Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Quality Time with Friend


__ADS_3

Hari ini aku kembali. Taksi itu mulai pergi kembali saat menurunkanku di depan mansion. Akhirnya, aku bisa tidur dengan nyaman di kamarku kembali.


Walaupun pengalaman liburan kali ini tidak terlalu menyenangkan, ada beberapa saat dimana itu menyenangkan. Jadi liburan kali ini tidak terlalu buruk juga kalau dipikir-pikir.


Aku langsung masuk ke dalam mansion. Kepala pelayan sudah menyambut ku di depan.


"Selamat datang nona" katanya sopan.


Aku mengangguk dan memberikan koperku padanya. Kamarku di lantai dua, jadi aku ingin dia membantuku untuk membawa koper ke atas.


Rumah ini sepi seperti biasanya. Tidak ada tanda keberadaan siapapun karena semua orang sibuk bekerja di jam ini. Akulah yang paling sering menghuni rumah ini karena aku masih sekolah dan tidak memiliki kegiatan apapun. Mungkin saat aku lulus dan menjadi wanita dewasa, rumah ini tidak akan memiliki penghuni.


Aku pun akhirnya sampai di kamar kesayangan ku. Setelah kepala pelayan membawa masuk koperku dan meninggalkan kamar, aku segera menutup pintu kamar dan melemparkan tubuhku di atas kasur. Lalu berguling-guling di atasnya. Aku hanya pergi sebentar, tapi aku sudah merindukan tempat tidurku.


Setelah lelah berguling, aku menatap langit-langit kamar. Aku mengantuk dan ingin tidur lagi. Padahal aku baru saja bangun beberapa jam yang lalu.


Tapi, saat aku memutar mataku, aku menemukan sesuatu yang mencolok di atas meja belajar. Ada sebuah kotak kecil cantik dengan gulungan kertas kecil di bawahnya.


Aku pun buru-buru bangkit untuk mengambil kotak itu dan melihat isinya.


Eh? Ada kartu ATM di dalamnya. Siapa yang memberikannya?


Aku mengambil kertas kecil itu dan membacanya.


"Aku, ayah dan ibu sedang liburan. Kami tidak akan kembali selama dua Minggu. Karena kau sedang pergi liburan dengan tunangan mu, kami tidak bisa mengajakmu. Ada uang jajan di dalam kotak. Oh iya, pin nya tanggal ulang tahunmu. Bye"


"..."


Aku mematung sesaat setelah membaca pesan singkat itu. Sebelum akhirnya aku berteriak frustasi. "Pembohong!"


Dengan tangan gemetar karena manahan amarah, aku mulai menggulung kertas itu dan memasukkannya ke dalam tong sampah.


"Apa-apaan ini? Sebelum nya mereka mengancamku. Kalau aku tidak lulus ujian, mereka tidak akan mengajakku ikut. Padahal aku sudah lulus dan tidak ikut kelas remidi tapi mereka tetap meninggalkan ku! Bukankah ini tidak adil! Aku juga ingin liburan..." aku mengomel dengan wajah cemberut. "Padahal aku hanya liburan ke pulau selama beberapa hari. Seharusnya mereka menungguku..."


Aku merasa kesal dan marah. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, aku ternyata cukup egois. Aku seharusnya dari awal hanya bisa memilih salah satu. Liburan dengan Shin atau dengan orang tuaku. Aku dengan percaya diri memilih Shin, jadi seharusnya aku sudah tahu bahwa ada kemungkinan ditinggal sendirian.

__ADS_1


Aku melihat kartu ATM di depanku dan mengangkat nya ke atas. Setidaknya mereka memberiku uang jajan. Jadi tidak masalah.


Aku tidak jadi tidur setelah membaca surat mengerikan dari kakakku. Rasa kantukku langsung lenyap tanpa pamit. Jadi aku mengisi waktu ku untuk menonton drama dan juga makan cemilan.


Sampai akhirnya Shin menelponku dan memberitahu perkembangan kasus itu. Pelaku itu akhirnya mengaku dan akan dipenjara. Saat mendengar nya aku merasa lega dan senang.


Aku pun berterima kasih pada Shin. Tapi pria itu tiba-tiba memutuskan telepon nya. Aku pikir dia tidak menyukai ucapan terima kasih dariku? Atau dia sibuk? Atau sinyalnya sedang jelek?Entahlah


***


Keesokan harinya, aku merasa bosan. Aku menelpon Rin, ingin mengajaknya jalan-jalan. Aku rindu Rin, sungguh. Awalnya aku kira dia tidak akan mengangkat telpon ku karena sibuk bekerja. Tapi dia mengangkatnya.


"Rin~" aku berkata dengan nada manja.


"Nana, kau sudah kembali?"


"Em, kemarin. Aku ingin mengajakmu untuk bertemu. Tapi kau sibuk..." kataku sedih.


Rin terdiam selama beberapa detik sebelum menjawab. "Hari ini pekerjaanku yang satunya lagi libur. Jadi kita bisa ketemuan nanti malam" Rin menjawab.


"Um...sekarang aku masih bekerja. Kau bisa menemuiku saat jam pulang oke"


"Oke, oke. Sampai jumpa nanti Rin. Maaf menganggu waktumu. Bye bye"


Saat aku mulai mengakhiri panggilan, Rin mengirimkan alamat tempat nya bekerja padaku. Baiklah, aku akan menghampiri nya nanti.


Waktu berlalu dengan cepat. Aku sudah memanggil taksi untuk menuju ke restauran tempat Rin bekerja. Ini adalah pertama kali nya aku datang ke restauran ini. Restauran ini terlihat mewah dan elegan, kelihatannya harga makanan di sini sama sekali tidak murah.


Aku bisa melihat Rin melambaikan tangan padaku. Lalu ada seorang pria yang sangat familiar disampingnya.


"Senior Ken?" aku mengerjap tak percaya. Kenapa Ken ada disini?


"Halo" Ken tersenyum manis.


Astaga! Dia sangat tampan~

__ADS_1


"Apa yang sedang senior lakukan disini? Bersama Rin?" aku menatap kedua orang itu dengan tatapan penuh selidik. Aku hampir bertanya, apa kalian berpacaran, tapi tidak jadi karena Rin menjawabku dengan cepat.


"Senior juga bekerja di tempat yang sama denganku!" Dia memandang ke bawah, berusaha menyembunyikan wajah malunya.


"Di restauran ini?" aku mengerjap tak yakin. Untuk apa Ken bekerja di tempat seperti ini? Ken bukan orang yang membutuhkan pekerjaan seperti orang normal lainnya. Lalu aku tersadar.


Kenapa aku sangat bodoh? Tentu saja ini salah satu langkah untuk mendekati Rin! Aku tidak ingat ada adegan seperti ini di dalam komik. Tapi hubungan Rin dan Ken sudah lebih jauh dari pada hubungan Rin dan Shin.


Apa Shin benar-benar akan dibuang oleh Rin sekarang?


"Kalian ingin bermain?" tanya Ken kemudian.


Lamunanku langsung buyar. "Ya, aku ingin mengajak Rin jalan-jalan. Karena dia selalu bekerja, sangat sulit menemukan waktu yang tepat untuk bersama dengannya. Aku juga ingin menghabiskan waktu liburan dengan Rin. " aku berkata dengan wajah cemberut.


Rin tersenyum. "Aku juga ingin menghabiskan waktu liburan dengan mu." Dia menghela napas kecewa. "Kuharap aku punya banyak waktu luang" dia berkata dengan wajah sedih


"Tidak apa-apa. Aku akan mengajakmu jalan kalau kau ada waktu luang oke. Liburan ku sudah selesai sekarang. Aku tidak melakukan apapun di rumah, hanya menunggu waktu liburan selesai." kataku. Aku jadi sedikit sedih saat mengingat Keluarga yang meninggalkanku pergi liburan.


"Tentu saja" Rin menjawab dengan senyum manisnya. Aku terpesona lagi. Bagaimana bisa ada orang secantik dan selembut ini? Kalau aku seorang pria, aku benar-benar akan jatuh cinta padanya. Sayangnya aku seorang wanita normal. Tentu saja aku lebih memilih pria tampan sebagai target normal.


Aku segera membuka ponselku untuk memanggil taksi. Tapi Ken menghentikan ku.


"Apa kalian akan pergi dengan taksi? Ingin aku mengantar kalian?" dia bertanya.


Aku baru saja membuka mulutku, tapi Rin menjawab lebih dulu. "Itu akan merepotkan..."


"Tidak apa-apa. Aku juga sangat bosan hari ini. Setelah selesai kerja aku tidak punya kegiatan apapun lagi" katanya sedih. "Kalau bisa aku juga ingin ikut dengan kalian"


"Tidak masalah" kataku percaya diri.


"Nana" Rin menatap ku dengan mata tidak setuju tapi wajahnya memerah malu. "Kita akan merepotkan senior kalau kita melakukan nya."


Aku menatap Rin yang sedang menutupi wajah malunya. Apa ini yang namanya malu-malu kucing. "Tapi senior Ken tidak merasa kalau itu merepotkan. Dia bahkan merasa senang" kataku blak-blakan.


"Nana benar" Ken menimpali.

__ADS_1


Akhirnya Rin kehilangan kata-kata dan mengangguk pelan. "Baiklah ..."


__ADS_2