
"Terkadang, kita mungkin akan mengetahui semua sifat seseorang dari kelakuan mereka di hadapan kita selama ini."
"Tapi, ternyata kita telah tertipu atas semua sikap mereka di hadapan kita. Karena, dibalik sifat mereka di hadapan kita, terdapat sebuah rahasia dibaliknya."
...••••••...
Putra yang mulai merasakan hembusan angin di atap koridor sekolah, dirinya mulai tersenyum kecil untuk menikmati keindahan angin yang mulai berhembus dengan sangat sempurna.
Dirinya sesekali melihat adik kelasnya yang sedang dalam pelajaran olahraga di lapangan, dan sesekali dirinya mulai membuka galeri handphonenya dengan tatapan nanar.
"Lu tahu, gue masih menunggu lu disini. Sama halnya, gue menunggu kedua orang tua gue. Gue ingin mereka berdua menatap gue sekali saja, dan berbicara dengan mereka berdua."
"Walaupun kebahagiaan gue hanya di dapatkan, oleh orang tua dari para sahabat gue. Makanya itu, gue nggak ingin persahabatan ini hancur begitu saja seperti kehidupan gue yang dulu." Ucapnya kepada sebuah galeri yang mulai terlihat dengan sangat sempurna senyuman manis di wajahnya.
Putra yang terlihat selalu bahagia, ternyata ada sebuah rahasia yang dirinya sembunyikan selama ini oleh orang lain.
Ting!
Via chat mulai berbunyi, menandakan ada sebuah pesan masuk yang mulai menumpuk di handphone nya.
Putra mulai membuka pesan tersebut, dengan sangat cepat dirinya membaca setiap kalimat yang ada di pesan tersebut.
Group ALASKA.
Iqbal Pramana :'Gue nggak mau tahu pokoknya, nanti gue Sherlock lokasi tempat tauran kita sama sekolah lain.'
Juna Rahmat : 'Warh, hebat tuh sudah lama gue nggak ikut tauran lagi.'
Juna Rahmat : 'Lu ikut, Put?'
^^^Putra Mualan : 'Ikut gue, nanti Sherlock saja lokasinya dimana?'^^^
Setelah itu pesan mulai terhenti oleh sebuah tepukan pelan di pundaknya, Putra hanya bisa melihat siapa orang tersebut dengan tatapan datar.
"Gue tahu apa yang lu pikirkan, gue paham semuanya." Ucap Alga dengan datar sambil menatap ke arah depan.
Putra yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat, dan tersenyum kecil.
"Inilah permainan takdir dan waktu, yang sedang menguji seberapa besar kita sanggup untuk menerima permainan mereka." Ujarnya dengan datar.
"Bukan mereka berubah saja yang ingin mempermainkan kita, bahkan tuhan sedang menguji seberapa kita bisa menjalankan semua ini dengan baik."
"Lu tahu? Gue kira hidup gue akan sendirian selamanya, tapi disaat gue bertemu dengan lu semua. Gue berasa kebahagiaan yang ingin gue rasakan selama ini telah tiba diantara lu semua, dan di tambah dia." Jelasnya dengan senyuman kecil.
"Tapi, gue nggak sangka di salah satu antara kita akan memilih ego-nya daripada persahabatan kita selama ini."
Putra yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya tersenyum kecil, dan menepuk pundak Alga dengan pelan.
"Selama gue masih hidup, gue nggak akan pernah ingin membiarkan semua itu akan terjadi. Karena gue nggak mau merasakan kesepian lagi,"
__ADS_1
"Lagi pula, gue paham apa yang dirasakan Dilan sekarang, sama halnya yang gue rasakan dulu dan yang pernah lu rasakan, Ga!" Jelasnya dengan senyuman kecil.
Dengan helaan nafas berat dari kedua lelaki, yang di temani oleh hembusan angin yang terlihat sore. Mereka berdua terlihat bahagia, dan bercerita satu sama lain.
...•••••••...
Sama halnya dengan kedua gadis yang kini masih berada di kantin bersama dengan para sahabatnya Alga.
Alga dengan sengaja meninggalkan mereka berdua supaya mereka bisa saling dekat satu sama lain, termaksud dengan para sahabatnya.
"Kak Alga kemana sih? Kok lama banget ambil uangnya–" Ucap Asa yang mulai terpotong karena perkataan seseorang.
"Sesekali lu jangan nyari Alga terus, masih banyak laki-laki ganteng disini termaksud gue." Ujar David dengan percaya diri sambil tersenyum manis ke arah Asa.
Asa yang memperhatikan laki-laki di hadapannya, dirinya hanya tertawa kecil.
"Kak David jelek kalau seperti itu, mending kayak biasanya saja." Saran Asa yang mulai merasa risih atas perubahan laki-laki dihadapannya.
David menggelengkan kepalanya, "Kalau gue macam-macam sama lu, yang ada nanti gue bisa habis sama cowok lu." Jelasnya dengan datar.
"Asa nggak punya cowok, Asa jomblo." Ucapnya dengan cengiran.
"Waah! Parah nih cewek, pacar sendiri nggak di akuin."
"Asa emang nggak ada cowok kok, dan nggak ada pacar. Tapi! Asa punyanya pangeran balok es." Jelasnya dengan cengiran.
Dasa yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya hanya tersenyum kecil saja.
"Dari pada lu, badan kayak gajah tapi otak kayak siput." Ucap Wisnu yang ikut nimbrung.
BomBom yang di sindir pun hanya menatap Wisnu dengan tajam, "Beginilah nasib gentong minyak, banyak imutnya tapi pada nggak sadar itu semua." Ucapnya dengan membanggakan dirinya sendiri.
"Kak BomBom imut kok, malah kalau ada orang yang ingin main petak umpet, mereka bisa sembunyi di belakang Kak BomBom." Jelas Asa dengan lembut.
BomBom yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya hanya menghela nafasnya dengan berat.
"Itu sindiran apa muji?" Tanyanya.
"Itu sindiran secara halus, Bom!" Jawab David dengan cepat, sambil tertawa kecil.
"Terserah lu dah, gue mending makan lagi." Ucapnya dengan datar sambil fokus ke mangkok baksonya.
Berbeda dengan Dasa yang hanya terdiam membisu, karena dirinya bingung mau berkata seperti apa.
Demi waktu berjalan bel mulai berbunyi, Alga yang mulai memasuki tempat kantin bersama Putra, dirinya hanya bisa mendorong kursi roda Dasa dan membayar semua pesanan yang dimakan oleh para sahabatnya. Sekaligus pajak jadian untuk dirinya dan gadis yang sekarang dirinya lagi perjuangkan.
...•••••••...
Di tempat pakir semuanya mulai berkumpul disana, dengan Alga yang mulai duduk diatas depan wajah mobilnya dengan sangat santai.
__ADS_1
Alga, dan Putra mulai menatap sahabatnya Dilan dengan tatapan tidak dapat di artikan. Tapi! Dilan hanya terdiam dan tidak menggubrisnya, seakan dirinya yang disini seperti orang yang sangat jahat diantara yang lain.
"Itu gadis lama banget ke toilet doang?" Ujar David yang mulai membuka suara dengan sebal.
"Sabar, namanya juga perempuan pasti akan lama kalau masalah di kamar mandi mah," ucap Putra yang mendengar perkataan dari sahabatnya.
"Makanya itu gue heran, sebenarnya ngapain saja perempuan lama-lama di kamar mandi? Bersemedi?" Tanya David dengan heran.
"Mungkin, karena dia lagi buang air besar, dan air kecil." Jawab Putra dengan benar.
"Semua orang juga tahu kali kalau kayak gitu, dan gue pun juga paham kalau kayak gitu."
"Yaudah, tunggu saja itu gadis. Pangerannya saja nggak bawel dan selalu menunggunya dengan sangat setia, masa kita kalah sebagai lelaki sejati." Ujar Wisnu yang ikut nimbrung.
Semuanya pun hanya menunggu saja, dan mulai pada fokus kegiatan masing-masing. Jujur, Alga juga sebenarnya sudah tidak sabar menunggu itu gadis lama-lama di tempat ini.
Apalagi, dirinya harus mengantar Dasa pulang ke rumahnya dulu. Seketika, seorang gadis yang ditunggu-tunggu sedari tadi akhirnya tiba juga di hadapan mereka semua.
Alga mulai menghampiri gadis itu dengan wajah yang terlihat agak emosi.
"Lu ngapain saja di kamar mandi? Pacaran sama WC? Atau main air disana?" Tanyanya dengan kesal.
Wisnu yang melihat kejadian tersebut, dirinya hanya ditatap oleh para sahabatnya.
"Gue cabut semua perkataan gue barusan, Alga akan tetap seperti dulu dan tidak pernah berubah." Ucapnya dengan cengiran.
Semuanya hanya menganggukkan kepalanya, dan membenarkan perkataan dari Wisnu barusan.
"Asa sudah selesai yang penting, tadi di kamar mandi banyak banget yang ngantri–"
"Gue nggak mau mendengarkan semua penjelasan lu sekarang, gue harus nganterin Dasa juga disini soalnya." Jelasnya yang mulai mendorong kursi roda Dasa dengan lembut, dan menggendongnya ke kursi penumpang di depan.
Asa yang melihat tersebut, hanya menghela nafasnya dengan berat.
"Terus bagaimana dengan Nanda? Nanda'kan juga harus tinggal di rumah Asa lagi." Ucapnya dengan lembut.
"Dah, gue nggak apa-apa kok. Gue bisa naik angkot atau taksi." Jelas Nanda dengan senyuman.
"Tapi–"
Alga hanya menghela nafasnya dengan berat, "Nanda bisa ikut sama Putra. Lagipulala, gue tahu lu nggak mau barang gue karena nggak ingin jadi nyamuk." Jelas Alga yang mulai menarik lengan Asa dengan lembut.
Asa yang ditarik, dirinya mulai memasuki pintu penumpang di belakang. Walaupun dirinya sekarang sudah berada di perasaan Alga, tapi itu pun belum sepenuhnya.
"Put, gue titip dia yah?" Ucap Alga dengan datar, dan mulai memutari mobilnya.
Putra hanya menghela nafasnya dengan berat, "Terpaksa jadi tukang ojek lagi tanpa harus dapat upah." Lirihnya.
"Yaudah, naik!" Suruh Putra yang mulai menatap wajah Nanda dengan datar.
__ADS_1
Putra dan yang lainnya pun mulai menyalakan mesin motornya, dan meninggalkan area parkiran dengan bisingan motor mereka.