ALGASA

ALGASA
Chapter 29


__ADS_3

"Mungkin benar, kalau cinta itu tidak bisa dipaksakan. Walaupun, kita pernah berada di dalam kehidupan masalalunya, dan perasaannya."


"Tapi! Jika dirinya ingin membuka lembaran baru lagi untuk menghiasi kehidupannya, apakah aku akan menghalangi kebahagiaan orang yang sangat diriku sayangi? Tidak'kan? Karena, cinta itu dari hati yang terikat oleh nyawa kita sendiri sama halnya dengan janji pernikahan."


...~Dasalina Wulandari~...


...•••••••...


Angin yang mulai berhembus dengan penuh kasih sayang, dan kebahagiaan yang sangat luar biasa untuk sore ini. Seorang gadis bernama Dasalina Wulandari yang masih menatap kedua pasangan yang sangat bahagia di hadapannya.


Walaupun, orang yang sangat dirinya sayangi bahagia bersama dengan orang lain, Dasa tidak pernah merasakan sesuatu untuk mendapatkan kembali perasaan orang yang sangat dirinya sayangi itu.


Karena ... dirinya akan bahagia, kalau orang yang dirinya sayangi terlihat bahagia di hadapannya. Dengan angin yang mulai berhembus dengan sangat kencang, mampu menampar helaian rambut Dasa dengan lembut.


Senyuman manis yang mulai terukir di wajahnya dengan sangat sempurna, mampu membuat semua orang akan terpanah oleh kecantikan sederhana seorang Dasalina Wulandari.


"Semua perkataan Alga benar barusan, kalau Alga yang sekarang bukan lagi milik seorang gadis bernama Dasalina Wulandari. Dan, akhirnya doa Dasa selama ini telah di kabulkan oleh Tuhan semuanya."


"Tuhan telah mengabulkan dua permohonan Dasa selama ini. Yaitu, Dasa ingin sekali bertemu dengan Alga di dunia ini lagi, dan kedua melihat orang yang Dasa sayangi bahagia bersama dengan orang lain. Walaupun, kebahagiaan itu bukan bersama dengan Dasa." Batin Dasa dengan senyuman kecil, dan dengan bibir yang mulai berubah dengan sangat pucat.


Dengan angin yang mulai berhembus dengan sangat sempurna, mampu membuat semua orang mulai merasa sejuk dengan keadaan tersebut.


Berbeda, dengan seorang gadis yang kini mulai merasa seluruh badannya merasa lemas, dengan sakit yang sangat luar biasa dibagian kepalanya, dan dengan nafas yang mulai tidak beraturan di dadanya.


Sesekali, gadis itu mulai menepuk-nepuk dadanya dengan sangat pelan, dan memegang kepalanya dengan sangat khawatir.


"Apakah, Tuhan juga mengabulkan doa Dasa yang ketiga? Yaitu, di saat diriku melihat Alga bahagia di hadapan kedua mata Dasa, Tuhan baru boleh mengambil nyawa Dasa."


"Lagipula, Dasa juga sudah lelah. Dasa harus bertahan hidup yang selalu diberi suntikan, obat-obatan, bahkan semua alat-alat yang bikin tubuh Dasa sangat tersiksa. Dan, sekarang akhirnya Dasa bisa pergi dengan sangat bahagia." Batinnya yang mulai merasakan, dirinya sangat sulit bernafas sekarang.


Dasa yang berusaha untuk menahan semua penyakitnya ini, akhirnya seluruh tubuhnya mulai pingsan di lantai dengan sangat sempurna.


Semua orang yang berada di taman, mulai menghampiri Dasa, dan mengelilingi dirinya. Alga yang melihat sekumpulan teman-teman sekolahnya, dirinya mulai berjalan bersama dengan Asa yang ditariknya begitu saja.


"Minggir-Minggir, lu semua bukannya bantuin malah diam saja!" Ujarnya dengan datar.


Ketika Alga melihat siapa gadis yang mulai tumbang di lantai, dirinya mulai melepaskan tangannya dari yang sedari tadi menggenggam erat pergelangan tangan Asa.


Dengan sangat khawatir, dirinya mulai mendekati tubuh mungil gadis tersebut, dan menggendongnya dengan sangat sempurna.


"Vid, gue pinjam mobil lu!" Ujar Alga yang mulai menatap sahabatnya dengan tajam.


David mulai mengangguk'kan kepalanya, dengan sangat cepat dirinya mulai mengikuti Alga dari belakang ke arah parkiran. David pun mulai membuka pintu mobilnya, dan memberikan kunci mobilnya kepada Alga.


"Makasih, Gue minta tolong sama lu. Absenin gue hari ini dikelas, okay?" Ujar Alga dengan terburu-buru.


"Kak Alga, Asa ikut!" Ucap Asa dengan khawatir, yang dianggukin oleh Alga dengan cepat.


Asa mulai duduk di kursi belakang, karena kursi depan di tempati oleh Dasa, dengan sangat cepat Alga mulai menyalakan mesin mobilnya dan mulai melewati seluruh mobil yang melintas juga.

__ADS_1


Sesekali, Alga menatap wajah Dasa dengan sangat perhatian, dan lembut.


"Da, gue mohon sama lu sekali lagi jangan pernah meninggalkan gue sendirian disini, Da! Hidup gue berasa nggak berwarna kalau lu nggak ada bersama gue, Da!" Gumamnya dengan datar, sambil sesekali membunyikan klakson mobilnya.


Asa yang mendengar perkataan dari Alga barusan, itu mampu membuat perasaanya seperti ter-iris oleh pisau kecil yang tidak berdarah sama sekali.


Asa tersenyum kecil sembari menatap langit-langit dibalik luar jendela mobil, sesekali dirinya mulai tersenyum kecil atas semua perkataan dari laki-laki yang sedang fokus menyetir di depan.


"Ternyata benar, kalau cinta pertama sampai kapan pun tidak akan pernah tergantikan." Batin Asa dengan lirih, walaupun dirinya ingin menangis sekarang, dirinya harus bisa menahan semua perasaannya sekarang.


...••••••••...


Di sebuah ruangan UGD kedua pasangan tersebut sedang menunggu kabar berita dari seorang dokter yang akan keluar dari ruang UGD tersebut.


Asa yang duduk dengan santai, dirinya hanya bisa menatap Alga yang sedari tadi tidak bisa diam di tempatnya.


"Kak Alga bisa diam nggak? Lagi pula, Asa percaya kok Kak Dasa adalah perempuan yang sangat kuat di dunia ini." Ujarnya dengan senyuman kecil.


Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya menganggukkan kepalanya dengan lirih.


"Yang lu bilang benar semua, Dasa yang selama ini gue kenal adalah perempuan yang sangat kuat untuk menahan semua penderitaannya." Ucap Alga dengan lirih.


Seketika, suara perempuan paruh baya yang sangat Alga kenal dengan suara perempuan tersebut. Yah, seperti dugaannya suara khas itu adalah milik mamahnya Dasa, yaitu Lusi.


"Ada apa dengan Dasa? Bagaimana dengan keadaannya sekarang?" Tanya Lusi dengan khawatir atas kondisi anaknya.


"Dasa masih diperiksa oleh dokter di dalam ruangan UGD, Tan." Jawab Alga dengan ramah.


Plak!


Semua orang yang berada diluar UGD mulai menyaksikan langsung sebuah tamparan keras yang melayang di wajah Alga dengan sangat sempurna.


Alga yang diperlakukan seperti itu, dirinya mulai menatap ke arah Lusi dengan datar.


"Tante kenapa tampar Alga? Salah, Alga apa?" Tanya Alga yang tidak terima diperlakukan seperti layaknya seorang lelaki kotor.


"Salah kamu itu adalah, telah membuat anak gadis tante sengsara dan sedih. Kalau, kamu nggak mengumumkan hubungan antara kamu dan gadis itu di hadapan Dasa, dia nggak akan pernah memasuki ruangan itu lagi!" Jelas Lusi dengan murka, dan sesekali menatap wajah Alga dengan sangat emosi.


"Seharusnya, Tante nggak usah mengabulkan semua permohonannya itu. Kalau, yang ada anak Tante yang harus berjuang lagi di tempat yang sama selama ini." Ujarnya dengan senyuman lirih, dan air mata yang mulai mengalir dengan sangat deras.


Alga yang mendengar perkataan dari Lusi, dirinya sama sekali tidak mengerti maksud semua perkataan perempuan paruh baya tersebut.


"Maksudnya, semua perkataan Tante barusan apa?" Tanya Alga dengan datar.


"Kamu mau tahu, Ga? Kenapa, Dasa meninggalkan diri kamu saat itu? Kenapa, Dasa lebih memilih laki-laki lain saat itu?" Ucap Lusi yang mulai berbalik bertanya kepada Alga.


Alga yang menginginkan semua jawaban atas semua yang Dasa lakukan dulu kepadanya yang berubah, dirinya mulai mengangguk'kan kepalanya dengan cepat.


"Disaat, Dasa mengetahui semua penyakit yang di deritanya selama ini. Dirinya, mulai melakukan berbagai cara supaya kamu membenci anak gadis saya. Tapi, ternyata kamu masih tetap mencintainya bahkan disaat Dasa memperlakukan kasar ke kamu. Kamu tetap berperilaku lembut kepadanya."

__ADS_1


"Sampai akhirnya, Dasa mulai mencari jalan lain. Yaitu, selingkuh dibelakang kamu tapi tepat di depan mata kamu. Padahal Dasa melakukan hal itu semua karena terpaksa, dirinya nggak mau kamu mengetahui semua yang di deritanya, dan bahagia bersama dengan orang yang lebih sempurna dari dirinya." Jelas Lusi dengan lirih.


"Tapi! Kenapa, selama ini Dasa nggak pernah bilang kalau dia memiliki penderitaan lain, Tan? Pasti Alga bisa membantu Dasa dengan sangat cepat waktu itu, dan membuat dirinya bahagia seperti layaknya tuan Putri." Ucap Alga dengan sangat cepat, dan lirih.


Lusi menggelengkan kepalanya, "Nggak bisa, mungkin hanya sebuah keajaiban tuhan saja yang membuat Dasa bertahan sampai disini. Karena, kanker kepalanya sudah menyerang seluruh syarafnya, dan kamu tahu sendiri kanker itu ganas. Cepat atau lambat, umur Dasa nggak akan lama lagi!" Jelasnya dengan senyuman kecil.


Alga yang mendengar perkataan dari Lusi, dirinya mulai terjatuh dan tersungkur dilantai. Sesekali, dirinya mulai mengacak-acak rambutnya, dan berteriak dengan histeris.


"Tante bahagia, kalau kamu selalu bersikap baik dengan Dasa. Tante, ingin kalau Dasa bisa kembali semangat untuk hidup lagi hanya untuk kamu. Karena, selama ini Dasa melakukan semua segala kemoterapi kanker itu untuk bertemu dengan kamu, Ga!"


"Jadi, sekarang kalian harus berjuang bersama-sama. Walaupun itu semua sangat berat untuk hubungan antara kamu, dan gadis yang kini berada di dalam kehidupan sekarang kamu." Jelas Lusi yang mulai menghapus setiap detik jejak tetesan air matanya yang membekas.


Ketika, pintu ruangan UGD mulai terbuka dengan sangat lebar, dan mulai terlihat seorang dokter dan perawat yang mulai berjalan keluar dari ruangan tersebut.


"Dok, bagaimana dengan anak saya?" Tanya Lusi dengan khawatir.


"Alhamdulillah, kondisi tubuhnya Dasa sangat kuat untuk menghadapi semua penyakit kanker yang sangat ganas tersebut. Seperti yang saya bilang ke ibu, tolong jangan sampai anak ibu terlalu banyak berpikir dan kecapean itu mampu membuat kanker otaknya akan menyerang dirinya lagi." Jelas Dok. Wahyudi dengan tegas.


Lusi yang mendengar perkataan dari Dok. Wahyudi, dirinya menganggukkan kepalanya.


"Makasih Dok."


Dok. Wahyudi pun mulai mengangguk'kan kepalanya, dan mulai melewati Lusi dengan langkah yang sangat besar.


Alga yang tidak sabaran, dirinya mulai memasuki ruangan tersebut dengan terburu-buru, dan memakai baju darurat untuk memasuki ruangan UGD tersebut.


Alga mulai duduk disamping kasur rawat Dasa, memegang telapak tangannya dengan lembut, dan menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang.


Dirinya tersenyum kecil, "Ternyata, gue tidak pernah salah mencintai seseorang gadis cantik seperti dirimu. Lu tahu, sebenarnya masih ada sedikit perasaan gue ini untuk lu. Jadi, gue mohon sama lu jangan meninggalkan gue untuk kedua kalinya, Da! Gue tanpa lu nggak bisa apa-apa." Ucapnya dengan lirih, dengan sesekali dirinya mulai mencium telapak tangan dingin Dasa berulang kali.


Ntah kenapa, baru pertama kali Asa melihat Alga menangisi seseorang di hadapannya. Biasanya, laki-laki itu menyembunyikan semua perasaannya, dan sekarang semua penderitaannya selama ini dirinya sembunyikan bisa dikeluarkan dengan sangat sempurna.


Asa tersenyum kecil, yang diikuti oleh Lusi yang mulai berdiri di samping Asa, dan menatap kedua kejora di dalam ruangan tersebut dibalik kaca transparan ruangan UGD.


"Mereka berdua sangat serasi yah? Saling sama-sama memiliki perasaan satu sama lain, kalau bukan Dasa memiliki penyakit kanker ganas itu. Mungkin, mereka berdua adalah pasangan yang sangat sempurna di dunia ini." Jelas Lusi dengan senyuman lirih.


Asa yang mendengar semua perkataan dari Lusi dirinya mulai mengangguk'kan kepalanya, dan tersenyum kecil. Sungguh, semua perkataannya itu seperti sedang menusuk perasaannya ini.


Seperti, dirinya-lah yang menjadi penghalang untuk kedua hubungan pasangan tersebut. Dan, jujur Asa juga sedih disini. Karena, orang yang sangat dirinya sayangi terlihat masih memiliki rasa untuk orang yang pernah menjadi masalalunya.


Inilah yang disebutkan sebuah permainan takdir, dan cinta. Mereka berdua membuat kita bimbang dengan kenyataan perasaan kita yang sekarang.


Alga yang masih menatap Dasa dengan sangat tajam, dirinya mulai mengusap pipi Dasa dengan sangat lembut, dan tersenyum manis.


"Da! Lu tahu nggak? Walaupun, lu terlihat pucat sekarang. Wajah lu tetap terlihat sangat cantik di pandangan gue, dan lu adalah seorang putri yang sangat manis menurut gue dari dulu sampai sekarang!"


"Sama halnya, dengan perasaan gue ini. Gue nggak mau lu pergi meninggalkan gue untuk kedua kalinya lagi, Da! Biar kita sama-sama berjuang disini, gue nggak mau di tinggal oleh lu sendirian di dunia ini lagi." Jelasnya dengan senyuman kecil, dan mulai menangis dengan tersedu-sedu.


Sungguh, jika perasaan yang dulu dibangun kembali lagi. Bagaimana, dengan perasaan seseorang yang tulus kepada kita selama ini?

__ADS_1


Next Selanjutnya ... semoga episode kali ini bisa membuat kalian bahagia.


__ADS_2