ALGASA

ALGASA
Part 07


__ADS_3

Langit sore yang terlihat sangat indahnya hari ini, yang di temanin dengan sebuah hembusan angin sore yang mampu menampar seluruh mahluk hidup yang memenuhi jalanan Jakarta.


Terdapat kedua kejora saat ini. Seorang lelaki remaja yang kini sedang menunggu sebuah lampu lalulintas berwarna hijau di pandangannya, dan seorang gadis yang kini masih memeluk pinggangnya dengan sangat erat sekali, karena dirinya sangat tidak ingin untuk melepaskan pelukannya.


Yah, sedari tadi di antara kedua kejora tersebut tidak ada yang membuka suara mereka sedikitpun. Mau itu Alga ataupun Asa. Mereka berdua sama sekali tidak ada yang mengeluarkan suara mereka selama di perjalanan.


Alga yang kini mulai fokus memandang seorang gadis di belakangnya, dirinya mulai mencuri pandang melalui kaca spion motornya. Bahkan, dirinya memandang sebuah lingkaran tangan yang saat ini sedang memeluk pinggangnya, dan sesekali dirinya mulai tersenyum kecil.


Alga pun mulai menggelengkan kepalanya. 'Apa yang lu pikirin, Ga? Lu beneran sudah gila, Ga. Mana mungkin gue suka sama gadis bodoh kek dia!' batin Alga.


Alga yang melihat lampu lalulintas berubah warna menjadi hijau. Dirinya mulai mengendarai kembali motornya, bahkan dirinya merutuki atas semua kebodohannya saat ini. Alga pun mulai kembali menatap seorang gadis di belakangnya, dengan helaan nafas beratnya, dirinya mulai memecahkan keheningan di antara mereka berdua sedari-tadi.


"Rumah lu dimana?" tanya Alga datar.


Tapi tidak ada lontaran dari seorang gadis yang sedang duduk di bangku penumpang belakangnya, yang biasanya gadis itu selalu berkicau di sekolah untuk menghantui dirinya. Ntah kenapa, gadis itu mulai terdiam membisu saat ini.


"Hei! Rumah lu dimana?" Panggil Alga dengan suara ditinggikan dan penekanan.


"Rumah Asa ada di hati Kak Alga." jawab Asa.


Alga yang mendengar lontaran konyol dari gadis di belakangnya, kini dirinya tersenyum kecil tanpa Asa mengetahuinya.


"Gue bukan nanya tentang perasaan lu, maksud gue dimana rumah lu?" ujarnya sekali lagi.


Asa mulai menatap wajah lelaki itu di balik spion motor. "Kak Alga sudah mulai sayang sama Asa?" Tanya Asa dengan tatapan matanya yang polos.


Alga yang mendengar perkataan gadis di belakangnya, dirinya mulai mengubah ekspresi wajahnya 100% datarnya. "Nggaklah! Sudah gue bilang jangan terlalu berharap sama gue!" ketusnya.


"Asa nggak berharap kok, tapi Asa nanya."


"Terserah lu, dah!"


"Terus ini rumah lu dimana? Gue nggak mau lama-lama di dekat lu." tanya Alga untuk beberapa kalinya.


Asa malah terdiam dan tidak mau menjawab. Karena dirinya tidak ingin menyudahi hari bahagianya saat ini.


"Asalina Hyena, lu dengerin gue ngomong nggak, sih?"


"Asa denger kok, Asa punya kedua telinga yang tugasnya untuk mendengar." jawabnya dengan pelan.


Alga yang malas mulai berdebat, kini dirinya mulai menghela nafasnya dengan sangat berat. Dirinya saat ini harus banyak exstra kesabaran untuk menghadapi semua sikap Asa kepadanya selama ini. Bahkan, mana mungkin, dirinya akan lama-lama di dekat gadis ini mengelilingi kota Jakarta yang sangat luas? Tidak akan mungkin, karena dirinya juga punya kesibukannya sendiri.


Alga akhirnya mulai memasang earphone ke telinganya, dan dirinya mulai menelpon salah satu sahabatnya saat ini. Karena itu adalah salah satu solusi untuknya hari ini.



Akhirnya obrolan mulai berakhir. Ntah kenapa, cuaca mulai tidak mendukung apa yang dirasakan oleh seorang lelaki saat ini.


Hujan pun mulai turun dengan sangat derasnya di sore hari ini. Ntah Tuhan yang sedang tersenyum manis, atau dirinya yang sedang mengabulkan permintaan seseorang.


"Sial!"


Sepeda motor yang mulai berhenti di depan halte bus. Terdapat kedua orang yang berbeda jenis saat ini, dengan guyuran hujan yang tiba-tiba turun mampu membuat baju kedua kejora tersebut basah.


Asa yang mulai menatap ke arah langit, dirinya mulai mendesah berat dengan sebuah rintikan hujan di pandangannya saat ini. Sedangkan, sebuah tatapan tajam sedari-tadi terus menerus menatap ke seorang gadis di hadapannya, dengan helaan nafas beratnya, dirinya mulai membuka suaranya.


"Lu pasti minta ini ke Tuhan'kan?" tanya Alga.


Asa yang mendengar perkataan lelaki di sampingnya, dirinya mulai menggelengkan kepalanya. "Nggak kok! Buat apa Asa minta hal itu ke Tuhan?" tanya Asa balik.


Alga yang mendengar pertanyaan balik dari gadis di hadapannya, dirinya hanya mengangkat kedua bahunya. "Yah, siapa tahu lu minta hal ini untuk lama-lama di dekat gue?" jawab Alga datar.


Asa yang mendengar hal itu, dirinya mulai tersenyum lebar. "Asa memang ingin selalu di dekat Kak Alga dan yang Asa doa ke Tuhan bukan untuk turun hujan. Tapi Asa selalu minta, biar Kak Alga juga sayang sama Asa." Jelas Asa dengan senyuman manisnya, sambil menatap setiap inci wajah Alga dengan detail.


Alga yang mendengar perkataan gadis di hadapannya, dirinya mulai terdiam seketika, ntah kenapa, dirinya tidak bisa membalas lontaran kalimat dari gadis di hadapannya untuk hari ini. Ntahlah, seperti bukan dirinya saat ini.


"Kalau Tuhan menurunkan rahmatnya, bukan berarti Asa yang salah. Mungkin Tuhan menginginkan Kak Alga menyukai Asa juga. Tuhan saja maha tahu perasaan Asa, masa Kak Alga kagak?" Jelas Asa yang mulai kembali menatap ke arah langit.


Alga yang mendengar perkataan gadis di hadapannya, dirinya mulai menatap gadis itu dengan sebuah pandangan mata yang tidak seperti biasanya. Karena dirinya selalu memberikan sebuah tatapan meremehkan dan datar kepada Asa. Tapi dirinya kini memberikan sebuah tatapan senduh dan hangat kepada Asa untuk hari ini.


Asa yang mulai mengusap kedua tangannya untuk menghangatkan tubuhnya saat ini, berulang kali dirinya mulai merasa kedinginan di seluruh tubuhnya. Sedangkan Alga yang sedari tadi melihat semua tingkah gadis di hadapannya saat ini, dirinya mulai menatap ke arah langit yang masih setia menurunkan rintihan hujan, dengan helaan nafas beratnya, dirinya mulai berjalan mendekati motornya.


Sedangkan Asa yang melihat gerakan Alga saat ini, dirinya mulai menatap lelaki itu yang mulai menaiki sepeda motornya dan menerobos hujan yang sudah membasahi seluruh tubuhnya saat ini. Asa pun mulai bangkit dari jongkoknya, dan berjalan mendekati Alga dengan cepat.

__ADS_1


"Kak Alga mau kemana? Asa nggak mau di tinggal." ujar Asa lirih.


"Nggak gue tinggal! Lu diam disini!" ucap Alga.


"Tapi!—"


Alga pun mulai mengeluarkan sebuah benda pipihnya dan meraih pergelangan tangan Asa.


"Ponsel gue sebagai jaminannya! Gue nggak akan pernah tinggalin sebuah benda yang sangat penting di dalam kehidupan sehari-hari gue, jadi lu nggak perlu takut gue akan tinggalin lu." jelas Alga.


Asa yang melihat sebuah benda pipih di genggaman tangannya saat ini, dirinya sesekali menatap wajah lelaki di hadapannya saat ini.


"Lu jangan kemana-mana, okay? Tunggu gue disini, gue nggak akan lama!" Perintahnya dengan tegas.


Asa pun menganggukkan kepalanya, dan mulai tersenyum manis. "Yah, Asa tunggu Kak Alga." ucap Asa.


Alga pun mulai menyalakan mesin motornya dalam kecepatan penuh, dan kini dirinya mulai menghilang dari pandangan Asa dalam sekejap.


Asa pun mulai memandang benda pipih Alga saat ini ada bersamanya, dirinya ingin sekali kepo dengan benda pipih tersebut, tapi Asa tidak ingin. Karena percuma, ponsel Alga memakai sebuah kata sandi dan sidik jarinya.


Asa pun berulang kali menghela nafasnya, dirinya mulai kembali berjongkok, dan mengusap seluruh badannya yang mulai terasa dingin kembali.


1 menit.


5 menit.


15 menit. Asa masih sangat setia menunggu kehadiran seorang lelaki yang kini dirinya tunggu sedari-tadi, tapi ntah kenapa, wujud rupa lelaki tersebut belum tiba juga di pandangannya saat ini.


"Kak Alga mana, sih? Katanya nggak bakalan ninggalin Asa. Mana hujan masih deras, Asa sudah kayak mati kedinginan disini." Gumam Asa dengan pelan, sambil memainkan sebuah batu krikil yang berada di dekatnya.


Sebuah suara sepeda motor mulai terdengar jelas di kedua daun telinga Asa. Seorang lelaki yang terlihat sangat basah kuyup saat ini di seluruh tubuhnya, seorang lelaki yang mulai turun dari sepeda motornya dan berjalan mendekati seorang gadis yang masih setia menatap dirinya saat ini.


"Lu pakai jaket sekaligus jas hujan ini! Kalau sudah, lu jangan lupa minum susu hangat ini!" Ujarnya dengan datar dan mulai berdiri di hadapan Asa.


"Kak Alga?—"


Alga yang mulai kesal sendiri atas sikap bodoh Asa saat ini. Dirinya mulai memakaikan sebuah jaket tebal dan jas hujan yang sudah menutupi badan kecilnya Asa dengan sangat sempurna.


"Gue memperlakukan lu seperti ini, itu semua karena gue nggak ingin anak orang sakit karena gue. Jadi, lu jangan terlalu banyak berharap ke gue sedikitpun." Jelas Alga yang masih fokus pada jas hujan Asa.


Asa yang mendengar perkataan lelaki di hadapannya, dirinya hanya terdiam membisu, tanpa harus membalas lontaran kalimat Alga barusan. Hanya sejengkal jari saja kedekatan jarak antara Asa dan Alga saat ini. Asa yang melihat rambut hitam Alga yang masih basah dan meneteskan air, dirinya mulai mengelap tetesan air yang mulai membasahi dahi Alga menggunakan tangannya.


"Kak Alga sendiri bagaimana?" tanya Asa.


Alga yang mendengar perkataan Asa barusan, dirinya mulai bertemu dengan tatapan mata Asa yang sedari tadi menatapnya dengan pandangan kosong. Alga yang merasa risih atas jarak di antara mereka berdua, dirinya mulai mengambil langkah mundur dengan cepat.


"Itu masalah gue, lagipula gue nggak terlalu lemah sebagai seorang lelaki." jelasnya.


Asa yang mendengar perkataan Alga. Dirinya mulai melepaskan jaket kulit yang barusan Alga pakaikan di tubuh mungilnya, dan Asa pun mulai memberikan jaket kulit itu kepada Alga. Sedangkan, Alga yang melihat perlakuan Asa, itu mampu membuat dirinya melebarkan kedua matanya dengan heran.


"Pakaian Kak Alga semuanya basah saat ini. Biar Asa yang pakai jas hujan, dan Kak Alga pakai Jaket." jelas Asa.


"Nggak—"


"Kalau Kak Alga khawatir karena Asa sakit, Asa nggak apa-apa kok. Jadi Kak Alga pakai aja jaketnya, karena Asa juga tidak ingin melihat orang yang Asa sayangi sakit juga." jelas Asa sekali lagi.


"Kok lu berani banget potong pembicaraan gue—"


"Ayok, Asa sudah siap!" Ujarnya dengan senyuman.


Alga yang ingin mencakar wajah gadis di hadapannya, kini niatnya dia urungkan. Alga mulai memberikan sebuah gelas yang bergambar sebuah cangkir, dengan susu cokelat yang masih terlihat panas di dalam cangkir tersebut. Yah, susu coklat itu sebenarnya adalah bagian untuk dirinya.


"Lu minum ini dulu! Nanti tubuh lu nggak sanggup untuk menerobos hujan lagi, yang ada bikin gue tambah kerjaan." jelas Alga.


"Tapi, 'kan? Asa sudah di kasih susu cokelat sama Kak Alga, masa Asa harus minum untuk kedua kalinya?" jelas Asa heran.


"Gue suruh minum, yah, minum!"


Asa yang mendengar lontaran kalimat Alga yang mulai meninggikan suaranya, Asa pun hanya menuruti perintah Alga, dan meraih cangkir susu coklat hangat itu dengan beberapa kali teguk.


Alga yang melihat Asa sudah menghabisi kedua cangkir secara bertahap, dirinya mulai mengelap jok motornya yang basah dengan bekas baju basketnya tadi siang. Setelah itu, dirinya mulai menaiki motornya dan diikuti oleh seorang gadis yang duduk di bangku penumpang belakangnya.


Asa pun menatap wajah Alga dari balik spion motornya, dirinya pun tersenyum lebar, karena Alga tidak keberatan dengan pelukannya saat ini. Yah, Asa memeluk pinggangnya Alga dengan sangat eratnya.

__ADS_1


Sedangkan, Alga yang merasa ada sebuah pergelangan tangan memeluk erat pinggangnya, dirinya hanya menatap sekilas pelukan itu dengan senyuman kecilnya. Sebuah senyuman kecil, yang sama sekali tidak diketahui oleh Asa maupun dirinya. Ntahlah, setiap perlakuan kecil dari Asa saat ini mampu membuatnya tersenyum seketika, walaupun itu sama sekali tidak ada yang lucu.


Alga yang mulai menyalakan mesin motornya untuk meninggalkan halte bus, kini sebuah sepeda motor mulai meramaikan sebuah jalanan Ibu Kota Jakarta dengan derasnya rintihan hujan saat ini.


...***...


Hujan yang mulai terlihat berhenti meneteskan rintihan airnya, kini mereka hanya meninggalkan sebuah genangan air di permukaan bumi saat ini.


Terdapat kedua kejora saat ini di depan sebuah rumah yang terlihat minimalis sederhana tapi modern. Seorang lelaki yang masih setia berada di sepeda motornya sambil menatap ke arah jalanan yang terlihat sepi, daripada dirinya harus menatap ke arah seorang gadis yang masih berdiri di sampingnya dengan sangat setia dan menatap ke arahnya.


"Makasih Kak untuk hari ini, kalau begitu Asa masuk dulu ke dalam." Pamit Asa dengan senyuman yang terukir di wajahnya.


Alga yang melihat kepergian Asa, dirinya mulai memanggil gadis itu kembali, dan membuat Asa menghentikan langkahnya.


"Eh, lu?" panggil Alga.


"Kak Alga manggil Asa?" tanya Asa heran.


"Ya-iyalah, emang gue harus manggil siapa lagi, kalau bukan selain kita berdua disini?" ketus Alga.


Asa yang mendengar lontaran Alga, dirinya mulai tertawa kecil. "Ada apa Kak?" tanya Asa.


"Balikin semua barang gue, dari ponsel gue, jaket gue yang di lingkaran pinggang lu, dan helm gue yang di kepala lu." ujar Alga datar.


"Oh-iyah, Asa lupa Kak, maklum saking senangnya Asa sekarang." Jujurnya sambil menunjukkan deretan giginya.


Asa pun mulai memberikan jaketnya sekaligus ponselnya ke Alga. Tapi dirinya masih belum memberikan helm di kepalanya, karena dirinya saat ini sedang berusaha membukakan pengikat helm di kepalanya. Tapi itu sangat sulit.


Sedangkan Alga yang melihat tingkah seorang gadis di hadapannya sedari-tadi, dirinya hanya mengamatinya saja sambil menatap kebodohan seorang gadis di hadapannya saat ini. Bahkan, dirinya berulangkali tersenyum kecil atas semua sikap bodoh Asa saat ini.


Ntah berapa menit sudah berlalu, kini Alga mulai melihat reaksi wajah pasrah dari seorang gadis di hadapannya, dan kini gadis itu sedang menatap ke arahnya.


"Kenapa?" Tanya Alga yang pura-pura tidak tau apa-apa.


Asa pun menggelengkan kepalanya. "Nggak ada apa-apa." jawab Asa.


"Yaudah buru, lepas helm gue!" ujarnya.


Asa pun mulai mendengus pasrah. "Susah di lepasin, kayaknya helm Kak Alga nggak mau lepas dari kepala Asa." cengirnya.


Alga pun mulai menghela nafasnya dengan berat. "Sini!" pintanya.


Asa pun hanya menuruti perintah Alga saja, seperti itulah Asa. Sedangkan Alga yang melihat wajah seorang Asa untuk kedua kalinya sedekat ini untuk hari ini, ntah kenapa, itu mampu membuat debaran di dadanya dengan cepat.


'Lu kenapa, Ga? Kenapa hari ini lu aneh bener di dekat gadis ini, apa benar perasaan gue ini sudah mulai ada rasa sama dia? Ah, nggak mungkin, itu hanya debaran normal saja, nggak mungkin gue sudah ada rasa sama dia.' Batin Alga yang mulai menggelengkan kepalanya.


Asa yang melihat tingkah Alga barusan, dirinya mulai menatapnya dengan heran.


"Kak Alga kenapa?" tanya Asa.


"Nggak apa-apa! Lu itu jadi cewek ribet banget tau nggak? Nggak bisa diam kalau belum bikin orang repot." Ujar Alga yang mulai membuka pengikat helm di kepala Asa dengan perhatian.


Asa yang mendengar lontaran Alga, dirinya hanya diam saja. Karena dirinya hanya fokus dengan perhatian seorang lelaki yang dirinya perjuangkan saat ini. Hangat, seperti itulah yang dirinya rasakan untuk hari ini dari seorang lelaki yang selama ini dirinya perjuangkan.


Alga yang sudah melepaskan helm di kepala Asa, dirinya mulai menatap Asa yang masih terus menatapnya tanpa berkedip.


"Mau sampai kapan lu menatap gue seperti itu, hah? Mau sampai bola mata lu lepas dari kelopak mata, lu nggak akan pernah puas melihat kegantengan gue." Ujar Alga dengan kepedean tingkat tingginya.


Asa yang mendengar lontaran Alga barusan, dirinya mulai salah tingkah, seperti dirinya ketahuan mencuri oleh lelaki di hadapannya sekarang.


"Makasih Kak, kalau begitu Asa permisi ke dalam dulu." Pamit Asa yang mulai berlari kecil ke dalam rumahnya.


Sedangkan Alga yang melihat hal tersebut, dirinya mulai mengangkat bahunya acuh, dan mulai memakai helmnya. Sesekali dirinya mulai menatap rumah yang sama sekali tidak berpenghuni, bahkan dirinya tersenyum dibalik helm full facenya saat ini.


"Bodoh juga tuh gadis!" Ucapnya yang mulai meninggalkan halaman rumah Asa dengan kecepatan tinggi.


Asa yang sedari-tadi melihat kepergian Alga, dirinya mulai tersenyum kecil, dan berulangkali dirinya mulai melompat kesana-kemari dengan suara histerisnya.


"Mimpi apa Asa semalam? Sampai-sampai hari ini bisa pulang bareng sama Kak Alga, seorang lelaki yang sangat Asa sukai dari dulu." Ujar Asa sambil memegangi dadanya, takut dirinya seketika mendapatkam serangan jantung saat ini juga.


"Apa semua doa Asa akan terkabul? Kalau Kak Alga bakalan balas semua perasaan Asa selama ini?" Ucap Asa sambil menatap benda pipih miliknya saat ini, dirinya membuka sebuah galeri yang terdapat sebuah foto dirinya dengan seorang anak lelaki remaja sedang tersenyum di depan kamera waktu itu. Yah, lelaki itu adalah Algasa Adistia Renanda.


...*Next Part 8*...

__ADS_1


__ADS_2