
Mentari pagi menyapa menemani langkah kaki Nada menyusuri lorong kampus yang terlihat sepi hari itu. Nada teringat bahwa dia sudah ada janji dengan dosen pembimbingnya untuk membahas judul skripsi yang akan ia buat.
"Selamat pagi Pak" Nada mengetuk gugup pintu ruangan yang sedang terbuka. Dilihatnya Pak Rahmat yang sedang sibuk memainkan ponsel di bangkunya. "Masuk" Perintah Pak Rahmat sambil melirik sekilas pada Nada. Nada mengambil tempat duduk tepat di depan dosennya. Dengan mantap ia memberikan berkas skripsi untuk segera diperiksa oleh laki laki paruh baya tersebut.
__ADS_1
Pak Rahmat mengambil dan mengamati kertas kertas yang diberikan gadis berjilbab biru itu dengan seksama. "Okeee saya suka judulnya, kamu bisa lanjut bab 2 yaa" Nada tersenyum riang mendapat angin segar akan masa depan kuliahnya. "baik Pak terimakasih. secepatnya akan saya kerjakan bab 2 nya" Nada beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan ruang dosen pembimbingnya itu. Tak sabar ia ingin cepat cepat menyelesaikan skripsi dan lulus untuk melanjutkan cita citanya kuliah S2 di luar negri. Rasanya sangat menyenangkan bila ia bisa menikmati hari hari menjadi mahasiswa di Kanada.
"De, ayah minta tolong boleh?" tanya ayah di sela makan malam keluarga yang dimana ada ayah, bunda dan ka melody, kaka perempuan satu satunya nada yang hanya terpaut umur 2 tahun darinya. "tolong apa yah?" tanya Nada penasaran. "untuk 1-2 bulan ini bantuin ayah dulu yaaa urus kantor, ayah lagi keteter banget nih ngurusin laporan bulanan yang kemaren sempet ga beres. bisa yaaa de" pinta ayah sambil memandang wajah putri bungsunya itu. "ka melody ga bisa yah?" Nada melirik kakanya yang sedari tadi asyik menikmati makan malamnya. "kaka lagi sibuk ngajar de apalagi sekarang udah mau UAN, kaka pasti lagi sibuk banget bikin materi ujian, ga tega ayah ganggu kerjaan kaka km" Melody tersenyum penuh kemenangan sementara sang adik menunjukan wajah murungnya karena merasa tak ada pilihan lain selain menuruti permintaan ayahnya itu. Nada mengangguk lemah pertanda bahwa ia terpaksa menuruti keinginan ayahnya untuk membantu pekerjaan kantornya. Ayah Nada seorang pengusaha restoran sunda yang sudah memiliki puluhan cabang di Indonesia. Dari 0 ayah dan bunda Nada berjuang untuk mengembangkan usaha yang mereka jalani. Jatuh bangun suka duka sudah mereka lalui demi bisa bertahan hidup dan mempertahankan aset yang mereka punya. Saat memulai usaha restoran itu Nada dan Kakanya masih balita, ayah Nada sibuk mencari investor yang bersedia untuk mewujudkan impiannya memiliki usaha yang bisa membuat anak dan istrinya bahagia. Rugi ratusan juta rupiah pernah dialami sehingga ayah Nada harus rela menjual rumah yang mereka tempati demi bertahan hidup. Ditipu rekan bisnis sampai karyawan yang bermain curang sudah mereka lalui. Mereka masih bertahan sampai saat ini karena kerja keras dan selalu memegang teguh iman mereka untuk percaya bahwa Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan umatnya.
__ADS_1
"ini rekap bulan kemaren dari cabang jakarta barat, tolong diselesaikan yaaa. kalau bisa lusa harus selesai." seorang laki laki tiba tiba menghampiri meja kerja Nada dengan membawa setumpuk map yang ia taksir jumlahnya ada puluhan lembar. "maaf mas kalo lusa saya ga janji yaaa. yang ini aja belom selesai." protes Nada sambil mengarahkan mata ke laptop dihadapannya. "tapi ini harus segera selesai paling lambat lusa. karena masih ada laporan lagi dari cabang lain yang juga harus di periksa. mohon kerjasamanya ya" balas laki laki itu tanpa ekspresi. Nada menggerutu sepeninggal laki laki itu. enak aja dia main perintah perintah gitu. dia ga tau siapa gw ya Batin Nada dan dengan cepat ia mengucap istighfar karena sudah berkata sombong dalam hatinya. Dengan malas Nada membuka map map yang sudah bertengger manis di meja kerjanya. Diliriknya jam tangan dan ia sadar hampir saja ia melewatkan jam makan siang karena hari itu terlalu sibuk dengan laporan yang entah kapan selesainya. Ingin rasanya dia meninggalkan setumpuk map di hadapannya dan pulang kerumah untuk sekedar tidur tiduran dikasur empuknya. Nada rindu masa masa kuliah di kampusnya bahkan ia rindu pada bab bab skripsi yang sudah 1 minggu itu ia anggurin begitu saja.
"iya yah Nada masih di musholla sebentar lagi ke ruangan. iya yah tunggu sebentar" Nada mematikan sambungan telepon dan bergegas menghampiri ayahnya yang sedang menunggunya di ruang kerja.
__ADS_1
"assalamualaikum" Nada mengucapkan salam dan masuk ke dalam ruangan ayahnya dan disana ternyata sudah ada laki laki sombong yang tadi memberinya setumpuk pekerjaan. "waalaikumussalam masuk de" Nada mengambil tempat duduk di hadapan ayah dan tepat disamping laki laki yang ia ketahui bernama Rayhan. "laporan yang kemaren udah selesai belom de?" tanya ayah yang di balas dengan gelengan kepala oleh Nada. "Rayhan ini supervisor disini, kalo kamu merasa ada kesulitan tanya sama rayhan yaaa. tadi Rayhan cerita sama ayah kayanya kamu belom bisa nyelesein kerjaan yang ayah minta. makanya ayah mau kamu sama rayhan kerja sama untuk dengan cepat menyelesaikan seluruh laporan dari 5 cabang yang ada di Jakarta." Nada melirik sinis laki laki disampingnya. "maaf yah nada masih perlu waktu untuk adaptasi dengan laporan laporan yang ayah kasih". Nada mencoba protes ia tak mau membayangkan harus berbagi waktu dengan laki laki sombong itu untuk mengerjakan pekerjaan. diam diam rayhan memperhatikan gadis di sebelahnya dengan lekat. memperhatikan karakternya serta gaya bicaranya yang menurutnya sangat menarik.