ALGASA

ALGASA
Sampah Yang Terindah 2)


__ADS_3

"Mungkin benar, bila tanpamu mungkin aku tidak akan sempurna dan saling melengkapi."


...🌻ALGASA🌻...


Di sebuah kamar mandi, terdapat seorang lelaki yang kini sedang menatap dirinya di balik cermin, sambil mengacak-acak rambutnya.


Sial!


"Perasaan ... bungkusan permen itu gue buang disana? Tapi, kenapa bisa hilang begitu saja?" Ujarnya dengan kesal.


"Apa jangan-jangan! Gue kurang lebih teliti lagi carinya? Kalau begitu, gue harus cari lagi itu bungkusan permen." Ujarnya sekali lagi kepada dirinya sendiri.


Dengan tekad yang sangat kuat, Alga mulai mengaktifkan dirinya menjadi seorang detektif. Detektif untuk sebuah permen cokelat dari seorang gadis yang dirinya anggap murahan.


Katanya sampah, kok malah di cari-cari, sih? kalau sudah ada rasa bilang, jangan sok jual mahal.


Alga pun mulai tersenyum kecil di balik cermin, sambil menatap wajahnya yang sudah sangat berantakan.


"Kenapa dengan gue? Tenang, gue nggak suka sama dia kok. Gue hanya sayang sama permennya. Kelihatan-nya, permen pemberian dari gadis murahan itu sangat enak." Ujarnya sekali lagi dengan tidak jelas.


Suara bel yang mulai terdengar jelas di kedua telinga Alga yang sangat tajam. Dirinya pun mulai berjalan menuju kelasnya, sambil sesekali menatap ke arah kantin. Yah, kamar mandi dan kantin sangat dekat jaraknya, cuma hanya lima belas langkah besar saja.


'Tunggu gue, yah! Gue harap lu masih disana permen cokelat."' Batinnya, sambil menunjukkan senyuman kecil di wajahnya.


...🌻ALGASA🌻...


Di sebuah kelas yang mulai terasa dipenuhi oleh seluruh mahasiswa-mahasiswi. Mereka semua pun mulai berdiam dan mulai fokus kepada guru yang menjelaskan sebuah materi pelajaran di depan. Bu Nani.


Berbeda dengan seorang lelaki yang kini sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya tidak tenang, ingin sekali laki-laki itu kabur dari pelajaran Bu Nani sekarang. Karena pelajaran yang disampaikan bisa sampai satu jam lebih.


Dan ternyata benar saja! Akhirnya bel pulang pun mulai berbunyi, tapi sebuah pelajaran dari Bu Nani yang masih saja sedang berkicau di depan, mampu membuat semua siswa-siswi yang seharusnya sudah pulang dari tadi. Kini mereka semua harus terjebak dengan kata-kata alien yang sudah sangat membosankan.


"Baik, anak-anak sampai disini dulu penjelasan dari Ibu. Jadi kalian boleh pulang sekarang!" Jelasnya dengan tegas.


Alga yang mendengar perkataan gurunya, dirinya mulai berlari kecil ke arah keluar pintu. Sedangkan David yang melihat reaksi Alga hanya terlihat dengan sangat heran atas semua sikap sahabatnya.


"Kenapa itu anak? Buru-buru benar," Tanyanya, kepada dirinya sendiri.


David yang di tinggal sendirian, dirinya mulai berjalan ke arah tempat pakiran seorang diri, yang terdapat semua sahabatnya pada berkumpul di sana.


"Lu nggak sama Alga?" Tanya Putra dengan heran.


David yang di tanya pun, hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Nggak! Gue kira dia sudah kesini duluan, soalnya tadi dia buru-buru." Ujarnya, sambil menghela nafasnya dengan berat.


Putra mulai menganggukkan kepalanya, "Emang dia mau kemana?" Tanya Putra yang mulai ikut heran.

__ADS_1


David yang mendengar perkataan laki-laki di sampingnya, dirinya mulai menatapnya dengan tajam. "Lu tahu sendiri, gue kesininya nggak sama dia? Berarti gue nggak tahu dimana dia sekarang?" Jelasnya dengan kesal dan penekanan.


Putra hanya menganggukkan kepalanya, "Bilang dari tadi, kalau lu kesininya nggak sama dia?" Ucapnya dengan cengiran.


David yang mendengar perkataan sahabatnya, sungguh membuat dirinya pusing.


"Iyaudah, kita tunggu saja dia disini." Ujar Wisnu dengan tegas, sambil fokus kembali dengan handphonenya.


Berbeda dengan Dilan, dirinya sudah mengetahui apa yang dilakukan oleh seorang Alga, sahabatnya itu.


'Seberapa besar usaha lu itu, nggak akan pernah lu temukan, Ga! Karena barang yang sudah lu buang, telah menjadi milik orang lain.' Batinnya.


...🌻ALGASA🌻...


Alga pun mulai mencari bungkusan tersebut ke tempat sampah yang dimana dirinya buang dan Alga pun mulai mencarinya. Tanpa merasa dirinya akan kotor dan bsu nantinya.


"Sial! Dimana, sih, itu bungkusan? Ngerepotin gue mulu, kayak yang belinya." Ujarnya dengan kesal.


Seketika! Ada sebuah tepukan pelan di pundaknya Alga.


"Kak Alga, sedang cari apa?" Tanya seorang gadis manis yang kini sedang berdiri dari belakang punggung Alga.


Mampus!


Alga pun ulai membalikkan badannya dan merubah wajahnya yang seketika menjadi kasar.


Asa yang mendengar perkataan dari lelaki di hadapannya, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat.


"Kak Alga butuh bantuan? Kalau Kak Alga butuh bantuan, Asa dengan senang hati akan bantuin kok," tawar Asa dengan senyuman manisnya.


Alga yang mendengar perkataan dari gadis di hadapannya, dirinya pun mulai menatap wajah Asa dengan tajam.


'Kalau dia tahu, gue kesini untuk cari barang yang gue tolak dari dia! Bisa malu gue di hadapan dia.' Batinnya.


"Kak Alga, emang lagi cari apaan?" Tanya Asa sekali lagi, sambil memiringkan kepalanya sedikit.


Alga yang di tanya pun mulai salah tingkah.


"H–Hah, yah. ada cicak di dinding, gue lagi nangkap nyamuk." Ujarnya dengan gerakan mencurigakan.


Asa yang mendengar perkataan Alga mulai tertawa lepas, "Kak Alga aneh, mana ada cicak di sampah?" Ucap Asa dengan tersenyum manis.


Alga yang mendengar perkataan Asa, dirinya mulai mengrutukin atas semua kebodohan kepada dirinya sendiri.


'Bodoh! Bodoh banget gue!' Batin Alga memaki dirinya sendiri.

__ADS_1


"Terserah gue! Hidup-hidup gue, jadi lu nggak usah kepo. Awas! Gue mau lewat." Murkanya dengan datar, sambil menabrak pundak Asa dengan kasar.


Asa yang melihat tingkah Alga, dirinya mulai menatapnya dengan heran, dan mematung di tempatnya. Perasaan dirinya tidak melakukan apa-apa? Tapi, kenapa sampai membuat Kak Alga malah kesal seperti itu kepadanya?


"Kak Alga kenapa, sih? Asa'kan hanya menawar diri Asa untuk membantu saja kok. Tapi ... kenapa Kak Alga malah murka sama Asa?" Ucap Asa dengan heran sambil menghela nafasnya dengan berat.


Dengan langkah yang sangat berat, Asa mulai melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah.


Di satu sisi, seorang lelaki remaja kini sedang bersembunyi di bawah meja panjang di dekat turunan anak tangga.


"Selamat-selamat! Akhirnya, pergi juga itu gadis." Ujarnya dengan datar.


Alga yang melihat sekelilingnya mulai terlihat sepi, dirinya mulai berjalan kembali ke arah kantin, dan mencarinya lagi.


Sudah beberapa menit, bungkusan permen itu sudah musnah dengan sendiri, tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.


"Sial! Guekan cuma numpang taruh saja itu bungkusan di sampah. Malah, masih tetap di ambil saja." Ujarnya dengan kesal.


Sungguh, dirinya sekarang sudah bau aroma khas sampah yang melekat dengan sangat kuat di tubuhnya.


Dengan sangat lesuh dan dengan wajah yang kusut. Alga mulai melangkahkan kakinya menuju parkiran dengan sangat berat.


Semua sahabatnya yang masih setia menunggu Alga dan bertanya-tanya kepadanya, tapi sama sekali tidak ada lontaran jawaban dari seorang lelaki yang memiliki sifat layaknya seperti sebuah balok Es.


"Gue cabut duluan!" Pamitnya.


Setelah itu dirinya mulai menyalakan mesin motornya dan berjalan keluar dari halaman pakiran sekolah.


Semua sahabatnya yang merasa heran dengan tingkah Alga yang tidak seperti biasanya, mereka hanya memandang wajah satu sama lain.


"Kenapa itu anak?" Tanya Putra yang terlihat heran dengan sikap sahabatnya.


"Put! Lu kentut, yah?" Tuduh David yang mencium aroma mematikan di kedua hidungnya.


Putra yang dituduh, dirinya langsung mencium tubuhnya dan mulai menggelengkan kepalanya.


"Nggak! Aroma gue aja nggak bau, Lu kali?" Tuduh Putra balik.


"Apalagi gue! Kalau bukan lu, siapa yang kentut?" Tanyanya kepada yang lain.


Wisnu yang mencium aroma itu, dirinya tersenyum lebar.


"Tenang! Aroma ini nggak akan berdampak buruk kok. Malah akan berdampak positif nanti di salah satu antara kita." jelas Wisnu dengan lembut.


Putra dan David sama sekali tidak mengerti maksud sahabat lelakinya itu. Berbeda dengan Dilan, dirinya mengetahui ucapan Wisnu dengan sangat 100% tahu.

__ADS_1


Mereka semua pun mulai mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi dan meninggalkan halaman sekolah mereka dengan menelusuri daerah Ibu Kota Jakarta yang sangat luas.


__ADS_2