ALGASA

ALGASA
ALGASA|Bab 44


__ADS_3

Matahari yang terlihat dengan sangat sempurna memberikan sebuah kehangatannya kepada seluruh permukaan bumi, dirinya tidak malu-malu untuk memberikan senyuman indahnya.


Sudah dua minggu berlalu. Asa yang tidak pernah mendapatkan kabar dari seorang laki-laki yang sangat dirinya rindukan saat ini. Seorang Alga menghilang tanpa memberi satu pun kabar kepadanya, dan itu bagaikan ditelan bumi.


Bahkan, semua para sahabat Alga saja juga tidak ada batang hidungnya sama sekali saat ini. Hanya satu orang saja yang kini berada di dalam sebuah kelas, yaitu, Putra Mualan.


Asa pun mulai memasuki kelas Putra dan berjalan mendekati tempat meja laki-laki itu dengan langkah yang sangat besar. Sekaligus, dirinya memberikan sebuah ukiran senyuman manis di wajahnya saat ini.


"Kak Putra?" Panggil Asa.


Putra yang sedari tadi sedang mengobrol dengan teman kelasnya, dirinya pun mulai mendongakkan kepalanya, dan menatap seorang gadis yang ingin sekali dirinya hindari saat ini.


Putra pun mulai membangkitkan dirinya, menabrak pundak Asa dengan pelan, dan berjalan meninggalkan Asa sendirian.


Asa yang tidak ingin diam saja, dirinya mulai mengejar setiap langkah Putra dengan berlari kecil, dan mulai menghadang langkah yang ingin Putra ambil.


"Kak Putra! Dengerin Asa bicara dulu, sebentar saja!" Ucap Asa yang tidak mulai tertahan atas semua yang terjadi kepada dirinya.


Putra pun mulai menatap wajah Asa dengan tatapan yang tidak dapat diartikan, dan dengan helaan nafas yang berat.


"Gue tahu apa yang ingin lu katakan sama gue? Kalau lu emang benar sayang sama Alga, lu pertahankan dan tunggu saja dia!" Jelas Putra dengan datar.


"Tapi, Kak—"


"Gue nggak punya waktu buat meladeni semua perkataan lu sekarang, Sa! Gue—" Perkataan Putra mulai terpotong karena suara seorang gadis di hadapannya.


"Asa hanya ingin tahu, kenapa Kak Alga malah bersikap seperti ini sama Asa? Sebenarnya, apa yang terjadi sama Kak Alga?" Tanya Asa dengan lirih.


"Dia nggak apa-apa, hanya mungkin cuma waktu dan takdir saja yang sedang menjaga jarak buat kalian saat ini. Tapi! Kalau lu nggak kuat, Alga pernah bilang sama gue, kalau lu bisa mundur." Jelas Putra dengan datar sambil meninggalkan Asa dengan langkah besarnya.

__ADS_1


Asa yang mendengar perkataan dari Putra barusan, mampu membuat perasaan Asa semakin gundah gulana. Ntah kenapa, dirinya merasakan sesuatu yang sangat sesak di dadanya.


"Mungkin, Asa bisa kuat untuk menunggu Kak Alga. Tapi menunggu seseorang pasti juga ada batasannya, apakah secepat itu hubungan ini akan berakhir begitu saja?"


"Asa kira di saat semua kenangan pahit yang mulai diubah oleh sebuah kenangan manis bersama Kak Alga akan bertahan lama. Ternyata itu semua hanya akan menjadi kenangan manis yang sangat menyakitkan bila di ingat." Asa menatap seluruh koridor di saat dimana dirinya bersama dengan Alga dan menghela nafas panjangnya.


"Asa akan menunggu Kak Alga dan meminta penjelasan kenapa Kak Alga menghilang begitu saja tanpa kabar!?" Gumamnya dan melangkahkan kakinya menuju ke kelasnya.


Putra yang melihat seorang gadis di pandangannya, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat, dan berbicara dengan seseorang lelaki yang selama ini menghilang bagaikan ditelan bumi.


"Bagaimana keadaannya?"


^^^"Kurang baik, gue rasa dia butuh penjelasan lu nantinya. Apakah, benar lu nggak ingin ke Indonesia dulu untuk beberapa hari? Lu sudah ambil surat ijin dari sekolah selama itu, gue takut—"^^^


"Lu tahu sendiri, disaat malam Dasa drop dan harus dirawat ke Singapore. Sedangkan, kita sudah telepon kedua orang tuanya Dasa, dan mereka masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing."


"Gue percaya sama gadis yang gue pilih saat ini. Lagi pula, gue disini bukan untuk menyakiti perasaannya, melainkan memenuhi janji gue kepada seorang yang pernah ada di masalalu gue."


"Mungkin, disaat keadaan Dasa disini sudah mulai normal, gue akan secepatnya kembali ke Indonesia dan menjelaskan semuanya."


^^^"Terserah lu, dah! Gue cuma bisa menjaganya dari kejauhan, karena yang lain juga sedang sibuk dengan urusan keluarganya masing-masing saat ini. Ntahlah, sebenarnya kapan semua ini akan berakhir dengan cepat."^^^


Alga yang mendengar perkataan dari Putra. Dirinya mulai tersenyum kecil dan memijit pelipisnya dibalik sana.


"Gue titip dia sama lu, yah? Kalau bisa, gue ingin lu menjadi bodyguard seorang gadis yang sangat istimewa untuk gue saat ini."


^^^"Siap dilaksanakan, hitung-hitung mencari pahala saat ini."^^^


Panggilan pun mulai berakhir begitu saja, dan dengan helaan nafas yang sangat berat untuk kedua lelaki yang mulai menatap benda pipih tersebut di genggaman nya.

__ADS_1


"Gue kangen lu, Sa!" Gumam Alga dengan pelan dan dengan senyuman kecil yang terukir di wajahnya.


Angin yang mulai berhembus dengan sangat kencang dan mungkin berbeda waktu di Singapore saat ini dengan Indonesia.


Di sebuah kamar perawat yang mulai terlihat kedua orang berlain jenis yang kini sedang terlihat sangat lelah dan berantakan.


Seorang gadis yang sedari tadi dirinya selalu menerima berbagai macam jenis alat-alat rumah sakit, dan beberapa kali dirinya yang selalu menerima suntikan demi suntikan.


Dasa yang masih tertidur dengan sangat pulas, dan Dilan yang mulai menyisir rambut Dasa dengan sangat pelan. Seketika, beberapa helai rambut Dasa mulai memenuhi sisir, Dilan yang tidak kuat pun mulai bergematar, dirinya hanya berusaha tersenyum kecil supaya seorang gadis yang sedang tertidur pulas tidak melihat apa yang dirasakan olehnya.


"Dil?" Panggil Alga dengan suara berat.


Dilan mulai mendongakkan kepalanya dan menghela nafasnya dengan berat.


"Dasa kayaknya ... semakin lama kondisinya terlihat buruk, Ga! Gue takut—" Lirihnya yang mulai terpotong oleh sebuah kalimat dari seorang lelaki di hadapannya.


"Gue percaya, Dasa bakalan kembali seperti dulu lagi dengan kita disini selamanya, dan selalu mengikuti langkah kita disini, gue yakin itu!" Jelas Alga yang menyembunyikan semua perasaannya.


"Gue harap juga begitu, tapi kalau lu ingin bertemu dengan dirinya disana, lu nggak perlu khawatir dengan keadaan Dasa disini, karena gue akan selalu bersamanya."


"Gue nggak mau, lu akan mengalami apa yang gue rasakan saat ini. Karena kehilangan seseorang yang sangat kita sayangi itulah yang sangat menyakitkan di kehidupan kita, dan itulah yang terjadi saat ini oleh gue." Jelas Dilan dengan datar dan tersenyum kecut.


Alga yang mendengar perkataan dari Dilan, dirinya mulai tersenyum kecil.


"Gue pernah kehilangan seseorang yang gue sayangi, dan seseorang yang sangat gue cintai dulu. Bahkan, gue nggak mau itu akan terulang kembali lagi di dalam kehidupan gue, dan gue juga nggak mau disaat gue pergi nantinya, gue nggak ada disaat Dasa membutuhkan kehadiran gue nanti."


"Gue tahu apa yang harus gue lakukan saat ini, dan untuk siapa perasaan gue sekarang. Kalau dirinya emang ingin mundur dari kehidupan gue, mungkin disaat itu pula gue akan berjuang untuk mendapatkan perasaannya kembali." Jelas Alga dengan yang di akhiri helaan nafas berat.


Matahari yang mulai tersenyum dengan sangat sempurna disaat ini, berbeda dengan waktu dan takdir saat ini yang sedang menguji seberapa besar kita sanggup untuk menjalankan semua ini.

__ADS_1


__ADS_2