ALGASA

ALGASA
Sampah Yang Terindah 1)


__ADS_3

Pagi hari yang sangat sempurna untuk seluruh siswa-siswi SMA SWASTA BAKTI NUSA. Mereka semua harus melihat sesuatu kejadian di halaman luar gerbang wilayah sekolahnya, yang mulai terlihat begitu sangat ramai oleh seluruh warga sekolah.


"Lu yang namanya, Alga? Gue denger, lu yang menjadi pemimpin dan sekaligus menjadi wakil basket sekolah ini pas waktu perlombaan seminggu yang lalu itu?" Ujar seorang lelaki yang kini sedang berdiri di hadapan Alga.


Alga menatapnya dengan tatapan tajam dan tersenyum sinis. "Gue heran sama yang lain! Ternyata gue sangat terkenal juga, yah? Sampai-sampai para fans gue datang untuk menyambut gue, kesini." Ketusnya.


Andika Pratama dirinya adalah mahasiswa dari SMA UNIVERSITAS GUNADARMA. Andika adalah pemain basket yang membawa nama sekolahnya menjadi peringkat satu. Tapi! Posisi sekolahnya untuk menjadi peringkat juara satu di pertandingan untuk olahraga basket, kini mulai tersingkirkan oleh seorang lelaki bernama Algasa Adistia Renanda.


"Kalau lu berani, gue ajak lu tantangan lagi. Kalau gue menang, lu harus kasih peringkat terbaik olahraga basket untuk sekolah gue." Ujarnya dengan senyuman sinis.


Alga mulai melipatkan kedua tangannya di bidang dadanya, "Bagaimana kalau lu kalah nantinya?" Tanya Alga dengan dingin.


"Kalau gue kalah, gue akan jadi budak lu. Tapi! kalau gue menang, lu yang akan jadi budak gue dan seluruh sekolah ini harus ikuti semua kemauan gue." Ujarnya dengan senyuman.


Alga mulai berfikir sejenak. Kalau dirinya mengambil keputusan yang salah, itu akan mampu membuat seluruh sekolahnya menjadi bahan perbincangan.


"Bagaimana lu pada, setuju nggak sama permintaan dia?" Tanya Alga kepada para sahabatnya.


"Gue dan yang lain setuju saja. Nggak sabar gue pengen hajar ke sombongan itu anak!" Jawab David dengan penekanan.


Alga menganggukkan kepalanya, "Okay, gue terima tawaran lu. Kalau gue yang menang, gue ingin semua syarat yang lu ajukan ke gue harus sama." Jelasnya dengan tegas.


"Okay, siapa takut?!" Ujarnya dengan senyuman sinis, kini semua para pengikut dari Andika mulai pergi dari kalangan gerbang sekolah SMA SWASTA BAKTI NUSA.


Semua siswa-siswi pun mulai pada bubar. Karena mereka percaya, kalau Alga akan memenangkan pertandingan untuk beberapa kali lagi, jadi mereka sama sekali tidak takut atau pun merasa keberatan.


"Kak Alga?" Panggil Asa dengan lirih.


Alga yang melihat gadis di hadapannya. Dirinya mulai mengabaikan Asa dan masih terus melanjutkan langkahnya, untuk berjalan memasuki ke halaman sekolah.


Asa yang melihat langkah besar Alga, dirinya mulai berlari kecil, sambil mengikuti semua langkah besar Alga dari samping.


"Kak Alga benaran ingin tanding sama Kak Dika?" Tanya Asa dengan tatapan penuh jawaban.


Alga yang mendengar perkataan gadis di sampingnya, dirinya mulai memberhentikan langkahnya.


"Lu kenal sama laki-laki itu?" Tanya Alga dengan tatapan tidak suka.


Asa yang mendengar perkataan Alga, dirinya hanya menganggukkan kepalanya dengan cepat, dan tersenyum kecil.


"Kenal'lah! Kak Dika itu baik, ganteng, pintar,  dan jago–"


"Bukan itu maksud gue! Gantengan juga gue daripada laki-laki itu dan gue malah lebih jago kemana-mana." Ujarnya dengan membanggakan dirinya sendiri.


"Terus? Kak Alga mau bilang apa?" Tanya Asa dengan heran.


"Lupakan," ucap Alga dingin, setelah itu dirinya mulai melangkah lagi dengan kaki lebarnya.

__ADS_1


Asa yang di tinggal, kini dirinya mulai mengikuti Alga dengan berlari kecil, hingga tiba-tiba ....


Gubrak!


Asa mulai tersungkur di tanah yang kasar dan itu mampu membuat kulit mulusnya terluka. Asa mulai menangis dan menggigit bibir bawahnya.


Dilan yang melihat Asa terjatuh di samping Alga, dirinya mulai memberhentikan langkah Alga yang masih berjalan tanpa mempedulikan seorang gadis yang terluka di sampingnya.


Alga mulai menatap Dilan dengan datar, "Apa?" Tanyanya.


"Anak orang jatuh, bantuin kalau lu laki!" Jawabnya dengan nada di tinggikan.


"Bukan urusan gue! Lagi pula, dianya aja yang ikutin gue mulu." Ucapnya dengan datar, tanpa melihat Asa sedikit pun.


Dilan yang mendengar perkataan sahabatnya, kini dirinya tersenyum sinis.


"Gue heran sama lu, udah di sakiti sama dia. Tapi, lu masih kasih harapan ke dia? ke timbang seseorang yang ingin memperjuangkan lu dengan tulus?" sindirnya dengan tajam.


Dilan pun mulai membantu Asa untuk bawa ke UKS dan mulai meninggalkan para sahabatnya dengan datar maupun tanpa mengeluarkan sedikit satu percakapan sekali pun.


Alga yang mendengar perkataan sahabatnya barusan, dirinya tersenyum meremehkan.


"Lu nggak paham jadi gue, Dil! Bahkan, yang lain pun mengira gue juga kasar sama dia."


"Tapi! Gue lakuin hal seperti ini! Itu juga demi kebaikan gadis bodoh seperti dia, karena sampai kapan pun dia berjuang, gue nggak akan pernah menyukai dia." Gumamnya dengan pelan dan mulai melanjutkan langkahnya lagi.


Bel istirahat pun mulai berbunyi, semua mahasiswa-mahasiswi pun mulai pada berjalan ke arah kantin. Sama halnya dengan Alga yang mengikuti setiap langkah para sahabatnya dari belakang.


Di sebuah meja kantin yang paling pojok, seorang gadis kini sedang menunggu seorang lelaki dengan membawa sebuah bungkusan permen cokelat untuk seorang lelaki yang dia sayangi.


Asa pun mulai menatap seorang lelaki yang dirinya tunggu sejak dari tadi dan Asa pun mulai berjalan ke arah meja lelaki itu.


"Kak Alga–"


"Lu itu nggak bisa diam, yah? Kalau lu nggak ganggu kedamaian gue?"


"Asa–"


"Gue udah tahu semua perasaan lu itu! Jadi lu boleh pergi dari hadapan gue!"


"Bukan–"


"Terus? Kalau bukan tentang hal itu, lu mau ngomong apaan?"


Asa yang sedari tadi di potong-potong mulu perkataanya, dirinya pun mulai kesal sendiri.


"KAK ALGA DENGERIN ASA NGOMONG DULU! DARI TADI ASA NGOMONG DI PUTUSIN MULU, KAYAK BENANG LAYANG-LAYANG YANG DI TARIK ULUR MULU!" Teriaknya dengan kesal, sampai-sampai semua orang yang di kantin mulai menatapnya.

__ADS_1


Alga yang mendengar perkataan keras dari gadis di hadapannya, kini dirinya mulai menatapnya dengan heran.


"Kalau lu kayak gini lagi, gue nggak akan segan-segan nampar lu." Ujarnya dengan kesal.


Asa yang mendengar perkataan Alga, dirinya mulai menggerakkan tangannya ke arah mulut untuk di kunci.


"Asa cuma mau kasih permen ini kok! Kata Bunda kalau kita lagi ada masalah dan tidak bahagia. Kak Alga bisa makan-makanan manis atau seperti permen, karena itu semua bisa menghilangkan rasa kesedihan yang berada di perasaan Kak Alga." Jelas Asa yang mengikuti kata Bundanya.


Alga pun mulai tersenyum sinis dan membuangnya ke dalam tempat tumpukan sampah.


"Gue terima, tapi sebagai sampah yang tidak pernah gue anggap!" Ujarnya dengan senyuman sinis, setelah itu dirinya mulai berjalan keluar dari arah kantin.


Asa yang melihat reaksi Alga. Dirinya mulai menggigit bibir bawahnya dan tersenyum kecut.


"Sa, udah nggak usah di ambil hati." Ucap Dilan dengan lembut, sambil mengambil bungkusan permen yang masih berada di tempat sampah.


"Mungkin buat Alga, yang sudah menjadi sampah tidak akan pernah sempurna. Tapi bagi gue, sampah itu bisa menjadi barang yang sangat sempurna! Permennya untuk gue aja, yah?" Jelas Dilan dengan senyuman manis di wajahnya.


"Tapi, Kak Dilan itu udah bau!"


Dilan pun mulai mengusap kepala Asa dengan lembut, "Buat gue ini spesial, Sa. Karena ini adalah pemberian dari hati seorang gadis yang tulus, seperti perasaan lu itu." Jelasnya sekali lagi dengan lembut.


Asa yang mendengar perkataan Dilan, dirinya pun mulai tersenyum, "Iyaudah, buat Kak Dilan saja. Daripada sayang nanti, uang Asa dibuang percuma begitu saja." Ujarnya dengan senyuman.


Asa pun mulai berjalan keluar kantin dan mengikuti sahabatnya Nanda dengan berlari kecil.


Disatu sisi, Alga mulai berjalan memasuki kantin lagi. Setelah dirinya memastikan bahwa gadis yang bernama Asa, sudah mulai berjalan keluar dari kantin.


Kini dirinya mulai mendekati sebuah tempat sampah yang dia buang bungkusan permen cokelat yang masih penuh di dalam sana.


'Sial, dimana bungkusan permen cokelat itu?' Batinnya dengan heran, sambil mencari lagi dengan seksama.


Putra yang menyadari Alga ada di dekat tempat sampah, dirinya mulai menatap sahabatnya itu dengan heran.


"Ga, lu mau ngapain di dekat sana? Lagi mulung?" Tanya Putra dengan suara yang di tinggikan.


Alga yang mendengar perkataan dari sahabatnya, dirinya mulai menghentikan kegiatannya, dan merubah raut wajahnya kembali datar.


"Gue cari ... barang gue jatuh." Ujarnya dengan cengiran salah tingkah, setelah itu dirinya mulai kesal sendiri atas semua kebodohannya.


'Sial! Perasaan gue buang di situ, apa jangan-jangan di ambil sama orang lain?' Batinnya dengan kesal, sambil berjalan ke arah keluar kantin.


Dilan yang mengerti maksud perbuatan Alga barusan, dirinya mulai tersenyum kecil.


'Lu sendiri yang membuang semua barang di dekat lu, Ga! Apa salahnya jika gue yang akan mengambil semua barang yang sudah lu buang tersebut?' Batin Dilan dengan datar, sambil melanjutkan lagi ke handphonenya.


Mungkin sekarang, dirimu menganggapnya seperti sampah. Tapi jika sampah itu di ambil dengan orang lain, apakah dirimu akan menyesali semua perbuatanmu kepadanya?

__ADS_1


__ADS_2