ALGASA

ALGASA
ALGASA|Bab 62


__ADS_3

Alga yang melihat kepergian Wisnu di hadapannya, dirinya mulai mengusap wajahnya dengan kasar. "Sialan! Kenapa? Kenapa, harus gue yang disudutkan? Arrggh ...." Ujar Alga dengan frustasi.


Putra yang melihat Alga, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat. "Asa? Bukannya, lu masih ada kelas tambahan?" Tanya Putra untuk memberi kode kepada Alga.


Alga yang mendengar lontaran Putra barusan, dengan helaan nafas berat, mampu membuat semua emosinya tertahan saat ini. Alga pun menatap ke arah seorang gadis yang masih terdiam membisu dan menatap ke arahnya.


"Kelas tambahan lu sudah selesai?—"


"Apakah, kalian berdua lagi ada masalah?" Tanya Asa yang langsung ke intinya.


"Nggak, kok! gue sama Wisnu, nggak ada masalah apapun."


"Bohong!"


"Gue nggak bohong, Sa!"


"Terus kenapa? Kenapa Kak Wisnu malah memberhentikan semua kalimatnya, ketika melihat Asa? Dan bahkan, Kak Wisnu juga pergi begitu saja?" Tanya Asa bertubi.


"Dia pergi karena ada masalah pribadinya, kenapa lu malah harus nyalahin gue?" Ujar Alga yang mulai meninggikan suaranya.


"Asa nggak nyalahin Kak Alga! Kak Wisnu nggak akan pernah seperti itu, kecuali—" kalimat Asa mulai terpotong oleh lelaki di hadapannya.


"Kecuali, gue adalah seorang yang menyebabkan dia seperti itu? Lu tahu? Gue muak, gue sudah muak yang selalu mengalah dan berkorban!"


"Kalau kenyataannya, lu sama sekali tidak pernah percaya sama gue! Bahkan, lu juga nggak pernah mengetahui apa yang gue rasakan saat ini, Sa! Kenapa? Kenapa hanya gue seorang, yang seharusnya peka tentang perasaan lu? Tapi, lu sendiri yang nggak pernah mengerti perasaan gue sekarang, Sa!" Ujar Alga datar.


Asa yang mendengar semua lontaran tersebut, dirinya mulai menatap kedua mata dingin di hadapannya.


"Kenapa? Kenapa Kak Alga malah marah sama Asa? Jika Kak Alga emang ada masalah, Kak Alga bisa curhat ke Asa." Lirih Asa dengan bergetar.


Alga yang mendengar kalimat bergetar Asa, dirinya mulai menarik nafas panjangnya. "Sorry, gue nggak bermaksud untuk membentak lu barusan." Jelas Alga dengan menyesal.


Asa pun menggelengkan kepalanya. "Kak Alga nggak salah apa-apa, Asa yang salah disini." Gumam Asa dengan pelan.


Alga tersenyum kecil. "Gue anterin lu pulang, yah?" Tanya Alga dengan lembut.

__ADS_1


Asa pun hanya menganggukkan kepalanya, Alga yang melihat persetujuan dari Asa. Dirinya mulai menyalakan mesin motornya, dan melihat ke arah Asa.


"Naik!" Serunya.


Asa mulai menaiki sepeda motor Alga, sambil memeluk pinggang Alga dengan lembut. Sesekali, dirinya menatap wajah Alga dibalik spion.


"Kenapa? Ada yang aneh di wajah gue?" Tanya Alga heran.


Asa menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, Asa hanya sedang mencari informasi tentang isi perasaan Kak Alga dibalik wajah Kakak." Jelas Asa.


"Perkataan gue barusan, lupakan saja. Jika ada masalah, gue akan berusaha jujur ke lu."


"Benarkah? Kak Alga bakalan janji?"


"Yah, Sa! Gue janji, akan selalu jujur ke lu." Jelas Alga dengan tekad besarnya. 'Walaupun, semua janji itu hanyalah sebuah kejujuran tentang perasaan gue ke lu, Sa.' Batin Alga.


Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai membenamkan kepalanya di pundak Alga.


Sebuah deruman suara motor pun mulai bersautan satu sama lain, ketiga sepeda motor itu pun mulai pergi meninggalkan area parkiran dengan sangat sempurna, dan membelah jalanan Ibu Kota Jakarta.


"Yah!"


Putra yang mendengar teriakan dari Alga, dirinya mulai memberi kode kepada para sahabatnya, untuk mengikutinya. Sedangkan, Alga hanya ditinggal oleh seorang diri bersama dengan seorang gadis yang memeluk pinggangnya dengan erat.


Cuaca sore yang terlihat sangat tidak mendukung sedari tadi siang. Alga pun mulai menaiki kecepatan motornya dan melintasi berbagai macam mobil maupun motor.


...***...


Alga yang kini melihat seorang lelaki remaja, sedang duduk di bangku teras depan rumah Asa. Kedua tatapan mata tersebut pun mulai saling menatap satu sama lain.


Sedangkan, Asa yang melihat Alga masih terdiam tanpa bergerak sedikit pun, dirinya mulai mengikuti arah pandang Alga. Ternyata, kedua lelaki itu saling memberi tatapan yang tidak dapat diartikan.


"Kak Alga?" Panggil Asa.


Alga pun mulai beralih menatap Asa. "Kenapa? Gue langsung cabut, yah, Sa?" Pamit Alga yang langsung memakai helm full facenya.

__ADS_1


"Kak Alga nggak ingin mampir dulu, kah?" Cegah Asa dengan cepat.


Alga yang mendengar perkataan tersebut, dirinya mulai menatap lelaki yang masih setia melihat tingkah kedua insan tersebut.


Alga menggelengkan kepalanya. "Lain kali saja, Sa! Gue masih ada janji sama yang lain." Jelas Alga dengan senyuman kecilnya.


"Yaudah, hati-hati Kak Alga."


Asa yang masih setia menatap kepergian Alga, kini dirinya tidak dapat melihat sesosok lelaki remaja yang memiliki wajah dingin tersebut. Karena, sepeda motor Alga mulai melaju dengan kecepatan tinggi, dan membelah seluruh Ibu Kota Jakarta.


Asa pun mulai memasuki halaman rumahnya, dan melewati lelaki remaja yang masih duduk di bangku teras. Lelaki remaja yang melihat sikap cuek Asa kepadanya, dirinya mulai mencengkeram erat lengan Asa, dan berkata :


"Lu bisa dengerin gue dulu nggak, Sa?"


Asa menghela nafasnya dengan berat. "Apa yang harus Asa dengerin? Asa sudah muak, dengan semua sikap Kak Putra kepada Asa selama ini!" Jelas Asa dengan datar.


"Berapa kali gue bilang, jauhin Alga!"


"Apa hak Kak Putra? Kenapa Kak Putra selalu mengatur tentang kehidupan Asa?" Tanya Asa dengan dingin.


"Hak gue? Lu mau tahu? Kenapa gue menyuruh lu supaya menjauh dari Alga? Karena gue nggak mau melihat orang yang gue sukai terluka!"


Asa mulai tersenyum kecil. "Dengan cara Kak Putra menyuruh Asa menjauhi Kak Alga, itu yang akan bikin perasaan Asa terluka!" Jelas Asa dengan penekanan.


Putra yang mendengar lontaran kalimat dari Asa, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat, dan mengusap kepalanya dengan lembut.


"Walaupun, lu sudah memiliki Alga disisi lu. Sampai kapan pun, dia bukan milik lu, Sa! Bahkan, jika lu selalu bersama Alga, lu yang akan terluka." Ujar Putra dengan setia menatap tajam wajah Asa.


"Asa sudah tahu, kok! Apa yang harus Asa lakukan, dan apa yang akan Asa terima nantinya. Walaupun, itu akan membuat Asa terluka sekalipun, Asa akan selalu bertahan untuk tetap disisi Kak Alga."


Putra tersenyum kecil. "Kita lihat, sampai kapan pertahanan lu itu akan runtuh?" Ujar Putra yang mulai pergi meninggalkan Asa sendirian.


Putra dan Wisnu pun mulai bertemu di depan pintu. Putra yang melihat Wisnu, dirinya mulai tersenyum kecil ke arah Wisnu. Sedangkan, Wisnu hanya membalasnya dengan anggukan kepalanya.


Wisnu pun mulai melihat Asa yang masih terdiam membisu. "Tadi ... Abang ketemu sama Putra di depan pintu, ngapain itu anak?" Tanya Wisnu dengan helaan berat dan langsung duduk di sofa panjang.

__ADS_1


Asa pun menggelengkan kepalanya. "Nggak tahu, Asa ke kamar dulu." Pamit Asa yang mulai memasuki kamarnya dengan langkah berat.


__ADS_2