ALGASA

ALGASA
ALGASA|Bab 42


__ADS_3

Citra dan Diana pun mulai berjalan memasuki kelas mereka, dengan sangat kasar mereka berdua mengusir semua teman-teman kelasnya pada keluar dari kelas. Dasa yang melihat semua kejadian di hadapannya, dirinya mulai mendorong kursi rodanya dengan sekuat tenaga, dan mengikuti semua para teman-temannya yang mulai berjalan keluar dari kelas.


Tapi, niatnya dihalangin oleh kedua gadis yang mulai berada di hadapannya dan menghalangi jalannya.


Citra tersenyum lebar. "Lu mau kemana?" Tanya Citra menatap ke arah Dasa tidak suka.


"Bukannya kalian berdua mengusir semua teman kelas? Jadi, Dasa hanya mengikuti teman yang lain untuk keluar dari kelas." Jawab Dasa.


Diana mulai tertawa kecil. "Ingin kabur, toh? Emang kita berdua boleh menyuruh lu pergi dari sini? Kami berdua aja belum melakukan apa-apa ke lu saat ini!?" Diana pun mulai beralih bermain ke kursi roda Dasa dengan kasar, dan mendorong kursi roda Dasa dengan sangat tidak manusiawi.


Dasa yang diperlakukan seperti bagaikan sebuah boneka oleh kedua gadis saat ini, dirinya mulai menatap mereka berdua dengan tatapan tidak suka.


"Kalian berdua kenapa melakukan hal seperti ini ke Dasa, hah? Perasaan Dasa tidak pernah berurusan dengan kalian berdua." Tanya Dasa heran.


Citra dengan sangat cepat, dirinya mulai menjambak rambut Dasa dengan sangat kuat.


"Lu tahu, gue paling nggak suka melihat cewek yang hanya memanfaatkan wajah cantiknya, untuk mendekati semua lelaki populer di kalangan sekolah ini." Jelas Citra dengan senyuman meremehkan.


"Ma-maksud, kalian apa? Dasa—"


Citra mulai berjongkok dan mencengkeram erat dagu Dasa. "Lu ingin tahu maksud kita berdua memperlakukan lu seperti ini? Ini hanyalah sebuah awal untuk lu, karena kita hanya masih main-main saja saat ini. Jujur, lu memiliki wajah yang sangat cantik, tapi sayangnya, sikap lu itu yang bikin gue muak." Jelasnya dengan senyuman kecil.


"Kalau lu berani menjadi benalu antara hubungan mereka berdua, gue nggak akan segan-segan memberikan pelajaran yang lebih parah daripada ini ke lu." Jelas Citra yang mulai membenturkan kepala Dasa ke arah tembok dengan sangat kuat.


Dasa yang merasa seluruh tubuhnya terasa sangat ngilu dan sakit yang sangat luar biasanya. Dirinya mulai memejamkan kedua matanya, sambil memegang kepalanya dengan sangat kuat.


Kedua gadis yang melihat reaksi dari tubuh lemah Dasa saat ini, mereka berdua hanya memberi senyum kemenangan, dan meninggalkan Dasa yang mulai tidak berdaya.


"Mau macam-macam sama kita berdua? Nggak akan sanggup lu melawan kita berdua dengan fisik lemah seperti ini." Serempak mereka berdua dengan tertawa kecil.

__ADS_1


Pintu kelas pun mulai terbuka lebar, terdapat empat lelaki saat ini diluar sana. Empat siswa yang memiliki tatapan berbeda satu sama lain, dan menunggu pintu itu terbuka dengan lebarnya kembali.


Dilan yang melihat Dasa terkapar di lantai, dirinya mulai berlari kecil menuju ke arah Dasa dengan sangat khawatir. Sedangkan, semua orang yang melihat kejadian tersebut, mereka hanya bisa mengikuti Dilan membawa tubuh Dasa ke UKS dengan tergesa-gesa.


Berbeda dengan Putra, kini dirinya mulai melangkahkan kedua kakinya untuk memberhentikan langkah kedua gadis yang bikin masalah saat ini. Putra pun mulai memberikan sebuah tatapan matanya dengan sangat kosong dan datar.


"Apa yang lu berdua lakuin sama gadis itu barusan?" Tanya Putra dengan menahan emosinya.


"Bukan urusan lu, gue nggak ada waktu buat meladeni semua jawaban yang tidak penting ini!" Jawab Citra penekanan.


"Apa lu nggak tahu, apa yang barusan lu perbuat, Hah? Itu bisa membunuh nyawa seseorang, dan itu bisa menjadi masalah besar buat lu nanti!"


Citra tersenyum kecil. "Citra hanya ingin tahu, siapa yang akan Abang pilih sekarang? Apakah Citra, adik kandung Abang sendiri? Atau malah Abang memilih persahabatan Abang?" Citra pun masih menatap tajam ke arah Putra dan melepaskan cengkraman tangan Putra dari lengannya dengan kasar.


Putra yang mendengar semua lontaran dari Citra, adik kandungnya. Dirinya hanya bisa menatap punggung Citra yang mulai menghilang dari hadapannya saat ini. Sebuah emosi yang sedari tadi dirinya tahan, kini dirinya mulai melampiaskan semua emosinya ke dinding dengan kesal.


"Mungkin, hanya gue seorang yang tahu tentang kehidupan lu yang sebenarnya. Walaupun lu berusaha untuk menyembunyikan identitas lu waktu itu ke gue maupun yang lain, tapi lu tidak bisa menyembunyikan selamanya di hadapan gue. Bahkan, gue penasaran, apa yang akan terjadi nanti ke depannya." Sebuah langkah yang sangat besar, dirinya mulai mensejajarkan langkahnya seperti seorang murid pada umumnya.


...***...


Alga yang melihat seorang gadis terbaring dengan wajah dan bibir pucat. Dirinya mulai berjalan mendekati gadis tersebut dan menggendongnya dengan sangat pelan.


Dok. Wahyudi— seorang dokter yang saat ini sedang berkunjung dan membantu salah satu dokter magang di UKS saat ini. Dirinya mulai menatap heran ke arah Alga dan mulai mendekati dirinya.


"Apa yang kamu lakukan? Letakan dia kembali ke tempat tidur pasien!" Pinta Wahyudi dengan penekanan.


Alga tidak menggubris perkataan Wahyudi, dirinya pun mulai melewati Wahyudi begitu saja, dan sebuah tangan kokoh mulai memberhentikan langkahnya saat ini, Alga pun mulai menatap seorang lelaki paruh baya di hadapannya.


"Saya tahu apa yang kamu khawatirkan, kebetulan saya juga spesialis bedah kanker, kamu bisa percaya dengan saya." Jelas Wahyudi sambil menatap tajam ke arah Alga.

__ADS_1


"Ruangan UKS nggak sepenuhnya lengkap dengan alat-alat yang dibutuhkan, karena UKS hanya tempat untuk pertolongan pertama saja!" Jelas Alga yang tidak mau kalah.


Wahyudi hanya menghela nafasnya dengan berat. Dirinya pun mulai memberikan jalan untuk Alga, dengan sangat cepat Alga pun mulai berjalan ke arah tempat parkiran dan meninggalkan kalangan sekolah.


Beberapa kali dirinya mulai membanting setir mobilnya, dan menatap ke arah Dasa dengan raut yang sangat takut kehilangan.


"Gue janji, Da! Gue nggak akan pernah meninggalkan lu sendirian, gue akan selalu bersama lu, Da! Disaat dimana lu melawan semua penyakit lu itu, gue akan selalu ada disisi lu." Ucap Alga yang mulai mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Di sebuah rumah sakit, dirinya mulai memanggil seorang dokter dan perawat untuk memeriksa keadaan Dasa. Alga pun mulai meletakkan Dasa ke tempat tidur pasien dengan sangat pelan.


Alga pun mulai mengisi setiap administrasi yang dianjurkan oleh perawat kepadanya, dan mulai berjalan mengikuti semua perawat yang membawa Dasa ke sebuah ruangan yang dipenuhi oleh bau obat yang sangat menyengat.


"Tuan silahkan tunggu disini saja, kami akan berusaha untuk mengatasi semuanya di dalam." Jelas seorang perawat dengan tegas, yang dianggukin oleh Alga.


Pintu ruangan UGD pun mulai tertutup dengan sangat sempurna. Alga yang terburu-buru membawa Dasa ke rumah sakit, dirinya hanya membawa sebuah dompet, sebuah dompet yang berisi surat penting, beberapa uang cash, dan beberapa kartu di dalamnya. Alga pun mulai menghela nafasnya dengan panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Seharusnya gue tungguin Dasa di kelasnya, bukannya gue malah egois tentang perasaan gue seorang." Gumamnya dengan pelan.


Sesekali dirinya mulai menatap sebuah pintu yang masih tertutup dengan sangat sempurna disana. Dengan helaan nafas yang berat dan dengan seluruh tubuh yang mulai gemetaran dengan sangat cepat. Bahwa, dirinya takut sekali terjadi sesuatu kepada seorang gadis yang sedang berusaha untuk mengatasi semua penyakitnya di dalam sana.


Tanpa harus mengabari siapapun. Pandangan Alga tetap setia menatap semua para dokter dan perawat yang sedang mengatasi seorang gadis yang terlihat lemah di dalam sana. Sesekali dirinya menghela nafasnya dengan sangat berat di sebuah kaca yang transparan.


"Lu nggak perlu takut, Da. Gue akan selalu disini bersama lu, dan menemani setiap perjuangan lu mengatasi semua penyakit yang lu rasakan selama ini." Lirihnya, yang masih setia menatap semua orang yang berada di dalam ruangan UGD.


Terkadang, kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi kedepannya. Satu hal yang tidak kita terima selama ini yang dilakukan oleh takdir dan waktu, yaitu, adalah kematian seseorang yang kita sayangi.


Karena kita pasti akan merasakan sesuatu kehilangan yang sangat besar di dalam kehidupan kita, kalau dirinya sudah tidak ada di hadapan kita di dunia ini.


Senyuman manis, tawaan yang sangat sempurna, suara yang sangat dirindukan, dan kehadiran dirinya yang selalu bersama kita. Itulah yang kita rindukan dengan dirinya, ketika dirinya sudah meninggalkan kita selamanya, itu hanya sebuah kenangan yang sangat terindah maupun menyakitkan untuk kita nantinya.

__ADS_1


__ADS_2