
"Mungkin saat ini, dirimu memang belum bisa mencintai diriku. Tapi! Percayalah, aku disini akan selalu menunggu dirimu sampai kapan pun itu."
...~Dilan Yesaya Abraham~...
...~Yesaya Megan Abraham VS Dilan Yesaya Abraham~...
Dilan Yesaya Abraham adalah lelaki yang sangat sempurna untuk para kalangan remaja wanita di sekolahnya. Tapi! Dirinya jarang sekali untuk membuka suaranya sedikit pun. Kecuali, Dilan akan membuka suaranya kalau ada seseorang yang mengusik ketenangan dirinya dan orang yang dirinya sayangi.
Hembusan angin yang berhembus dengan kencang, mampu menampar helaian rambut hitam lekat seorang remaja lelaki yang kini sedang berdiri di balkon kamarnya dengan tatapan nanar kepada rembulan.
Lelaki itu menghela nafasnya dengan sangat berat beberapa kali, sambil menatap ke arah rembulan dengan senyuman kecut.
"Seharusnya, yang mendapatkan perasaannya itu gue bukannya Alga. Tapi! Kenapa, dirinya malah menyukai seseorang yang selalu kasar kepadanya? Apakah gue kurang sebagai seorang lelaki untuk dirinya?" Gumamnya dengan datar.
Dilan sesekali menatap sebuah cokelat yang selalu dirinya simpan sebagai sebuah barang yang sangat berharga untuk hidupnya, dirinya tersenyum kecil sambil menatap cokelat itu dengan nanar.
"Sa! Selamat iya, lu sudah berhasil mendapatkan perasaan seseorang lelaki yang selalu kasar kepada lu. Karena, gue mengetahui bagaimana sifat sahabat gue, walaupun dia selalu bersikap kasar ke lu, tapi perasaannya nggak bisa berbohong."
"Jika lu sudah berhasil mendapatkan perasaan seseorang yang lu sukai, mungkin perasaan gue ini buat lu hanya sampai sini saja, Sa!" Gumamnya dengan lirih.
Mungkin, jika kita selalu ada untuk seseorang yang kita sayangi, apalagi kita mengetahui siapa orang yang ada di perasaannya itu akan sangat menyakitkan untuk kita. Sama halnya, seperti kita mencintai dirinya dalam diam tanpa seseorang itu sadari.
Malam ini adalah sebuah saksi untuk seseorang lelaki yang kini perasaannya lagi gundah gulana, dirinya hanya bisa menatap langit-langit yang kini sedang merasakan apa yang dirinya rasakan.
"Apakah gue harus menyerah sampai disini? Atau apakah gue masih lanjut untuk menahan perasaan ini kepadanya? Apakah gue masih ada harapan untuk mencintai dirinya? Jika gue mendapatkan dirinya, gue akan berusaha untuk membuat dirinya bahagia," Gumamnya kepada sebuah rembulan sambil tersenyum kecil.
Mungkin, malam ini adalah saksi untuk seorang lelaki yang sedang bingung tentang perasaannya. Berbeda dengan lelaki yang kini sedang tersenyum manis kepada rembulan yang menjadi saksi kepadanya.
"Lu pasti sudah mengetahui apa yang gue rasakan sekarang? Iya, lu benar! Gue sudah terjebak oleh perkataan gue sendiri, dan sekarang gue malah ingin sekali membuat dirinya selalu tersenyum. Walaupun itu dengan cara gue sendiri," Curhatnya kepada sebuah rembulan yang menjadi sebuah sahabat malam untuk dirinya.
Lelakit itu adalah Algasa Adistia Renanda, sesekali dirinya menatap sebuah boneka Annabelle yang sedang duduk manis di samping keranjang tidurnya.
"Mungkin, disaat gue bertemu dengan dirinya didalam kehidupan gue adalah sebuah horor yang selalu mengikuti gue kemana pun. Tapi sekarang! dirinya malah sebuah ketakutan di dalam kehidupan gue, yaitu takut kehilangan dirinya." Gumamnya sambil menatap kearah boneka Annabelle dengan tatapan lembut, dan dengan senyuman kecil.
Disebuah kamar yang berbeda tempat, dan berbeda pikiran satu sama lain. Rembulan dengan senang hati mendengarkan perkataan kedua lelaki remaja yang kini sedang merasakan apa itu sebuah namanya C.I.N.T.A.
Tapi! Kedua lelaki remaja itu tidak mengetahui satu hal, bahwa cinta itu akan secepatnya hilang seiring berjalannya waktu, dan ketika perasaan kita itu diisi oleh seseorang yang tidak pernah kita duga. Karena, cinta itu seperti sebuah angin yang sama sekali tidak terlihat sedikit pun dan tanpa permisi mereka singgah di dalam hati kita.
......••••••••......
Seluruh murid mulai menatap ke arah seorang gadis yang kini sedang menghormati sebuah tiang bendera merah putih, mungkin sudah 2 jam gadis itu berdiri dengan sangat setia disana.
__ADS_1
"Ga, lihat itu gadis yang ngejar lu kan? Tumben benar itu gadis dihukum?" Ujar Putra sambil menatap kearah gadis yang kini sedang menikmati keindahan cahaya matahari yang sangat terik.
"Ga! Gue melihat sesuatu!" Suara BomBom membuat semua sahabatnya pada menoleh ke arahnya.
"Apa? Gue nggak melihat ada cewek cantik tuh," Ucap Wisnu yang ikut nimbrung.
"Bukan itu! Jangan cewek mulu dipikiran kalian!"
"Terus, lu mau ngomong apa?" Tanya Alga.
"Gue melihat beberapa kali keringat gadis itu berjatuhan menyentuh tanah bumi," Ucap BomBom sekali lagi dengan heboh.
Alga yang mendengar perkataan dari laki-laki di sampingnya, membuat dirinya heran sendiri mempunyai teman yang bodoh seperti ini.
"Gila! Keren benar lu Bom, sampai bisa melihatnya dengan jelas, makan apa lu?" Tanya Putra yang penasaran dengan kekuatan laser sahabatnya.
"Makan wortel," Jawabnya dengan cengiran.
"Sudah? Pantesan selama ini gue nggak sampai melihat sedetail itu!" Gumam Putra dengan pelan.
"Emang lu makan apa?" Tanya Alga yang heran mendengar perkataan dari sahabatnya itu.
"Gue makan melihat cewek bening, makanya itu kalau masalah sepele kayak gitu nggak ada dipandangan gue," cengirnya tidak berdosa.
"Gila! Mending lu periksa sana syaraf kepala lu," Ujar Alga dengan datar, sambil meninggalkan sahabatnya sendirian ke arah kantin.
"Salah lu adalah punya otak kok mesum!" Ucap David dengan sinis sambil meninggalkan Putra sendirian yang diikuti oleh para sahabatnya.
Putra yang mendengar perkataan David dirinya tercengang lebar, "Dia nggak sadar diri ternyata, kalau dia juga mesum, Jaish!" Ucapnya dengan heran atas sifat sahabat satunya.
Alga yang melihat sahabatnya pergi ke arah kantin, kini dirinya mulai berjalan mendekati ke arah lapangan yang dimana seorang gadis sedang menghormati sebuah bendera.
"Sudah berapa lama lu berdiri?" Tanyanya.
Asa yang mendengar perkataan dari seorang laki-laki dari belakang punggungnya, kini dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat.
"Bu Saskia nggak adil sama Asa! Masa sampai sekarang Asa harus berdiri disini, yang ada bikin kulit Asa hitam!" Ujarnya dengan berat.
Alga yang mendengar perkataan dari gadis di hadapannya, dirinya mulai berdiri di samping Asa dan menatap ke arahnya.
"Lu istirahat sana, gue yang gantiin lu disini!"
Asa yang baru menyadari bahwa laki-laki itu adalah seorang yang dirinya cintai, kini dirinya tersenyum manis.
"Kak Alga ngapain disini? Kenapa nggak istirahat?" Tanya Asa heran.
__ADS_1
Alga yang tidak kuat melihat senyuman manis dari gadis di hadapannya, dirinya mulai fokus ke arah tiang bendera.
"Gue disini karena gue ingin menjadi anak bangsa yang berbakti kepada negaranya, dan lagipula gue sudah makan tadi!" Jelasnya dengan datar.
Asa yang mendengar perkataan dari laki-laki di sampingnya, dirinya hanya menghela nafasnya dengan berat.
"Gitu iya? Kirain Asa, Kak Alga kesini–"
Alga mulai menoleh kearah Asa, dan menatapnya dengan tajam.
"Ternyata, lu selalu berpikiran seperti itu iya tentang gue? Iya, gue disini karena ingin menggantikan diri lu!"
"Kenapa? Kenapa Kak Alga bersikap seperti ini kepada Asa?" Tanya Asa dengan heran.
"Karena gue nggak mau punya cewek yang kulitnya hitam," jelas Alga dengan datar.
"Kemaren, Kak Alga bilang akan menerima Asa apa adanya, bukannya yang ada apanya!" Dengus Asa dengan kesal.
"Itu benar, ngapain gue makan omongan sendiri? Nggak guna banget!"
"Terus? Kak Alga ngapain disini?" Tanya Asa sekali lagi.
Alga pun mulai menghela nafasnya dengan berat, dan menatap ke arah Asa dengan tatapan lembut.
"Gue nggak mau melihat seseorang yang gue sayang menderita, Sa! Biar gue saja yang menderita dan lu jangan," jelasnya dengan senyuman kecil.
"Lebih baik lu istirahat sana, keburu bel istirahat berbunyi." Ucapnya yang kembali datar.
Asa yang mendengar perkataan dari laki-laki di sampingnya, dirinya menghela nafasnya dengan berat.
"Emang'nya nggak apa-apa? Kalau Asa pergi ke kantin, dan Kak Alga disini?" Tanya Asa sekali lagi.
Alga menganggukkan kepalanya, "Udah sana! Daripada mood gue hilang lagi, lu yang berdiri disini, bagaimana?" Ujar Alga dengan datar.
Asa yang mendengar perkataan dari laki-laki di sampingnya, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat dan menatap kearah Alga dengan nanar.
"Yaudah, Asa pergi dulu! Kak Alga disini iya, nanti Asa kesini lagi kok." Jelas Asa yang merasa tidak enak.
Alga menganggukkan kepalanya dengan cepat, Asa yang mendapatkan persetujuan dirinya mulai pergi dari lapangan dengan berat.
Disatu sisi, ada seseorang lelaki yang kini sedang menikmati pemandangan yang sangat bikin perasaannya berdegup kencang, sambil sesekali mengepal kuat minuman yang ada didalam genggaman tangannya.
Laki-laki itu tersenyum kecut, sambil membuang botol minuman itu ke sampah dengan kasar.
"Mungkin benar, gue sudah nggak ada harapan lagi untuk menggapai dirinya!" Gumamnya dengan datar, sambil meninggalkan tempat itu dan menyusul dimana sahabatnya berada.
__ADS_1
"Apakah, karena sebuah nama cinta persahabatan yang selama ini dibangun akan hancur begitu saja?" Saksikan episode selanjutnya ...