
..."Mungkin ... Emang seharusnya, diriku yang harus berjuang untuknya. Seperti, dirinya yang memperjuangkan diriku."...
...~Algasa Adistia Renanda~...
...•••••••••...
Asa mulai menatap Alga dengan penuh kelembutan, "Makasih, Kak. Udah kasih tumpangan gratis untuk Asa." ucap Asa.
Alga hanya menatap wajah gadis di hadapannya, "Gue nggak kasih–" ujarnya yang terpotong karena ada seorang lelaki yang berada di hadapannya.
Lelaki itu menarik tubuh Asa untuk berdiri ke belakangnya, "Udah ... berapa kali gue bilang! Gue nggak mau lu dekat sama dia!" Murka seorang lelaki, yang kini sedang membentak Asa dengan kesal.
Asa yang di perlakukan seperti itu, dirinya hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Lu dengar gue nggak sih, Sa?" Tanya laki-laki itu dengan murka.
Alga yang melihat kejadian itu, dirinya hanya bisa melewati gadis di hadapannya.
"Asa nggak bisa jauhin, Kak Alga." lirihnya.
Laki-laki yang mendengar perkataan Asa, dirinya mulai mengangkat tangannya ke arah Asa. Tapi! Tangan yang ingin mendarat di wajah Asa, mulai dihentikan oleh seseorang yang ada di sampingnya.
"Lepaskan!"
"Gue bilang lepaskan! Lu tuli?" Murkanya.
Asa yang melihat kejadian itu, dirinya mulai menatap lelaki di sampingnya. Yaitu, Alga.
Alga berdiri di samping Asa, tatapan mereka berdua saling bertemu satu sama lain. Angin yang berhembus kencang mampu menampar wajah mereka berdua.
"Ini masih di dalam wilayah gue, lagipula sebelum pertandingan antara gue sama lu belum selesai ... Lu belum berhak untuk memperlakukan seenak lu disini." Ujarnya dengan datar, yang masih menatap kedua mata gadis yang berada di sampingnya, dan mulai beralih menatap ke arah lelaki di depannya. Andika Pratama.
"Lu ... Nggak usah ikut campur!" Ketusnya, sambil melepaskan pergelangan tangannya yang di cengkeram paksa oleh Alga.
Alga mulai tertawa kecil, "Ikut campur? Gue nggak ikut campur ... Tapi, gue hanya ingin melindungi orang yang sudah gue sayangi!"
"Jadi! Kalau gue lihat cara lu seperti ini ke dia, gue nggak akan segan-segan mencari masalah ke lu!" Ujar Alga dengan dingin, sambil menarik lengan Asa dengan lembut untuk mengikutinya.
Asa yang mendengar perkataan dari laki-laki di hadapannya, dirinya tersenyum manis. Ntah, kenapa angin mulai ikut tersenyum kepada dirinya.
"Kak Alga udah suka sama Asa?"
"Kak Alga udah sayang sama Asa?"
"Kak Alga udah cinta sama Asa?" Tanya Asa bertubi-tubi.
Alga yang mendengar perkataan Asa, dirinya hanya bisa menghela nafasnya dengan berat.
"Masih 1% ... Jadi lu jangan terlalu senang dulu," ucapnya dengan datar.
__ADS_1
Asa yang mendengar perkataan dari laki-laki di hadapannya, dirinya mulai tersenyum manis. Sungguh! Perkataan laki-laki di depannya mampu membuat perasaannya sangat bahagia.
"Terus! Kapan ... rasa suka Kak Alga menjadi 100%?" Tanya Asa dengan lembut.
"Perasaan gue nggak sampai 100 maupun berapa? Asal lu bisa membuat perasaan gue ini untuk lu, disaat itu gue akan jujur ke lu."
Asa yang mendengar perkataan dari laki-laki di depannya, dirinya tersenyum manis.
"Terus ... Bagaimana, Asa bisa mendapatkan hati Kak Alga?" Tanya Asa lagi.
Alga mulai berhenti melangkah, membalikkan badannya, dan menatap kedua mata gadis di hadapannya.
"Lu punya otak'kan? Iya ... Lu mikir, dan dipakai!" Ujarnya dengan datar.
Asa yang mendengar perkataan dari laki-laki di hadapannya, dirinya mulai heran sama laki-laki di hadapannya, yang seketika hangat mulai kembali berubah menjadi sebuah balok es lagi.
Alga mulai mengeluarkan sebuah kunci gantungan, dan mulai memberikan kepada Asa.
"Gue masih simpan barang yang lu kasih ini!" Ucapnya datar.
Asa yang melihat gantungan kunci love yang hanya setengah bagian saja, dirinya tersenyum tidak percaya.
"Bukannya ... Kak Alga–"
"Gue nggak buang, tapi cuma numpang taruh saja di sana." Jujurnya.
"Gue harap, lu masih ingin berjuang untuk gue, dan jangan pernah berhenti untuk mencintai gue." ucapnya dengan datar, sambil memasang kunci gantungan itu di ponselnya.
"Gue pasang gantungan kunci di handphone, karena benda itulah yang sering gue bawa kemana-mana. Biar, Gue bisa tahu kalau lu selalu mengikuti gue." Ujarnya dengan tersenyum kecil.
Asa yang mendengar semua perkataan dari laki-laki di hadapannya, dirinya mulai tersenyum manis, dan sangat bikin perasaannya berdegup antara sakit dicampur dengan bahagia.
"Kak Alga, nggak PHP kan? Kak Alga, nggak cuman untuk menghibur Asa kan?" Tanya Asa tidak percaya atas apa yang dia dengar.
"Gue nggak mau mengulang lagi perkataan gue. Kalau, lu ingin tahu seperti apa perasaan gue? Lebih baik lu terus saja berjuang untuk gue," ucapnya, setelah itu mulai berjalan meninggalkan Asa sendirian.
Asa yang melihat kepergian Alga, dirinya mulai menghentakkan kakinya dengan kasar.
"Apa ini yang namanya sudah ada rasa? Masih bersikap cuek, dan dingin seperti ini?" Gumamnya dengan kesal.
Aaa hanya menghela nafasnya, "Sabar-sabar, yang Asa heran adalah ... Apakah, perasaan Kak Alga itu seperti baterai? Yang harus ada persenan?" Herannya.
Cara orang menyampaikan perasaannya itu berbeda-beda. Seperti, caraku mencintainya!
Alga yang melihat kepergian Asa dari balik tembok, dirinya mulai tersenyum kecil melihat belakang punggungnya.
...•••••••...
"Kak Alga!" Panggil seorang gadis dengan lembut.
__ADS_1
Alga yang dipanggil mulai memberhentikan langkahnya, yang diikuti oleh sahabatnya.
Asa mulai berdiri di hadapan Alga, dan tersenyum manis. "Ini untuk, Kak Alga." ucapnya sambil memberikan sebuah roti dan susu kotak.
Alga mengerutkan keningnya, "Taruh di sampah! Gue nggak butuh." ucapnya dengan datar.
Setelah itu, dirinya mulai melangkahkan lagi langkahnya. Asa yang mendengar perkataan Kak Alga, dirinya mulai heran sendiri.
"Katanya disuruh berjuang, giliran sudah berjuang malah seperti biasa. Aneh banget sih?!" Gumamnya dengan pelan.
Setelah itu, Asa mulai berjalan ke arah kelasnya. Sambil, membawa roti dan susu yang dia bawa bersamanya.
Nanda yang melihat raut wajah sahabatnya, dirinya mulai merasa heran.
"Kenapa lu? Habis dimarahin sama balok es?" Sindir Nanda dengan cengiran.
Asa yang mendengar perkataan dari Nanda, dirinya mulai membuka bungkusan roti yang harus dia berikan ke Alga, dan dia makan dengan kesal.
Nanda yang diacuhkan, dirinya mulai menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sabar-sabar ... Sama sahabat sendiri dikacang!"
"Nanda bawel, nggak lihat Asa lagi kesal!" Ujar Asa dengan gemas.
"Iya, lihatlah ... Kan gue ada mata, apalagi raut wajah lu ketahuan banget."
Asa yang mendengar perkataan Nanda, dirinya hanya mendiamkan saja sahabatnya berkicau.
...•••••...
"Ga! Mau kemana lu?" Tanya David dengan heran, atas sikap sahabatnya yang tidak biasa.
"Bosan gue disini!" Jawabnya datar, setelah itu dirinya mulai berjalan Keluar dari kantin.
Alga mulai mencari-cari ke setiap sampah, disaat dirinya bertemu dengan Asa.
"Sial! Udah gue suruh buang di tempat sampah, malah dibawa lagi sama itu gadis," gumam Alga kesal sendiri.
Alga yang tidak berhasil menemukan apapun ... Bunyi bel masuk pun mulai berbunyi, dengan raut wajah yang kusut, Alga mulai melangkahkan kakinya dengan malas.
Sial!
Dikelas yang mulai dipenuhi oleh warga kelasnya, dirinya mulai menatap ke arah papan tulis dengan malas. Karena, otak'nya tidak bekerja dengan keadaan perutnya yang kosong.
'Mending ... gue makan di kantin saja tadi! Daripada harus kelaparan kayak gini.' batinnya.
Pesan author [Share cerita ALGASA kepada teman atau sahabat kalian semua.]
Maaf ... author baru update 🙏🙏 salam hangat untuk chapter kali ini dari ALGASA.
__ADS_1