidak percaya. "Sungguh?"


Shin tidak menjawab Nana dan menatap tajam Darwin dengan tatapan membunuh.


Darwin merasa tidak nyaman dengan tatapan dingin itu dan bergidik ngeri. Tapi dia tetap membuka mulutnya dan berkata. "Shin datang kepadaku dan mengatakan bahwa kau berhasil lulus ujian kelinci kecil" kata Darwin. Dia mengerjap sebelum melanjutkan "Lalu dia bertanya apa yang harus kita lakukan"


"Kau yang merencanakan pesta ini" potong Shin dingin.


Darwin mengangguk. "Aku hanya mengurus pestanya. Tapi bukankah kau yang punya niat dari awal untuk memberikan kelinci kecil perayaan?" kata Darwin. Walaupun dia ketakutan, dia masih tersenyum nakal pada Shin.


Tatapan Shin semakin tajam. Aura membunuh mulai keluar dari tubuhnya. Darwin menyadarinya dan menjadi ketakutan. Sahabatnya benar-benar marah kali ini! Apa yang harus dia lakukan sekarang?


Tapi otaknya bekerja dengan cepat. "Melarikan diri" adalah jawaban yang melintas langsung di pikirannya.


Darwin meletakkan kue yang dipegangnya di atas meja. "Ah! Aku ingat aku ada urusan. Aku harus menemani adik perempuanku berbelanja. Dia sangat galak, kalau aku terlambat dia akan mencakarku. Jadi sampai jumpa kalian berdua. Shin kau bisa menelpon supirmu atau taxi nanti" kata Darwin cepat. Dia tidak memberikan kesempatan pada Shin untuk membalas ucapannya.


Dan Syuuu! Dengan cepat Darwin menghilang dari kafe itu, meninggalkan Nana dan Shin berdua. Walaupun Darwin cukup takut dengan Shin. Dia yakin dia akan selamat. Lagipula kalau terjadi apa-apa padanya, dia akan melapor pada Bibi, Ibu Shin, tentang semua aib Shin.


"Hahaha!" Darwin tertawa memikirkan semua itu. Lagipula dia harus punya tameng untuk berjaga-jaga kalau bergaul dengan binatang buas. Dan orang tua dari binatang buas itu adalah pilihan yang tepat.


***


Mata Shin mengecil saat dia melihat siluet Darwin menghilang. Dia benar-benar membenci bocah itu. Bagaimana dia bisa mengatakan semua hal yang tidak masuk akal dan memalukan itu. Dia ingat kejadian yang sebenarnya. Dia hanya berkata bahwa gadis bodoh itu lulus. Dan Darwin menyarankannya untuk mengadakan pesta. Dia awalnya menolak. Tapi Darwin berhasil membujuknya dengan mulut beracunnya itu. Mengatakan bahwa semua ini adalah kewajiban seorang tunangan. Dengan bodoh dia menyetujuinya.


"Lagipula sejak kapan anak sialan itu mempunyai adik perempuan" kata Shin sambil menggertakan giginya, benci

__ADS_1


__ADS_2